Cerpen Padang Ekspres

Januari 18, 2009

Julo-julo Incim

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:46 am
Tags:
Cerpen Ilham Yusardi
(I)
Upik Uban tegak mematung di depan daun pintu rumah Incim. Tak yakin, tapi dikeraskan juga hatinya mengetuk pintu.
“Assalamualaikum…, Incim!” Suara Parau keringnya bergelegar.
“Ya…, tunggu. Siapa?” Sipongang suara teredam ruangan rumah. Tak lama, ringkik daun pintu terkuak, seiring muncul perempuan paruh baya, dengan pakaian rumah seadanya.

“Eee, Upik Uban kiranya. Kabar apa, Pik? Lama tak hinggap kau ke sini. Ayo masuk” Incim menyila Upik Uban untuk duduk. Upik Uban melangkah masuk. Beberapa langkah, dengan sedikit sungkan, Upik Uban melorotkan badannya di sofa yang masih berbungkus plastik.
“Baru sofa, Ncim?” Celetuk Upik Uban, membuka obrolan.

“Seminggu. Tukar tambah” Jawab Incim sekenanya. Bergegas Incim ke belakang. Upik Uban terkesan dengan ruang itu. Tiga meter dari tempat ia duduk, tivi layar datar tipis seakan lekat ke dinding. Kiri-kananya berdiri speker berhias bunga anggrek plastik. Di sudut antara sofa berdiri guci keramik setinggi orang, bertuliskan kaligrafi.

Dinding kiri tertempel pigura cantik, foto Incim dan suami tersenyum seukuran tivi.  Pohon anggur plastik, menjalar, berjuntai-juntai di pembatas ruang yang terbuat dari rotan. Kaki Upik Uban pun tak bisa membutakan permadani Turki yang tebal dan empuk. Kulit Upik Uban termanjakan oleh udara sejuk yang disebar pendingin ruangan. Upik Uban menelan ludah pekatnya.

Incim keluar dengan napan stainnless steel mengkilap. Di atasnya toples dan sebuah gelas kristal bertangkai tinggi, berisi air berwaran kuning pekat (mungkin sirup mahal pikir Upik Uban).

“Senang kau kini, Ncim” Tukas Upik Uban, matanya memperhatikan gerik Incim yang ringan.
Incim tersenyum lepas, bersambung tawa kecil. “Alah, kau bisa saja. Ada  paha ada kaki, ada usaha ada rejeki. Iya, kan. hehehe?” Incim membuka tutup toples kristal. Tampak kue kering berwarna cokelat bertabur kacang mete dan kismis.
“Silahkan dimakan kuenya, Pik!”

Upik Uban merogoh sekeping kue dari botol. Incim sibuk pula memencet remot tivi. Seketika tivi menyala. Cahaya berlepasan meneranggi ruangan. Gambarnya sangat jernih. Suaranya bombastis menggeletarkan jantung Upik Uban. Di tivi tampak gambar seorang ustad kondang berceramah penuh semangat. Kemudian tertera judul tayangan ‘Kala Mayit Tak diterima Tanah’. Incim mencet remot lagi. Merendahkan volume suara tivi.
“Apa kabar, Pik” Sahut Incim ringan saja. Upik Uban terdiam, tersadar dari tatapan ke tivi.

“Anu, Ncim. Kalau boleh, awak mau ikut julo-julo tembak lagi dengan Incim. Lagi butuh uang. Terdesak, Ncim. Keadaan, Ncim. Kredit motor Uda jatuh tempo. Sebulan menunggak. Kemarin sudah ke rumah orang dealer, Ncim. Tadi pagi juga. Katanya kalau besok tidak juga dibayar, motor akan ditarik. Kalau motor ditarik, Ncim, uda awak tidak bisa narik ojek lagi. Kalau uda tidak ngojek lagi, Ncim, dengan apa belanja harian awak, susu anak awak. Itulah yang membuat awak kalampasiangan, Ncim.” Panjang lebar bercerita, tersendat-sendat antara sebak dada, dijelaskan jua niatnya pada Incim. Incim dengan mudah mengerti situasi.

“Saya paham, Pik. Bagi saya tidak masalah. Tapi saya tidak ingin lagi Upik seperti yang sudah sudah. Kalau bisa bayar harian julo-julonya rutin. Biar tidak tambah susah kau. Biar cepat tamatnya”
“Iya, Ncim. Jadi”

“Julo-julo berapa yang mau kau ikut.” Lanjut Incim seraya menggaruk daki di lehernya. Upik Uban melihat kalung Incim begerincingan begitu tangan incim menyentuh leher. Mainannya batu permata sebesar kepala sendok berkilau, meyilau mata Upik Uban begitu terkena pantuan cahaya tivi.
“Yang hariannya sepuluh ribu saja, Ncim”
“Jadi, kau mau ambil julo-julo tembak sejuta”
“Iya, Ncim” Angguk Upik Uban tegas.
“Baiklah. Kau kutembakkan kenomor satu. Kau bisa dapat uang sekarang. O, ya, kau sudah tahu kan aturan julo-julo harian ini?

“Sudah, Ncim” Angguk Upik Uban cepat. Incim pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Terurai jugalah awan mendung yang galaukan hati upik Uban dua hari ini.
Upik uban tentu sudah tahu betul aturan main julo-julo harian itu. Ia ambil julo-julo tembak satu juta rupiah. Nantinya akan dibayar rutin perharinya sepuluh ribu rupiah selama seratus sepuluh hari. Sepuluh hari terakhir orang kampungnya menyebut hari pencabik kartu. Entah siapa yang menetapkan undang-undang itu, sudah ada begitu saja turun temurun. Sepuluh hari itulah upah balas jasa orang menjalankan (kepala) julo-julo yang dijemput dari kerumah setiap harinya.

Incim keluar dengan beberapa uang bergambar Pak Sukarno dan Pak Hatta. “Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan…, ini Pik. Sembilan ratus ribu rupiah. Seratus ribu dipotong untuk mengisi sepuluh hari pertama” Uang diulurkan ke arah Upik diletakkan di sudut meja, di hadapan lutut Upik. Lalu, Incim sibuk pula membubuhi tanda paraf sepuluh baris di kolom pertama kartu julo-julo baru. Tiap-tiap paraf itu kemudian dicap pula dengan stempel sebesar ujung telunjuk. Kartu diserahkan ke Upik.
“Terima kasih sekali. Awak Pulang dulu, Ncim”
Upik Uban bisa lagi tersenyum.
Incim Pun tersenyum.

(II)
Sore, langit tersapu jingga dari semburat matahari siang menjelang sore. Sepeda motor bebek Ujang Balam—pembawa motor pribadi Incim dalam menjemput julo-julo dari pintu ke pintu—berhenti di halaman sebuah rumah kayu lama. Suara knalpot modifikasi sepeda motor Ujang Balam yang keras dan khas, sudah hafal oleh telinga perseta julo-julo. Incim turun, melangkah menghampiri pintu. Sebelum sampai di pintu, dua orang bocah melongokkan mukanya yang berkabut risau.

“Ibu di Rumah Sakit, Etek” Ujar bocah menyela suara kelotak sepatu Incim.
“Rumah Sakit? Siapa yang sakit” Kalimat tanya itu habis di pintu. Incim menguakkan pintu lebar-lebar, melongok ke dalam rumah. Sepi.
“Ayah, Etek. Tadi pagi sepulang dari sawah, tangan kanan, kaki kanan ayah tidak bisa lagi digerakkan. Uda Pudin melarikannya ke Rumah sakit”
“Stroke?!” Incim tersentak, seakan tidak Percaya.

“Entahlah. Ani ndak tahu, Tek” Ucapan Ani yang terakhir itu bersibuah dengan sebak. Ani berusaha menyeka cairan hangat yang terbit di sudut matanya.
Incim mundur. Mengusap kedua kepala anak itu. Ia menarik nafas, kemudian melangkah ke arah motor Ujang Balam.

Imar, Ibu kedua bocah itu ikut julo-julo incim rutin, putus sambung. Dua puluh ribu sehari. Menerima dua juta. Uang cabutan sudah diambil untuk mengganti atap rumah yang semula rumbia dengan seng. Sekarang tinggal melunasi sepuluh hari Pencabik kartu saja lagi.

(III)
“Naik haji?”
“Iya”
“Kata Siapa?”
“Incim sendiri yang bilang begitu pada saya.” Buk Siar, penuh semangat meyakinkan Buk Yet akan informasinya.

Tangan mereka terus juga memilih terung yang teronggok di meja lapau Buk Mur. Sedari tadi pilih-memilih terung itu tak kunjung selesai. Obrolan lebih semangat. Awalnya cuma perkara garin mesjid yang baru suaranya merdu mengumandangkan azan. Beralih ke Artis Marcella Zalianty masuk penjara. Lalu pindah pula soal Syekh Puji nikahi perempuan bawah umur. Bergeser lagi tentang derita Upik Uban yang suaminya ditangkap polisi karena menjual kupon putih. Entah siapa yang mulai, tersedak saja  obrolan itu pada Incim yang konon akan pergi haji tahun ini.

“Eh, Buk” lanjut Buk Siar mencolek bahu Buk Yet, kemudian merapatkan muncung ke telinga Buk Yet, “Kalau Incim naik haji, sah nggak sih?”
“Kenapa?”  Tanya itu berbalik ke Buk Siar.
“Julo-julo itu, eng, anu. Riba kan?” Mereka kemudian terdiam. Saling pandang.
“Yang mana terungnya Buk?” Sahut Buk Mur, pemilik lapau. Menyentak kesadaran meraka.

(IV)
Incim setengah hati turun dari motor. Cerah langit sore hari itu ak senada dengan kesumat galau yang membalut hati Incim. Sudah sepuluh lebih rumah yang ia singgahi. Belum ada hasil sama sekali. Parahnya, orang-orang yang tak bisa ditagih itu justru peserta dengan jumlah yang besar. Mak Lena, juragan beras, yang ikut putaran lima puluh ribu perhari, tidak di rumah. Kata tetangganya, Mak Lena pergi ke Muaro Kalaban, ke rumah anaknya, meyelenggarakan aqiqah cucunya. Upik Sela, yang ikut dua puluh ribuan perhari, tidak bisa bayar hari ini. Janji bayar besok dobel. Mintuo Taci, yang tak lain adalah istri mamaknya, juga minta ditunggak tiga hari kedapan.

Jelang Tanggal satu. Incim maklum, Uwan, mamaknya itu PNS di Dinas Kebersihan Pasar. Upik Uban kembali berulah dengan gaya lamanya. Alasannya kini: udanya masih di kantor polisi. Belum ada kepastian kapan akan keluar.

Incim berjalan menghampiri pintu rumah Ita Kamek. Ita Kamek sudah berdiri dengan mengibarkan tiga lembar uang ribuan dan kartu julo-julo yang sudah lecek. Ita Kamek seangkatan dengan Incim. Lawan barek Konco Arek, kata orang. Sedari kecil mereka sudah bermain, bergaul bersama. Sama mengaji, sama sekolah TK, SD, SMP, sampai SMEA mereka tetap sama.

“Jadi Kau naik haji, Ncim” Selorohan setengah kelakar itu keluar lebih dulu daripada uang julo-julo beralih ke tangan Incim. Incim mengambil uang itu tanpa peduli dengan pertanyaan Ita Kamek. Dicabiknya kasar kartu julo-julo. Memang julo-julo Ita Kamek tamat dengan uang tiga ribu itu.

“Jadi, Ncim?” Ita Kamek meninggikan nada suaranya. Bertanya serius. Ia tak melihat gelagat gusar dan kerut di kening Incim.
“Eee, Nyinyir! Ndak usah banyak sigi kau lah. Ikut tiga ribu, cuma.” Akhirnya tertumpah jua kegusaran Incim.

Suasana antara keduanya jadi tegang. Dihamburkan sobekan kartu ke arah Ita Kamek. Lalu secepatnya balik kanan, melangkah ke arah jalan.
“Eh, Ncim. Tiga ribu kali sejuta berapa, ha? Tiga-ribu-juta! Tiga milyar! Cukup untuk kau naik haji tujuh kali berturut!” Ita Kamek tak terima pula ia disengat mulut Incim.
“Awas Kau, ya!” Dihentikan langkah. Ditunjuk kidalnya Ita kamek dengan geram.

(V)
Cahaya yang disemburkan layar televisi berkilasan, kerjap-kerjapan menerpa ruangan itu. Sebentar-terkilas jam dinding besar, menujukkan angka enam lewat pada jarum pendeknya. Sebentar-terkilas cahaya televisi menyapu foto sepasang suami istri yang besar, menyeka guci keramik besar yang berdiri di kiri kanan. Berkilasan menjelaskan kembang anggur plastik yang terjuntai di pembatas ruangan. Pada saat tertentu cahaya yang bersemburat dari televisi menerangi tubuh yang tergolek di sofa yang masih berplastik itu.

Suara dari speker tivi yang berdiri di kiri kanan hanya sekedarnya saja. Tidak menggangu telinga perempuan yang tergolek di sofa panjang. Suara tivi tak ubahnya rintih pedih dari sebuah dunia lain. Terlihat gambar pejabat menteri ekonomi dikerubuti wartawan dalam persoalan krisis keuangan global. Kemudian beralih pada gambar gedung-gedung Bank yang terancam bangkrut. Gambar bursa efek Jakarta yang terpaksa ditutup. Sungguh perempuan paruh  baya itu tiada pula mengerti dan tak bersangkut-soal dengan tayangan itu. Kemudian tayangan itu berhenti pada tulisan huruf kapital di layar telveisi: Menantikan azan Magrib.

Azan Magrib berkumandang lamat-lamat lirih dari kedua speker. Tivi menampakkan gambar orang-orang berangkat menuju masjid. Ada tulisan arab dan latin lafalan azan di layar seiring kumandang azan.

Langit makin kelam. Matahari mulai berpejam. Lampu ruangan belum juga dinyalakan. Sesekali percikan cahaya yang bersemburat dari tivi jatuh di tubuh  perempuan itu. Ia tidur dengan pergelangan menyilang di atas kening. Kiri dan kanan kening perempuan itu masing-masing ditempeli koyo cabe.

“Hayyalal fallah….” Suara dari tivi itu terlalu lamat, terlalu pelan, mungkin tak sampai menyentuh gendang telinga perempuan yang rebah kuda di sofa itu.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: