Cerpen Padang Ekspres

Februari 1, 2009

Kampung Dalam Diri*

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 7:03 am
Tags:

Cerpen Delvi Yandra
Marzuki terus menatap sebuah miniatur rumah gadang yang terpajang di dalam etalase sebuah toko yang menjual barang-barang mewah. Beberapa barang mewah yang terbuat dari Kristal dan metalik tertata dengan apik. Namun, kedua bola mata Marzuki enggan berpaling dari miniatur rumah gadang yang berdiri kokoh itu.
Sesaat kemudian, ia membayangkan Mande yang sedang duduk menampi beras di jenjang rumah gadang tersebut. Marzuki menampik, mengusir dan menghilangkan segala kenangan buruk tentang rumah gadang dan kampung halamannya. Bahkan, kini ia cukup menyesal dengan pilihannya untuk merantau ke Ibukota. Padahal sudah sering Marzuki mendengar cerita-cerita, baik di lepau atau di Balai, kalau hidup di Ibukota itu bisa lebih makmur dan cepat kaya raya. Tapi kenyataannya lain. Tak sesuai dengan perkiraan Marzuki.
Kini, tak guna menyesal. Semua telah ia jalani. Ibukota dan segala hiruk pikuk keramaiannya tampak di hadapan Marzuki. Mau tidak mau ia harus menerima dan berlapang dada.
Tentu saja, ia masih teringat ngiang nasehat Mande. Kata-kata itu tak pernah putus, seperti benang sulaman dari Pandai Sikek. Benang sulaman milik perempuan-perempuan berbaju kurung yang  menyulam di anjung rumah gadang.
***
“Nak, usah engkau risaukan Mande. Kalau memang ini sudah menjadi pilihan, merantaulah. Abak pun tak akan bersusah hati. Lagipula tak baik engkau berlama-lama tinggal di rumah gadang ini. Apa kata orang nanti. Ada-ada saja gunjingan yang tak sedap akan merambat ke telinga orang-orang di kampung kita. Biar Mande yang akan mengurus semuanya. Segala keperluanmu sudah dipersiapkan Si Sap. Kalau sudah sampai di Ibukota jangan lupa kasih kabar. Berkirim surat pun tak apa.”
Selepas mencium tangan Mande, ia pun berangkat. Sebuah ciuman yang membikinnya terus bersemangat. Begitulah, Mande melepas kepergian anak satu-satunya itu dengan penuh keikhlasan.
***
“Heh, kalau tak beli jangan berdiri di situ. Sana pergi!”
Seorang penjaga toko segera menghardiknya. Membuyarkan lamunannya. Marzuki pun beranjak dan segera melanjutkan pekerjaan memasang batu-batu di sepanjang trotoar. Sore ini, pekerjaannya itu harus selesai. Tinggal beberapa meter lagi. Kalau tidak bersungguh-sungguh, jangan harap ia akan mendapat upah sesuai dengan yang diharapkan. Dan, pekerjaan tersebut terpaksa ia lakukan.
Betapa tidak, semua pekerjaan telah ia coba, menjadi kurir, calo, supir angkot sampai kuli jalan yang ia tekuni saat ini. Tapi tak satu pekerjaan pun dapat mengubah hidupnya jadi lebih baik. Apalagi di Ibukota sekarang sedang tidak aman, dimana-mana ada tawuran, dimana-mana terjadi kerusuhan. Orang-orang sibuk antre membeli minyak. Pegawai kantoran sibuk memikirkan tunjangan yang tertunda.
Pernah suatu ketika Marzuki dicemooh oleh majikannya tanpa sebab yang jelas.
“Eh, Kacung! Kerja begitu saja tidak becus. Dasar lamban! Orang perantauan seperti engkau tak pantas kerja beginian. Lebih baik engkau pulang kampung saja. Di sana engkau bisa berdagang atau mengurus sawah.”
Barangkali majikannya itu sudah tak tahan lagi melihat Marzuki melakukan pekerjaan itu. Sehingga tak ada angin tak ada badai, majikannya mengeluarkan kata-kata makian itu. Tentu saja, mendengar umpatan itu serta merta Marzuki naik pitam dan menghantam majikannya dengan sebongkah batu besar sampai pingsan. Tak sadarkan diri. Entah bagaimana peristiwa itu terjadi begitu cepat. Sementara, para pekerja yang menyaksikan peristiwa itu bersorak dan bertepuk tangan. Untung saja majikannya masih bernapas. Ia pun segera dibopong ke rumah sakit.
Kalau saja Marzuki mengamini kata-kata Abak untuk mengurus tiga piring sawah dan segera menikahi gadis gunting cina anak pak Jorong pasti nasibnya tak serupa ini. Kali ini Marzuki benar-benar tidak berdaya. Orang-orang proyek memperlakukannya seperti seorang kacung kelas rendahan.
***
“Setelah kejadian itu aku dipecat dan harus membayar biaya rumah sakit. Aku pun tak mampu berkuli seperti ini. Hasilnya juga tak seberapa. Akhirnya aku tak tahu harus menemui siapa lagi selain Uda. Hanya Uda yang dapat menolong aku.”
Marzuki mengadu pada Rusli, dunsanaknya, seorang penjual ayam potong di pasar.
Setelah bercakap-cakap cukup lama. Rusli menyarankan agar Marzuki pulang kampung saja mengikuti saran Abak untuk kemudian mengurus sawah dan menikahi gadis gunting cina serta hidup bahagia di kampung. Tapi Marzuki menolak, ia telah terlanjur malu mengatakan pada Abak dan orang-orang di kampung bahwa ia lebih memilih mengadu nasib di perantauan ketimbang mengurus tiga piring sawah dan menikahi gadis gunting cina yang bukan menjadi pujaan hatinya. Ia yakin betul kalau pilihannya ini benar-benar merupakan tujuan yang tepat.
Dan, apa pula nanti kata orang kalau ia pulang tak membawa hasil apa-apa. Sudah tentu ia tak akan dianggap dan dituduh telah mencoreng wajah Abak di hadapan orang-orang sekampung.
“Oh, tidak. Aku tidak akan pulang. Sudah jauh-jauh kubuang perasaan ingin pulang itu, Uda. Aku tidak ingin mengecewakan Mande. Sekarang cuma Uda-lah satu-satunya dunsanak yang mengerti dengan keadaanku. Kepada siapa lagi aku akan mengadukan nasib selain pada Uda.”
Tapi, Rusli tetap bersikeras untuk meminta Marzuki pulang dan menetap di kampung sampai ia merasa siap untuk kembali ke Ibukota. Rusli juga bermurah hati akan membayar semua biaya berobat majikannya.
“Marzuki, kau tak lihat bagaimana keadaan Uda-mu sekarang? Uda cuma beruntung dapat pekerjaan menjadi penjual ayam potong karena modal bermain koa dan berkenalan dengan orang-orang di pasar ini. Semua orang di sini sudah tahu siapa Rusli. Hm… Marzuki, kau tak usah pikirkan apa pendapat orang-orang kampung tentang dirimu. Nanti Uda akan berkirim surat pada Mande-mu. Uda akan urus semua biaya perjalananmu.”
Tak kuasa. Marzuki pun sedikit merasa lega. Tak kurang sedikit pun bantuan Rusli yang begitu tulus ia terima. Tak ingat lagi ia akan kembali ke Ibukota yang penuh sesak dan tak menjanjikan apa-apa. Marzuki pun berangkat.
***
Kini, ia teringat kampung. Terkenang nikmatnya gulai asam padeh buatan Mande dan cerita orang-orang di lepau tentang politik, tentang presiden pada waktu itu, atau tentang apa saja sambil menyeruput kopi jalang. Juga lenguh kerbau dan bunyi bansi yang menyentuh sampai ke dalam hati sanubari Marzuki.
Sewaktu kecil, Marzuki senang berlari-larian di tepi sawah. Mengejar capung dan belalang yang terbang, sering kali mereka mendarat di pucuk-pucuk padi milik Abak yang mulai menguning. Marzuki marah. Mengejar binatang-binatang itu sampai penat. Ah, betapa ia tak dapat menolak hasrat ingin pulang.
Selepas mendarat di Lampung, Marzuki melanjutkan perjalanan dengan bus umum. Orang-orang berdesakan ingin naik. Pengap. Udara panas. Pedagang asongan hilir mudik naik turun menjajakan minuman segar dan gorengan. Seorang ibu tua terlihat panik ketika kernet bus memintanya memperlihatkan karcis. Marzuki tak kuasa menahan sesak. Beberapa menit setelah bus meninggalkan pelabuhan, ingatan tentang kampong semakin pekat. Aih, semakin pilu hati Marzuki.
Di sepanjang jalan, sawah-sawah hijau terbentang luas. Sesekali, lekuk tebing curam dan bebatuan membentuk dinding yang kokoh di sisi kiri dan kanan jalan. Liuk elang di udara. Rumah-rumah. Sungai dan danau. Ibu-ibu tua berkodek sambil membawa bakul berjalan dengan penuh semangat. Awan tipis turun menutupi puncak gunung. Persis seperti yang tergambar dalam ingatan Marzuki. Serupa kampung yang terlukis dalam dirinya. Terngiang pula bunyi bansi ke telinganya. Ah, Mande!
Mande pernah bilang kalau di rantau jangan tinggalkan sembahyang, jangan lupa mengaji dan juga ingat untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja.
Begitulah, tak henti-henti segala peristiwa berkecamuk dalam diri Marzuki.Bus terus melaju di tikungan. Jalan semakin curam. Menanjak. Menurun. Semakin dekat menuju rumah, semakin gelisah hati dan pikiran Marzuki. Ia pun paham bahwa apa yang ia saksikan kini tidak banyak yang berubah.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, sampailah Marzuki di terminal Dobok, Batusangkar. Kemudian, ia memilih naik ojek menuju rumah. Sedikit sekali perbedaan yang ia temukan dibandingkan ketika ia meninggalkan kampung ini. Hanya beberapa petak sawah yang berubah menjadi bangunan ruko dan mini market. Gambar-gambar caleg di tiang listrik, di persimpangan. Dan, bendera-bendera partai bergambar binatang di sepanjang jalan.
Ojek pun berhenti di halaman rumah gadang. Rumah dengan rangkiang yang beberapa bagian dindingnya sudah keropos. Marzuki terkejut ketika ia melihat orang-orang tengah berkerumun di jenjang depan rumahnya. Sebuah keranda dan karangan bunga di halaman.
Firasat buruk. Marzuki bergegas mendekat dan melihat dengan lebih jelas apa yang sedang terjadi.
Ah, Marzuki semakin terkejut ketika berada di ambang pintu. Dan, walaupun bertahun-tahun ia di rantau, ia tak lupa dengan wajah orang-orang yang selalu ia rindukan. Ya. Ia melihat Mande  yang terbujur kaku dibalut kain kafan dikerumunan orang. Wajahnya pucat pasi.
Sementara Abak tersedu-sedu di sudut ruangan. Marzuki tak dapat menahan diri. Kemudian ia menerobos masuk dan berteriak keras.
“Oh, Mandeeee!”

Rumah Teduh, akhir November 2008

*judul cerpen tersebut dikutip dari judul puisi Esha Tegar Putra yang termaktub dalam antologi puisi bersama penyair lima kota “Kampung Dalam Diri”

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: