Cerpen Padang Ekspres

September 14, 2008

Mobil-mobil Gelisah

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:21 am

Cerpen Andika Destika Kaghen

Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit…..tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson berbunyi. Walau semua yang berada dalam kemacetan ini sadar tak mudah lepas dari derita ini.

Semua yang berada di sini berada dalam kegelisahan. Di depanku, seorang pria berbadan gemuk, sopir truk, tiap sebentar saja berujar, ”Maju..maju.” Walau ia sebenarnya tahu tak mudah menginjakkan pedal gas. Sopir berbadan gemuk itu turun dari mobilnya sebentar untuk membeli sepotong roti. Sudah kedelapan kalinya ia turun dari mobil dan tiap sebentar ia membeli penganan. Keringat sudah beberapa kali diseka dari kulitnya yang hitam.

Jalan protokol di kota ini sebenarnya verboden, tapi tetap saja mobil-mobil seperti punya sebuah hasrat yang tak bisa dikendalikan. Di rambu tertulis huruf S silang, mobil angkot warna merah seenaknya menaikkan penumpang. Ia menghalangi sebuah mobil Kijang yang berada di belakangnya. ”Hey..punya otak dong.” Namun, sopir angkot itu seperti tak mendengarkannya. Penumpang tetap saja naik dan kini mobil itu tak dapat lagi berangsut barang sedikit saja.

Begitulah. Semua orang-orang yang berada di dalam mobil dilanda kegelisahan. Ada polisi di antrean paling depan, tapi tak cukup mampu mengatasi keadaan itu. Aku menengok ke arah paling depan. Oh, kapan mobil-mobil ini bernafas? Di simpang empat, pangkabala kemacetan, truk Hino tepat berada di tengah jalan. Mobil itu tak tahu lagi harus kemana. Namun, dalam keadaan seperti ini, sopir-sopir oplet tetap saja menaikkan dan menurunkan penumpang, walau sebenarnya sang sopir juga gelisah.
Sudah lebih dari tiga jam. Mendekati jam keempat, kegelisahan sepertinya tak akan berubah. Hanya pejalan kaki yang kelihatan tanpa pikiran yang bisa lalu lalang dengan leluasa. Sepeda motor saja tak bisa melewati kemacetan ini, dan setiap saat umpatan dan nada kecewa mengalir ’lembut’ dari orang-orang yang merasa waktunya terbuang untuk hal ini.

Aku menghitung lagi mobil-mobil yang gelisah. Jalan sepanjang 500 meter ini telah dipenuhi oleh umpatan, makian. Oh, aku mulai kasihan melihat polisi yang berada di gerbang kemacetan yang sudah berpeluh. Ia tak tahu lagi cara mengatasi kemacetan. Ia sepertinya hanya menempelkan pluitnya di bibir, tapi tak pernah dibunyikan. Lihat, tidak ada lagi orang-orang yang memerhatikan polisi itu bekerja. Dalam keadaan begini, siapa lagi yang peduli dengan polisi?

Empat puluh lima buah, sebanyak itulah mobil-mobil di jalan protokol ini. Aku tak menghitung sepeda motor yang berada di sisi kiri dan kanan mobil. Belum lagi gerobak-gerobak pedagang yang jalannya diambil alih oleh mobil-mobil. Pedagang sayur yang berada di sisi kiri jalan, sepertinya tak ambil peduli dengan kemacetan. Mereka tetap saja berdagang dan aku tahu mereka tak terlibat dalam kegelisahan ini. Suara azan berkumandang dari masjid. Di jalan ini, umpatan belum juga berhenti, entah ditujukan untuk siapa.

***

Entah dari mana mulanya, seorang sopir dari arah paling depan membanting pintunya teramat kencang. Aku kira ia telah sampai pada puncak kemarahan yang tak beralasan. Semua pandangan mengarah kepada lelaki itu. Tapi ia tak ambil peduli. Ia, seperti sopir-sopir lain, mengumpat. Ia tak berbaju, keringat jelas masih melekat di dahinya. Ia melewati jalan-jalan yang masih tersisa untuk melewatkan badannya yang kecil. Ia lewat di depan mobilku, tapi tak menoleh dan berjalan terus menuju ke arah pasar. Mobilnya ditinggalkan tak peduli. Tepat di depan mobil lelaki itu, turun lagi seorang lelaki berkulit putih. Ia juga membanting mobil dan meninggalkannya seperti tak bersalah. Ia juga berjalan menuju pasar.

Satu persatu, setiap sopir keluar dari mobilnya dengan membanting pintu teramat kencang. ”Praakkk.” Umpatan itu mewakili setiap mobil-mobil yang gelisah. Ya, semua sopir turun dari mobilnya masing-masing dan memperbiarkan mobilnya tak bertuan. Semuanya sama-sama mengumpat. ”Kapan ini akan berakhir? Mana polisi?” Jalanan itu tampak seperti pasar yang berada di sebelah. Mau tak mau, semua mata tertuju ke jalanan. Dua orang polisi yang sedari tadi berdiri di antrian terdepan hanya bisa melongo, kemudian mengambil halky talky (HT) menghubungi temannya yang lain.
Jalanan keburu kosong oleh sopir. Hanya mobil-mobil tak bertuan yang jelas tak akan beringsut dari situ. Aku bersama seorang sopir oplet turun penghabisan dari mobil. Sama seperti sopir-sopir lain, juga tak berbaju. Semua sopir menuju pasar dan tak peduli lagi dengan mobil yang ditinggalkannya. Tidak ada lagi bunyi klakson. Yang ada hanya begitu banyak benda mati yang teronggok di jalanan.

Seorang pedagang sayur yang berada di sisi kiri jalan, sepertinya kecewa dengan kejadian itu. Pelanggannya memindahalihkan perhatian ke kejadian yang baru saja terjadi, dan tak biasa. Orang-orang yang berada dalam mobil tak lagi peduli kepada kepentingannya masing-masing. Mereka memilih keluar dari derita itu dengan jalan yang sama: mengakhirinya dengan meninggalkan mobil masing-masing. Di pasar itu, benar-benar chaos dan hanya polisi yang kelihatan sibuk dengan HT.

Sirine mobil polisi terdengar dari arah yang jauh dan semakin lama terdengar makin mendekat. Tapi mobil-mobil di jalanan terlanjur tak lagi memiliki sopir. Di belakang sekali, mobil polisi itu berhenti dan mengencangkan bunyi sirinenya. Dari toa terdengar polisi itu berteriak teramat kencang.

”Kepada semua sopir diharapkan berkumpul.”

Sopir-sopir yang turun dari dalam mobilnya masing-masing telah berada di dalam pasar. Tak ada yang mendengarkan teriakan polisi tersebut. Polisi yang sedari tadi mengatur lalu lintas, kepada polisi yang memegang toa membisikkan sesuatu, ”Semua sopir di sini tidak ada yang pakai baju.”

”Semua yang tidak memakai baju diharapkan berkumpul.” Himbauan itu disertai nada ancaman bagi yang tidak berkumpul akan dipanggil secara paksa. Disertai tiga buah tembakan ke udara. Ramailah jalanan itu dengan orang-orang yang tidak mengenakan baju. Mereka dikumpulkan seperti terpidana dan bersalah karena turun dari kendaraan masing-masing.

”Saya berjanji sebentar lagi kemacetan ini akan berakhir. Silahkan semuanya kembali naik ke mobil,” begitu kata polisi yang tadi menembakkan pistolnya ke udara.

Namun, tak ada seorang pun dari sopir-sopir itu yang mau naik ke atas mobil. Mereka lebih memilih diam dan tak menjawab perintah polisi barusan. Walau, setelah itu sang polisi menembakkan lagi pistolnya ke arah udara. Semua sopir tersebut kembali berjalan ke dalam pasar dan semakin menjauh kini. Semakin tak beraturan dan tidak lagi bisa dikendalikan oleh polisi-polisi yang kini telah semakin banyak berada di jalan protokol tersebut.

Semua yang berada di pasar, termasuk pedagang hampir tidak percaya dengan kejadian itu. Hanya sopir-sopir itu yang kini tak lagi mempedulikan apa yang terjadi dan akan terjadi. Polisi berinisiatif untuk mengosongkan jalan raya dari mobil-mobil yang berada di jalanan. Namun, jalan protokol yang persis terletak di dekat pasar pusat ini tak ada lagi ruang kosong untuk memindahkan mobil-mobil itu.

Hanya ada dua alternatif, kata polisi yang sedari pagi berada di pasar ini, semua mobil dibakar atau naikkan mobil-mobil itu ke atas truk yang lain dan dibawa satu persatu. Semua polisi melongo mendengarkan dua alasan yang keduanya tidak ada yang bisa dijalankan dengan mudah. ”Biarkan saja,” kata polisi lain. Komentar ini pun tidak ada yang menanggapi. Atau, polisi-polisi itu memang tidak terlatih untuk keadaan seperti ini?

Jalanan semakin gelap. Pedagang-pedagang telah pulang ke rumahnya masing-masing. Rupanya para pedagang itu lebih memilih untuk pulang daripada menyaksikan kejadian, walau tidak biasa terjadi, tapi tetap tak enak ditonton. Tinggallah di jalanan itu, sekitar sepuluh orang polisi yang masih berpikir bagaimana mengusahakan mobil-mobil di jalan ini agar bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan kemacetan yang lebih parah lagi.
Seorang polisi yang tampak lebih tua dari polisi lain memberikan pendapatnya pula setelah banyak pendapat tidak ada yang masuk akal. ”Kita buatkan kunci palsu untuk masing-masing mobil.” Polisi itu terus menerangkan argumennya yang membuat polisi-polisi lain mengangguk seperti tak bisa lagi membantah pendapat polisi itu. Kebetulan, di seberang jalan ada sebuah gerobak tempat menduplikatkan kunci. Walau memakan waktu yang cukup lama, tapi semuanya sudah sepakat untuk memindahkan mobil satu-persatu dengan menggunakan kunci yang diduplikatkan.
Sebentar kemudian terdengar pula sirine mobil polisi dari arah yang berlawanan.

***

Siapa yang bisa menduga, jika benar adanya, sopir-sopir itu tidak ada lagi yang kembali  ke jalanan itu mengambil mobilnya masing-masing. Selama dua hari polisi memindahkan mobil-mobil yang ditinggalkan oleh penghuninya, dan memindahkannya ke kantor polisi sembari berharap pemiliknya datang. Seminggu mobil itu berada dalam tawanan polisi, tapi tetap ada satu pun yang datang ke kantor polisi dan mengatakan bahwa ia akan mengambil mobilnya.

Padahal, inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh polisi. Pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga selama dua hari mesti dibalas dengan interogasi terhadap sopir-sopir yang tidak bertangungjawab itu. Namun, kenapa tidak ada satupun masyarakat yang mengambil mobil mereka di kantor polisi?
Begitulah. Kantor polisi dipenuhi banyak sekali mobil dan sepeda motor yang tidak berpemilik, dan tidak ada yang datang menyatakan bahwa mobil dan sepeda motor itu milik mereka. Polisi melalui mass media mengumumkan ”Siapa yang merasa meninggalkan mobil pada peristiwa 17 Agustus yang lalu diharapkan mengambil mobilnya di kantor polisi. Terhitung, sejak pengumuman ini dikeluarkan, dalam kurun waktu 2X24 jam tidak ada yang mengambil, mobil dan sepeda motor resmi menjadi milik polisi.” Pengumuman itu disiarkan di seluruh surat kabar yang ada di kota ini.

Sepekan, sebulan, bahkan dua bulan setelah kejadian itu, tetap tak ada yang datang ke kantor polisi dan  mengambil mobil mereka dari tangan polisi. Polisi malah kebingungan karena mereka tidak lagi punya tempat untuk memarkir mobil-mobil tilang dan curian. Semua tempat di kantor polisi penuh oleh mobil-mobil yang ditinggalkan penghuninya.

***

Aku terjebak lagi dalam kemacetan siang ini. Namun bukan di tempat mobil yang kutinggalkan dulu. Sudah lebih dua jam aku di sini, bersama panas yang semakin menyengat. Sopir oplet masih saja seperti itu, menaikkan penumpang di rambu yang bertuliskan huruf S silang. ”Maju…maju..” Mobil oplet tersebut tak dapat lagi melepaskan diri dari kemacetan setelah menaikkan penumpang.

Ah, tidak terlalu lama berselang, jalanan ini tak bisa lagi dilewati. Kini, mobil-mobil bersusun sangat tak beraturan. Aku tetap tidak tahu siapa yang memulai, kejadian yang sama terulang lagi. Semua sopir turun dari mobilnya, dan tak berbaju. Persis seperti kejadian dua bulan yang lalu.

”Kemana lagi akan kita taruh mobil-mobil ini?”

Begitulah kejadian setiap pasar di kota ini. Kantor polisi penuh oleh mobil-mobil yang tidak berpemilik, tapi kebingungan karena tak ada lagi tempat yang kosong di setiap kantor polisi.

Namun, pedagang di setiap pasar justru tersenyum. Sejak kejadian itu tidak ada lagi mobil-mobil yang melewati jalan raya. Tak ada polisi di simpang empat jalan. Tidak ada macet, dan tidak ada lagi orang-orang yang ingin membeli mobil, pun sepeda motor. Jalan di setiap kota begitu lengang, dan jelas tidak ada polisi.

Ruangsempit, 2008

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: