Cerpen Padang Ekspres

November 2, 2008

Di Balik Bukit

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:12 am
Tags:

Cerpen Dian Hartati

Awan-awan berarak. Langkah kaki begitu bergegas menuju kampung sebelah. Ini adalah hari di mana saya harus menyusuri jalanan lengang sendiri. Biasanya bapak menemani sebelum berangkat mengajar. Sekali waktu ibu pernah ikut, namun malam harinya, saya tidak tahan mendengar keluhan ibu yang kakinya pegal-pegal karena seharian berjalan menemani saya.

Mengikuti jalan berkelok seorang diri. Saya bertahan dari sepi, untungnya di sepanjang jalan kecil ini terdapat Kaliandra. Saya suka memandangnya berlama-lama. Kaliandra, si bunga merah yang indah apalagi jika tertiup angin. Mahkota bunganya membentuk untai benang-benang halus menyembunyikan serbuk sari. Saya bersyukur bunga-bunga ini masih berkembang dan menemani perjalanan saya.

Pagi-pagi setelah mengunci pintu, membenahi semua perkakas di gudang, saya menemani ibu sebentar di pembaringan. Demamnya sudah turun. Saya biarkan ibu memandangi sumur yang berada di samping rumah melalui jendela. Biasanya, jam-jam sekarang ini banyak tetangga yang sudah antri untuk mengambil air. Derit katrol sudah sejak lama tidak kami dengar. Suara tumpahan air yang menghangatkan suasana pagi menjadi sesuatu yang kami rindukan.

“Kapan hujan turun?” mata ibu menerawang.

“Saya tidak tahu Bu, mungkin beberapa bulan lagi. Ibu berdoa saja, semoga Allah menurunkan anugerahnya.”

“Kamu tidak mengambil air hari ini?” kali ini mata ibu memandang saya.

“Saya segera berangkat. Tadi pagi Bapak sudah memberi tahu jalan yang harus saya lalui agar cepat sampai.”

“Berhati-hatilah. Seingat ibu, jalan itu berbatu-batu dan menanjak. Nanti pulangnya lewat jalan yang seperti biasa.”

“Ya. Saya berangkat sekarang. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalaam….”

Setelah berbelok ke kiri dari jalan utama desa, saya dilingkup sepi. Semoga petunjuk Bapak tidak salah. Saya ingin cepat sampai sebelum pukul sepuluh dan kembali ke rumah tepat ketika waktu zuhur. Di setapak jalan ini tidak terlihat Kaliandra. Hanya ada kebun-kebun yang tanahnya rengkah.

Sepertinya tidak diurus oleh pemiliknya. Atau mungkin ditinggalkan karena tidak ada lagi air untuk menyiram tanaman yang seharusnya siap di panen. Saya memperhatikan persimpangan jalan, jangan sampai salah berbelok. Mengingat-ingat perkataan Bapak.

“Nanti kalau sudah melewati kebun-kebun ada tiga jalan. Jika Buyung terus jalan tanpa berbelok, maka Buyung akan sampai ke utara. Di sana terdapat banyak pohon bambu. Hati-hati jika Buyung sampai ke daerah ini. Jangan melewati pagar yang bertanda tengkorak hitam. Ingat, di utara sana masih banyak granat-granat yang tertanam bekas zaman pendudukan Jepang. Kalau Buyung berbelok ke kanan, Buyung akan sampai ke pekuburan. Buyung harus ingat, untuk sampai ke kampung sebelah dengan memotong jalan, Buyung harus memilih jalan yang kiri. Dari situ tinggal lurus saja, sampai menemukan batas desa, tonggak besi yang tingginya hanya limapuluh centi. Tidak jauh dari tonggak itu ada rumah-rumah penduduk. Buyung boleh bertanya pada mereka di mana letak sumur seribu mata air. Sumur itu tidak pernah kering.”

Sambil mendorong gerobak kecil yang hanya cukup untuk dua jerigen, saya akhirnya sampai di jalan yang diceritakan bapak. Saya perhatikan jalan menuju utara. Kerisik rimbun bambu sudah terdengar. Kelengangan begitu terasa karena tak ada siapa pun. Kicau burung yang tidak saya kenal sepertinya menyambut kedatangan yang baru pertama kali. Tetap berdiri sambil memperhatikan jauh ke depan.

Saya menoleh ke kanan. Jalan yang hanya cukup untuk dua badan motor ini menawarkan aroma kematian. Siapa saja yang meninggal pasti akan dikuburkan di pemakaman yang jauh dari desa. Hanjuang-hanjungan muda menjadi gerbang pintu masuk bagi keranda-keranda yang diusung. Saya maju beberapa langkah mendekati pintu masuk pemakaman. Nisan-nisan berlumut terlihat, batu bata merah menjadi pembatas antara kuburan yang satu dengan yang lainnya. Beberapa sudah rompal karena tidak terawat.
Saya tidak lagi membuang waktu, matahari semakin meninggi. Berbelok ke kiri dan terus berjalan lurus. Di daerah ini pohon pisang sedang menunggu dipanen. Benar kata Bapak, daerah ini tidak pernah kekurangan air. Buktinya saja, kebun-kebun rimbun hijau. Tanaman singkong jadi pagar hidup yang membatasi kebun satu dengan kebun yang lain. Kini jalanan yang dilalui datar, tidak lagi menanjak.

Tonggak batas desa yang diceritakan Bapak ternyata berwarna biru dan mudah ditemukan. Rumah-rumah di sekitar tempat saya berdiri sekarang merupakan rumah bilik yang tidak dicat. Saya mencari seseorang yang dapat dimintai izin untuk mengambil air. Sulit sekali menemukan orang-orang di hari yang semakin siang. Mungkin mereka semua sedang berada di kebun.
Bingung mencari akhirnya saya menemukan sebuah masjid. Saya melihat seseorang sedang membersihkan selasar masjid.

“Assalamu’alaikum, Maaf Pak, saya mau bertanya tentang sumur seribu mata air.”

“Wa’alaikumsalaam, itu sumur yang Anak cari. Silahkan ambil langsung.”

“Terima kasih, Pak.”

“Hati-hati saat mengambilnya. Tidak ada katrol.”

“Iya, Pak.”

Ternyata sumur seribu mata air sangatlah dangkal. Air di dalam sumur itu dapat diambil dengan cara mengulurkan ember yang sudah tersedia ke dalam sumur, menunggu beberapa saat agar ember penuh terisi, dan menariknya kembali. Tidak perlu takut jatuh, karena dinding sumur lumayan tinggi. Tanpa terasa dua jeriken terisi penuh. Saya pun pamit pada bapak yang kini sedang menyapu halaman.

“Nak, sebaiknya zuhur di sini saja. Perjalanan ke rumah akan memerlukan banyak waktu karena membawa air. Jangan sampai mubazir membuang air di jalan.”

“Mungkin sebaiknya begitu ya Pak, baiklah saya akan zuhur di sini saja.”
Setelah shalat berjamaah kami berbincang sebentar.

“Anak dari desa Hilir?”

“Saya Buyung, mengapa Bapak tahu saya dari Hilir?”

“Begini, tidak banyak yang tahu tentang keberadaan sumur seribu mata air. Penduduk di daerah sekitar sini pun sedikit yang tahu. Siapa yang menyuruh Anak mengambil air?”

“Orangtua saya, mengapa Bapak tahu saya dari Hilir?”

“Beberapa orang yang pernah mengaji di masjid ini memilih pindah ke Hilir, alasannya agar lebih dekat dengan kota.”

“Begitu ya, apa mungkin orangtua saya pernah mengaji di sini?”

“Siapa nama bapak Anak?”

“Bapak Rafiudin.”

“Pantas saja Anak disuruh kemari. Sekarang pulanglah agar tidak kesorean di jalan. Hati-hati membawa jeriken-jeriken itu.”

“Saya akan berhati-hati. Terima kasih.”

“Salam buat Bapak Anak.”

“Insya Allah, saya sampaikan. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalaam warahmatullah.”

Angin menyejukkan udara siang yang panas. Betapa leleh peluh tak lagi dirasa ketika ingatan tentang musim kemarau yang masih panjang. Kami membutuhkan air untuk segala hal. Minum, mandi, mencuci, berwudhu. Tapi saya yakin, Allah tak pernah menyusahkan umatnya yang berusaha. Berwudhu pun dapat digantikan tayamum.

Perjalanan pulang sore ini mengikuti jalur umum jalan desa. Di sisi kiri dan kanan jalan pohon-pohon nangka yang gundul seperti barisan prajurit yang mengintai kehausan. Ternyata kekeringan benar-benar tak bisa dihindarkan. Sepi, hanya ada gemerisik dedaun kering. Langkah terasa semakin berat. Saya harus bersegera, jangan sampai menghilangkan waktu ashar.

Malam hari desa Hilir selalu lengang. Pantulan cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk menerangi pekarangan yang tanahnya rengkah. Semilir angin membawa suara seseorang mengaji dari jauh sana. Alun merdu suara itu mengingatkan saya pada nenek yang selalu mengajak kami sekeluarga bertadarus. Malam-malam yang selalu dilewati dengan lantun ayat suci Al-Quran. Betapa mendamaikan. Beberapa jam kemudian hanya ada suara alam. Semua memilih tidur setelah sehari berusaha mencari air.

***

“Mengapa tidak mengambil air di desa Hulu. Di sana ada satu sumur yang selalu mengeluarkan air di saat kemarau panjang.” Ibu memberi tahu Bi Marni, tetangga belakang rumah.

“Desa Hulu? Ada di sebelah mana? Bukankah desa tempat tinggal kita ini satu-satunya desa yang berada paling ujung.” Bi Marni kebingungan.

“Desa Hulu itu berada di atas sana…” Ibu tiba-tiba saja terdiam, kalimatnya tak dilanjutkan.

“Di atas sana, di mana?”

“Di atas…, begini saja mungkin Buyung bisa mengantar Bi Marni hari ini.”

“Kalau terlalu jauh saya tidak bisa ikut. Tidak ada yang menunggui anak-anak di rumah.”

“Sepertinya sangat jauh. Kemarin Buyung baru pulang sore hari.”

“Lain kali saja ya Bu, Assalamu’alaikum.”

Tidak pernah ada yang mau mengambil air ke desa Hulu. Berbagai alasan diungkapkan. Padahal jika ada yang mau ikut bersama mengambil air, perjalanan pergi dan pulang tidak terasa sepi. Selalu ditemani dengung angin yang kini mulai mengenali dan terbiasa dengan kehadiran saya.

Berminggu-minggu bahkan sampai beberapa bulan saya harus gigih mengambil air ke desa Hulu. Bertemu seorang bapak yang selalu memanggil saya Anak, melintasi kebun-kebun yang sudah diterlantarkan. Hafal jalan dan mengakrabi aroma siang yang gagu. Saya heran mengapa tidak ada satu penduduk yang mengikuti saya mengambil air ke desa Hulu.

***

Hari minggu. Bapak memberi saya izin untuk beristirahat. Hari ini bapak akan pergi ke desa Hulu mengambil air sambil bersilaturahmi. Pagi-pagi setelah membantu pekerjaan rumah__yang biasanya oleh saya sendiri dituntaskan__ Bapak berangkat membawa dua jerigen yang biasa saya bawa. Pandangan teduh bapak menghilangkan pegal-pegal yang ada di tubuh saya setelah enam hari mengambil air. Ibu hanya tersenyum melihat kepergian Bapak.

Waktu duha penduduk berkumpul di tanah lapang. Setelah mendengar kabar dari beberapa orang, saya baru mengetahui bahwa mereka semua akan menyedot air menggunakan pompa besar yang sudah dipesan dari kota. Kira-kira pukul sebelas pompa yang dipesan datang. Semua bergegas melaksanakan tugas yang sudah diatur satu jam sebelumnya.
Saya membantu mereka semampunya. Saya hanya menggantikan Bapak yang seharusnya turut hadir dalam kegiatan berburu air ini. Menjelang zuhur suara pompa mulai mendengung menandakan mesin itu bekerja dengan baik. Alhasil, setelah menunggu beberapa jam air yang terkumpul hanya sedikit saja, itupun tidak jernih. Keruh karena bercampur tanah atau pasir. Pekerjaan berat ini akhirnya selesai juga.

Ashar ketika saya masuk rumah, bapak sudah duduk tenang di ruang tamu. Saya heran, masalahnya jika saya yang mengambil air selalu sampai rumah menjelang senja. Sedangkan bapak, waktu ashar sudah duduk tenang menikmati penganan yang ibu siapkan. Mungkin karena langkah kami memiliki lebar yang berbeda.

“Buyung, kamu ingat cerita tentang jari-jari Nabi yang dapat mengeluarkan air?”

“Ingat Pak, memangnya ada apa?”

“Mulai besok kamu tidak perlu mengambil ke desa Hulu.”

“Maksud Bapak kita akan menggunakan pompa yang tadi siang sudah diujicobakan?”

“Bukan itu, mulai besok Buyung ambil air di Barat. Susuri jalan desa seperti biasanya. Ketika jajaran Kaliandra habis, Buyung belok kanan. Nanti Buyung akan temukan sebuah bukit. Di balik bukit itu ada sumber air. Jaraknya lebih dekat daripada desa Hulu.”

“Iya Pak, besok saya akan mencari sumber air itu.”

***

Selalu seperti inikah kemarau. Menghimpun kekuatan untuk mendapatkan air. Sedangkan pulau lain dilanda banjir yang bertubi-tubi, rumah-rumah tenggelam, jiwa-jiwa hilang. Adakah semua ini telah digariskan yang kuasa. Tidak dapat bersyukurkah manusia, meninggalkan ibadah, melupa sedekah atau ini memang kehendak alam.

Jajaran Kaliandra habis sudah. Kelokan pertama dilalui. Banyak sekali perdu-perdu di daerah ini. Tanda-tanda kekurangan air sama sekali tak terlihat. Saya seperti menjejak belahan benua lain, padahal ini masih bagian dari kampung saya. Putri malu segera menyembunyikan tubuhnya ketika tidak sengaja bersentuhan dengan badan. Resah angin tak kudengar, hanya ada hembusan yang mendamaikan hati.

Mata terus mencari bukit yang diceritakan Bapak. Bukit pasir yang kokoh seperti memenjarakan saya dalam letup waktu. Coklat yang teguh di kelilingi perdu indah, lunglai tertiup sehembus angin siang. Saya mengingat kata-kata bapak kemarin. Di balik bukit, saya harus menemukan sesegera mungkin.
Berjalan menuju sebuah tempat yang landai. Agak tersembunyi dari pandangan mata yang tidak jeli. Saya simpan jeriken di samping pohon. Sepi. Saya tak habis pikir mengapa Bapak bisa menemukan tempat seperti ini.

Belum ditemukan sumber air pun suara gemericiknya saya sudah kelelahan.
Duduk bersandar ke dinding batu yang besar. Tangan saya pun memain-mainkan pasir yang lembut. Tiba-tiba saja saya seperti diberi sebuah teka-teki semesta yang harus dipecahkan. Kalimat-kalimat Bapak mungkin sebuah kata kunci. Jari-jari Nabi yang dapat mengeluarkan air. Sebuah mukjizat kenabian. Ya, kalimat itu harus dapat saya pecahkan dan temukan artinya.

Lama merenung, tangan saya pun mulai mencongkel-congkel butir pasir. Melempar-lemparkannya ke udara. Beberapa serbuk halusnya terbawa angin. Pikiran saya berkecamuk, antara keinginan cepat pulang, mendapatkan air, mukjizat kenabian. Saya mencoba menangkap suara air. Percuma. Hanya ada desis angin yang lewat di pendengaran.
“Ya Allah, apa yang harus saya lakukan. Berikan sedikit keajaiban bagi hamba.” Saya hanya menyebut-nyebut nama kebesaranNya di hati. Tetap berusaha. Pasir-pasir yang saya congkel itu ternyata telah membentuk kubangan.

“Dari mana datangnya air yang jernih ini?” saya kaget melihat air jernih memenuhi lubang-lubang pasir yang saya buat dengan tidak sengaja.
“Mungkinkah ini mukjizat itu? ah, tidak mungkin. Hanya nabi yang mendapatkan anugerah itu. Tapi yang pasti ini kehendak yang kuasa.” Saya memperdalam kubangan pasir itu.

“Saya mengerti, ini adalah sumber air yang Bapak ceritakan. Saya harus menampungnya dan segera mengisi jerigen-jerigen itu.” Ternyata kuasa Allah itu tak dapat diduga. Air-air jernih ini dapat menghilangkan dahaga yang sedari tadi telah menyiksa saya.

Musim selalu dirasa sama. Begitulah cuaca berulang dari tahun ke tahun. Puncak-puncak kemarau sepertinya akan hilang dalam sekejap mata. Terima kasih atas kemurahan ini, akan kusebarkan kabar baik pada penduduk. Ternyata ada sumber air yang melimpah di balik bukit.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: