Cerpen Padang Ekspres

Februari 8, 2009

Pelajaran Menggambar

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 7:15 am
Tags:

Cerpen Romi Zamran

Setiap ia selesai memeriksa buku-buku gambar itu lalu mengembalikannya ke tumpukan semula, setiap itu pula ia akan menghela nafas. Panjang. Perlahan ia hembuskan, lalu ia akan heran. Ia heran kenapa mereka selalu menggambar tentang hal yang sama. Ia heran kenapa gambar mereka selalu mirip antara yang satu dengan yang lainnya. Kadang ia sengaja membanding-bandingkannya. Tak ada beda. Dua gunung tegak menjulang. Di tengah-tengahnya ada gambar matahari. Dan di kiri-kanan jalan menuju gunung, petak-petak sawah membentang.
Kadang ia ingat-ingat apakah ia pernah menyuruh mereka untuk menggambar tentang hal yang sama. Kadang ia ingat-ingat apakah ada yang salah dalam setiap pelajaran yang diberikannya. Tapi setiap ia mengingat-ngingat tentang semuanya, setiap itu pula ia merasa tak ada yang salah. Malahan di depan kelas ia sering berkata, “Gambarlah tentang apa saja. Terserah!”
Dan mereka, dengan serta-merta akan mengeluarkan buku gambar, pensil, penghapus, penggaris…

***

Lalu mereka mulai menggambar. Mulanya hanya dua gunung. Tegak menjulang seperti hendak menyundul langit. Di tengahnya ada matahari. Terang seperti hendak menyinari. Petak-petak sawah. Jalan menuju gunung. Lalu ia akan bingung. Mulanya ia menduga bahwa hal itu hanya digambar oleh satu atau dua orang saja. Mulanya pula ia menduga bahwa gambar itu hanya berasal dari kawan yang disebelahnya, lalu ditiru oleh yang lain. Tapi ketika ia lihat gambar mereka dari satu meja ke lain meja, saat itulah ia mulai melihat bahwa gambar mereka sangat mirip antara yang satu dengan yang lainnya.
Dan sejak saat itu, ia mulai memisahkan tempat duduk mereka. Kadang yang duduk di depan akan dipindahkannya ke belakang. Kadang yang biasa duduk semeja akan dipisahkannya dengan cara menukar kawan yang di sebelahnya. Kadang juga ia akan berkata, “Gambarlah tentang apa saja, yang penting jangan sama!”
Dan ia, akan kembali ke posisi semula. Mengawasi anak-anaknya dari sebuah bangku. Kadang bila ia sudah merasa capek maka ia akan berdiri. Kadang bila ia capek berdiri maka ia akan berjalan mengamati. Dan bila sudah begitu, bila ia sudah sampai di sebuah bangku, saat itulah salah seorang anak akan menyodorkan buku gambar seraya berkata, “Lihat, Bu Guru. Lihat!”
Dan ia, seraya menyembunyikan rasa heran yang terpancar dari raut wajahnya, akan berpura-pura berkata, “Ya, ya, bagus.”
Lalu si anak akan bersorak, “Horeee! Gambarnya bagus…”

***

Mereka akan ribut. Mulanya memang seorang. Tapi ketika yang lain sudah saling melempar pandang lalu saling membalas ucapan, saat itulah ruang kelas itu akan menjadi gaduh. Masing-masing mereka seperti tak mau kalah, lalu akan terdengar suara:
“Wee, jelek!”
“Gambarnya jelek!”
“Jelek.”
“Bukan. Punyamu yang jelek.”
“Weee!”
“Jelek. Jeleeek!”
Mereka mulai ribut. Mulanya hanya melempar pensil, lalu penghapus, penggaris, dan bahkan ketika mereka sudah saling melempar buku gambar, lalu dengan kesalnya buku gambar itu dicoret-coret oleh salah seorang dari mereka, maka saat itulah mereka akan kian saling bertengkar. Dan si Ibu guru, seperti biasa-biasanya, akan menenangkan mereka semua.
Dan sering juga, bagai tak peduli dengan kegaduhan kawan-kawannya, akan ada saja yang menyodorkan buku gambar lalu berkata, “Bu Guru, Bu Guru, lihat! Gambarnya bagus kan?”
Dan si Ibu Guru, seraya kembali menyembunyikan rasa heran yang terpancar dari raut wajahnya, akan cepat-cepat berkata, “Ya, ya, bagus. Teruskan!”
Dan dengan serta-merta, si anak akan bersorak dengan girang.
Lalu ia akan heran. Ia tak ingin anak-anaknya jadi kecewa. Ia tak ingin anak-anaknya putus asa. Ia biarkan saja keheranan itu mengendap di pikirannya. Dan setelah anak-anaknya kembali tenang seperti sedia kala, maka ia akan mengajarkan semuanya. Kadang ia ajarkan anak-anaknya tentang bagaimana menggambar sebuah bunga. Kadang ia ajarkan anak-anaknya tentang bagaimana menggambar sebuah rumah. Kadang juga ia akan berkata, “Sudah, sudah. Jangan lagi ribut!”
Dan mereka, akan kembali ke kebiasaan. Biasanya mereka akan menuruti kehendak si Ibu Guru. Biasanya pula mereka akan kembali terpaku ke buku gambar itu. Dan ia akan kembali mengawasi anak-anaknya. Ia tak ingin ruang kelas itu jadi gaduh. Ia tak ingin anak-anaknya kembali jadi ribut. Ia awasi mereka semua.
Dan bila mereka sudah selesai menggambar lalu masing-masingnya mengumpulkan ke depan kelas, saat itulah ia lihat murid-muridnya akan berlari riang seiring berbunyinya lonceng pertanda pulang. Lalu akan ia lihat tumpukan buku-buku gambar. Ia akan kembali heran, kenapa mereka selalu menggambar tentang hal yang sama? Dan bila masih ada satu atau dua orang muridnya yang belum sempat keluar dari ruang kelasnya, maka saat itulah ia akan berpura-pura berkata, “Menggambar apa?”
Dan dengan serta-merta, si anak akan cepat-cepat menjawab, “Kampung.”

***

Kampung? Ia akan heran. Tak ada gambar kampung, tapi mengapa ada yang mengatakannya demikian. Dan seperti hendak menyakinkan, ia periksa lagi buku-buku gambar itu. Dua gunung. Matahari. Petak-petak sawah di kiri-kanan jalan. Ia heran. Semuanya tak menggambarkan.
Akan tetapi, saat ia mengembalikan buku-buku gambar itu ke tumpukan semula, saat itulah ia ingat akan sesuatu. Mungkin anak-anaknya ingin menggambar tentang sebuah kampung di kaki gunung. Mungkin anak-anaknya ingin memulainya dengan cara menggambar dua gunung, lalu padi, sawah, matahari, dan … oh, tiba-tiba ia ingat. Mungkin yang dimaksud mereka adalah sebuah kampung di suatu pagi. Indah diterpa cahaya matahari. Sejenak ia nikmati … akan tetapi, mengapakah mereka ingin menggambar sebuah kampung? Adakah mereka lupa dengan pelajaran yang sudah diberikannya?
Dan pertanyaan tentang mengapa itu telah begitu saja menggiring ia ke pertanyaan berikutnya. Bukankah ia hanya mengajarkan bagaimana menggambar bunga, bintang, rumah, dan … bukankah pula ia tak pernah mengajarkan tentang bagaimana menggambar sebuah kampung, lalu dari manakah keinginan mereka itu berasal?
Ia kian heran.
Mulanya ia menduga pastilah mereka mendapatkannya dari televisi. Mulanya pula ia menduga bahwa dari televisilah mereka mendapatkan inspirasi. Tapi ketika ia ingat bahwa mereka hanya berasal dari keluarga petani dan tak mungkin memiliki televisi, saat itulah ia menyadari bahwa mereka hanya tinggal di sebuah kampung. Dan kampung itu … ia layangkan pandang keluar jendela. Ia ingat semua.
Kampung ini memang terletak di dekat gunung. Dan lebih tepatnya lagi, kampung ini diapit oleh dua gunung. Lihatlah keluar sana! Dua gunung tegak menjulang. Dan dari balik jendela kaca, dua gunung itu nampak membentang. Matahari terang menyinari. Dan di kiri-kanan jalan, walau tak tampak dari jendela, petak-petak sawah itu bisa ia bayangkan. Dan selebihnya, ia bayangkan semua.
Ia hembuskan nafas. Perlahan ia merasa lega. Pantaslah gambar mereka semuanya sama. Ternyata mereka menggambar tentang kampung mereka sendiri. Dan di hari pelajaran berikutnya, entah merasa senang karena sudah menemukan jawaban atau entah karena ingin memastikan, saat itulah ia akan berpura-pura bertanya, “Menggambar apa?”
“Kampung.”
“Kampung?” Ia akan berpura-pura heran.
Lalu anaknya akan cepat-cepat menjelaskan, “Eh, gunung, Bu Guru.”
“Gunung apa?”
“Singgalang.”
“Dan di sebelahnya?”
“Marapi.”
“Marapi?”
Si Ibu Guru akan kembali berpura-pura heran. Dan dengan serta-merta, si anak akan buru-buru berkata, “Ya, Marapi. Tempat turunnya nenek moyang kami….”

Padang, 24 Desember 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: