Cerpen Padang Ekspres

Februari 15, 2009

Anak Ibu yang Kembali

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:33 am

Cerpen Benny Arnas

DI antara pendar-pendar cahaya jingga lampu teplok di atas lemari kayunya, seorang ibu tua menatap foto hitam-putih yang memburam di dinding geribik kamarnya. Di foto itu, di antara putri-putri mereka yang masih kecil-kecil, seorang lelaki paruh baya duduk di sampingnya. Suami. Begitulah dulu, laki-laki itu menyandang status terhadapnya. Laki-laki yang—ah, banyak menyisakan kepedihan sekaligus kerinduan di dadanya. Bersamanya, si Ibu tua beranak lima. Perempuan semua. Dan, itulah perkara yang selalu membuat suaminya terserla dalam setiap ingatannya. Suaminya sangat menginginkan keturunan laki-laki.
Ah, itu tak disebabkan karena suaminya tidak menginginkan keturunan perempuan. Walaupun dipikirkannya jua bahwa mungkin saja, suaminya tidak seanti itu pada ketentuan yang berlaku terhadap kelamin anak-anaknya, bila ada satu saja dari mereka yang dapat disebut pejantan.
Oh, perkaranya lebih dalam dari itu. Keinginan suaminya itu seakan-akan kutukan bagi nasib Ibu tua yang dahulu tak terlalu mendengarkan petuah lelaki itu. Ibu tua itu kadung mencintai putri-putrinya….
“Beruntung sekali, kau dapat anak perempuan. Kau tak perlu capai-capai mencuci baju, piring, atau menyiram bunga raya kesukaanmu di pekarangan dan tanaman obat di kebun belakang. Tapi… berusahalah berketurunan laki-laki. Satu pun jadi. Yah, semacam memasak sayur lah. Anggap saja, tak ada bujang, tak bergaram. Hambar. Dan, dibuanglah masakan itu…”
Ibu tua ingat sekali, kata-kata dari seorang ibu-ibu—yang ia lupa namanya—yang sengaja ditujukan padanya. Saat itu, mereka masih berputri tiga. Ketika ia mengadukan perihal itu pada suaminya. Seperti sudah diduga, pendapat suaminya seakan-akan membenarkan ucapan ibu-ibu itu. Yah, seperti biasalah. Seperti sungai yang menganak saja suaminya berceloteh. Mengalir tak berhulu: berulangkali menceritakan ketiada-elokan budi saudara-saudaranya.
“Saudara-saudaraku itu tak tahu bagaimana berterimakasih pada Mak. Mak sakit keras, sampai mati pun tak ada mereka datang menjenguk dan melayat. Mereka sibuk dengan ipar-iparku. Ugh, ipar. Puihh!”
Setengah mengerutu-setengah menyesal Ibu tua mengenang bahwa ia pernah menganggap angin lalu saja curahan hati suaminya itu. Ia tahu, suaminya adalah anak bujang satu-satunya. Semua saudaranya perempuan. Tetapi janganlah kiranya terlalu berlebihan menyamaratakan perkara, batinnya kala itu.
“Kakak bertenggang jualah padaku yang sangat senang pada anak-anak gadis kita itu. Janganlah selalu menjaga jarak dengan mereka, Kak. Seperti  juragan dan pekerja saja kulihat hubungan kalian.”
Suaminya diam saja.
“Lagipula, Kakak tahu kan, bagaimana aku di tengah keluarga. Berkebalikan dengan Kakak. Aku satu-satunya perempuan. Bungsu pula. Sering diperlakukan tak selayaknya sebagai manusia, sebagai adik-adik mereka. Layak pembantu aku, Kak. Ah, Kakak sudah tahu itu, kan?” Air mata Ibu tua itu mengucur waktu itu.  “Mmm…” lanjutnya, “Kakak sendiri pernah ngomong, kan, kalau rasa iba pada keadaanku juga menjadi alasan mengapa kau menikahiku. Tentu saja, selain karena Kakak memang mencintaiku. Lagi pula, bukan maksud hatiku tak melahirkan anak perempuan, Kak. Tetapi…  tak dititipkannya saja kita, Kak.”
Saat itu, suaminya menatapnya dalam; membelai rambutnya yang disanggul sekenanya, sebelum berbisik lirih, “Semoga keturunan kita selanjutnya laki-laki ya, Dik.”
Ba’da itu, di usianya yang hampir berkepala empat kala itu, sadarlah ia bahwa urusan  berketurunan belum usai. Hanya satu do’anya. Semoga ia masih diberi kesuburan. Paling tidak, sampai anak perempuan itu mengoek dari selangkangannya.
Ternyata Tuhan sangat baik pada Ibu tua itu. Tapi tak sepenuhnya, kurang lebih itulah suara batin terdalamnya waktu itu. Ya, ia memang masih subur, hingga dua anak lagi dilahirkannya. Tapi, semua seakan-akan tak berbias gembira sebagaimana layaknya pasangan menyambut bayi mereka. Ya, dua anak terakhir melengkapkan kenyataan bahwa mereka berputri lima orang. Dan, tak ada rencana menambah keturunan lagi. Bukan, bukan karena ia sudah capai bertaruh nyawa di hadapan dukun beranak; bukan pula karena suaminya menyerah pada keinginannya, tetapi karena menopause tak sabar lagi bertandang padanya.
“Ahh,” Ibu tua mendesah. Seakan tersadar dari pengembaraan masa lalunya. “Apakah dengan mendengarkan dan mengiyakan pendapat dan keinginanmu bahwa anak laki-laki itu lebih baik, maka Tuhan akan menurunkan takdir yang berbeda pada kelamin yang anak-anak kita usung saat itu, Kak? Tidak kan, Kak?” Ibu tua menatap suaminya di foto itu lekat-lekat. Seolah-olah lelaki itu mendengarkan tuturan dan pembelaannya.
Sambil perlahan mendekat ke foto itu, Ibu tua terus berbicara pada ’suaminya’: menyemburkan kemarahan yang tak sebenar marah, sesekali mengutarakan pembelaan, atau berujar dengan nada kesal-kesal manja. Tak sadar, jari-jemarinya pun mengelus-elus permukaan wajah suaminya. Ah, khusyuk sekali Ibu tua melakukannya. Seakan-akan pipi suaminya benar-benar berlekuk, hidungnya benar-benar bangir, atau rambutnya benar-benar klimis oleh minyak kelapa.
Jemari Ibu tua beralih ke sisi lain foto.
Ibu tua tersentak. Ia buru-buru kembali ke dipan reotnya. Sigap menarik kain lasem. Menyelimuti tubuh dan wajahnya. Sesekali ia mengintip dari balik kain. Ketika pandangannya bersirobok dengan wajah suaminya, tersenyumlah ia. Namun, ketika secara tak terencana, mata lamurnya bertabrakan dengan salah satu wajah putrinya, maka… sesegeralah ia menutupi wajahnya. Pedih! Itulah rasanya bila kasih sayang yang bernama rindu tak bercampur dengan rindu orang-orang yang dirindu….
Begitulah pemandangan malam itu—seperti malam-malam sebelumnya. Ketika Ibu tua menatap suaminya di sana, potongan-potongan kebahagiaan masa lampau berseliweran di memori tuanya, maka… saat itu, ia pun tersenyum. Namun, itu hanya sesekali. Wajahnya acapkali tiba-tiba pasi, muram, dan layu dengan mata kaca, ketika sadar bahwa kesemuanya kini hanya bernama nostalgia: kenangan yang sudah dibunuh waktu. Tak ada lagi gemerincah tawa putri-putrinya atau teriakan setengah marah dari suaminya bila ia telat menyiapkan kopi setelah makan siang.
“Aku tidak akan nyuruh anak-anakmu itu, Dik. Untuk apa? Bersenang-senang dengan mereka sekarang, sedangkan  besok….”
Suaminya memang tak melanjutkan ucapannya waktu itu. Mungkin sadar bahwa tak adil memanggil darah dagingnya seakan-akan ia tak berandil dalam mengonggokkan mereka di rahim isterinya. Atau ada alibi lain, entahlah. Waktu itu, Ibu tua itu tak terlalu ambil pusing. Ia bahkan sempat berpikir, alangkah tak dewasanya pemikiran suaminya kala itu. Ya, seperti diceritakan tadi, layak sungai menganak saja, ia mengait-ngaitkan perangai putri-putri umaknya dulu dengan putri-putri mereka saat itu.
Namun, barulah kini ia mengerti kemana aliran sungai itu berhulu: sebuah kenyataan bahwa putri-putrinya kini telah meninggalkannya. Dijemput—ah baik sekali kata itu, lebih tepatnya diculik oleh kekasih-kekasih mereka, bandit-bandit yang minta dipanggil sebagai menantu olehnya. Ah, bencinya Ibu tua pada suami anak-anaknya.
“Betul, Kak. Mereka meninggalkanku. Seperti engkau yang juga tega-teganya meninggalkan aku sendiri. Kau juga tak berbeda dengan mereka, Kak.” Air mata Ibu tua tumpah. Kain yang meyelimuti wajahnya basah.
* * *
MASA bergasing. Bulan tak berbilang kali memurnamakan diri. Air laut tetap setia pada ciri-ciri keberadaan gelombang tubir pantainya: pasang-surut. Bebintang pun tetap enggan bertebaran di malam-malam yang rinai. Dan, pelangi masih belum buram, tetap sumringah raya, dengan warna-warni dan lengkungan khasnya: menyuluh angin untuk berkabar bahwa ada putri-putri langit yang tengah mandi—entah di mana itu.
Senja itu, Misya masih bersikeras untuk menikah dengan Bram. Sudah berbusa-busa Brio dan Mer memberi nasehat. Bukan apa-apa, mereka begitu khawatir bila putri semata wayangnya itu akan diboyong pujuaan hatinya ke negara asalnya, Belanda.
“Nadia kemarin menikah di Sidney, Mi.”
Mer dan Brio diam, seakan memersilahkan Misya melepaskan semua unek-uneknya.
“Mila juga sedang pacaran dengan orang Kanada. Bahkan Mark berencana akan memboyongnya ke Otawa.”
“Tapi…”
“Lena juga, Pap!” tukas Misya, memotong ucapan Brio. “Ia akan menikah dengan suaminya yang keturunan Papua itu.”
“Mereka…”
“Ya!” Kali ini kalimat Mer yang diselanya. “Mereka adalah putri-putri tunggalnya saudara-saudara Mami, kan? Termasuk Alia, yang kemarin baru diterima bekerja di salah satu perusahaan kimia di Dubai. Mungkin juga dia menikah…”
PAAAK!
Misya Tercekat. Bibirnya gemetar. Meringis dengan kedua tangan memegang sebelah pipinya yang memerah.
Keesokan harinya. Jendela kamar Misya menganga saja. Misya pergi. Ke Belanda. Mungkin. Dan… tak pernah kembali.
* * *
TEPATNYA setelah mereka memutuskan berkeluarga: setelah lebih seperempat abad hanya saling berkabar, inilah untuk pertama kalinya perempuan-perempuan itu bertemu, berkumpul kembali. Entah, bagaimana sosialite-sosialite itu memiliki waktu dan kesempatan yang sama untuk melangkahkan kaki di tempat terpencil ini, sebuah desa yang berjarak ratusan mil dari istana mereka.
“Aku benar-benar tak tahu,” si sulung Rina membuka pembicaraan, “kalau 30 tahun yang lalu Ibu meninggal…”
“Kau kira zaman Nabi Nuh. Usia Ibu bisa 1000 tahun!” ujar Ning ketus.
“Salah kau juga. Salah kalian semua yang tak berkabar padaku. Tak beradab kalian pada orang yang lebih tua, kalian pikir, kalian saja anak-anaknya!” balas Rina sengit.
“Sudahlah!” Desi melerai pembicaraan. “Tak ada yang perlu diributkan. Kita ini sudah tua semua. Sudah beruban. Tak malu pada usia, hah?” katanya sengit.
“Aku yakin,” ujar Mer sembari menyingkirkan daun beringin kering yang jatuh di atas selendang yang menutupi kepalanya. “Tak satu pun dari kita  yang melayat Ibu…”
Empat saudaranya yang lain bersitatap. Menyumbulkan pertanyaan terhadap kemustahilan yang maha: bagaimana mungkin anak-anak tak mengingat sang ibu, bahkan untuk mengantarnya ke liang lahat sekalipun?
“Heh,” Linda tersenyum miring, “bagaimana tetangga-tetangga Ibu akan memberi tahu kita kalau kita sendiri tak pernah berkabar padanya. Antara kita saja, kalau berkabar, hanya membicarakan kesenangan tinggal di istana masing-masing, kan? Atau berpamer-pameran bahwa masing-masing kita tengah berlibur di Bahama, Hawaii, atau…” Linda menggantung kalimatnya. Matanya berkaca-kaca.
“Hei bungsu,” Desi melempar ranting kecil ke arah Linda, “masih cengeng kau, ya?” bibirnya menyeringai. “Sudahlah. Aku yakin sekali, kalau kita adalah orang-orang yang bernasib sama!”
“Maksudmu?” tanya Mer sigap.
“Aku yang bertanya, apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Pura-pura tak tahu, Kau?” Desi balik bertanya. Kesal.
“Jadi…,” kata Mer menggantungkan intonasinya, “Kabar anak gadismu yang diboyong suaminya ke Kanada itu benar, Des?”
“Putrimu juga kawin lari di Eropa, kan?” Desi balik bertanya. Skeptis.
“Lena diboyong ke Papua,” lapor Ning.
“Nadia menikah di Australi,” sambung Rina.
“Alia di Arab. Tak ada kabar,” timpal Linda.
Tak ada lagi yang bersuara. Hanya ranting-ranting dari pohon tua yang berserisik karena digoda angin yang berdesau. Mereka khusyuk menekuni makam yang tanpa sadar telah mereka kelilingi sedari tadi. Mencabut rumput-rumput liar, membuang daun-daun kering yang menyerak di sekitarnya, sebelum menaburkan ratusan kelopak mawar dari keranjang-keranjang rotan mereka.
“Mmm… tidakkah kita ke makam ayah juga?” entah siapa yang bertanya.
“Untuk apa?”
“Ia tak pernah bangga pada kita-kita, bukan?”
“Serasa tak ber-ayah kita waktu masih jadi anak gadis yang masih numpang berteduh di  rumahnya.”
“Tapi…”
“Kalau kau ingin nyekar ke sana. Pergi sendiri saja. Aku tidak.”
“Aku juga…”
Dan… senja pun datang. Mereka pulang. Ke lima penjuru yang berbeda. Sungguh, sejatinya mereka memendam galau yang dalam, resah-gelisah, dan penyesalan yang berlumut. Yah, mereka benar-benar bernasib sama. Tak hanya sama-sama ditinggalkan putri semata wayang mereka. Tetapi juga sama-sama ditinggalkan lelaki yang dulu merebut mereka dari pangkuan wanita yang melahirkan dan membesarkan mereka.
Apa yang menyebabkan semua bermula? Ah, terlalu bodoh kelima perempuan itu bila harus mempertanyakannya. Jadi, ke manakah langkah mereka menyusur bumi?
Entahlah. Mungkin saja, akhirnya mereka akan kembali ke petak tanah yang menghitam-arang. Saksi bisu sebuah peristiwa kelu puluhan tahun silam: sebatang badan yang terlelap di suatu malam, tak sadar bahwa lampu teploknya terjatuh, melahap lemari, gorden, sebuah foto tua, dipan, dan dirinya sendiri. Oooh, tak tahu putri-putri beruban itu tentang hikayat ibu mereka yang dimamah bara, berwarna arang, berbaju abu dan tertusuk sejuta rindu yang tak berujung. * * *
/17:11, Lubuklinggau, 16 Januari 2009

1 Komentar »

  1. saya udah baca beni. keren juga!

    Komentar oleh andrian — April 1, 2009 @ 11:35 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: