Cerpen Padang Ekspres

Desember 21, 2008

Laki-laki Yang Jadi Pegawai Negeri

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 3:51 pm
Tags:
Cerpen Nelson Alwi

Pertama bekerja kepala kantornya Zamzami. Begitu dipromosi menjadi Kormin di Kantor Wilayah, Zamzami merekomendasikan Kamaruddin, yang sebelumnya menjabat Kasi, sebagai penggantinya. Dan ketika Kamaruddin memasuki masa purna bakti, posisinya dialihtangankan kepada Ibu Widya —demikian perempuan 40-an tahun itu suka disapa— yang juga merupakan “orang dalam”.

Barusan, Ibu Widya yang menanyakan apakah dia bisa komputer. “Rugilah kamu,” kata Ibu Widya menimpali gelengan enteng kepalanya. “Tak bakal ikut diskusi komputerisasi di Carano Hotel.”

Dia tercenung. Dewasa ini komputer memang sudah sangat mewabah. Instansi-instansi pemerintah, termasuk kantor di mana dia bertugas, pun tak hendak ketinggalan. Sepuluh unit komputer di lingkungan 42 pegawai negeri, tampak sangat diminati. Koleganya ngiler, bak melihat asam, sekalipun sekadar untuk memainkan game-game di peralatan terbilang mahal itu.

Ya ya, pikirnya, siapa di antara koleganya yang layak dikirim ke forum diskusi di hotel bintang empat itu? Lalu rugikah dia apabila tak diikutsertakan? Rugikah dia lantaran selama ini enggan mengutak-atik atau mengoperasikan komputer kantornya?

“Kamu cobalah proaktif belajar komputer,” ujar Ibu Widya pula. “Ke depan dunia semakin maju. Kamu akan tertinggal jika tak bisa menyesuaikan diri dengan zaman.”

Dia hanya manggut-manggut. Selama ini, bahkan sampai detik ini, dia belum mampu menangkap makna atau hakikat kemajuan yang sering digembar-gemborkan para pejabat. Dia meragukan rumusan kemajuan yang ada dalam benak Ibu Widya. Sungguh. Dia cenderung memandang semua perangkat teknologi mutakhir di lingkungan pegawai negeri seperti kantornya sebagai loncatan tindakan yang kurang berdasar, lagi menggelikan.

Dalam pengamatannya demikian benderang, komputer di kantornya telah membuat banyak rekannya larut dalam gaya, berlagak-lagu menguasai alias tak gagap menghadapi ilmu pengetahuan dan teknologi dan, merasa sudah mencapai kemajuan luar biasa dalam melaksanakan tugas. Ah!

Menurut dia lebih baik dilelang saja semua inventaris kantor yang melenakan itu dan uangnya belikan buku atau, sumbangkan kepada korban bencana alam serta fakir-miskin yang kian bejibun mengais rezeki di seantero kota. Toh, tanpa komputer apalagi mesin informasi berakselerasi tinggi berupa faksimil, touch screen serta e-kiosk information internet yang begitu mencengangkan tampilannya, segala aktivitas kantor masih dapat dilangsungkan sebagaimana mestinya.

Ya, dia yakin seyakin-yakinnya. Sebab sesungguhnya mayoritas pegawai negeri di negara ini tidak atau belum dibebani volume kerja berikut program-program (pribadi) yang padat, kayak para pegawai bank atau wartawan maupun orang-orang yang hidup dan bermukim di negara maju.

Memang agak ganjil. Karenanya perlu uraian tersendiri kenapa sejak jadi pegawai negeri dia kerap memberontak, terperangkap dalam permenungan dan konflik kepribadian serupa itu.

Berbekal ijazah ABA Jurusan Bahasa Inggris dia mengikuti testing CPNS. Lulus. Diangkat serta ditempatkan di Dinas Pendidikan Kota P (dulu Kandep Kodya) ini. Idealismenya yang seputih kapas ternyata harus berkonfrontasi dengan sepak terjang Zamzami yang dia pastikan janggal dan menyimpang. Alhasil, dia lantas dicap aneh lalu dicuekin oleh Zamzami maupun pihak inspektorat (sekarang Bawasda) yang dua kali setahun memeriksa kantornya.
Seterusnya, di era Kamaruddin, keadaannya boleh dikata semakin memprihatinkan. Dia risau melihat

Kamaruddin yang dari hari ke hari berubah, dari abdi negara berprofil sederhana menuju dermawan yang tambah sejahtera. Dia terusik menyaksikan koleganya ketawa gembira menerima entah uang apa dari bendaharawan proyek-kantornya. Dia tak habis mengerti, beberapa koleganya tidak mau bekerja jika tak ada imbalannya. Dan, dia benar-benar merasa tertempeleng ketika suatu kali dikasi amplop berisi fulus oleh Kamaruddin, dan karenanya, pemberian yang tiada jelas ujung-pangkalnya itu ditolaknya.

“Jangankan yang haram, yang meragukan saja dilarang oleh agama,” begitu ayahnya yang dai mengingatkan abangnya dan seorang sepupu, dulu, saat kedapatan sedang menguliti tebu hasil curian di belakang dapur. “Sebab,” lanjut sang ayah pula, “tidak sehat bagi perkembangan rohani kita….”

Pada gilirannya dia berkesimpulan bahwa dia harus berkompromi dengan peruntungannya, dengan pilihannya. Tidak neko-neko mau berhenti, sebagaimana pernah dia angankan. Kerja apa adanya.

Setulus-tulusnya. Bilamana disuruh pimpinan, selagi tidak menyalahi aturan dan tak bertantangan dengan asas kepatutan yang diyakininya, segera dia laksanakan. Akan tetapi, kapan perlu, dia tidak akan segan-segan menampik atau mempersoalkan sesuatu yang tak berkenan di hatinya.

Untunglah, Kamaruddin, dan kemudian Ibu Widya, cukup memahami tingkah-lakunya. Dan, Ibu Widya juga tak hendak menggubris sikap anak buahnya itu, yang sepertinya senantiasa menjaga jarak. Adapun alasan kenapa dia sampai begitu, mungkin, karena hambatan psikologis: Ibu Widya, pimpinannya, perempuan!

Tetapi yang lebih mendasar adalah, setahunya, yang namanya atasan atau pimpinan tidak pernah mau membuka dialog menanyai pendapat atau isi perut bawahannya. Istilah rapat di kantor lebih tepat disebut pengumuman lisan yang mesti didengarkan segenap karyawan. Pemanggilan bersifat personal berarti akan dijejali instruksi atau petunjuk. Justru itu, dia memang tak perlu ngomong tentang segala hal, termasuk bidang pekerjaannya. Dia cukup menjawab ringkas apa yang ditanyakan pimpinan, kayak tersangka di depan penyidik di kantor polisi. Atau menguping saja seperti terdakwa di muka hakim yang membacakan amar putusannya.

***

INTERCOM di Urusan Kepegawaian bertilulit. Dia tegak meraih gagangnya. Ternyata Ibu Widya memanggil Sapardi.

“Dik, kamu disuruh menghadap.”

“Tak bosan-bosannya tuh cewek sama aku,” celoteh Sapardi.

Dia tersenyum hambar, mengawang mengenang pengalaman berbekas yang dialaminya bersama Sapardi. Setelah memutasikan beberapa pegawai —yang barangkali dapat menyandung langkah Ibu Widya yang kala itu berstatus bendahara kantor— Zamzami menyarankan agar Ibu Widya bersiap-siap memangku jabatan Kasubag TU yang baru dilepas pindah oleh Abdul Manaf. Dan keesokan harinya, dengan mimik ekstra serius Ibu Widya menyeraya serta terlibat langsung mengawasi mereka merapikan ruangan yang akan ditempatinya, kalau SK-nya sudah turun.

“Berbenah, nih, Wid,” sapa Zamzami yang kebetulan melintas di muka ruangan itu.

“A… anu Pak,” Ibu Widya tersipu, grogi. “Mungkin karena sudah tak berpenghuni, ruangan ini agak berantakan….”

Lamunannya terpenggal. Sapardi tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Di belakangnya Ibu Widya merepet, mendesak Sapardi menemukan arsip surat pengantar pengiriman usulan kenaikan pangkatnya.

“Tidak ada di arsip?!” hardik Ibu Widya. “Cari di komputer, dong!”

“Sebentar, Bu. Saya….”

“Sebentar, sebentar,” berondong Ibu Widya berang. “Sudah ikut diskusi segala, menata file komputer saja masih tidak becus!”

Darahnya tersirap. Diskusi lagi. Komputer lagi. Ya, peralatan canggih di lingkungan pegawai negeri lagi.

“Ini juga, Syahriwal. Sedari dulu aku suruh belajar komputer. Mana hasilnya? Mana?!”

Dia terkesima mendapat omelan yang tiada keruan juntrungannya itu. Dadanya berombak, sesak. Dikepalnya jemarinya, gemas. “Bagiku sudah jelas,” dia kelepasan omongan, dingin seolah tertuju pada dirinya sendiri.

“Jelas apanya, ha?!” sambar Ibu Widya.

“Bahwa… bahwa…,” lidahnya terkelu. Namun dalam hati dia meneruskan ucapannya, mengomentari karakteristik pegawai negeri, berargumen, menggerundel mencela iklim dan budaya birokrasi.

Tetapi, ah! Air muka Ibu Widya yang tak bersahabat membuat dia merasa tertekan. Bola mata Ibu Widya yang mendelik dan sedikit merah membuat dia merasa dilecehkan. Tarikan ujung bibir Ibu Widya membuat darahnya mendidih, naik ke ubun-ubun. Di luar kendali dia mengayun kepalan menggebrak meja, mengurastuntaskan uneg-unegnya tentang KKN, kepemimpinan, efisiensi, teknologi tepat guna, moralitas bangsa, pembentukan pribadi dan lain sebagainya. Meledak-ledak, dan kacau.

Dadanya terasa nyeri. Kepalanya berdenyut hebat. Dan dia pun limbung, lalu melorot ke lantai.

***

BERANGSUR dia sadar akan dirinya. Berangsur dia ingat kejadian di kantornya. Kegeramannya pada Ibu Widya yang uring-uringan, sinis, mempelototinya. Sapardi yang tergelinjang sewaktu dia memukul meja. Ibu Widya yang pucat pasi dan merapat ke dinding. Asbak rokok yang dia banting menghantam monitor komputer. Beberapa koleganya yang datang setengah berlari. Dan gelap yang tiba-tiba menyergap….

Dia mengerang. Badan dan anggota tubuhnya yang sebelah kiri terasa berat. Dibukanya pelupuk matanya. Istri serta dua anaknya tersenyum lembut, memijiti tangan dan kakinya. Ada mendung bergayut di wajah mereka.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: