Cerpen Padang Ekspres

Februari 22, 2009

Cerita Dari Kampung Kami

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:01 am
Tags:

Cerpen Farizal Sikumbang

Dulu, ketika aku masih kanak-kanak, malam seperti hantu di kampung kami. Kala itu listrik belum ada. Sebagai penerang hanyalah lampu petromak yang tergantung di tengah rumah. Rumah-rumah pun masih berjarak, yang dibatasi oleh rimbun semak dan batang-batang pohon besar. Pergi dari satu rumah ke rumah lain seperti melintasi rimba. Kami pun selalu pergi bersama. Tak ada yang pergi sendiri-sendiri. Maklum binatang buas masih banyak berkeliaran. Kalau tak ada harimau, babi, atau ular.
Waktu itu adalah tahun-tahun yang sulit untuk transportasi. Jika ke kota kami biasanya menumpang pedati yang membawa sayur-sayuran. Tapi biasanya lebih banyak orang-orang yang berjalan kaki. Berjalan kaki membutuhkan waktu seperempat hari. Di masa  itu angkutan kota memang sangatlah langka. Kalaupun ada itu hanya satu sampai dua. Aku ingat itu sekitar tahun tujuh puluh lima.
Akhirnya, suatu hari, petaka di kampung kami tiba, ini dikarenakan  tidak lagi hanya malam di kampung kami seperti hantu, tapi juga siang hari. Kekacauan Ini disebabkan oleh sebuah kabar. Kabar yang menakutkan. Lebih menakutkan bertemu macan atau hantu sekalian. Demikian takutnya, hingga siang hari tidak ada lagi kerja para orangtua selain mengurung anaknya di dalam rumah. Jika dilukiskan, suasana ketika itu begitu mencekam.
“Hati-hati  terhadap anak kau,” begitu kata mamak pada mande suatu hari. “Orang rantai itu suka kepala anak-anak. Jadi jangan kau biarkan anakmu bermain sendirian”.
“Kepala anak yang telah dipenggal itu, kau tahu, akan disembunyikan dicelah jembatan yang akan dibangun. Konon, katanya, kepala itu sebagai tumbal supaya jembatan kuat dan tahan dari beban. Kau bayangkan, hi hi, betapa kejamnya orang rantai itu,” begitu cerita mamak selanjutnya.
“Lalu, kenapa namanya orang rantai?” Tanyaku pula.
Mamak tidak menjawab langsung. Sejenak matanya memandangi ruang rumah panggung kami.
“Konon, dari kabar yang kudengar, dia membawa  sebuah rantai untuk mengikat seluruh tubuh korbannya. Rantai itu mungkin panjangnya lebih lima depa. Jadi, jika ada orang kedapatan olehmu membawa rantai, kau larilah,” kali ini mata mamak mengarah padaku.
“Nah, setelah kulihat, di seberang kampung, tempat menghubungkan kampung kita dengan kampung seberang, memang sedang dibangun sebuah jempatan besi. Kuharap kau hati-hati menjaga anakmu itu. Aku tak ingin orang rantai itu memenggal kepalanya.”
“Ya, aku akan menjaganya,” sahut mande.
“Ya, kau harus menjaganya. Karena suamimu tak bisa diharapkan. Suami macam apa dia itu, pulang ke rumah tidak menentu. Atau, apa dia punya istri lagi,” kata mamak seperti mengumpat abak.
“Entahlah.”
“Kau harus tanyai dia.”
Mande tidak menjawab, sedangkan mamak lalu melepaskan pandang ke luar lewat jendela.
“Nampaknya hari memang sudah hampir petang. Aku harus pergi dulu. Aku tidak ingin kemalaman sampai di rumah. Kau harus hati-hati menjaganya.”
“Ya.”
Lalu kami mengantar kepergian mamak di atas tangga. Selepas dari anak tangga, setelah memperhatikan ke sekeliling rumah, mamak lalu berjalan tergesa-gesa. Kami memandangi kepergian mamak. Selepas ditikungan tubuhnya hilang di balik rimpun semak besar.
Kala itu memang hari sudah memasuki petang. Dikejahuan sesekali terdengar jerit beruk atau siamang. Juga beberapa kicauan burung murai kampung. Kami harap mamak sampai di rumah istrinya tidak kemalaman. Sedangkan abak, ah, sudah hari sepetang ini juga belum pulang.
***
Malamnya, mande tidak biasanya mempasak pintu dengan sebuah kayu melintang. Begitu juga jendela. Mande seperti tidak ingin memberi celah buat siapa saja yang ingin masuk ke dalam rumah. Nampaknya mande mendengar betul nasehat mamak. Sedangkan abak, sudah malam begini juga tidak pulang. Jika malam ini abak masih tidak datang, berarti sudah tiga malam beliau tidak pulang. Sampai saat umurku sudah sembilan tahun, aku belum juga paham tentang abak.
“Abak kau seorang parewa pasar. Kerjanya mabuk dan berjudi. Kudengar dia suka main perempuan,” begitu ocehan yang kudengar dari Amak Upik ketika dia marah saat mengetahui aku mencuri buah rambutannya.
“Perangainya betul-betul jatuh pada wa-ang. Anak kalera!” tambahnya lagi.
Mendengar cacian Amak Upik itu, tiba-tiba wajahku muram. Betulkah abak seperti itu? Akhirnya aku pulang dengan gontai.
“Mande tak tahu itu Buyung. Boleh saja itu bohong, lantaran Amak Upik sakit hati padamu karena buah rambutannya  sering kau curi. Kau jangan lagi mencuri buah rambutannya ya. Berdosa. Kau tahu ?”
“Kau melamun Buyung,” sapa mande yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku lalu memperbaiki posisi duduk.
“Kau tak usah takut lagi. Semua pintu sudah mande pasak. Orang rantai itu tak akan bisa masuk.”
Di tengah rasa takut, aku masih bertanya tentang orang rantai itu.
“Mande, apakah orang rantai itu benar ada?”
Sejenak mande menatap bola mataku.
“Cerita tentang orang rantai ini sudah ada semenjak mande masih kecil, Buyung. Tapi yang pasti, dulu memang ada beberapa anak yang hilang. Hilangnya anak-anak itu lalu dikaitkan dengan orang rantai. Kini, di kampung seberang, yang lokasinya masih berupa rimba, sedang dibangun sebuah jembatan. Pembangunan jembatan itu membutuhkan sebuah kepala anak-anak. Itu kepercayaan orang kampung kita sedari dulu. Orang yang membangun jembatan itu akan mencari seseorang yang mau mengambil seorang anak menjadi tumbal pembangunan jembatan.”
“Mengapa orang kampung tidak mau melarang orang membangun jembatan ?”
“Mana bisa. Pembangunan jembatan itu perintah dari pemerintah. Kita tidak bisa melarang. Yang penting kau harus waspada. Kau jangan pergi sendirian. Kau paham?”
Aku mengangguk.
***
Minggu-minggu berlalu, orang-orang di kampung kami terus digerus rasa cemas. Sesekali, jika aku dan mande pergi ke tepi hutan mencari kayu bakar, maka terdengar oleh kami suara besi yang dipukul berkali-kali. Kata mande itu suara besi pembangunan jembatan. Mendengar itu bulu romaku berdiri. Semakin lama, entah mengapa, suara dengkingan besi itu semakin terdengar aneh. Aku sungguh dikepung rasa takut. Berminggu-minggu, bukan, berbulan-bulan.

***
Suatu malam, ada sebuah peristiwa yang juga tak bisa aku lupakan, malam itu, sehabis mande melakukan salat isa, terdengar pintu rumah diketuk. Ketukan pintu itu begitu pelan diiring oleh sebuah erangan. Juga seperti rintihan yang tertahan. Akhirnya, di tengah rasa penasaran, mande mengintip lewat celah papan dengan penerangan.
“Itu abak wa-ang,” kata mande kemudian.
Dengan bergegas mande membuka pasak pintu. Lalu membukanya. Dan ketika pintu dibuka, kami terpana. Kami membelalakkan  mata. Itu abak. Abak seperti luka parah. Mukanya berdarah. Sebagian ada yang membiru. Seperti akibat  pukulan. Ini kepulangan abak yang ke empat kali sejak kabar adanya orang rantai itu.
“Kenapa?” tanya mande.
“Aku, dipukul orang.”
“Makanya, jangan jadi parewa pasar.”
Dengan perlahan mande memopong tubuh abak dipembaringan.
“Ini tidak ada hubungan dengan orang pasar.”
“Lalu?”
“Di kampung seberang, entah mengapa, ketika aku lewat, mereka mengejarku. Mereka, menuduhku, orang rantai.”
“Ha, orang rantai?” kata mande tertahan. Lalu kulihat ada sedikit senyum di muka mande.
“Ya, aku dituduh orang rantai. Sungguh aku tak mengerti. Padahal sudah kujelaskan. Aku orang kampung sini. Kalau aku tidak sempat melarikan diri. Mungkin aku sudah mati dipukul mereka. Ini karena rantai anjing sial itu.”
“Apa?”
“Ya, karena aku membawa rantai. Aku membeli rantai itu untuk  anjing kita yang selalu pergi jauh itu. Rantai itu pembawa sial,” umpat abak kesal.
Malam itu, mande terlihat sibuk merawat luka abak. Sepanjang malam, abak merintih menahan sakit ditubuhnya. Mande begitu kasihan pada abak. Padahal abak seperti tidak peduli pada mande.
***
Kini, jembatan yang dulu dibangun itu masih ada. Bahkan masih kokoh menahan beban kendaraan. Setiap aku melewatinya pergi bekerja ke kota, pandanganku selalu mengarah ke bawah jembatan. Mana tahu ketemukan kepala anak sebagai tumbal itu. Tapi, sampai sekarang tak pernah kutemukan.
Lalu tentang abak, ah,  dia sudah tua, mungkin umurnya sudah tujuh lima. Kini dia tinggal di rumah istri keempatnya. Setelah dewasa, aku baru benar-benar paham tentang abak. Ternyata beliau  penggila wanita. Pemabuk. Maling. Penjudi *

Padang 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: