Cerpen Padang Ekspres

September 7, 2008

Patahan Cerita Pendek

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:38 am
Tags:

Cerpen Pinto Anugrah

Patahan Satu: Alu Katentong
Lesung menggema dihentak alu. Menimbulkan bunyi yang bertalu-talu, timpal-menimpali, dan menghentak-hentak. Diiringi nyanyian. Berdendang-dendang. Penuh keriangan. Disertai gelak tawa. Seperti sebuah helat. Semua orang bergembira.
“Katentong, katentong, katentong…” Bunyi yang ditimbulkan alu ketika mendarat di lesung. Tidak hanya ada satu lesung dan alu, banyak, berjejer di depan rumah, di setiap rumah gadang, bunyinya merambat ke setiap sudut kampung. Suasana seperti ini hanya ada dua kali dalam setahun. Setiap musim panen.
Ibu termangu di bibir jendela. Memandang ke halaman. Matanya tak lepas memandang lesung yang berjejer, ada lima lesung di sana. Lesung dari batu itu digenangi air, air hujan pasti dan telah berlumut. Dipenuhi berudu yang mengapung. Dapat ditebak, pasti telah lama tak digunakan. Ibu memandang nanar. Bunyi itu masih mengiang dan bertalu-talu di telinganya. Sudah lama sekali.
Laya, Kinan, Kaila, dan aku, Hanan, Ibu mengeja satu persatu nama anak perempuannya. Lama sudah Ibu tak bertemu dengan mereka.
“Pipimu manis. Berlesung. Seperti lesung di halaman rumah kita.” Begitulah Ibu selalu memujiku. “Kau yang paling kecil di antara anak-anak ibu, kakakmu semuanya telah pergi merantau, hanya kau yang masih tinggal. Kau akan pergi juga? Tentu kau tidak akan meninggalkan ibu sendiri di kampung.”
Semua orang, sekarang, pergi merantau. Bukan lelaki saja, tapi perempuan juga telah pergi merantau. Lihatlah, kampung telah lengang. Hanya orang-orangtua dan anak-anak yang tinggal. Ladang telah semak, jadi sarang babi hutan. Sawah kering, tak lagi ada yang mengairi.
“Ibu rindu dengan bunyi lesung di halaman rumah kita, Hanum. Sejak kakak-kakakmu pergi halaman ini sepi, tidak ada lagi gelak tawa mereka sambil menumbuk lesung. Tidak ada lagi irama itu, kampung ini seperti mati. Apakah kau tetap memutuskan akan pergi juga?”
Pagi itu, aku tersentak bangun. Lesung itu kembali menggema. Alu timpal-menimpali jatuh ke lesung. Namun, bunyinya tak seperti bunyi biasanya yang nyaring dan menghentak-hentak. Bunyi itu lembab dan berat. Aku mendongak keluar lewat jendela. Tampak Ibu memegang alu, ia menghentakkannya sekuat tenaga, tapi bukan padi yang ditumbuknya. Tak ada padi dalam lesung. Ibu hanya menumbuk genangan air hujan. Ia berdendang, mendayu-dayu.

Patahan Dua: Sampelong
Bunyi menyusup. Menusuk. Mengais malam. Memanjat dinding. Kukirim ke rumahmu. Datanglah semalam-malamnya!
Kampung hening lewat tengah malam. Semua orang telah lelap diselimuti dingin. Tersebutlah Kinan, sejak sebulan terakhir ia tak pernah tidur. Lewat tengah malam ia selalu memekik, meraung-raung, mencakar-cakar tubuhnya, mengantuk-antukkan kepala ke dinding, dan menggerapai dinding. Terkadang kedua tangannya berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Jika pagi tiba, ia kembali seperti biasa, tetap pergi ke sawah. Sebenarnya ibunya telah risau. Entah penyakit apa yang hinggap.
Tak dapat dihindari, Kinan pun menjadi gunjingan orang kampung.
“Anak Samsinar itu pasti telah terkena sampelong.”
“Sampelong?”
“Ya, tiap malam anak Samsinar itu terkelayak di atas tempat tidurnya.”
“Siapa yang menyampelongnya?”
“Siapa lagi kalau bukan Wan Tunjang, juragan petai dari kampung Mudik.”
“Iya juga, bukankah juragan petai itu yang selama ini tergila-gila pada anak Samsinar itu.”
Gunjingan itu semakin menjadi-jadi. Hingga sampailah ke telinga ibunya Kinan. Ia semakin risau. Seperti malu bersua dengan orang kampung.
“Kinan, Ibu tidak begitu mengerti apa penyakitmu dan bagaimana mengobatinya. Orang kampung pun semakin mempergunjingkanmu. Satu-satunya jalan keluar, pergilah ke Jawa ke tempat kakakmu Laya! Kata sebagian orang, jika kau menyeberang laut maka penyakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ini jalan yang terbaik, Kinan.”
Oh, sampelong, ditiupkannya ke hulu hati. Anak gadis mana lagi yang akan memanjat dinding. Sampelong bunyi sengau pembuluh bambu yang menyelinap ke pembuluh darah. Nyanyian sendu bulu perindu.
Tak lama Kinan pergi ke Jawa, tak cukup hitungan tahun, terdengarlah kabar: Kinan berhelat.
Oh, sampelong.

Patahan Tiga: Patah Sunting
Air mukanya tampak tak tenang. Matanya terpejam, tapi aku yakin ia tidak tidur, dirinya masih terjaga. Dari mulutnya masih terdengar senandung lirih yang sayup-sayup sampai.
Bis mulai menanjak memasuki perbukitan yang terjal. Raungnya semakin keras, orang-orang masih tertidur lelap tanpa merasa terganggu sedikit pun, mungkin karena sudah terbiasa. Di kejauhan sana, laut makin kelihatan samar. Petang telah berangsur menjadi malam. Dan hamparan kota di lembah yang langsung bertemu dengan laut itu berangsur bertukar menjadi parade lampu-lampu. Di dalam bis semakin gelap, lampu dalam bis yang dihidupkan tak mampu menerangi seluruh ruangan bis. Jauhnya perjalanan cukup melelahkan orang-orang untuk menyadari perpindahan antara siang dan malam. Aku lihat matanya masih memejam. Apakah ia juga tidak peduli dengan perpindahan waktu? Ia menggeliat dan menukar posisi tidurnya. Rasanya perjalanan ini cukup meletihkannya. Ia menggeliat lagi, matanya masih memejam. Tapi yang mengejutkan, ia langsung mengambil lenganku dan merapatkannya ke tubuhnya. Kubiarkan saja. Kepalanya langsung menumpang di bahuku. Kudiamkan saja. Tapi tetap saja aku tergoda untuk mencium bau rambutnya.
Roda bis yang terjebak lubang jalan membuat guncangan cukup keras. Ia terjaga, membuka matanya, dan langsung memandangku.
“Oh, maaf.” Lalu melepaskan lenganku dan menukar posisi tidurnya. Sekarang punggungnya yang memangku lenganku. Aku hanya dapat tercenung memandangnya.
Tapi bukan karena ia menukar posisi tidurnya itu yang membuatku tercenung. Tatapannya yang sekilas tadi. Tatapan yang begitu nanar. Aku tak menyangka sama sekali. Di kedalaman tatapan itu, begitu kosong, ruang lapang yang tak berisi apa-apa. Aku ingin menyapanya, tapi takut mengganggu tidurnya. Tidak, sekali lagi aku yakin, ia tidak tidur, matanya hanya terpejam. Aku tak punya cara untuk memulai.
Bis tiba-tiba melambat lajunya. Bunyi decit rem seperti bunyi tikus terjepit. Kemudian menepi ke sebuah pelataran yang agak luas. Ia kemudian terbangun. Memperbaiki posisi duduknya. Memandang ke luar kaca. Setelah menyadari bis itu berhenti di mana, ia langsung menoleh ke arahku. Mata itu, tatapan itu, lagi-lagi aku bersitatap dengannya.
“Boleh minta tolong? Bisa belikan aku aqua ke kedai?”
Aku tertegun dengan tatapan itu. Dan tiba-tiba saja, tanpa mengangguk aku langsung beranjak turun dari bis. Dari luar, di balik kaca, aku masih menangkap tatapan itu.
Ia mereguk hampir setengah botol air mineral yang kubelikan. Begitu hauskah ia, hingga tatapannya begitu kosong? Diputarnya kepalanya ke arahku. Menatapku sejenak, tanpa senyuman sedikit pun. Tatapan itu tak berubah. Dan aku mulai risih.
Laju bis semakin memasuki malam, memasuki dataran tinggi pegunungan dengan jalan yang semakin berkelok-kelok. Badanku dan badan penumpang lainnya mulai diayun-ayunkan kelokan jalan. Lama-lama bis itu mulai memasuki bukit yang berkabut. Dingin mulai menyelimuti. Entah pikiran apa yang membawa, aku mulai menjulurkan lengan dan memagut tubuhnya. Ia menerima saja, malah mendekapkan badannya ke badanku dan langsung menyandarkan kepalanya di dadaku. Hanya sekedar untuk menghangatkan. Dan ia tampak begitu tenang. Sekarang aku yakin ia benar-benar terlelap.
Tangannya yang sedari tadi memagut tubuhnya sendiri, mulai terkulai jatuh ke pangkuanku. Aku perhatikan tangan itu, rambut-rambut halus yang tumbuh, membuat tangan itu menjadi cantik. Dan jari-jari yang runcing itu. Oh, aku baru menyadarinya, ternyata kukunya masih berhias inai. Merah pekat serupa warna hati. Benarkah aku baru menyadarinya? Cepat-cepat kualihkan tatapanku ke wajahnya. Wajah yang tertidur itu, kenapa tiba-tiba menjadi sangat cantik. Di bagian tertentu wajah itu masih tertinggal sisa-sisa riasan; di sudut matanya, di alisnya, dan bibirnya masih tertinggal sisa gincu. Keningnya juga, bekas jejak sunting menggaris melintang. Tiba-tiba aku menjadi pusing. Ingin kujauhkan ia dari dekapan tubuhku. Tapi kemudian aku juga menjadi begitu kasihan membangunkannya. Wajah itu tiba-tiba memancarkan wajah iba.
Baru aku menyadarinya, setelah pikiranku tak lagi tertuju kepadanya. Aku mencoba mengalihkan pikiranku ke sesuatu yang lain. Rupanya sedari tadi supir bis telah memutar kaset tape untuk memecah sunyinya malam. Saluang melantun dengan dendang yang mengiba-iba hati.
patah suntiang dapek ditikam
patah hati badan binaso
Sungguh, dendang itu membuatku tersentak; patah sunting dapat ditikam, patah hati badan binasa. Benarkah seperti itu kejadiannya?
Tatapanku tak beralih dari wajahnya. Aku melihatnya, mata itu mengeluarkan air mata, tapi ia tak tersedu. Ia menangis. Mengiris hati. Tiba-tiba kepalaku begitu sakit mendengar lagu itu. Ingin aku berteriak ke supir bis supaya matikan saja kaset tape itu. Biarlah malam sunyi di dalam bis ini. Biarlah ia merasakan keheningan sesaat. Aku tak ingin ada yang mengganggunya.
Ia masih berada di pelukanku. Kurasakan tubuhnya yang begitu dingin. Dan air matanya telah membasahi bajuku. Sebenarnya aku ingin menghiburnya, tapi aku tak tahu caranya. Aku ingin bersuara, hanya serasa ada yang menyumbat kerongkongan. Maka kubiarkan saja berlalu seperti bis yang terus melaju. Aku tahu, ia telah terbangun dari tadi, namun agaknya ia masih membutuhkan dekapanku untuk menyembunyikan raut mukanya. Di mana ia akan turun? Tiba-tiba begitu mengusikku. Sedangkan ia sendiri, kulihat belum dapat menenangkan sendiri hatinya yang risau.
Ia masih terus menangis. Dalam diamnya. Tidak, ia bersuara.
“Aku pergi, meninggalkan badan diri! Biarlah binasa badan ini!”
Pelan sekali, berulang-ulang, seperti mengigau. Dan aku mulai berkeringat padahal malam begitu dingin.
***
Aku tak tahu ia turun di mana. Sedangkan aku waktu itu turun di tengah jalan, di separuh perjalanan tujuan penghabisan bis yang kutumpangi. Tujuanku ke rumah calon mertua. Saat aku turun, saat aku beranjak dari bangku bis itu, ia menatapku—masih dengan tatapan yang sama—pandangannya mengikuti arah gerakku. Dan sudut mataku, seolah tak rela meninggalkannya sendirian.

Kandangpadati, 07 – 0805 – 07

1 Komentar »

  1. membaca tulisan sendiri begitu lucu!

    salam

    Pinto Anugrah

    Komentar oleh Pinto Anugrah — Desember 4, 2008 @ 4:46 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: