Cerpen Padang Ekspres

Agustus 24, 2008

Sebelum Berangkat

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:04 am
Tags:

Cerpen M. Adisoka

Di utara, dik, banyak belantara. Tempat yang tepat untuk tinggal sementara. Atau, sekedar menyurukkan nafas sisa yang masih terikat di raga. Tak usah kau tahu seluk beluknya, toh, kalaupun engkau punya sedikit pengetahuan tentang belantara itu, kau pasti tak ingin berlama di sana. Jangankan untuk berlama, untuk berkunjungpun kau mungkin tak punya niat.
Tapi, hei, bukankah kita sudah pernah ke sana? Yah, aku ingat, saat itu kita masih sangat berbau kencur. Para orang tua, waktu itu, membawa kita ke sana dengan cara hampir menyeret. Padahal, tahukah kau, saat itu aku masih sangat ngantuk, ditambah lagi gerimis yang belum juga usai sedari senja. Sementara tubuhku, tubuh kita, dan tubuh anak-anak lainnya hanya kulit pembalut tulang. Saat itu, dingin hingga ke tulang tak hanya sebatas sebutan, tapi aku benar-benar merasakannya. Kulihat, mukamu pucat kala itu.
Ah, aku yakin kau pasti ingat. Apalagi ketika siangnya, di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan semak-semak yang masih perawan, kita masih sempat berbagi cerita. Kau polos, aku lugu.
Dalam perkiraanku, di belantara waktu itu kita pernah hidup selama seratus hari atau lebih.
“Kampung kita sudah aman”
“Berarti kita sudah bisa pulang”
“Jangan dulu, pastikan dahulu mereka benar-benar telah pergi”
“Ya, benar. Jangan-jangan itu hanya perangkap agar kita keluar”
“Tapi, mereka tidak merampas rumah kita, bukan?”
“Apa yang akan mereka rampas?”
Percakapan itu kudengar malam-malam sekali. Kukira hampir tengah malam. Aku terjaga, tapi tak berani membuka mata. Mereka ramai sekali berkumpul. Eh, aku ingat, dari suaranya aku tahu di sana juga ada bapakmu dan bapakku.
Dan, benar kiranya, tujuh hari setelah percakapan itu, kita bergerak meninggalkan belantara. Kulihat kau diapit orangtuamu.
Tahukah kau, saat itu aku merasa antara senang dan tidak. Senang karena kita kembali pulang. Namun, bukankah itu berarti kita tak akan sebebas di belantara? Aku yakin, pasti di kampung nanti, anak-anak pasti akan sangat diawasi, kalau perlu disembunyikan agar tidak menjadi sasaran tembak para belando*. Ah, itu juga berarti aku tak lagi bisa membuatkanmu mahkota dari daun pakis seperti yang sering aku lakukan di belantara waktu itu.
***
Di arah selatan, pada tempat yang sangat jauh, aku mendengar dari orang-orang bahwa di sana telah berdiri kota-kota. Ramai pastinya. Tapi kata mereka pula, kota-kota itu tidak aman. Orang-orang yang berperawakan berbeda dengan kita, mendaratkan kapal-kapalnya. Mereka, menurut cerita, datang dengan maksud berdagang tetapi bedil selalu terkekang.
Ingin rasanya aku kesana, sekadar melihat keramaian, atau mengecap aroma kota. Tentang mereka yang berbeda perawakan dengan kita, pasti akan kulawan. Bukankah kota-kota itu awal dari segalanya? Dalam hitungan minggu, bahkan hari, mereka pasti akan tiba di sini, di kampung kita, dik.
Ah, andainya semua negeri aman, pasti telah kubawa kau berkeliling. Aku sempat membayangkan kita berkunjung ke kota. Pada hari pekan pasti sangat ramai. Aku akan membelikan apa pun yang kau pinta. Bukankah kau sangat ingin mendapatkan selendang baru? Katamu, selendang yang kau pakai sudah sangat usang.
Tapi, tak usahlah terlalu mendamba. Kata orang pula, jarak ke kota sangat jauh. Tujuh hari tujuh malam berjalan kaki belum tentu akan sampai. Aku tak yakin kau akan sanggup melakukan perjalanan itu. Namun, bagiku, ke kota sudah menjelma tekad. Bagaimanapun, suatu saat aku pasti akan sampai kesana. Kau tidak marah kan jika aku tinggalkan?
***
“Tak usah ke barat”
“Kenapa?”
“Terlalu berbahaya”
“Ah, itu tak seberapa”
“Tapi buktinya banyak orang yang berpulang nama”
“Bagiku, itu yang baru namanya perjuangan”
“Kau keras kepala”
“Bukan keras kepala, hanya tekad”
“Terserahlah”
“Kau tidak melepasku?”
“Aku hanya takut kehilangan untuk sekian kali”
Senja. Saat itu matamu menerawang pada awan tipis yang berarak sendu. Aku tidak bermaksud membuatmu gundah, tapi begitulah. Aku dan seluruh pemuda dikampung kita berniat untuk mengusir mereka yang menyusup dari arah barat.
Ah, tentang arah itu, kau sering menceritakannya. Katamu, barat adalah arah kehilangan. Kau ibaratkan pada matahari
“Bukankah matahari tenggelam di barat?”
Tapi jauh di balik pertanyaan retorismu, aku sudah tahu alasannya. Kau benci barat, karena pada arah itu bapakmu hilang. Katamu, terakhir kali bapak pamit adalah untuk berangkat ke arah sana. Beberapa hari kemudian, seperti kepergian bapakmu sebelumnya, kau pasti tak mendengar berita perjuangannya. Hanya saja, pada setiap kepulangan sekumpulan orang, bapakmu pasti selalu ada disana.
Tapi tidak kiranya untuk kali itu, saat bapakmu menuju barat, ia hanya berpulang nama.
Barangkali itulah sebabnya kau tak mengizinkanku berangkat ke barat. Ah, apakah aku memang berarti untukmu? Tapi, tak usahlah kau terlalu cemas. Aku dan rombongan sudah merencanakan sebuah perjalanan yang menurut kami paling aman. Kami bergerak pada malam hari, menyusuri Sinamar hingga ke hulu.
Kejadian di barat sana tak usahlah kau tahu rinciannya. Yang pasti, aku takkan heran jika bapakmu memang hanya berpulang nama. Bukankah yang penting bagimu, aku kembali? Dan, aku membuktikannya.
***
Dik, aku harus pergi lagi. Katanya, orang-orang yang perawakannya berbeda dengan kita tersebut, bergerak semakin dekat. Kali ini mereka mencoba masuk dari arah timur. Kami akan mencoba menghadangnya. Bagaimanapun itu.
Dik, ku harap kau tak berat melepasku. Ini bukanlah apa-apa. Perjalanan yang akan aku tempuh hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang mereka namakan perjuangan. Tak ada yang akan kupinta padamu. Hanya sebentuk ikhlas yang aku harap. Do’a pastinya ku inginkan.
Dik, ingin rasanya aku berlama-lama bercerita denganmu. Mendengar kisahmu adalah hal yang menyenangkan. Terkadang, aku pun mengurai cerita tentang setiap perjalananku. Rasa cemas yang terlukis dimatamu membuatku merasa menjadi orang yang paling berharga.
Dik, besok pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, kami telah harus bergerak. Sedapat mungkin, kami harus menghadang para belando itu dijarak yang cukup jauh dari kampung kita.
***
Barangkali sudah saatnya kuceritakan tentang keinginanku untuk ke kota, jauh diselatan sana. Seperti yang pernah kukisahkan padamu. Benar, aku selalu mengkhayalkan tempat yang katanya serba ada itu. Aku sempat berpikir menggandeng tanganmu di hari pekan. Kita memilih barang. Kita bertemu banyak orang. Tidak seperti yang sudah-sudah, bersembunyi di belantara nan sunyi. Atau, jika tidak terlalu berbahaya, kita menyuruk di bawah lubang-lubang di bawah kandang.
Tapi itu dulu, saat kita masih teramat kencur. Kini aku tak lagi seorang bocah yang selalu tidur di bawah ketiak amak. Aku punya tanggung jawab, kalau tidak kepada negeri, paling kurang untuk diri sendiri.
Untuk ini negeri, aku tak berani bermimpi tinggi. Aku hanya ingin aman, agar keinginanku menggandengmu dihari pekan, dikota yang teramat jauh, tidak hanya sebatas khayal. Ah, jika itu menjelma nyata, kukira surga adalah satu-satunya tandingan.
Untuk diri ini, seperti kepergianku sebelumnya, keberangkatanku adalah sebuah lampiasan dendam kehilangan. Mungkin kau masih ingat, ketika beberapa waktu yang lalu aku bercerita tentang bapakku yang juga berpulang nama. Kita sama. Bedanya, bapakmu tak kembali dari barat, sementara bapakku hilang di selatan.
Barangkali kehilangan bagimu adalah sebuah lara, terutama karena itu adalah bapakmu. Tapi bagiku, ketak-berpulangan bapak adalah dendam. Dendam, karena aku yakin bapak mati bukan dengan damai, tapi bermandi darah. Bisa jadi jasadnya tak dikubur. Makanya, dalam hati aku berjanji menemukan mereka yang telah memulangkan bapak hanya sebatas nama.
Dik, besok kami menuju timur. Sebuah arah pengharapan katamu. Lagi-lagi, kau ibaratkan dengan matahari.
“Timur, di mataku, adalah awal” katamu.
“Benar, tapi tak selamanya menjadi permulaan yang baik”
“Maksudmu?”
“Siapa yang bisa menjanjikan kalau matahari yang terbit membawa kebahagiaan?”
“Tapi, paling tidak, ada harapan baru”
“Harapan untuk hidup atau mati, benar”
“Jangan terlalu sinis”
Aku diam. Aku tak menyalahkan pendapatmu. Aku hanya bercermin pada keseharian bahwa memang fajar tak selamanya menjanjikan terpenuhinya harapan. Bukankah selama ini kita sudah sama-sama berharap fajar esok akan memberikan kebebasan? Bebas negeri ini dari kaum mondua**. Tapi nyatanya, semakin bertambah hari, semakin banyak darah yang terserak. Kukira memang seperti itulah perjuangan.
Dik, setelah ke timur, kami rencananya akan langsung bergerak ke selatan, menyusuri pangkal jejak para pendatang itu. Jika mungkin, kami akan menyerang mereka langsung dikota. Maaf, kal ini aku pasti tak sempat membelikanmu selendang.
Tak perlulah kau cemas kiranya. Aku berjanji akan pulang untuk menemuimu atau untuk menepati hati yang aku titipkan padamu dan hanya memang padamu. Andainya aku terlalu lama pergi, atau tak pernah lagi kembali, jangan kau buang air matamu karena aku tak ingin melihatmu menangis.
Dik, aku tak pernah berniat meninggalkanmu, tentunya kau tahu itu. Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku terlalu lebih padamu? Yang jelas, suka atau tidak, kau terpaksa melepasku karena aku yakin kau sangat mengerti bahwa kita sedang perang.
Merdeka!.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: