Cerpen Padang Ekspres

November 9, 2008

Upik Suti dan Sebatang Rokok

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:02 am
Tags:
Cerpen Farizal Sikumbang

Hanya ada satu alasan yang sampai saat ini selalu bergayut di kepala Upik Suti perihal mengapa kaum laki-laki lebih cepat mati daripada kaum perempuan. Yakni, karena kaum laki-laki pecandu rokok. Alasan itu selalu dipertahankannya jika ada orang yang berdebat dengannya. Upik Suti sangat yakin sekali, karena suatu hari suaminya meninggal di pangkuannya dengan dada sesak. Dia tahu, itu akibat candu rokok. Suaminya adalah laki-laki perokok. Satu hari suaminya bisa menghabiskan dua sampai empat bungkus rokok. Dari rokok bermerek commodore, Kansas, Djarum, sampai rokok nipah pun di hisapnya dengan rakus.

Dulu, bukan Upik Suti tidak pernah melarang suaminya merokok. Bila dilarang, suaminya malah marah besar. Mengumpat di sana-sini. Mengeluarkan kata makian. Menceracau. Bahkan bila uang tak ada dan Upik Suti tidak mau memberi, tudung nasi akan dilemparkannya ke bawah dari atas rumah panggung. Jika tak puas, kuali sampai periuk nasi pun akan berdentang-dentang berbunyi nyaring di buangnya dari rumah gadang itu.

Maka untuk meredam suaminya supaya tidak marah, dia akan menyerah dengan cara memberi suaminya uang. Setelah dapat uang, suaminya akan bergegas ke lapau Haji Kanin untuk membeli rokok, sedangkan dia hanya termangu melihat tingkah suaminya. Demikianlah halnya Upik Suti mengalami hidup bersama almarhum suaminya yang seorang parewa pasar itu.

Kini dia seorang janda muda. Kepergian suaminya pada awal mula membuat hatinya pedih berat. Rasa gamang menjalani hidup tampa suami menghantui tidurnya beberapa hari. Apalagi dua anaknya masih bersekolah es-de. Tapi berkat nasehat tetangga yang menegarkan hatinya membuat dia sedikit terhibur. Apalagi, di kampungnya, entah mengapa, sejak lama kaum janda berjejer jumlahnya. Dan dia tahu, sebagian besar dari suami mereka itu adalah perokok berat.

Bukan mengada-ngada, sebab tiga rumah ke kanan rumahnya memang berisi janda tua berusia diatas empat puluh lima tahun, di belakang rumahnya ada pula dua janda sebaya umurnya, di depan rumah ada satu, tapi masih sangat muda, umurnya baru dua puluh delepan tahun. Dan bila terus kebelakangnya rumahnya, lalu ada sebuah simpang yang menuju jalan setapak, di situ ada beberapa rumah yang perempuan jandanya berjumlah dua orang dengan usia empat puluh tahunan.

Mengingat janda-janda itu, pikirannya agak ceria, sebab dia merasa tidak sendiri , rasa takut jika anaknya kelaparan musnah. Karena dia tahu, janda-janda itu masih bisa menghasilkan uang dengan menyiang atau menanaam padi di sawah orang lain Dia akan melakukan pekerjaan seperti itu demi anak-anaknya.

Suatu hari dia menyiang padi Amak Kamin. Terjun ke sawah penuh lumpur yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ketika dia menyiang padi di sawah membuat kulit putihnya berkilat-kilat diterpa terik matahari.. Dia juga merasa seluruh tubuhnya terasa lelah. Tulang tubuhnya terasa sakit. Ketika dia pulang kerumah, mamaknya tahu dan menegurnya.

“Upik, tak baik kau menyiang padi di sawah. Lihat tubuhmu, penuh Lumpur. Kau juga telah merendahkan keluarga kita. Menjadi penyiang sawah orang lain berarti memberitahukan bahwa kita keluarga miskin.”
“Ambo memang orang miskin mamak. Tidak punya laki tentu ambo yang bakarajo.”
“Tapi tidak mesti terjun ke sawah orang Upik.”

“Lalu apa yang harus ambo karajoaan mamak. Sawah jo ladang sudah mamak jual pula untuk pembangunan perumahan itu. Hanya rumah ini yang mamak tinggalkan untuk ambo.”
“ Ah Upik, sungguh pandai kau memutar lidah.”

“Bukan memutar lidah mamak. Sesen pun tidak mamak beri ambo uang penjualan tanah itu,” kali ini intonasi Upi Suti meninggi. Sudah beberapa bulan dia menahan rasa sakit hati pada mamaknya itu. Sawah dan ladang dijual mamak tanpa kesepakatan darinya, uangnya pun tidak pernah di bagi. Betapa dia tidak sakit hati. Dan kini si mamak memarahinya karena dia bekerja.

Untuk meredam amarah supaya tidak menjadi-jadi Upik Suti duduk di kursi. Tatapanya jauh ke luar. Mencari-cari di mana kedua anaknya itu kini. Sedangkan si mamak merasa tidak enak hati. Dia terdiam. Sesekali sorot matanya jatuh pada Upik Suti. Upi Suti benar, uang tujuh puluh delepan juta sedikit pun tidak dia beri kepada kemenakanya itu. Dia menggerutu, teringat istrinya yang seragah. Uang dipegang seluruhnya. Beberapa lama dia kemudian meninggalkan Upik Suti yang masih dalam bimbang menunggu anaknya pulang.

Mungkin karena teramat kasihan pada Upik Suti, atau malu karena Upik Suti menjadi penyiang sawah orang, esoknya Kalidin si mamak kembali ke rumah panggung itu. “Kuberi kau uang tiga juta Upik. Dengan uang ini kau bisa berdagang di pakan. Tak usah lagilah kau bertanam. Malu aku. Kau tahu?”

Upik Suti tidak berkata banyak selain menerima uang sebanyak itu. Dia juga tidak mempertanyakan berapa jumlah uang dari hasil penjualan sawah dan ladang untuk perumahan itu.

Uang sebanyak tiga juta itu kini telah berlipat jumlahnya, sebab usaha Upik Suti berjualan laku keras. Banyak pelanggan yang datang ke toko yang disewanya di pakan. Bermacam-macam barang kebutuhan rumah tangga ada di tokonya. Dari sabun, sayur-sayuran, perkakas dapur, beras, minyak goreng dan kebutuhan lainnya.

Namun ada satu yang tidak akan dijumpai di tokonya, yaitu rokok. Sudah berkali-kali pelanggan datang menanyakannya. Bahkan ada yang bertanya mengapa dia tidak menjual rokok, lalu Upik Suti menjawab bahwa rokok membuat kita cepat tua dan cepat mati. Maka pelanggan akan pergi dan tidak bertanya lagi. Begitulah Upik Suti menjalani hari-hari tanpa suami.

Sampai pada suatu hari, seorang laki-laki, datang ke toko Upik Suti. Laki-laki itu, sebenarnya sudah lama dikenalnya. Dia bernama Junaidi.
“Sudah lama kita tidak bersua Upik,” begitu caranya pertama menyapa Upik Suti yang sedang menunggui tokonya.

“Ya, sejak uda merantau ke Jawa. Dan tidak ada kabar berita. Kini uda datang di kedai ambo seperti hantu saja. Berkabar-kabarlah sedikit da kalau akan datang biar ambo tidak terkejut,” balas Upik Suti..

“Ah, kau bisa saja Upik. Kabarku baik-baik saja. Kau masih seperti dulu rupanya.”
“Ambo tidak seperti dulu Uda. Dulu ambo gadis kini janda. Bagaimana bisa sama uda.”
“Kau Upik…”

“Iyo Uda. Ambo jando. Sudah lama kita tidak berjumpa. Upik rasa sejak tamat es-em-a kita berpisah.”
“Iya Upik. Itulah, semangat rantau ini dulu selalu mengebu-ngebu.”
“Dan mengalahkan Upik?” ujarnya lalu agak cemberut.

“Masih marah Upik agaknya. Uda hanya ingin merubah hidup di Jakarta. Di kampung Upik tahu Uda tak punya apa-apa. Di rantau dicoba menggantung nasib. Tapi apa daya Upik, sepuluh tahun merantau pulangnya tak punya apa-apa. Jakarta tak seindah yang Uda bayangkan. Menjadi sopir angkutan sudah uda coba. Menjadi pedagang kain sudah pula. Malah gara-gara berdagang itu uda akhirnya pulang ke kampung. Barang dagangan uda kena sita oleh kamtib, “ kata Junaidi sambil menyeka peluh di keningnya.

“Dari mana uda tahu Upik di sini.”
“Dari Basir. Rupanya Upik pandai berdagang pula.”
“Ah, jangan begitu Uda. Ini hanya terpaksa. Sejak Uda Umar meninggal Upik tak tahu apa yang harus di lakukan. Untung mamak memberi modal.”
Mendengar nama Umar, Junaidi sedikit kikuk. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyembul di hatinya. Tapi di tekannya dalam-dalam. Toh, laki-laki itu sudah tidak ada, batinya.

“Jadi Uda akan menetap di kampung?”
“Ya-lah Upik. Uda akan berdagang dengan modal yang ada selama uda di Jakarta.”
“Rancak itu Da. Kalau di kampung bisa, mengapa tidak di coba.”
“Seperti Upik?”
“Ah Uda bisa saja.”

Mereka berdua lalu tersenyum. Saling memandang. Seperti ingin menuntaskan rasa kangen karena bertahun tidak dipertemukan.

Junaidi akan terus melontarkan kata-katanya, namun beberapa pembeli yang datang ke toko si Upik mengurungkan niatnya. Kali ini dia tidak ingin mengganggu Upik. Maka setelah meminta izin Junaidi kemudian meninggalkan toko itu dengan perasaan riang tak kepalang. Sedangkan Upik Suti telah kembali sibuk melayani pembelinya, tetapi, di dalam hatinya seperti ada perasaan bergemuruh yang dulu sempat karam.

Mungkin karena rindu, atau perasaan cinta yang masih ada, atau mungkin juga karena Upik janda muda yang kini kaya, malam harinya Junaidi datang bertandang ke rumah si Upik Suti. Di atas rumah panggung Upik Suti membukakan pintu. Alangkah kagetnya si Upik.

“Angin apa yang membawa Uda kemari?” Tanya Upik Suti penuh selidik.
“Ah Upik, janganlah bertanya begitu. Bukankah dulu uda juga sering kemari?”
“Dulu iya, tapi itu ketika Upik masih muda.?”
“Siapa bilang pula Upik sudah tua.”

“Maksud Upik, Upik kinikan janda. Tidak enak dipandang orang. Ini malam hari Uda.”
Junaidi kehabisan kata mendengar pengangguan Upik. Wajahnya sedikit memerah. Perlahan dia mengeluarkan bungkusan rokok dari celananya. Mungkin untuk menghilangkan kegugupannya.

“Uda tahu Upik. Kitakan tidak macam-macam,” ujar Junaidi sambil menyalakan sebatang rokok dan lalu menyulutnya. Perlahan dihembuskannya asap rokok itu ke atas sehingga membentuk sebuah gumpalan, namun begitu cepat gumpalan itu menyebar dihembus angin malam. Sebagian lagi terbang ke samping Junaidi dan sebagian lagi menyentuh wajah Upik Suti. Dia terbatuk. Dan sedikit mengutuk.

“Sudah merokok uda sekarang,” kata Upik Suti.
“Iyalah Upik. Uda kan laki-laki.”
“Tapi dulu uda tidak merokok.”
“Ah, pergaulan yang menyebabkannya Upik.”
“Merokok membuat kita cepat tua dan mati uda.”
“Tidak jua Upik. Mati itu di tangan Tuhan.”

“Tapi kita mempercepatnya. Upik tidak suka rokok.”
“Rokok bagi uda sama dangan nasi Pik. Bila tak dapat sehari. Pusing kepala ini rasanya.”
“Kalau begitu sama juga dengan uda Umar.”
“Jangan disamakanlah Upik. “
“Tapi Upik benci laki-laki perokok. Menyusahkan istri saja.”
“Menyusahkan bagaimana maksud Upik.?”
“Bagimana tidak menyusahkan. Cepat mati, jika tak ada rokok suka bertingkah.”

“Ah, ada-ada saja Upik ini,” kata Junaidi kecut. Ada rasa sedikit dongkol di hatinya mendengar kata-kata Upik Suti. Bagi Junaidi rokok adalah hidupnya. Tanpa rokok dia tidak akan merasa tenang. Surut niatnya untuk mendekati Upik. Sebab Upik tidak suka rokok. Junaidi merasa ada dalam dua pilihan, memilih si Upik Suti atau rokok.

Beberapa saat kemudian mereka beralih perbincangan tentang keluarga Upik. Lalu tentang kampung. Akhirnya tepat pukul sembilan Junaidi pulang. Ketika pulang Junaidi me langkahkan kakinya dengan gontai. Tidak seperti dia berkunjung, kini langkahnya lamban. Seperti ada sebuah kekecewaan.

“Ah, biarlah kusurutkan langkah hati ini. Tak sangguplah aku kalau begitu. Bagaimana aku bisa menghentikan merokok. Ah, tak dapat janda kaya pun tak apalah, “ ujar Junaidi sambil menghembuskan asap rokoknya. (Padang 2008)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: