Cerpen Padang Ekspres

Agustus 31, 2008

Bulan Perahu

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:22 am
Tags:

Cerpen Rio SY

Ia menengadah. Lagi. Ditatapnya lengkung bulan yang tampak seperti perahu putih yang tengah berlayar di langit. Telah berkali-kali bulan perahu terpajang di malamnya langit dan berkali-kali itu pula ia menatapnya. Bulan inilah yang dulu menyambut kedatangannya untuk pertama kali di Muarosakai ini. Dulu, seperti ini pula ia menengadah ketika baru saja menginjakkan kaki di sini. Dan bulan perahu ini juga yang sedang menyambutnya kembali.
Sepelemparan batu dari tempat ia berdiri ada sebuah pondok di tepi jalan, bentuknya panggung tanpa pintu dan jendela pada keempat sisinya. Pondok itu sebenarnya berada di antara pinggir sawah dan pinggir jalan. Ia mendekat ke sana. Sebentar ia tertegun, sebab di pondok itulah ia singgah waktu pertama kali datang dulu.
Dulu.
IA mengipas-ngipas mukanya yang kepanasan oleh terik siang dengan topi. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Sempat juga melirik pada sekerat kertas yang bertulis nama dan alamat yang hendak ditujunya. Ketika itu, dari arah pasar Pekan Ahad, seorang gadis melintas di depannya. Gadis itu menjunjung bakul berisi sisa-sisa kerupuk ubi di kepalanya yang tak habis dijual di pasar. Kipas yang tadi digerakkan kencang-kencang tiba-tiba menjadi pelan dan akhirnya berhenti. Lelaki itu tak mengerdip, ia tak sadar topi yang tadi di tangannya terlepas dan jatuh. Ryati melihat itu, menatap lelaki itu.
“Apa yang kau lihat?” Semprot sang gadis.
Lelaki itu cepat-cepat memalingkan wajahnya memandang entah.
Gadis itu terus menatap tajam lelaki itu sehingga tak sadar menginjak sebuah batu yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Bakul yang dijunjungnya pun oleng, ia tak dapat menahannya ketika bakul itu bergeser dari kepalanya dan jatuh menumpahkan kerupuk ubi.
Lelaki itu bangkit hendak membantu, tapi muka gadis itu memerah, lalu begitu saja tergesa-gesa mengemas kembali bakulnya dengan tak karuan dan berlalu dengan langkah yang dipercepat.
“Dik! Sebentar. Kau kenal dengan Pak Hasan?!”
Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang dan mengernyitkan dahi.
“Ada perlu apa dengan Ayahku?”
“Wah, kebetulan sekali. Aku ingin mengadakan penelitian untuk skripsiku di kampung ini. Ibuku kenal dengan Pak Hasan, jadi ibuku menyarankanku untuk menemui beliau dan…” ia tak melanjutkan kalimatnya. Termenung. Ingat kala ibunya menyebut nama Hasan dengan mata yang lusu. Tapi sama sekali ia tak paham kenapa.
Kemudian lelaki itu mengikuti si gadis menuju rumahnya. Setelah ia menceritakan perihal tujuan dan alamat yang diberikan ibunya, pak Hasan terkejut saat ia menyebut nama ibunya.
“Rosma!?”
“Iya pak.”
Tiba-tiba Pak Hasan memeluknya, erat, seperti memeluk anak hilang yang pulang. Pak Hasan baru melepaskan pelukannya setelah menyeka airmata.
“Bagaimana kabar ibumu?”
“Sehat Pak.”
Mata pak Hasan terlihat lusuh seperti mata ibunya waktu itu. Keningnya mengernyit.
***
MALAM larut, udaranya pun kian dingin. Ia kembali menengadah. Bulan sebentar ditutup awan lalu tampak lagi. Ia merebahkan tubuhnya di lantai papan pondok. Telah lama sekali ia tak menatap bulan bersama Ryati semenjak ia harus kembali ke kota. Kini ia kembali ke kampung ini.
Malam.
“Ryati, bulan itu seperti perahu, ya!”
“Iya, ya. Seperti perahu.”
“Kamu jualan kerupuk, ya?”
“Ya, sekali seminggu. Bantu-bantu buat menambah penghasilan ayah. Eh, kapan mulai penelitiannya.”
“Besok.”
“Kamu di kota tinggal dengan siapa?”
“Berdua saja dengan ibu.”
“Bapak?”
“Kata ibu meninggal sewaktu berlayar dari Malaka ke Makasar. Saat itu aku baru berumur dua tahun. Ibu bilang, untuk menidurkanku ayah suka bercerita tentang kaba ‘Anggun Nan Tongga’ padaku. Dan ibu yang melanjutkan ayah bercerita padaku, sampai sekarang aku masih ingat.”
“Benarkah! Oleh ibunya ditorehlah karung itu….”
“Keluarlah seorang anak laki-laki.”
“Lulah Nan Tongga Magek Jabang,*” ujar mereka serentak.
“Ayahku juga sering cerita tentang kaba itu waktu aku kecil. Tapi sekarang aku tak ingat lagi bagaimana ceritanya sampai habis. Ibuku, dia pergi meninggalkan kami saat umurku baru tiga setengah bulan. Ia pergi ke pulau jawa dan tak pernah lagi kembali.”
“Foto ibumu?”
“Tak ada.”
“Sama. Foto ayahku juga tak ada.”
Kemudian hening. Sesekali mereka menengadah dan bulan perahu masih di atas kepala.
Lelaki itu tak ingin cepat-cepat pulang ke kota meskipun jadwal penelitiannya telah selesai. Ia ingin terus di kampung ini bersama Ryati hingga muncul bulan perahu berikutnya. Dan Pak Hasan juga tidak keberatan bila ia ingin tinggal lebih lama karena ia telah seperti keluarga sendiri.
Mereka—ia dan Ryati tampak semakin akrab. Mereka mengaku bulan yang mereka tatap itu sangat indah. Maka, hampir setiap malam mereka berbincang-bincang tentang segala hal. Berdua. Sesekali tertawa. Bergurau.
Pada suatu malam pak Hasan harus menghadiri suatu rapat adat hingga dini hari. Seperti biasa mereka berdua berbincang-bincang sampai penat. Lalu lelaki itu mengantarkan Ryati hingga ke pintu kamar. Ryati tidak langsung menutup pintu kamarnya. Mereka saling bertatapan di depan pintu. Ia memberanikan diri mencium kening gadis itu. Ryati pun membalasnya dengan mencium pipinya. Ia mencium pipi Ryati. Bibir. Leher. Mereka masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu perlahan. Tanpa sadar bulan perahu mengintip dari di celah-celah kusen jendela.
***
Bulan telah pudar. Kelam langit pun telah mulai memucat menjadi abu-abu muda. Cicit burung yang mulai mencari makan terbang kian kemari dari satu dahan ke dahan lain. Ia tersintak. Ia tak sadar telah tertidur begitu saja di pondok. Kayu-kayu pondok berderak karena digoyang tubuhnya yang berusaha bangun untuk duduk. Disandang kembali ranselnya lalu berjalan ke arah utara. Menuruni tebing yang tidak terlalu tinggi. Di bawah sana sebuah sungai mengalir. Ia membasuh muka dan sekedar membasahi rambut.
Sepotong kain hanyut tepat di depannya. Ia meraih kain itu, sepotong kain jawa dengan ukiran batiknya. Jantungnya berdegup kencang tanpa bisa ditahan. Ia berlari menyusuri sungai ke arah hulu. Sungai itu berliku-liku. Sampai di belokan sungai, di balik tebing itu ia berhenti. Matanya seperti berkata tidak percaya. Ia melihat Ryati di tepi sungai. Ryati baru saja menyelesaikan kain-kain cuciannya. Sedangkan di pangkuannya, dengan kain yang diikatkan ke tubuh, adalah seorang bayi.
Lelaki itu berlari hendak menyusul. Sampai di hadapan Ryati sisa nafasnya yang dipacu masih mengembangkempiskan dadanya. Kain yang tadi diselamatkannya mencucurkan air membasahi kaki celananya.
“Ryati.”
Perempuan itu segera bergegas, mukanya memerah tapi tidak dengan warna seperti pertemuan pertama mereka dulu. Ia memperbaiki gendongannya, lalu mengangkat sebaskom kecil kain cucian.
“Ryati. Kenapa ?”
“Sebaiknya kau pergi, jangan temui aku. Kenapa kau kembali lagi? Tak seharusnya kita bertemu lagi. Pergilah! Jangan temui aku.”
“Tidak. Bagaimana bisa aku pergi begitu saja. Aku kembali untukmu, Ryati.”
“Orang-orang bisa melihat kita.” Ia terus berjalan menaiki tebing.
“Aku tak peduli. Aku punya tanggung jawab atasmu, Ryati.”
“Jangan kau ganggu kebahagiaan kami.”
“Maksudmu?”
Langkahnya terhenti.
“Aku, suamiku dan anak ini.”
Lelaki itu terpaku. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Segalanya berkelebat dalam pikirannya dan degup jantungnya kian kencang. Tapi perempuan itu memilih untuk tak tinggal. Ia melanjutkan langkahnya menaiki tebing yang tak terlalu curam itu.
***
Sejak habis magrib tadi ia berdiri di sana. Di seberang jalan. Ia melihat banyak yang berubah di halaman rumah itu, lebih banyak tanaman bunga ketimbang dulu. pintu rumah perlahan terkuak, dengan bayi di pangkuan Ryati muncul dari sebaliknya. Lelaki itu mendekat.
“Siapa namanya?”
Ryati tersentak. “Mau apa kau ke sini? Kalau suamiku pulang….”
“Aku tak berniat mengganggumu,” ujarnya memotong. “Siapa namanya?”
“Anggun.” Jawabnya pelan.
Lelaki itu mengelus kepala anak itu. Lalu ia mulai menceritakan kaba Anggun Nan Tongga yang diingatnya. “ Oleh ibunya ditorehlah karung itu, keluarlah seorang anak laki-laki, itulah Nan Tongga Magek Jabang. Anak keramat hidup-hidup, dan semua orang merasa senang hatinya, sebab Nan Tongga sudah lahir, akan pembangkit batang terendam, akan menghapus malu di muka, untuk menjemput dagang yang hilang…”
Tak bisa ia menahan bulir air matanya yang menderas. Dengan telapak tangan, Ryati menutup mulutnya sendiri mencoba menahan isak.
“Aku bersyukur masih ada orang yang mau menikahiku dalam keadaan hamil. Kalau tidak tentu anak ini akan lahir tanpa bapak.”
“Maafkan aku. Aku tak tak bermaksud ingkar janji.”
“Bukan itu.”
“Lalu kenapa kau tak bisa menungguku, Ryati?”
“Untuk apa? Untuk anak ini? Untuk Cinta? Tidak! Kita tak mungkin bisa menikah.”
“Maksudmu? Aku tak mengerti.”
Ryati, airmatanya terus mengalir deras. Ia berusaha menahannya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “ Ayah meninggal tiga hari setelah kau kembali ke kota. Beliau meninggalkan sepucuk surat di lemarinya. Ia bercerita tentang istrinya yang kemudian hari diketahui adalah saudaranya satu bapak. Pernikahan mereka haram karena mereka sedarah. Lalu mereka mempunyai sepasang anak kembar. Kemudian karena malu mereka memutuskan untuk berpisah dengan membawa masing-masing satu anak. Yang perempuan tinggal bersama bapak, dan yang laki-laki pergi bersama ibu ke kota. Nama istrinya itu adalah Rosna. Ibumu. Ibuku juga. Kitalah anak kembar itu. Cinta kita adalah haram.”
Malam bagai kaca pecah dan mengeluarkan bunyi yang menyentak dada. Tulangnya terasa sangat ngilu.
“Apa kau juga tak mengerti kenapa aku tak menunggumu seperti janji kita.”
Halaman itu menjadi kaku. Bulan perahu muncul dari balik awan yang sedari tadi menutupnya. Lelaki itu mengelus kepala anaknya dengan penuh rasa kasih, lalu mengecupnya sambil terus menahan tangis.
Semua berkelebat di kepalanya. Ada Ryati, ibu, pak Hasan, Rosna, Ayah, Anggun, Anak, Bulan. Sedang tangannya menggenggam sepotong kain yang tadi didapatnya di sungai. Diremasnya kain itu dengan isak yang ditahan. ***
RuangSempit| Padang, 2008

Catatan
Anggun Nan Tongga Adalah salah satu judul cerita kaba di Minangkabau
*Penggalan cerita kaba Anggun Nan Tongga

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: