Cerpen Padang Ekspres

Juli 20, 2008

Lukah Pulan

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:43 am
Tags:

Cerpen Esha Tegar Putra

Tepian batang air kini lengang. Sudah jarang orang-orang menahan lukah, menebarkan jala. Jarang pula terlihat sekarang perempuan-perempuan tua dan muda mencuci kain. Atau anak-anak kecil yang menyusun batu-batu untuk membuat sumur-sumuran. Dulu, seketika tepian batang air di muara bawah masih belum turun tanahnya karena luapan air dari hulu bukit, kegiatan-kegiatan itu masih ramai setiap harinya.
***
Pulan terlihat sedang membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di lubang lukahnya. Ia duduk bersila di rerumput tepian batang air. Pikirannya entah ke mana tertuju. Matanya kosong memandang sampah-sampah yang mengantung di sela-sela lidi rajutan lukah. Ia jatuhkan sampah ke batang air yang agak kering airnya—ikannya pun sekarang tidak banyak terlihat. Sudah beberapa bulan ini lukahnya sering tidak berisi.
Tiga tahun yang lalu, seketika abaknya masih hidup dan seketika itu di sealiran batang air kampung masih ramai orang menahan lukah. Sebab Pulan masih bisa mendapatkan sepuluh liter sampai lima belas liter ikan setiap pagi dari dua lukah yang ditahan Pulan dan ayahnya setiap malam. Lukah diambilnya setiap pagi sebelum Pulan pergi sekolah. Ketika itu Pulan masih kelas satu es-em-pe. Hasil-hasil tangkapan lukah itu bisa untuk biaya hidup Pulan sekeluarga.
Sekarang apa boleh dikata. Lukah tidak kunjung berisi. Pikiran Pulan tertuju pada dua orang adiknya yang masih sekolah es-de. Dulah, adik Pulan yang pertama sudah kelas lima sedangkan Rosna baru kelas satu. Minggu depan dua orang adiknya itu akan menerima rapor kenaikan kelas. Ia sudah berjanji, jika kedua adiknya itu naik kelas akan dibelikan baju baru.
Untung di kampung tidak ada pungutan es-pe-pe, kalau ada tentunya Pikiran Pulan akan bertambah berat juga.
Tidak mungkin Pulan memberikan beban pada emak yang setiap pagi pergi ke sawah orang dan pulang pada sorenya. Dibayangkannya emak yang sudah beranjak tua itu pulang dengan pakaian yang berkubang lumpur sawah. Keletihan emak bekerja dirasakan Pulan. Letih yang membuat tulang-tulangnya juga serasa ngilu. Letih yang membuat jantung-hatinya serasa diremukkan. Bagaimana tidak, sepulang dari sawah emak masih sanggup berjualan kerupuk leak dan anyang di depan Surau Batu sehabis magrib.
Pikiran Pulan lansung tertuju pada bayangan abak yang pada suatu malam pergi untuk tidak kembali. Abak yang pada pagi harinya ditemukan tertelungkup dengan tubuh penuh lumpur. Mungkin itulah mimpi buruk Pulan selama ini. Ia selalu menyesal kenapa dia tidak terjaga seketika dibangunkan abak untuk pergi menahan lukah seketika itu. Sesal yang menjadi penyakit dalam diri Pulan.
Sela-sela lukah sudah terlihat bersih. Terlihat Pulan merapikan temali yang mengikat lidi-lidi lukah. Kemuadian ia berdiri. Ia beranjak pada jala yang digantungkannya di ranting batang dadap. Jala itu menjuntai-juntai. Melambai. Seperti berisyarat sesuatu pada Pulan.
Pulan selalu berharap jala itu berisyarat sesuatu tentang abak. Tentang kematian abak. Sebab jala itulah saksi bisu. Jala yang teronggok di pematang sawah tempat abak tertelungkup.
***
Tepian begitu lengang. Hanya suara-suara orang dari pasia yang terdengar saling bersahutan di bawa angin sampai ke telinga Pulan. Lalu Pulan melirik ke arah pasia yang dekat sekali jaraknya dengan tepian tempat ia menahan lukah. Terlihat beberapa biduk menuju ke tengah dengan beban jaring-jaring ikan yang menumpuk di lambungnya. Ia melihat orang-orang berbiduk itu, serasa melihat abak. Dulu abak juga mempunyai sebuah biduk. Pulan juga pernah dibawa abak raun-raun naik biduk.
Tapi biduk itu sudah sejak lama disewakan kepada seseorang teman yang sampai sekarang Pulan tidak tahu siapa orangnya. Ya, sebab abaknya ingin menahan lukah saja di tepian. Bagi abak berbiduk itu terlalu banyak menyita waktu. Biarlah biduk itu disewakan. Sebagai gantinya, lima liter ikan bilih setiap paginya. Bagi abak, lima liter itu sudah bisa untuk mencukupi biaya keluarga setiap harinya. Abak ingin menikmati hari tuanya lebih banyak dengan keluarganya. Abak lebih memilih menahan lukah saja.
Sudah lama Pulan menginginkan sebuah biduk. Tapi dengan harga biduk yang mahal tidak mungin ia sanggup membeli. Iapun teringat pada biduk abak yang pernah disewakan pada seseorang. Tapi setelah kematian abak, biduk itu tidak tentu ke mana perginya, siapa penyewanya. Selingkaran pasia tidak terlalu banyak nelayan-nelayan yang dikenal Pulan. Jika pulan harus menanyakan kepada orang-orang kampungnya. Itu tidak mungkin lagi. Sebab bagi Pulan itu akan mengganggu ketenangan abak saja.
Pikiran pulan terus saja berkelebat di sekitan wajah abak. Ia ikut memandikan abak. Membersihkan wajah abak yang dipenuhi lumpur sawah. Di pemandian surau tempat amak biasa berjualan kerupuk, di surau itulah abak dimandikan sebelum dikafani. Pulan berpikir jika abak belum meninggal, tentu ia akan bisa berbagi pikiran dengan abak. Mungkin abak akan mengizinkannya untuk mengambil biduk yang disewakannya pada orang.
Dan ia akan menanggap ikan dengan biduk itu. Tentunya ia akan bisa menangkap ikan lebih banyak dengan berbiduk. Pikiran pulan berkelebat. Jala itu masih bergoyang-goyang. Rantai (pemberat) bagian bawah jala itu seperti ikut memberatkan kepala Pulan. Suara-suara bersahutan dari pasia masih terdengar. Siang beranjak sore dan waktu untuk menepati janji pulan kepada adik-adiknya semakin singkat.
***
Malam itu Pulan tertidur sepulang mengaji. Mungkin karena terlalu lelah bermain kejar-kejaran setelah solat Isya tadi. Sudah pukul sembilan. Kopi yang dibuatkan amak untuk abak sudah tinggal dedak di cangkirnya. Abak masih menyambung rokoknya. Dari dapur terdengar suara kerupuk yang digoreng emak untuk dijual besok sore. Memang begitulah keseharian emak. Ia menggoreng dulu kerupuk karena besok paginya akan pergi ke sawah orang.
Asap rokok abak menggepul-gepul. Pulan masih tertidur di samping dua adiknya. Rumahnya cuma dua kamar. Satu kamar untuk abak dan amak. Satu kamar lagi untuk Pulan dan kedua orang adiknya. Terkadang adik bungsunya yang waktu itu berumur empat tahun sering tidur bersama abak dan amak.
Setelah hisapan terakhir. Abak pergi ke belakang. Pamit pada emak untuk pergi menahan lukah ke tepian. Tapi kali ini abak membawa jala. Padahal jarang-jarang abak membawa jala. Biasanya abak menjala pada waktu musim hujan. setelah hujan reda abak akan bersegera pergi menjala. Tapi ini belum musim hujan..
Langkah abak menderap. Memberat di lantai papan rumah. Setelah pamit pada emak lalu abak pergi ke kamar untuk membangunkan Pulan seperti biasa. Entah kenapa kali ini Pulan susah dibangunkan. Ia hanya menggeliat kelelahan. Bergumam-gumam kecapekan. Abak tidak tega untuk terus membangunkan pulan karena besok pagi sekali Pulan juga harus membantu abak mengambil lukah.
Kali ini abak pergi sendiri. Menyandang sebuah jala. Itulah terakhir kali Pulan mendengar suara abak membangunkannya. Sebab paginya orang-orang menemukan abak tertelungkup di sawah dekat pasia.
Ada yang bilang abak sakit jantung dan kambuh sewaktu melewati pematang. Ada yang bilang abak terjatuh lalu tertelungkup di sawah. Ada juga cerita yang beredar aneh; abak tersapa penghuni sekitar sawah!. Pulan tidak terlalu menghiraukan cerita-cerita yang beredar itu, yang jelas, ia cuma mendengarkan amak; abak meninggalkan kita karena Tuhan sayang dia!
Terkadang Pulan berpikiran aneh juga. Pernah sewaktu menujuh hari kematian abak ia bermimpi akan diberikan biduk yang disewakan oleh abak. Pernah juga ia bermimpi bercakap dengan abak, dan abak menyuruh Pulan untuk tidak menahan lukah di tepian air lagi. Tapi abak menyuruh pulan untuk pergi merantau. Yang jelas, seketika orang-orang menemukan abak tertelungkup di sawah. Sebuah jala milik abak dan sekantung ikan yang berisi kira-kira lima liter masih terletak di atas pematang.
Seketika itulah Pulan harus menolong emak manafkahi adik-adiknya, ia harus berhenti sekolah dan mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dilakukan abak. Pulan berpikir untuk selalu dekat dengan keluarganya seperti niat abak pada keluarganya. Ia memilih untuk terus menahan lukah di tepian batang air.
Sejak kejadian itu tidak terdengar lagi tentang biduk yang disewakan abak. Tidak pula datang kiriman lima liter ikan setiap paginya. Pulan dan keluarga tidak tahu lagi harus meminta sewaan pada siapa. Keluarga Pulan pun tidak ingin membahas tentang itu.
***
Jala yang tergantung masih digoyang-goyang angin. Pikiran Pulan bercabang. Di satu sisi ia ingin pergi mencari peruntungan lain untuk menafkahi keluarganya. Tapi Pulan ingat abak yang ingin selalu dekat dengan keluarga. Ia ingin seperti abak.
Sore membungkus pikiran Pulan dalam kegamangan. Ia letakkan lukah di bawah pohon tempat jala tadi digantungakan. Lalu ia pulang dengan pikiran yang bercabang. Seperti cabang-babang jalan dalam kampung yang makin lengang dari orang-orang. Pulan seperti hilang harapan pada lukah ataupun jala. Ia Pulang dengan tangan kosong dan harapan adik-adiknya membuat dirinya merasa begitu bersalah. Tapi keinginan itu yang membuat Pulan bersemangat untuk ke tepian.
Sesampai di rumah, Pulan terhenyak pada bangku buluh yang dulu dibuat abak untuk duduk-duduk sambil menyulam jala; atau membereskan lukah yang patah. Amak tidak terlihat di dalam. Mungkin sudah pergi ke surau untuk berjualan kerupuk.. Juga adik-adiknya tidak terdengar suaranya. Mungkin juga sudah ke surau untuk mengaji.
Pulan masuk dan terus ke dapur menggantung jala. Dilihatnya kuali bekas kuah kerupuk yang belum dibersihkan emak. Ia kemudian masuk ke dalam kamar yang sekarang di tempati kedua adiknya.
Dilihatnya dua seragam merah putih lusuh yang tergantung di belakang pintu kamar. Lalu terlihat dua lembar kertas tertempel di koi besi. Satu kertas milik Dulah dan satu kertas lagi milik Rosna. Kertas itu dibacanya: Pekan depan kami akan memakai seragam baru hadiah dari uda Pulan. Pulan menghempaskan tubuh ke koi. Pikirannya semakin kusut. Rasa bersalah jika tidak bisa membelikan baju seragam sekolah untuk dua orang adiknya makin membekapnya.
Pulan berharap sekali ada abak. Ia terus merasa bersalah pada dirinya; kenapa pada malam itu ia tidak ikut dengan abak. Sekali lagi dibacanya kertas yang ditulis oleh kedua adiknya. Terngiang lagi suara abak membangunkan Pulan untuk pergi ke tepian. Pikiran pulan makin selang-sengkarut. Di satu disi ia harus tetap di kampung dekat keluarganya dan bertahan dengan lukah yang tidak berisi dan tepian yang makin kering airnya.
Atau ia harus pergi mencari peruntungan. Jauh dari amak dan dua orang adik-adiknya. Jauh dari simpang-simpang kampung yang semakin lengang. Terus menahan lukah dekat dengan keluarga atau mencari peruntungan baru? pertanyaan itu terus berkelebat di benak Pulan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: