Cerpen Padang Ekspres

Desember 28, 2008

Ia Telah Lupa

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 7:01 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal


I
“Kau tahu? Kalau ia telah lupa cara tersenyum dan tertawa.”
“Apa maksud Uni?”
“Kau cepat pulang, Saleh!”
“Tapi kenapa?”
“Kau cepat pulang!” dan telepon berakhir.

Sekiranya, itu kali terkahir Saleh berbicara dengan kakaknya sebelum ia tiba di kampung. Ada banyak duga yang meggelinjang di ruang rasanya tentang kabar sekaligus perintah itu. Apa sebenarnya yang terjadi? Ia tak akan berhenti menerka sampai decisan kekesalan memaksa bibirnya berkecipak.

Saleh biasanya menyukai kabar dan pesan dari kakaknya itu. Kabar dan pesan yang kadang agamais, inspiratif dan juga motivatif. Terlebih lagi dari Bundo, yang meski jarang sekali mau bicara dengannya lewat telepon. Bundo bukan tak mau, kekhawatiran akan keluarnya bulir-bulir bening dari sudut mata adalah penyebabnya. Pesan itu biasanya disampaikan pula oleh kakaknya. Namun Saleh tak menyukai kabar yang tak jelas, seperti halnya kabar terakhir yang barusan ia terima.

Dan genaplah sepekan, Saleh telah bosan menerka atas duga yang menggelinjang di ruang rasanya. Ia pun memenuhi interogasi itu, “Pulang untuk menyaksikan semua.”

II
Pukul tiga pagi Shaleh tiba di kampung. Lima belas jam perjalanan darat antar propinsi telah dan selalu menjadi kutukan tersendiri baginya. Meski duduk dibangku depan, Ia tetap saja kalah melawan liku-liku jalan yang menghantam dan mengguncangkan isi perut. Nasib buruk perjalanan itu semakin mengutuk dengan pertanyaan dan ejek tawa penumpang sekitar tempat duduknya.

Jika ada jalur udara menuju kampungnya, Saleh tentu akan melupakan selupa-lupanya jalur darat itu. Walau ia harus lebih bergiat mengumpulkan uang sebelum keberangkatan, “Toh kalau giat mencari, mudah untuk mendapati,” kalimat yang rupanya sedikit memberi kelapangan di ruang sempit hatinya, yang sejak awal keberangkatan telah terapit, bahkan terjepit.

Dengan diantar ojek, Saleh tiba di halaman rumah. Itulah saat indah untuk ia melupakan semua penderitaan dalam perjalanan, melupakan liku-liku jalan, melupakan kepala yang berputar, melupakan perut yang mual, melupakan hamburan isi perutnya.

Saleh menapaki jenjang rumah kayu, mengetuk dan salam sekenanya. Dalam waktu yang tak lama, sebuah suara menyaut salamnya. Saleh sudah dapat menerka bahwa itu suara kakaknya. Namun ada suara lain yang sayup-sayup ia dengar, suara nyanyian merdu, sebuah lagu tentang dodoy anak.
Pintu dibuka, wajah kusut kakaknyanya muncul di belahan pintu. Meski demikian ia tetap tampak manis. Tak salah Bundo dan mendiang Ayah menamainya, Ayumi. Kakaknya itu memang benar-benar ayu. Mereka bersitatap dan sesaat bertukar senyum.

“Kau pulang juga Saleh? Naik apa Kau?” tanya Ayumi, kemudian membawa barang-barang Saleh masuk,
“Biasa Ni,” Saleh menyebutkan nama bus yang ditumpanginya.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Saleh cuti satu minggu.”
“Kenapa lama sekali?”
“Sekalian ada yang ingin diurus di kantor wali!”
“Urus apa?”
“Surat pindah, supaya bisa buat KTP di kota tempat Saleh kerja.”
“O… begitu, Kau ingin Uni buatkan teh? Menghilangkan sisa-sisa mual perjalanan mungkin?”
“Boleh Ni…”

Saat Ayumi ke dalam, Saleh bisa lebih jelas mendengar suara yang masih menyanyikan lagu dodoy anak. Ia kenal suara itu. Sangat ia kenal. Tapi sulit baginya untuk menyakini bahwa suara itu adalah suara yang ia kenal. Ia menghampiri kamar asal suara dan mengintip di celah pintu. Ia ragu untuk memanggil. Apalagi suara itu ternyata tidak hanya bernyanyi. Ia juga bagai terlibat dalam percakapan, namun dengan kesendirian. Dirinya adalah lawan bicaranya. Ada banyak hal yang ia dengar, meski tema pembicaraannya melompat-lompat. Tentang pengasuhan anak, hasil padi, mamak kacang miang, perkuburan dan banyak lagi. Sesekali juga terdengar namanya disebut-sebut, “Saleh akan mengembalikan segalanya.”
“Saleh! Ini tehnya!”

Saleh cepat-cepat memburu Ayumi,
“Uni ada apa ini? Kenapa Bundo? Apa yang terjadi?”
Wanita itu terlihat paham apa yang barusan diperhatikan Saleh. Ia tak menjawab, ia meminta Saleh untuk tidak mengeraskan suara. Matanya seketika berair.
“Saleh Kau minum dulu, istrirahatkan dulu badanmu, subuh masih lama.”
Ayumi beranjak dan masuk ke kamar. Saleh dapat mendengar ada isak tangis yang disembunyikan oleh kakaknya itu.

Dan Saleh tak mau menunggu pagi. Ia mengetuk pintu asal suara nyanyian itu.
“Bundo… Bundo… Ini Saleh. Saleh pulang!”
Pintu bergegas dibuka, wanita enam puluhan itu memeluknya. Saleh balas memeluk. Sosok itu menagis sejadi-jadinya.
“Kau jangan dekati mamakmu. Ia pembunuh. Ia telah membunuh ayahmu. Sawah enam piring sudah dicurinya, adik-kakak Bundo dihasutnya, Ayumi juga ingin membunuh Bundo!”
Saleh bingung, Bundo lupa bagaimana biasa ia menyambutnya. Bundo tak menanyakan kapan sampai, bagaimana kabar dan pekerjaan Saleh. Ia tentu juga lupa membuat teh hangat penghilang mual, mengurut kaki dan punggung Saleh yang semalaman kaku di atas bus, juga untuk meremas rambut Saleh agar pusingnya hilang.

Bundo masih menangis, segala hal yang ia sebut membuat Saleh tak dapat membendung pertahanan air matanya. Saleh pun lekas menumpahkannya. Peluknya semakin erat pada wanita yang sangat ia cintai itu. “Apa yang terjadi Bundo?” derainya semakin deras.
“Ayahmu telah dibunuh mamakmu, Ayumi sekongkol dengan mamaknya ingin membunuh Bundo, selamatkan Bundo, Saleh! Bundo ingin pergi saja ke kota tempat Kau kerja!”

“Bundo istighfar, Ayah sudah lama meninggal. Waktu Saleh SMP dan Uni SMA. Bundo Ingatkan?”
Wanita itu tak peduli, ia terus mengadukan banyak hal pada Saleh. Saleh menyadari ada sesuatu yang tak wajar dari Bundonya itu. Ia paksakan diri untuk terus menanyai. Pertanyaannya kadang dijawab kadang tidak. Sulit bagi Saleh mendapatkan kebenaran. Bundo kemudian bercerita panjang dan melompat-lompat. Meski sangat miris, Saleh tetap melayani dengan tekun. Selepas sholat subuh Saleh pun baru bisa tidur. Sayup-sayup ia kembali mendengar Bundo bernyanyi, “Dodoy si Dodoy… Dodoy si Dodoy….”

III
“Brakhhh!”
Suara piring dibanting, Saleh terbangun. Ia benar-benar terlelap di kamar Bundo.
“Dasar Kau anak tak tahu diuntung. Sudah payah aku membesarkan Kamu. Kalau Kau ingin bersuami, bersuami saja. Kau sekongkol dengan mamakmu. Kalian akan membunuhku!”
“Jangan Bundo… Istighfar Bundo… Bundo jangan!” Ayumi ketakutan.

Saleh cepat-cepat turun dari rumah. Ia tersadar, ada sesuatu yang tak beres di dapur. Seketika saja, Ia langsung meraih tangan Bundo yang siap dihantamkan ke kakaknya itu. Bundo pun meronta-ronta. Atas kode Ayumi, Saleh membawa Bundo ke kamar untuk disuapi nasi dan minum obat. Kakaknya bilang Bundo tidak tidur semalaman.

Saleh menyuapi Bundo. Wanita itu lahap sekali. Saleh memandang dalam ke mata ibunya itu, mencari sosok yang dulu tidak lupa akan segalanya. Hatinya terguncang hebat, saat sekelabat bayangan Bundo menyuapinya waktu ia masih kecil, saat Bundo meyelamatkannya dari tulang ikan yang hampir masuk dalam kerongkongan. Entah kali keberapa saat itu, mata Saleh basah lagi.
“Saleh, kenapa Kau menangis?”
Saleh tergagap.

“Ti ti tidak Bundo, Saleh tidak menangis.”
“Lalu ini apa?” Bundo menunjukkan air mata yang telah ia seka dari pipi Saleh, “Mendiang ayahmu tak pernah mengajarkan kita berbohong tahu?”
Saleh tersenyum, ia memeluk Bundo erat-erat.
“Bundo sekarang minum obat dan tidur ya?”
“Tapi Kau jangan bersekongkol dengan Ayumi!”

IV
Di halaman depan, terlihat Ayumi menganyam tikar pandan. Saleh sudah merasa segar, karena ia sudah membersihkan badannya. Ia memperhatikan kakaknya itu dari dalam rumah, barangkali Ayumi sudah lupa bahwa baju yang ia kenakan adalah baju Bundo. Tak sepantasnya gadis secantik itu mengenakan baju potongan orang tua. Saleh tersenyum mendekati kakaknya. Ayumi memperbaiki duduknya.

“Saleh, Bundo telah lupa segalanya. Ia lupa cara tertawa yang pada tempatnya, menangis yang pada waktunya, marah yang pada saatnya. Ia juga lupa bagaimana menasihati, bagaimana berbagi, Bahkan Bundo juga lupa bagaimana cara sholat, berdoa dan mengaji.”
“Uni, apa yang terjadi dengan Bundo?”

“Sebulan lalu, Enam piring sawah di mudiak dipindahtangankan. Kata Mamak, itu bukan punya Bundo. Tiga piring dijual mamak untuk kuliah anaknya dan tiga piring lagi ia bagi-bagikan kepada saudaranya yang lain. Bundo tak mendapatkannya sepiring pun.”

Emosi Saleh menguap, sejak dulu ia telah menjaga telinganya dari kabar manusia paling antagonis itu. Ia menyadari, rupanya permasalah sawah masih jadi umpan mamaknya untuk menunjukkan bahwa dirinya memang serigala.

“Bundo dan Uni telah berusaha mati-matian mempertahankan sawah itu. Herannya, tak seorang pun sanak saudara yang peduli dengan nasib kita. Mereka telah lupa cara bertutur baik dan menghargai jerih payah Bundo. Mereka bahkan lupa jika Bundo adalah saudara mereka. Setelahnya, Bundo panas tinggi, ia sering ngamuk-ngamuk dan berbicara sendiri. Orang kampung bilang Bundo dikerjai orang, kemasukan, tasapo dan banyak lagi. Si Yeni anak mamak yang kuliah dokter itu bilang, Bundo sudah seharusnya dibawa ke rumah sakit jiwa. Bundo hilang ingatan.”

Saleh kini serasa bertengkar dengan keadaan, ia serasa bergulat dengan kemuakkan tampang mamak dan deretan mahluk yang disebutkan kakaknya itu.

“Kau tahu Saleh, Ande Mar, teman lama Bundo, satu-satunya orang yang peduli. Tapi ia tak dapat mencampuri urusan ini. Ia terus melayani Bundo, memberikan pesan kesabaran, pesan bahwa hidup ini tak lama, pesan kejahatan pasti akan dibalasi. Kami mengurus Bundo. Namun ia telah pulang, tidak tahan dengan perlakuan Bundo. Ia sering diomeli dan dicekik Bundo. Sejak itu, Bundo meluapkan kemarahannya sama Uni, Bundo lupa bagaimana bersikap sebagai ibu.”

V
Semuanya telah membentang di mata Saleh. Ia tak kuasa membiarkan lidah Bundo dan Kakaknya menjilat kenyataan pahit itu. Ia tak akan membiarkan kakaknya itu jadi tamparan kelupaan Bundo. Mamak yang lumpur hitam berbau busuk itu kini telah tercetak di keningnya.
Ada sesuatu yang bergetar di saku Saleh. Perlahan ia mengeluarkannya. Sebuah panggilan dari induk semangnya di kota. Saleh memutuskannya. Handphone itu bergetar lagi. Saleh tak peduli. Dalam waktu yang tak lama, sebuah pesan masuk di handphone-nya. Pesan yang meminta Saleh untuk cepat kembali dan bekerja lagi. Saleh mematikan handphone-nya.
“Eh, apa Kau mau ke kantor wali mengurus surat pindah itu?”
Pertanyaan itu kini sangat menusuk ulu hati Saleh.
“Saleh tak akan pernah ke kantor wali Uni, Saleh telah melupakan urusan itu.”

Padang, 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: