Cerpen Padang Ekspres

Januari 25, 2009

Dua Bujang

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:54 am
Di kampung kami, banyak sekali laki-laki yang bernama Bujang. Maka, jika kau mempunyai seorang kenalan yang mengaku bernama Bujang, kami yakin dia pasti berasal dari kampung kami. Dan, jika suatu waktu kau memutuskan untuk mencarinya dengan berkunjung ke kampung kami dan menanyakan tentang Bujang yang kaukenal itu, maka kau tentu akan kebingungan karena ornga-orang akan balik bertanya padamu: ”Bujang yang mana?” – bukan karena mereka tak kenal, melainkan karena mereka hanya ingin memberikan informasi yang tepat tentang keberadaan Si Bujang yang kau maksud.

Sebenarnya, Bujang hanyalah nama panggilan. Laki-laki yang panggil Bujang juga memiliki nama seperti nama-nama di kampung kalian. Tapi, kebanyakan nama panggilan mereka justru lebih populer ketimbang nama mereka yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang kampung mungkin tak tahu siapa sebenarnya nama Si Bujang yang mereka kenal.

Mengingat begitu banyak laki-laki yang bernama Bujang, maka orang-orang kampung pun mempunyai trik tersendiri untuk membedakan Bujang yang satu dengan Bujang yang lain. Di samping nama Bujang, dilekatkan nama tambahan, yang biasanya, mewakili karakteristik atau ciri khas sang Bujang. Misalnya, ada Bujang Karak, karena yang bersangkutan di waktu kecil suka makan kerak nasi. Ada juga Bujang Lisuik, karena bertubuh lisut – kurus. Atau Bujang Kuniang, dikarenakan dia berkulit kuning langsart. Dan, masih banyak Bujang-bujang yang lain.

Biasanya, di waktu berkenalan dengan orang luar, Bujang-bujang ini hanya mengatakan bahwa nama mereka Bujang – tanpa menyebutkan pula ujung namanya. Itulah sebabnya kenapa kau tak akan bisa menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan Bujang yang manakah yang kaucari. Jika kau hanya menjawab: “Ya, Bujang. Itu saja. Namanya Bujang!”, maka orang kampunglah yang kemudian jadi bingung dan kewalahan menyebutkan satu persatu Bujang yang ada berikut ciri-cirinya. Karena, memang ada berpuluh-puluh Bujang di kampung kami.

Namun, di antara puluhan Bujang tersebut, ada dua Bujang yang paling tersohor; yakni Bujang Antau dan Bujang Macang. Tak ada penduduk kampung yang tak kenal dengan dua orang Bujang ini. Dua nama itu seolah sudah melekat kuat di ingatan semua orang. Alasannya hanya satu. Bujang Antau dan Bujang Macang merupakan sahabat karib sejak kecil. Dan patut diingat bahwa di kampung kami jarang ada dua orang yang bernama Bujang yang ‘berani’ untuk berteman dekat. Karena, ya, seperti yang mungkin pernah kaudengar, penduduk kampung kami sangat suka mencemooh.

Jika kebetulan ada yang melihat dua orang Bujang berjalan berdekatan, maka akan ada saja penduduk kampung yang iseng dengan hanya bertanya: “Bujang, hendak ke mana kau?” Tentu saja seruan tersebut membuatkedua Bujang menoleh dan serempak memberikan jawaban. Saat itulah, sang penanya dan orang-orang yang ada di sana akan tertawa kegirangan – senang bukan main karena olok-oloknya berhasil. Dan dua orang Bujang itu pun akan saling menatap tajam, seolah saling menyalahkan, “Kenapa pula kau diberi nama Bujang?” ujar mereka dalam hati masing-masing. Hari berikutnya, mereka tak akan bertegur sapa.

Namun, tidak demikian halnya dengan dua Bujang tokoh kita. Keduanya tak pernah hirau dengan olok-olok penduduk kampung. Cemoohan yang ditujukan pada mereka hanya akan dibalas dengan senyum sumringah dan gelak tawa yang pecah berderai dari keduanya. Mereka bahkan mempunyai jawaban khas sebagai ‘serangan balik’ kalau-kalau ada yang iseng memanggil nama Bujang saja tanpa embel-embel ‘Antau’ antau ‘Macang’. Mereka akan menjawab bergantian; kata per kata. Bujang Antau akan menjawab “Kami mau…”, lalu dilanjutkan oleh Bujang Macang dengan “…ke Balai Kamis”. Meski ujung-ujungnya orang-orang tetap tertawa, namun mereka tak pernah merasa dicemooh.

Karenanya, orang-orang pun kapok mengolok-olok dua Bujang kita.

Oh ya, dua Bujang ini juga mempunyai nama ‘orisinil’. Bujang Antau nama aslinya adalah Ahmad Ridha Awal. Ia anak pertama, dan merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Dari mulai sekolah dasar, Ahmad Ridha selalu mendapat peringkat pertama. Panggilan Bujang Antau didapatnya karena sewaktu kecil ia sering berpindah-pindah tempat tinggal, dibawa orang tuanya. Maklum, Ayah Bujang Antau saat itu adalah seorang penyuluh pertanian yang baru dilantik, dan kerenanya sering dimutasi. Jadilah, Ahmad Ridha dipanggil Bujang Antau – anak laki-laki yang sering dibawa merantau.

Sementara, Bujang Macang sewaktu kecil populer dengan nama aslinya: Luthfi Irsyad Ibrahim. Kata ‘Ibrahim’ di belakang namanya yang sering dibangga-banggakannya itu disandangnya karena memang ia masih merupakan keturunan langsung Syekh Ibrahim – pembawa syiar Islam pertama ke negeri kami. Tak heran, dari dulu, keluarga Luthfi banyak yang menjadi ahli agama.

Luthfi adalah anak terakhir dalam keluarganya. Ia dua tahun lebih tua dari Bujang Antau. Gelar Bujang Macang didapatnya ketika ia masih duduk di bangku SD kelas empat. Waktu itu ia baru saja dikhitan. Tapi, dasar Luthfi bandel. Baru tiga hari disunat, ia sudah berani berjalan-jalan jauh dari rumah dan bahkan ikut teman-temannya mencari ambacang – buah sejenis mangga.

Kala itu memang sedang musim ambacang. Dan, semua orang tentu tahu kalau Luthfi begitu doyan makan buah tersebut. Hingga, ia pun tak ‘segan-segan’berebut buah ambacang yang jatuh dengan teman-temannya. Padahal, luka bekas jahitan khitannya belum kering benar. Akibatnya, jahitan di ‘burung’nya pun lepas dan ia harus rela disunat dua kali. Sejak itulah ia tak lagi dipanggil Luthfi, melainkan Bujang Macang.

Awal pertemanan Bujang Antau dan Bujang Macang terjadi ketika Ayah Bujang Antau mendapatkan SK PNS-nya dan dipindahtugaskan ke kampung halamannya – kampung kami. Rumah mereka berajauhan, tapi Bujang Macang sering bertandang mencari ambacang ke rumah Bujang Antau.

Pada suatu ketika, keduanya terlibat cek-cok dan berkelahi. Entah bagaimana persis kejadiannya, yang jelas sejak saat itu – setelah mereka berdamai tentunya – kedua Bujang kita mulai akrab. Ke mana-mana selalu bersama. Jika ada yang mengganggu salah satu dari mereka, maka yang lain akan siap membantu.

Pertemanan mereka kian akrab karena ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama. Bujang Antau dan Bujang Macang sama-sama gemar main layang-layang dan meriam bambu. Jika musim layang-layang datang, menolehlah ke langit. Jika kau melihat ada dua buah layang-layang yang sama persis bentuk dan warnanya, maka itu pastilah punya dua Bujang kita.

Begitu juga ketika bulan puasa tiba. Jika bukan di rumah Bujang Antau, mereka pasti sedang asyik bermain meriam bambu di halaman depan rumah Bujang Macang. Meriam bambunya sengaja diikat, dibikin seperti kembardan diletuskan secara serempak. Maka, aduhai, bunyi letusannya sungguh menggelegarke seantero kampung.

***

Bujang Antau bercita-cita menjadi insinyur pertanian, sementara Bujang Macang ingin menjadi guru agama. Selepas SD keduanya sekolah di tempat yang berbeda. Bujang Antau melanjutkan ke SMP, sedangkan Bujang Macang memilih masuk Madrasah Tsanawiyah. Meski demikian, hubungan mereka tetap sekarib biasanya. Malah bertambah erat. Terlebih, begitu menamatkan sekolah lanjutan pertama, mereka bersekolah di SMA yang sama di kampung kami – karena memang itulah satu-satunya SMA yang ada waktu itu.

Lulus SMA, persahabatan kedua Bujang memang masih tetap terjalin. Namun, tak seakrab dulu lagi. Maklum, jarak jua yang memisahkan mereka. Bujang Antau kuliah di Padang, mengambil jurusan pertanian di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedangkan Bujang Macang mengambil jurusan ilmu agama di Batusangkar. Sekali waktu, ketika kebetulan keduanya sempat pulang bersama, Bujang Antau dan Bujang Macang masih terlihat begitu mesra.

Seiring waktu yang terus bergulir, persahabatan mereka kian renggang. Hingga akhirnya seakan terputus begitu saja. Bahkan, ketika Bujang Macang diwisuda, Bujang Antau tak hadir. Katanya,”Aku sibuk, Jang. Skripsiku…” Meski Bujang Macang memohon-mohon agar sahabatnya itu mau meluangkan waktu sehari saja untuk menghadiri acara kelulusannya, namun toh Bujang Antau tetap tak datang. Bujang Macang hanya bisa menelan kekecewaan.

Rasa kecewa itu semakin bertambah ketika pada hari Bujang Antau diwisuda, ia tak pernah memberi kabar pada Bujang Macang. Bujang Macang mengetahui kalau sahabat karibnya itu telah diwisuda setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut.

Dengan ijazah Diploma 3-nya, Bujang Macang melamar menjadi guru Fiqih di Tsanawiyah tempat ia dulu bersekolah. Selain itu, ia juga mengajar anak-anak mengaji di surau. Begitu SK mengajarnya keluar, Bujang Macang menikah. Memiliki dua orang anak. Satu perempuan, dua laki-laki.

Sementara itu, Bujang Antau semakin jarang terdengar kabarnya. Setelah mendapat gelar Sarjana Pertanian, ia langsung ke Jakarta, ikut temannya. Tak ada yang tahu di mana ia bekerja. Kedua orangtuanya pun seolah tutup mulut atas keberadaan Bujang Antau. Entah kenapa.

Dua Bujang yang dulu pernah tersohor dan menjadi buah cakap di kampung, hilang dari topik pembicaraan selama bertahun-tahun. Hingga hari itu tiba…

Ya, pada suatu hari – belasan tahun setelah ia pergi tak tahu kabar – Bujang Antau pulang dengan kisah sukses yang ia raih. Rupanya, garis tangan Bujang Antau bukan di bidang pertanian seperti yang ia cita-citakan dulu. Bujang Antau pulang sebagai seorang pengusaha besar dari Jakarta. Tak tanggung-tanggung, ia pulang bersama anak istrinya dengan mobil sedan mengkilap. Orang-orang kampung berdecak kagum, mengelu-elukan Bujang Antau yang telah menjadi orang sukses.

Dan, cerita tentang dua Bujang pun kembali dibuka.

Kabar itu akhirnya sampai juga di telinga Bujang Macang. Tak bisa dilukiskan betapa gembiranya Bujang Macang begitu mengetahui sahabatnya pulang. Maka, ia pun dengan rindu dendam yang telah lama ditahan, segera menghambur ke rumah Bujang Antau.

Namun, apa yang kemudian didapatnya? Bujang Antau sama sekali tak lagi mengenalnya. “Apa aku sudah terlalu tua?” tanya Bujang Macang berseloroh. Tapi, meski akhirnya dengan cerita panjang lebar, Bujang Macang berhasil membangkitkan ingatan tentang masa lalu mereka, Bujang Antau hanya menanggapinya dengan dingin. Cerita panjang Bujang Macang hanya dibalas dengan ‘Oooo…’ panjang, sementara Bujang Antau sibuk memencet-mencet HP-nya.

“Maaf ya, saya tinggal sebentar. Ada panggilan dari Jakarta,” katanya santai untuk kemudian meninggalkan Bujang Macang sendirian.
Meski katanya cuma sebentar, namun hingga berjam-jam kemudian , Bujang Antau tak jua kembali menemui Bujang Macang.

Bujang Macang pun memutuskan untuk pergi saja dari sana.
“Sepertinya kau sibuk, Jang. Besok atau kapan-kapan aku ke sini lagi. Insya Allah,”ujar Bujang Macang berpamitan.
“Oh ya.. Ya..” balas Bujang Antau sambil terus saja menelpon.
Bujang Macang hanya bisa menelan airmata yang dirasanya mulai menetes.

***

Kau tentu bertanya-tanya, bagaimana saya bisa tahu dengan persis peristiwa yang terjadi di malam itu antara dua Bujang tokoh kita.
Oh ya, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Luthfi Irsyad Ibrahim. Tapi, orang-orang kampung lebih suka memanggil saya Bujang Macang.

Sumpur Kudus, 06 September 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: