Cerpen Padang Ekspres

Maret 1, 2009

Main Anak Kambing

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:44 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal

Bermula dari tatapan yang tak putus-putus, ia mengetahui sosok itu.  Mungkin persis tatapan kambing yang melayap di tengah rumput hijau. Seperti yang dulu pernah dikatakan ibunya saat ia kecil mengembala, “Jangan sekali-kali kau menatap seseorang seperti kambing yang dihadapkan oleh daun-daun hijau.”
Sekarang telah dewasa dan bekerja. Ia masih tak tahu jika yang tengah memperhatikannya itu adalah mata kambing. Punya tatapan seperti kambing. Ia tak peduli. Ia hanya bersibuk membuka lembar-lembar koran yang barusan dibelinya pada anak ingusan yang sepertinya tak tahu betul apa yang sedang dijualnya.
Anak itu bilang, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Sepanjang lorong dan dari gerbong ke gerbong suaranya tetap sama, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Mungkin itu sebab korannya lebih cepat habis dibanding koran anak-anak lainnya. Ia tersenyum membayangkan berita seperti apa yang menurut anak itu bagus. Pembunuhankah? Pemerkosaankah? Korupsikah? Atau teror bom? Ia tersenyum, “Seperti jualan keset kaki saja.”
Matanya meneliti tiap lembar kolom koran, tiap berita, dan ia belum menemukan yang menarik. Sampai di akhir halaman koran itu, ia menemukan sosok artis idolanya bersama beberapa ekor kambing. Artis itu diberitakan tengah memilih kambing-kambing untuk hari raya korban dan akan dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tampaknya ia tertarik.
Namun, belum lekat matanya pada barisan huruf–huruf kecil itu, sekelabat saja matanya temlaung, rupanya seseorang memberinya senyum. Ia membalas.
***
Entah kapan persisnya, ia merasa senyum itu kembali tertuju padanya dan lama mengintainya. Senyum laki-laki berkumis tipis. Kacamata bingkai putih yang styles. Rambut dengan poni tepi menyentuh alis. Kemeja pas badan garis-garis. Kepala ikan pinggang bertulis Paris. Celana jeans junkies. Sepatu kulit yang ujungnya melancip sadis.
Meski ia tak begitu peduli. Setidaknya ia ingat, di sana orang-orang berdesakan mencari kursi untuk sebuah pemandangan. Ibu-ibu memangku anaknya yang tampak keletihan. Anak-anak berseragam sekolah yang wajahnya acak-acakan karena telah disuap banyak pelajaran. Beberapa laki-laki tua sedang ngorok menyandarkan kepalanya di dinding kereta dengan antukan. Dan ia ingat, di sana lamat-lamat suara anak menjual koran. Suara gesekan rel kereta berkarat menyeruakkan kesibukan. Di gerbong keretan itu. Ya, di sana, beberapa minggu lalu ia membalas seyum itu.
Bahunya ditepuk, ia tidak kaget. Di antara keberpuraan-sibuknya. Ia memang telah memperhatikan sosok itu mendekat, mungkin saja mencari bangku kosong dekat atau sekitarnya. Barusan, kereta api telah mempertukarkan penumpang di stasiun.
“Boleh saya duduk di sini?”
“Ngng… silakan!”
“Aku Bram,” tangan laki-laki itu menggantung.
“Haris,” ia pun menjabat.
“Turun di mana?”
“Balai Aru.”
“Rupanya kita turun di stasiun yang sama.”
“Oh ya?”
Dan ia menyadari bahwa sesungguhnya ia tak sedikit pun tertarik dengan pertanyaan laki-laki yang mengaku bernama Bram itu. Meski bosan, ia tetap menjawabnya. Ia ingat apa yang dikatakan ibunya sewaktu mengembala dulu, “Pengembala kambing tidak hanya baik sama kambing, tapi juga sama manusia. Kambing mengembek saja kita dengar, apalagi kalau orang yang berbicara.” Melayani orang dengan baik, itu kesimpulannya.
Ia menjawab dengan malas-malasan, saat ditanya tinggal di mana? Sudah berkeluarga apa belum? Kerja di mana? Sebagai apa? Apa hobi membaca? Lulusan Universitas mana? Sering naik kereta api? Gerbong ke berapa? Merokok apa tidak? Bahkan saat ditanya punya pacar? Kapan menikah? Ia tetap menampilkan wajah baik.
Ia agak tertarik meladeni, saat laki-laki itu menyatakan bahwa setiap hari selalu melihat dirinya. Ia tercenung, bukankah baru dua kali mereka bertemu. Tapi kenapa pemuda itu bilang selalu melihat dirinya?
Bram mengaku, kantornya berseberangan dengan kantor Haris. Dari ruang kerjanya di lantai tiga, Bram sering memperhatikan Haris. Setidaknya dua atau tiga kali sehari. Pagi saat Haris tiba di kantor, saat keluar makan siang, dan menjelang sore saat pulang.
Ia terkaget-kaget, “Kau bekerja di kantor notaris itu?”
“Dan kau bekerja di kantor distribusi rangka ringan baja itu kan?”
Yang lebih mengagetkan Haris adalah ternyata ia dan Bram berasal dari daerah yang sama, kampung yang sama, kelurahan yang sama, bahkan RT yang sama.
“Apa? Kau anak Pak Karmin?”
“Ya!” Jawab Bram singkat
“Pak Karmin yang ternak kambing?”
“Betul.”
“Kau anak bungsunya yang kuliah di kota dan tak mau pulang itukan?”
“Hehehehe, itu dulu, sekarang aku sudah mau pulang ke kampung.”
“Apa Pak Karmin masih beternak kambing.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Entahlah.”
“Loh?”
***
Berhari-hari ia dan Bram pulang bersama. Pembicaraan di kereta api lalu telah mengawali kedekatannya. Rupanya, Bram itu enak diajak ngobrol, humoris, perhatian dan pandai membuat kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan. Bram juga sangat apik, disiplin, penampilannya selalu rapi dan tak mau mengabaikan kesehatan tubuhnya.
Mereka telah banyak bertukar cerita. Tentang permasalahan di kantor, tentang kehidupan di kampung, tentang keluarga, tentang impian-impiannya. Bahkan tentang rahasia-rahasia. Seperti malam itu Bram bercerita tentang ayahnya.
“Haris, Ayahku adalah penyebab sehingga aku tak mau pulang, dan memang aku juga tak mau berhadapan dengan kambing-kambing itu. Aku memang tak suka mengembala.”
“Eh, Kau ini. Mengembala adalah hal yang menyenangkan. Dulu anak-anak di kampung yang tak punya kambing malah mengikuti temannya mengembala. Anak-anak gembala selalu dibekali serantang nasi dan sebotol air minum. Mereka juga membawa buku-buku PR saat mengembala. Dan dulu aku selalu membawa buku gambar dan pensil warna.” Jelasnya.
“Bukan itu maksudku?”
“Lalu?”
“Ayahku suka main anak kambing.”
Tiba-tiba saja ia serasa dibalikkan pada zaman ketika ia usia SMP. Ibunya sering bilang, “Kau jangan dekat-dekat sama Pak Karmin. Dia itu mata kambing.” Beberapa saat setelahnya ia baru tahu kenapa dirinya dan teman-temannya selalu dinasihati utuk tidak boleh dekat-dekat dengan Pak Karmin.
Waktu itu ia dan teman-temannya mengembala. Pak Karmin menuruti mereka. Rupanya Pak Karmin membawa banyak makanan. Mereka lantas menikmatinya di bawah kerindangan pohon. Pak Karmin adalah sosok yang menyenangkan. Ia bercerita banyak sehingga mereka terbahak-bahak. Namun, saat kenyang memadati perut. Saat kambing-kambing asik dengan rumput. Saat mereka asik melayan kantuk. Saat itu pula mata Pak Karmin berubah seperti mata kambing yang hendak meyeruduk. Ia lantas menggerayangi mereka dengan lembut. Seseorang bahkan ada yang diam dipeluk. Untung Tuhan mengutuk. Kambing-kambing berlarian ke arah pohon itu hendak menyumput. Hujan deras jatuh tak tersangkut. Mereka pun tersadar dari semaput.
“Hey, Kau dengar aku?”
“Oh maaf.”
“Kau heran ayahku suka main anak kambing? Aku kira semua orang kampung sudah tahu hal itu, bukan?”
“Hmm aku tak tahu.”
“Kau cuma tak ingin aku tersinggung kan?”
“Benar, aku tidak tahu.”
Bram diam, segurat wajah sedih ia tampilkan seolah dunia tak mempedulikannya. Persis bagai malam itu yang tak peduli siang. Ia seolah mendapati titik di mana Bram tak ingin diusik. Ia coba meyakinkan Bram.
“Apa kau membenci ayahmu?”
“Aku benci kelakuannya!”
Namun, ia sulit menemukan hal yang dapat mengurangi kekisruhan hati Bram. Bukankah ia di sana untuk liburan, melepas penat setelah satu minggu bekerja, bercerita banyak hal tentang impian dan kenangan.
Ia di sana bukan untuk merentang kesusahan, bersedih-sedihan atau menumbuhkembangkan kekecawaan.
“Haris, aku takut kau kecewa dan menyesal.”
“Dengan apa dan sama siapa? Tak ada yang patut dikecewakan dan disesalkan. Kau sudah dewasa Bram. Tak sebaiknya urusan ayahmu menjadi kekecewaan dan penyesalan yang berlarut-larut. Kita hidup dititipi kadar masalah yang sesuai dengan muatannya!” rupanya ia sedang merasa menjadi privat motivator bagi Bram, sebagaimana orang tuanya dulu membimbingnya untuk kuliah, jangan selalu menjadi penggembala. Tinggalkan kambing-kambing itu! Kau masih muda!
Bram tidak mengerti. Ada hal yang tak dapat Haris pahami dan tak selayaknya lagi ia jabarkan. Cukup baginya memahami semua. Harus baginya untuk memikirkan apa yang barusan dikatakan Haris. Meski bukan itu yang sebenarnya ia maksudkan.
Permasalahan main anak kambing ayah Bram itu tidaklah menurunkan kadar kedekatan mereka.
***
Ia tersentak, sebelah tangan mendekap lembut sebelah bahunya. Bram menyadarkannya. Dingin dan wangi. Bram tampak segar, ia baru selesai mandi, masih berhanduk. Haris tersadar, mendapati dirinya masih acak-acakan. Dirinya tahu bahwa ia sendiri tak berpakaian sejak menyadari juntai-juntai cahaya telah masuk dari ventilasi kamar Bram. Dirinya sadar bahwa ia juga tak berpakain sejak malam, sejak mata Bram memandangnya persis tatapan kambing melayap di tengah rumput hijau. Dirinya pun sadar saat Bram mendekap tubuhnya bersama malam. Dirinya bahkan sadar mereka tak main-main menghabiskan malam.
“Haris, apa yang kau lamunkan?” tanya Bram lembut sekali, “Ini sudah jam berapa? Apa kau tak kerja?”
Ia jatuhkan tangan yang menggantung di bahunya. Kasar sekali. Langkahnya tegas menuju kamar mandi. Bram tersenyum.
Telah banyak air yang mengguyurnya. Telah banyak busa yang menyabuni badannya. Telah banyak garis-garis menit dilewatinya. Namun, ia belum pula bersih. Di kaca itu tatapannya tak putus-putus memandang dirinya sendiri. Benar, tak bisa bersih.

Padang, 2009

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: