Cerpen Padang Ekspres

Oktober 26, 2008

Sungguh! Ostracon Telah Raib

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:29 am
Tags:

Cerpen Delvi Yandra

Sudah hampir dua menit Sarkofagus itu bergetar dan suara lengkingan dari dalamnya membelah seisi ruang persembahan. Sementara, Ghouli tetap tidak beranjak satu senti pun dari tempat ia berdiri. Ia tercengang, terdiam, terbujur kaku tak dapat lari. Relief-relief di setiap sudut ruangan seperti hidup dan bergerak secara statis membentuk simbol-simbol aneh, seolah-olah mereka ingin menyampaikan suatu peringatan kepada Ghouli. Mungkinkah Pharaoh bangkit kembali?
“Kembalilah! Kau tidak akan melihat malam penuh bintang dan siang bertabur cahaya. Terkutuklah! Kau akan dilempar ke dalam Ankh-Towy dan hadapilah Yang Mulia Dewa Ptah selama bertahun-tahun.”
Tutup Sarkofagus itu terbuka, sesuara menyampaikan sesuatu.
Ghouli terkejut dan seketika itu ia melompat dari posisinya.
Dengan segenap kekuatan, Ghouli berlari mencari sumber cahaya agar ia dapat terbebas dan keluar dari dalam Piramid yang gelap dan pengap. Ia terus berlari. Kemudian, ia menemukan pintu keluar dan disana ia menyaksikan burung-burung Punt telah berterbangan di angkasa Mesir.
***
Begitulah. Berkali-kali suara itu masih terus terdengar dan kental dalam ingatannya.
Ia tak dapat menghilangkan perasaan takjub sekaligus takut mengenai kejadian yang ia alami di dalam Piramid terkutuk itu. Bertahun-tahun ia mencari kebenaran tentang Ostracon yang legendaris tetapi yang ia hadapi malah suatu peringatan yang tak pernah luput dari ingatannya. Seringkali, kalimat-kalimat itu terus menerus berbisik ke telinganya. Di waktu menikmati anggur dan di dalam mimpinya. Ia terus dirasuki perasaan yang aneh.
Istrinya, Latifa menjadi gamang dengan beban spiritual yang dipikul Ghouli. Apabila terjadi getaran atau guncangan sedikit saja maka Ghouli akan terkejut dan segera melompat setinggi satu meter dari posisi ia berbaring, duduk maupun berdiri. Apalagi, belakangan ini di daerahnya sedang mengalami kekeringan dan keadaan tersebut telah membuat masyarakat sekitar tepian sungai Nil harus bekerja lebih keras lagi agar mereka dapat terus bertahan hidup. Ghouli percaya bahwa Dewi Menqet telah murka kepadanya. Dan, ia berkesimpulan bahwa Dewi Menqet telah turun dari langit dan menaburkan bibit malapetaka di sepanjang sungai Nil. Ia tak ingin bercerita apa-apa tentang malapetaka ini kepada seluruh negeri. Ia rahasiakan, bahkan juga kepada istrinya sendiri.
Sungguh! Awalnya ia percaya dengan papyrus.
Papyrus itu ia dapatkan dari seorang penggali situs-situs kuno di wilayah barat Mesir. Ia datang menemui Ghouli karena ia mengetahui bahwa Ghouli adalah seorang arkeolog dan hieroglyphic yang pernah memecahkan teka-teki Sirius dan Sothis―binatang yang menyerupai anjing dan diduga muncul saat banjir Nil dan karenanya diasosiasikan dengan kesuburan tanah―dan ia juga sempat mengajar di Al-azhar beberapa bulan saja. Sebab kemudian, ia dimutasi oleh pimpinan Universitas tanpa alasan yang jelas.
Begitulah.
Papyrus tersebut berisi tulisan hieroglyph disertai dengan simbol-simbol aneh yang ia terjemahkan sebagai penari akrobatik yang melayani Dewa Ptah pada saat perjamuan dan perayaan besar. Sungguh! Papyrus itu bercerita tentang Ostracon. Ostracon yang legendaris.
Setelah itu, ia juga mendapat kabar angin bahwa telah ada sekelompok orang yang menemukan Ostracon dan berniat mencurinya. Maka, Ghouli bergegas menuju sebuah Piramid―dimana Ostracon dan sekelompok pencuri dicurigai berada di sana―agar dapat menemukannya lebih dahulu untuk kemudian diselamatkan dan diserahkan kepada museum pemerintah kota di Kairo. Namun, alhasil, ia tak menemukan mereka. Ia malah mendapat sebuah peringatan yang entah bisa disebut suatu keberuntungan atau kesialan. Atau justru kutukan!
Siang ini ia berniat kembali menemui laki-laki yang memberikannya selembar papyrus tersebut. Laki-laki itu bernama Khal―begitu orang-orang di wilayah barat menyebutnya. Menurut kabarnya, ia sekarang sedang berada di Terusan Suez. Dan Ghouli ingin ia bercerita panjang lebar mengenai papyrus itu.
Ghouli menemui Khal di depan sebuah gerai obat.
Awalnya, Khal berdalih bahwa ia dengan tidak sengaja telah menemukan papyrus tersebut pada sebuah situs di kawasan barat daya. Namun setelah Ghouli mendesaknya untuk bercerita lebih jauh―tentunya dengan menyebut-nyebut nama Ostracon―maka dengan kesungguhan dan kejujuran yang luar biasa akhirnya Khal menceritakan perihal papyrus tersebut.
Ia mengatakan bahwa papyrus tersebut telah ia curi dari sebuah altar persembahan di ruang utama pada salah satu piramid yang terletak di wilayah barat daya Mesir―tentu saja dengan memalsukan identitasnya sebagai salah satu prosedur paling gila agar memperoleh izin masuk. Sebelum kejadian itu, ia sempat mendengar pembicaraan yang di luar dugaan dari dua orang penjaga yang menyebut-nyebut Ostracon. Singkat saja, mereka mengatakan bahwa kelak apabila ditemukan jasad Ostracon yang dibalsem maka penemunya akan segera kaya raya.
Dengan tak disengaja Khal menemukan papyrus tanpa mengerti makna simbol di dalamnya sehingga ia berniat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan Ghouli yang brilian untuk memecahkan teka-teki itu.
Huuff…
Begitulah ceritanya.
Ghouli bisa saja melaporkan Khal kepada polisi tapi ia urungkan sebab mereka berada pada kondisi dan posisi yang hampir sama. Mereka sama-sama ingin memecahkan teka-teki Ostracon. Hampir saja Ghouli berhasil menemukan Ostracon, ia malah mendapat malapetaka.
Dengan berat hati Ghouli memaafkan Khal.
Kemudian, mereka bersepakat menemukan Ostracon sesegera mungkin. Satu-satunya cara adalah dengan kembali ke dalam piramid terkutuk itu.
Tentu saja. Ke Piramid adalah hal terberat yang sesungguhnya ingin dihindari oleh Ghouli. Kemudian Khal meyakinkannya dengan menceritakan ikhwal peradaban orang-orang Nubian yang berhubungan dengan penari akrobatik itu. Ghouli mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut bersama Khal memecahkan teka-teki Ostracon.
Dini hari, setelah badai gurun pasir mereda. Ghouli bersama teman barunya―Khal, memulai perjalanan. Perasaan aneh mulai menyelimutinya ketika benda berbentuk limas itu tepat berada di depan matanya. Di kedua sisi Piramid tersebut terdapat Sphinx―patung singa berkepala manusia―yang dengan gagah berjaga. Ia perhatikan Khal yang tetap tenang dan serius. Burung-burung Punt bertengger di atas kepala Sphinx dan di beberapa batu yang berundak-undak.
Api mulai dinyalakan, senter mulai dihidupkan, semangat berkobar. Mereka menyusuri lorong-lorong gelap dan tangga-tangga yang lembab dan berlumut. Ghouli paham dengan medan yang ditempuh. Ia masih ingat ketika pertama kali peristiwa itu terjadi. Semakin jauh berjalan maka semakin pekat dan kental ingatannya tentang malapetaka tersebut. Ia tidak menyangka akan kembali ke tempat itu lagi padahal suara aneh dari dalam sebuah Sarkofagus telah memperingatkannya. Untuk yang kedua kalinya, ia kembali dengan membawa seorang teman.
Tibalah mereka di puncak, di sebuah ruang persembahan. Ghouli sangat terkejut melihat seisi ruangan sebab tak ada satupun yang berubah sejak pertama kali ia datang. Bahkan, altar persembahan, Sarkofagus, Menhir dan susunan relief-relief tersebut tidak ada yang berubah. Padahal getaran dan guncangan hebat waktu itu nyaris membuat ia terpelanting. Hanya saja, kali ini, tutup Sarkofagus tidak berada di tempatnya.
Khal melangkah ke depan dan melihat isi Sarkofagus yang telah kosong melompong. Tiba-tiba terdengar suara dengan disertai guncangan hebat. Khal terpelanting sejauh dua meter.
Portulaca!
Aku bersemayam dalam cintamu
Siang dan malam dan
Sepanjang hari, melewati jam demi jam
Aku tertidur dan ketika
Aku terjaga sekali lagi saat fajar tiba.
……
Sedangkan Ghouli tercengang, terdiam, terbujur kaku tak dapat lari. Akhirnya ia meyakini dirinya bahwa perihal sekelompok pencuri hanya rekayasa yang brilian. Sementara Ostracon, bukan sebuah tipuan belaka. Sang penari akrobatik tersebut benar-benar ada dan dipercayai sejak turun-temurun menjadi mitos rakyat Mesir. Nakhtsobek yang cerdas. Kemudian ia menghampiri Khal yang sekarat dan berkata dengan serius.
“Sudah kukatakan berkali-kali. Sungguh! Ostracon telah raib.”

Padang, Mei 2008

Catatan:

1. Ostracon merupakan sosok penari akrobatik yang terdapat pada dinasti ke-18.
2. Ankh-Towy adalah nekropolis Memphis, pusat kultus penting dewa Ptah, pencipta dunia dan bapak para dewa dan manusia.
3. Burung Punt merupakan jenis burung yang berasal dari area Sudan timur, yang berbatasan dengan Ethiopia. Wilayah ini terkenal karena rempah-rempahnya dan karena Mesir menyebutnya wilayah yang melegenda.
4. Menqet adalah dewi minuman.
5. Nakhtsobek adalah nama ahli tulis.
6. Portulaca adalah pembuka baris, hanya permainan kata. Kemudian baris seterusnya merupakan lirik cinta Mesir kuno yang diterjemahkan oleh Barbara Hughes Fowler dari Love Lyrics of Ancient Egypt, The University of North Caroline Press, Chapel Hill and London, 1998.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: