Cerpen Padang Ekspres

Agustus 3, 2008

Burung Pipit dan Bunga-bunga

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 6:04 am
Tags:

Cerpen Faisal Syahreza

Anak lainnya, boleh menganggap lebih segalanya dari Jesya. Lebih baik nasibnya. Lebih baik etikanya. Budinya. Kehidupannya. Semuanyalah! Tapi harus diketahui semua semata. Ada alasannya. Mengapa Anjing tak lahir di rahim ibu? Tapi lahir dari rahim seekor Anjing lagi. Begitu pun dengan Jesya. Dia lahir bukan dari rahim seekor binatang. Bukan ular. Bukan kerbau. Juga bukan dari tikus. Dia lahir dari rahim manusia. Mahluk yang senantiasa mulia dan berkembang sesuai masa.
Jesya duduk. Diam. Terkurung. Dalam kamar. Udara sumpek. Angin diam. Masih yang kemarin. Puntung rokok. Di mana-mana. Kopi. Basi. Seprei tak dicuci, berminggu-minggu. Botol-botol minuman. Jendela tak pernah dibuka. Pakaian acak-acakan. Laparnya berahi. Matanya merah. Menyala. Otaknya terbakar. Sudah tiga hari ini Jesya tak keluar. Panas sudah tubuhnya memancar.
“Pulanglah!” Terdengar dari luar.
“Sudah lama kamu tak jenguk rumah.”
“Banyak bacot. Yang penting aku bayar kosan ini.” Dengusnya.
Dia segera beranjak. Mengambil jaket kulitnya. Tak sempat untuk mandi. Dia cuci muka. Bercermin. Dia lihat wajahnya. Separuh muka berlukis luka. Muka bagian kiri sudah beberapa bulan ini, begitu ia kagumi. Bertato. Bergambar bunga-bunga. Mengitari burung Pipit sebagai pusatnya. Jesya tersenyum. Setiap melihat wajahnya itu. Ada yang masih dia cintai rupanya. Di antara sekian bagian tubuhnya. Jesya sangat mencintai bagian wajah. Karena dengan wajahnya yang bertato itu. Dia lebih kenal dan memahami arti dirinya hidup. Menjalani hidup. Dan untuk apa hidup.
***
Bertahun-tahun yang lalu. Ketika Jesya masih duduk asyik memandang guru. Membuka buku. Membaca ilmu. Mencatat pelajaran. Bertanya. Berteman. Bahkan mengenal pacaran. Dia dikenal sebagai anak yang luar biasa. Sederhana. Pintar. Cakap. Riang. Bergaul. Sebenarnya dia salah satu anak keluarga yang kaya. Hidupnya serba segalanya ada.
Namun bapak. Ibu. Tempat seorang anak menggantungkan mimpinya itu. Tak bisa memahaminya. Memahami Jesya layaknya kebanyakkan anak lainnya. Ibu yang seharusnya. Memasakkan makanan. Membuat kue di dapur. Menanyakan kembalian uang jajan. Tempat mengeluh ketika di tolak pacaran. Melarang kebut-kebutan di jalan. Melarang pulang malam. Lalu. Bapak yang seharusnya. Mengajarkan sisa pelajaran. Menegur bila berbuat senonoh. Membentak kalau perlu. Mengajarkan merayu perempuan. Mengajak memancing. Lari pagi. Dan banyak lagi. Seperti pada umumnya para orang tua , seharusnya. Jesya tak menemukannya. Dari kedua orang tuanya itu.
Sehingga. Begitu Jesya mengenal malam yang sebenarnya. Mengenal minuman. Mengenal obat-obatan. Mengenal jalanan. Dan mengenal dalaman tubuh perempuan. Dia tak segan. Dia tak ragu. Dia hirup udara bebas malam. Dia reguk minuman yang membuatnya terbang. Dia pakai obat-obatan yang menenangkan dirinya. Dan. Dia robek pakaian perempuan. Guna melihat dan mencoba merasakan nikmatnya tubuh aduhai.
Tak ada yang melarang. Dia punya segalanya. Uang. Kendaraan. Nama. Tinggal minta. Tinggal beli. Tinggal memimpikan. Dunia kini sudah menyediakan segalanya. Supermarket di mana-mana. Toko-toko. Warung remang. Club. Mau disco. Mau joget. Mau apalagi. Ibu. Bapak. Jauh. Tak punya waktu. Sibuk. Mikirin anak si mata wayangnya – perusahaan – yang melahirkannya penuh kekayaan.
“Kalau ada apa-apa, minta transfer sama mama!” Suara bapaknya di telephone genggam Jesya. Keluaran baru. Merk terkenal lagi. Padahal Jesya tak mau dengar itu lagi. Dia mau dengar, ‘bagaimana dengan sekolahmu?’, ‘Bagaimana dengan shalatmu, masih puasakan? Ini baru seminggu Ramadhan’. Atau bagaimana kamu sudah punya pacar yang solehah belum?’. Tidak. Tidak pernah semua itu.
Sama dengan ibu.
“Ada apa menelpon mami? Uangnya kurang ya? Nanti mami tambahin. Mami lagi sibuk kerja sama orang asing. Ya sudah. Tunggu saja di rekening kamu! Dah anak manis.” Jesya tak ingin bersuara. Kecewa. Teriris. Nangis.
‘Anjing, aku bukan kucing yang senang dielus-elus dengan nama manis.’ Lirih hati Jesya.
***
Awalnya. Jesya masih bersabar dengan keadaan kedua orang tuanya. Jesya masih memaklumi.
“Semua yang mereka lakukan itu, juga buat kebahagian aku.” Bisik hatinya. Menenangkan jiwanya. Sewaktu merasa bosan. Ketika pulang dari sekolahan. Dia disambut banyak pelayan. Halaman luas. Kamar nyaman. Rumah yang mewah. Megah.
Namun rasanya. Kebahagian telah lama jauh-jauh mereka lupakan. Kebahagian sudah lama sekali mereka tinggalkan. Bahkan kebahagian seperti sudah mereka campakan begitu saja. Entah di mana.
Dari sana. Jesya jarang sekolah. Jarang pulang ke rumah. Walau pulang paling beberapa hari dalam seminggu. Itu pun larut malam. Banyak di jalan. Kebut-kebutan. Bermain perempuan. Minum minuman. Obat-obatan. Berteman dengan preman. Main perempuan. Jajan. Membebaskan diri dari semua hal. Yang memejarakan. Nafsu. Berahi. Benci. Dendam. Kesumat. Semua norma adalah sampah baginya. Semua hukum telah jadi mainannya saja. Dan ketika sampai pada puncaknya. Dirinya menganggap hidup tak lagi ada artinya.
Tak lain dengan bertato. Jesya sedikit merasa ada yang masih peduli padanya. Jesya memelihara lukisan pada wajahnya. Lukisan yang permanen menemaninya. Bergambar bunga-bunga mengitari. Dengan burung Pipit sebagai pusatnya. Menjadi raja pada separuh wajahnya. Ada sesuatu yang membuat jiwanya terbang ke dunia, di mana dia berlupa sejenak. Lupa pada kepenatan. Kesia-siaan. Ketakpedulian.
Tato itu kini setahun genap bersarang di separuh wajahnya. Jesya itu anak muda yang tampan. Wajahnya putih. Hidungnya mancung. Senyumnya manis. Alisnya tebal. Bibirnya merah. Dan maskulin. Ada dua kemungkinan setelah wajahnya bertato. Dia menjadi pemuda yang tak lagi enak dipandang. Separuh wajahnya. Tak sedap. Untuk ditatap. Garang. Sangar. Menyembunyikan banyak rahasia. Luka. Atau. Sebaliknya. Wajahnya berubah drastis. Menjadi indah. Menyembunyikan separuh wajahnya dengan lukisan. Maha karya. Seni. Menutupi wajahnya yang penuh dengan kesedihan. Menutupi jalan hidupnya yang benar-benar suram. Hitam. Legam.
***
“Lukis wajahku dengan bunga-bunga!” Jesya di suatu malam. Di tempat para preman, anak band, anak jalanan dan lainnya melukis bagian tubuhnya dengan tato. Tangannya masih menggenggam erat botol anggur. Dari mulutnya bau alkohol meruap.
“Ingat! Mesti ada burung Pipit di tengah lukisannya. Biarkan bunga-bunga yang mengitarinya.” Tambahnya lagi. Sambil duduk bersandar. Pada kursi. Lampu di empat sudut. Dan satunya lagi tepat dia atasnya. Lampu itu paling terang. Di ruangan itu. Poster-poster menjelma menjadi Ibu. Bapak. Gambar-gambar. Lambang. Semuanya bersuara. Bernyanyi sendu. Pilu.
“Mau tato yang permanen mas, sebelah mana?”
“Ya. Tepat di wajahku, sebelah kiri.” Jawab Jesya mantap sekali. Tak ada keraguan. Tak ada yang membikin dia gagap malam itu. Begitu pasti.
Pembikin tato itu membersihkan wajahnya. Kemudian menyiapkan alat-alatnya. Desing suara jarum-jarum menghujam kulit. Tinta mewarnai. Motif menjalar di pipi kiri. Dahi kiri. Dagu kiri. Perih. Begitu perlahan mengiris. Namun Jesya tahu. Jarum-jarum itu menancapkan sesuatu dengan cepat. Menanamkan candu.
“Mudah-mudahan kau menancapkan kenangan yang paling indah dan manis padaku.” Lirih jiwanya. Harapan Jesya dalam hatinya.
Malam itu. Di luar bintang tak ada. Angin mengabarkan musim pancaroba. Terdengar suara sayup-sayup kendaraan. Orang-orang bernyanyi. Pelacur beroperasi. Pemabuk lainnya. Ngelantur. Sesekali suara kupu malam digoda. Bersahut-sahutan.
***
Jesya keluar juga dari kamarnya. Dia kos sekarang. Cukup lama dia sudah tinggal di sana. Sendiri. Dia ingin mencari suasana baru. Yang menjauhkan dirinya dari keterasingan.
Paling dia pulang, kalau uang di dompetnya sudah tipis. Biasanya dia meminta pembantunya untuk mengambilkan uangnya di bank. Dan sisanya di kasihkan ke orang-orang yang dia kenal. Dia hanya mengambil sedikit bagiannya. Cukup membeli rokok, minuman dan makanan. Segitu saja.
Dia tak lagi main perempuan. Lumayan lama. Meski darahnya sebagai lelaki. Menarik-narik berahi. Sampai menjulurkan lidahnnya. Sampai ingin sekali memperkosa apa saja. Sampai ingin sekali melihat orang paling terkasih telanjang bulat di depannya. Khayalannya. Biasanya mencoba meraihnya. Tapi. Jesya dengan sekuat mungkin membunuhnya.
Di tengah jalan. Menuju warung. Untuk membeli rokok dan minuman. Jesya tersentak begitu saja. Tulang kakinya menjadi lemas. Tak bisa melangkah. Bukan karena orang-orang yang aneh melihat tampilan dirinya. Orang-orang memang menatap aneh wajahnya. Tatonya. Tapi itu sudah biasa baginya. Jesya berhenti. Karena melihat orang-orang baru pulang mengaji. Dari mesjid. Perempuan-perempuan yang tiap sore membaca kitab. Berkerudung. Memeluk Qur’an. Tersenyum-senyum. Bahagia. Memancarkan cahaya. Semuanya memukul keras di fikiran Jesya. Jesya ingin sekali menjatuhkan badannya ke tanah. Tak kuat menahannya.
Jantung berdetak cepat. Jesya lari sekencang-kencangnya. Dia jadi teringat sesuatu. Teringat masa. Teringat seseorang. Jesya lari sekencang-kencangnya. Arah kos begitu nalar di tujuannya.
***
“Aku memang berbeda jauh denganmu Jesya. Aku perempuan yang lahir dari rahim seorang ibu biasa. Bapak biasa. Yang banyak hidupnya dihabiskan untuk diam dan tinggal di rumah dekat pesantren bapakku. Jauh denganmu, Jesya. Kau tinggal di mana segalanya sudah ada tersedia.” Suatu senja. Siti – kekasihnya Jesya yang pertama sekaligus yang terakhir – berbicara padanya. Jesya senyum sumringah. Wajahnya cerah.
“Akan aku kenalkan kau pada ibuku. ‘Ini Siti pacarku, mami. Kalau nanti usiaku sudah dewasa aku akan menikahinya’ Ibuku pasti senang. Dan menerimamu Siti.” Goda Jesya di taman sewaktu itu. Siti ikut tersenyum manis.
“Kau bercanda terus.”
“Aku tak pernah bercanda, apalagi urusan cinta.”
Di taman semuanya hanya milik mereka. Milik Siti dan Jesya. Masa yang paling indah. Masa yang sungguh dalam untuk dikenang.
Tiba-tiba mimpi itu. Dirobek dengan paksa. Dan berubah Pahit. Ketika Jesya mengenalkan Siti pada maminya. Ibunya menyempatkan sekali untuk menuruti keinginan anaknya. Untuk menyambut orang yang sering Jesya ceritakan padanya.
Siti yang pada saat itu. Baju apa adanya dan lusuh. Kerudung yang membungkus kepalanya. Serta keluguannya. Bercerita tentang keluarganya. Bapak mengaji. Atau jadi imam di masjid. Mengajarkan kitab dan tafsirannya. Merayakan hari raya besar Islam. Ibu memasak. Kadang ikut pengajian rutin ibu-ibu. Menjahit pakaian. Dan seperti kebanyakan ibu-ibu yang sebagian waktunya habis di madrasah.
Tercium bau kampungan. Ibu Jesya mengganggap anaknya ngelindur. Dengan berkata akan menjadikannya sebagai istri. Sekaligus menantu dirinya di masa akan datang.
“Siang panas begini, jangan bermimpi mau menikahi anakku!”
“Sudah pernah bercermin belum, atau di rumah tak ada cermin?” Tambahnya lagi.
Sambil melangitkan angkuh. Ibu Jesya marah besar. Matanya merah. Darahnya mendidih. Menyindir gadis malang itu. Tingkah anaknya sudah kelewat batas, pikir seorang ibu yang mencintai anaknya. Di luar harapan. Jesya tak ambil diam saat itu. Dia juga marah. Kecewa dengan sikap ibunya.
Pada sisi hati Siti. Ada sesuatu yang mengiris. Hatinya menangis. Dihina seperti itu.
Mulai saat itu. Siti hanya menjadi mimpi. Dia jauh sudah tak menampakkan diri. Apalagi di hadapan Jesya. Dia pergi. Mungkin terlanjur sakit benar hatinya.
***
Begitu sampai di depan kamar kos. Jesya masuk. Membuka pintu. Nafas yang berhembus tak beraturan. Kecapean. Kemudian ambruk. Terkapar di lantai. Seperti seonggok bangkai. Ia terkenang kekasihnya. Siti. Yang entah ada di mana. Dia ingat betul wajahnya. Sepasang mata maha indahnya. Alisnya. Hidungnya. Bibirnya. Senyumnya. Dia merasa sebenarnya dia hidup untuk di dekat Siti. Perempuan terkasihnya. Dia hidup untuk memeluk Siti. Untuk mencintainya saja. Apa artinya dia tanpa Siti?
Lalu begitu Jesya merasa punya kekuatan dan tenaga. Dia bangun. Dan kembali meraih cermin di sudut kamar. Kemudian berkaca. Ia pandang sepuas-puasnya bayangan wajahnya. Yang berlukiskan bunga-bunga. Mengitari burung Pipit sebagai pusatnya. Entah mengapa semuanya tak membuat dia menjadi lebih baik lagi. Tak seperti hari-hari kemarin. Begitu membanggakan. Begitu membuat kesejukkan. Kini tak lagi. Malah tambah perih. Malah dia semakin ingat kekasihnya. Siti. Yang selalu mengganggap dirinya adalah burung Pipit. Burung Pipit yang akan hinggap dan menanamkan bunga-bunga di hati Jesya. Dan Jesya selalu berharap perkataan Siti itu benar. Siti akan menjadi burung Pipit dan menanam bunga-bunga. Untuknya. Pada hatinya yang sepi.
Jesya ingin menangis. Tapi air matanya sudah lama habis. Jesya ingin berteriak. Tapi suaranya sudah lama hilang ditelan waktu. Jesya ingin sekali meraung. Marah. Membenci. Dendam. Membabi-buta. Memaki. Atau apa saja. Tapi semuanya tak ada yang dia bisa. Karena. Semuanya tak akan mengembalikkan burung Pipit pembawa bunganya lagi.
“Nak? Tadi ada yang mencarimu. Katanya ibumu dan bapakmu ingin bertemu. Dia sudah ada di rumah. Menunggumu.” Untuk kesekian kalinya. Suara bapak kosan lagi. Jesya tak mendengarnya. Jesya tak memperdulikannya.
“Nak, cepatlah pulang. Mereka merindukanmu dan mencintaimu.” Tambahnya lagi dari dekat pintunya.
Dipecahkannya cermin yang kini tak lagi membantunya. Jesya sudah tak punya lagi apa-apa. Dia, sebagaimana remaja dan lelaki. Ingin sekali bunuh diri. Mati. Meninggalkan dunia. Yang memisahkannya. Dengan kekasihnya. Jantung hatinya. Miliknya satu-satunya. Meninggalkan semuanya. Segalanya yang telah lama tercuri. Dan tak mungkin kembali lagi padanya.
“Aku adalah burung Pipit yang selalu membawa bunga-bunga untukmu, Jesya.” Suara Siti yang lembut itu menggaung terus. Terus dan menyilet hati. Tak henti-henti.
Sedang di lantai. Pecahan kaca-kaca berkilatan. Berserakan. Mengkilau. Menawarkan candu. Mengajak. Meraih kematian. Sempurna.n

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: