Cerpen Padang Ekspres

November 30, 2008

Menunggu Senja

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:11 pm
Tags:

Cerpen Maghriza Novita Syahti

Dari balik jendela aku termenung. Sesekali menyeka embun di kaca jendela itu, memperjelas pandangan. Kulihat dedaunan berayun ke sana kemari karena angin di luar sana. HIjaunya seakan memudar pula dibawa angin. Angin yang tak pernah tahu bahwa ia telah membawa aku menatap jauh pada seseorang.

Dari jauh kulihat seseorang itu berjalan pelan, perlahan-lahan melintasi jalanan sepi tak berorang itu. Helaian dedaunan sesekali menghampiri wajahnya, menutupi pandangannya. Entah ke mana tujuannya berjalan, tak pernah aku tahu. Mungkin mengejar senja. Hingga ia lenyap dari batas pandangku yang terbatas.

Dari balik jendela aku termenung. Menunggu senja yang sudah lama kunanti. Senja bagiku begitu membikin aku tersihir. Tersihir akan keremangannya, semburat cahaya kemerah-merahannya. Indah, sendu,dan mengingatkanku pada cinta. Apakah senja itu akan mampu menembus kaca jendela ini? Dan memandikan diriku dengan keemas-emasan cahayanya.

Menatap lama aku ke langit biru yang sudah berganti kuning kemerahan seperti kobaran api itu. Perlahan kusapu langit sejauh pandanganku. Lama aku menunggu, senja itu tak kunjung datang padaku, menembus kaca jendela ini. Huh, lagi-lagi penantianku sia-sia.

Ingin rasanya juga mengejar senja seperti seseorang yang tadi kulihat. Berlari-lari kecil ia, merekah bibirnya karena senyum. Seperti tak sabar mengharap sesuatu. Aku tak tahu apa yang diharapkannya dari senja, hanya sebuah senja.

Ingin pula aku mengetahui perasaanku ketika aku berjalan di jalanan sepi itu. Entah senang entah sepi entah gamang. Di jalanan yang dipenuhi daun-daun yang berguguran itu. Jalanan yang jika diukur jarak sebenarnya adalah sangat dekat denganku. Tapi bagi diriku, jalanan itu begitu jauh, tak mampu mencapainya. Mungkin butuh waktu lama agar aku sampai di jalanan depan rumahku itu.

Senja itu tak datang padaku hari ini. Gumpalan awan kelabu seketika bermain-main di atas sana. Langit berubah kelam, menitikkan tetesan air yang semakin lama semakin banyak. Menggenang air dari langit itu di halaman rumahku, membasahi jalanan yang dipenuhi tumpukan dedaunan itu. Entah bila akan berhentinya hujan ini. Entah bila pula aku bisa melihat senja mendatangiku.

***

Seperti sore-sore sebelumnya, aku masih setia menunggu senja tiba. Ketika menunggu senja, aku tak begitu sedih karena masih ada harap. Tapi, ketika langit menjadi kelam dalam malam, harapku hari ini berakhir. Aku akan menanti lagi esok sore.

Dari balik jendela aku termenung. Untuk kesekian kalinya, kulihat lagi seseorang yang kemarin-kemarin melewati jalanan depan rumahku. Ia berjalan pelan, seperti menikmati hembusan angin sore itu. Rambut panjangnya tergerai indah, beterbangan teratur karena sepoi angin. Di balik helaian rambutnya, kulihat dari sini wajah cantiknya yang selama ini tersembunyi.

Aku tak pernah tahu bahwa ia cantik. Bahkan, aku tak pernah tahu bahwa setiap perempuan itu cantik, seperti Ibu. Hingga hari ini, ketika ia membiarkan rambut panjangnya ditiup angin sore itu. Ia membuatku tersihir. Tersihir akan keindahan parasnya, senyumannya. Indah, sendu, dan mengingatkanku pada cinta. Seperti senja. Seperti senja yang hanya bisa kunanti, seperti senja yang tak pernah terjangkau olehku, seperti senja yang tak pernah menghampiriku.

Kembali sore ini aku menunggu senja. Bermenung dari balik kaca jendela. Sore ini indah. Alunan suara hembusan angin seirama dengan gerak dedaunan yang bergelayut di pepohonan itu. Tapi, alangkah lebih indahnya sore ini jika dihiasi cahaya senja yang berkilauan. Kilauan cahaya itulah yang kutunggu-tunggu. Dari kemarin, beberapa hari yang lalu.

Ia datang hari ini. Cantik. Perempuan berambut panjang itu. Perlahan-lahan ia berjalan ke arahku. Ke arah jendela kaca ini. Semasa itu pula diriku bermandikan cahaya senja yang berkilau keemasan. Kuning kemerah-merahan warnanya.

“Apa kabarmu? “ tanyanya padaku.

Aku terdiam, tak bicara. Terkaget-kaget dengan sosok perempuan ini. Sungguh tampak jelas cahaya kecantikannya. Seperti keindahan senja yang kunanti-nanti. Aku masih ternganga ketika ia perlahan mendekat ke arahku.

“Terima kasih telah menungguku begitu lama. Semoga kau akan terus menunggu dan tak berhenti menunggu senja, Senja,” ucapnya.

“Biarkan aku saja yang mengejarmu, Senja. Kau lebih baik menunggu senja saja,” lanjutnya.

Aku bingung. Bingung tak terkira. Entah apa hubungannya senja yang kutunggu dengan perempuan ini- yang sebenarnya juga kutunggu. Sekali kualihkan pandanganku pada foto Ibu yang terpajang indah di sudut ruangan sana. Rambut Ibu panjang. Wajahnya cantik. Bergantian kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan, ke arah foto Ibu dan ke arah perempuan itu. Dalam foto, Ibu tersenyum. Perempuan itu juga tersenyum.

Aku pusing, kepalaku tak bisa berkompromi lagi. Cahaya senja itu terlampau berkilau, tak sanggup lagi mataku memandangnya.

***

Mengingat Ibu membuatku harus mengajakmu menjelajahi ingatanku belasan tahun silam. Ketika Ibu menidurkanku dengan kasih sayangnya, ketika Ibu menasehatiku karena aku sering berlari. Kini kakiku lumpuh karena kecelakaan dua tahun lalu. Ketika aku dimarahi Ibu karena aku sering menjahili nenek, ketika Ibu berteriak memanggilku untuk pulang dari rumah tetangga, “Senjaaaaaaaaaaa!” Aku rindu masa itu. Tahun-tahun bersama Ibu adalah saat-saat paling berharga dalam hidupku, meskipun tak lama. Hanya lima tahun.

Aku ingat, dulu setiap sore aku duduk manis di jendela kaca ini untuk menunggu Ibu pulang bekerja. Menunggu senja, seperti menunggu Ibu pulang. Suatu sore, aku menunggu Ibu hingga malam menjelang. Hingga larut malam pun aku menunggunya sambil sesekali melihat dari jendela kaca itu. Esok pagi, kutemukan Ibu terbaring kaku di ruang tamu, dikelilingi banyak orang.

Mengenang Ibu, membuat aku tak mampu membendung air mata. Tangis kehilangan itu begitu terngiang-ngiang di telingaku. Nenek bilang, Ibu pergi jauh meninggalkan aku. Aku bilang, Nenek berbohong padaku. Hingga kini pun, aku masih tak percaya. Aku masih menunggu Ibu pulang setiap senja.

***

Dari sore ke sore, aku masih menunggu senja dengan semburat cahaya dari langit. Dari sore ke sore pula aku menunggu perempuan yang datang kemarin. Mungkin mengejar senja itu.

Cahaya senja itu akhirnya datang melewati jendela kaca ini. Ibu pulang, pikirku. Betapa senangnya hatiku ketika Ibu pulang setelah sekian lama aku menunggunya. Ibu merindukanku, bisikku dalam hati. Kebahagiaanku ternyata sebentar saja. Senja itu kemudian pergi dan berganti malam. Huh, ternyata aku tak diizinkan bertemu lama dengan Ibu.

Esok sore, aku kembali duduk manis memandang dari jendela kaca itu. Menunggu senja seperti kemarin, menunggu Ibu pulang. Tapi, senja dan perempuan itu tak pernah terlihat lagi. Entah pergi ke mana mereka. Entah sudah didapatnya senja itu oleh si perempuan dan dibawa perginya senja itu. Jika benar begitu, betapa egoisnya si perempuan cantik itu. Sudahlah, sepertinya aku memang dikehendaki untuk terus menunggu senja. Juga cinta. Cinta dari seorang Ibu yang lama kunanti.

Aku akan selalu mengingat ucapan perempuan yang datang padaku bersama senja sore itu. Aku akan tetap menunggu senja, dan terus menunggu. Entah kenapa, kurasa suaranya mirip dengan suara Ibu meskipun aku sudah lupa bagaimana suara Ibu.

Suatu saat nanti, jika senja bertamu padaku, tak akan kubiarkan ia pergi. Seperti Ibu yang pergi begitu saja dariku. Jika senja datang ke rumahmu, beritahu aku segera. Aku akan membawanya pulang, seperti aku membawa Ibuku pulang untuk menemaniku.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: