Cerpen Padang Ekspres

Juni 12, 2008

Induak Tubo

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:50 am
Tags:

Cerpen Zelfeni Wimra

“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”.
“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita.
Boleh kalian bayangkan, bagaimana tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang tengah malam buta, sedangkan kita tidak punya teman untuk melepas kepergian kita. Huh, ini yang tidak disadari anak-anaknya. Kita lihat saja nanti, mereka pasti pulang membawa penyesalan. Induk membangkai di rumah, ee, kita terkurung di rantau orang. Saya kira, anak-anak seperti ini yang layak dikutuk!” sambut seorang yang paling tua di antara kelompok perempuan petani yang sedang bekerja itu.
“Iya. Benar juga kata Kakak,”
“Tapi kita bisa berbuat apa?”
“Kita cuma bisa kasihan pada Odang Niro. Lihatlah, jalannya saja sudah oleng. Karena hidup harus makan, terpaksa jua ke sawah. Bahkan saya sering lihat, memasang buah baju saja sudah tidak benar. Pogotang-nya bogenjuik dan tingkuluak usangnya dililitkan apa adanya dan asal saja. Uban keritingnya tersembul di sana sini!”
“Ei! Ada yang tidak kalian ketahui. Dengar. Perutnya sudah jatuh: tumbuang!”
Sekonyong-konyong, orang-orang yang sedang bosiang itu serentak berdiri memandang aneh ke arah Odang Niro yang tengah mereka pergunjingkan itu muncul terbungkuk-bungkuk dari arah belakang mereka. Odang Niro dengan kombuik di bahu memapah langkahnya pada jalan setapak yang mendaki dan kedua sisinya ditumbuhi belukar lebat. Ia terhenti sejenak meraba dadanya yang disesaki karena batuk.
Seperti pagi-pagi biasa, Odang Niro akan pergi ke sawahnya di balik bukit, setengah jam berjalan kaki dari rumahnya. Sekilas, ia lihat rombongan ganti-ganti borisuak yang sedang masyuk bekerja. Mereka membungkuk mencabut dan membenanm semak yang tumbuh di antara rumpun padi muda yang berumur dua bulan itu. Odang Niro tertarik untuk sejenak bersitirahat. Ia duduk pada sebuah pematang yang agak tinggi. Ia jatuhkan kakinya begitu saja dan mencoba mengatur nafas dan sebuah senyuman ingin bercengkerama.
“Padi di sini aman-aman saja, ya. Padi saya tandeh dimakan moncik,” Odang Niro separo merintih. Suara seraknya seakan memecah keheningan pagi itu.
“Padi di sini, ditanam serentak, Dang! Walaupun moncik banyak, tidak begitu berpengaruh bagi padi,”sahut salah seorang.
“Makanya, Dang, kalau mau bertanam padi jangan menyisih dari orang lain. Hidup mesti bersama-sama,” ulas yang lain. Tekanan suaranya sama-sama ketus. Hati odang Niro seperti ditusuk duri dan di kepalanya seakan ada sekawanan lebah yang siap menyengat. Niat hati ingin berbagi cerita, tapi orang-orang menyambutnya lain. Dengan berat, ia berdiri dan mengayuh langkah tuanya. Sendiri. Sunyi.
Sosok Odang Niro baru saja menghilang di rimbun belukar, pergunjinga pun kembali digelar seperti hentakan kecapi. Gemerisik air pancuran, cericit pipit, dan kulik elang di ketinggian seperti tidak restu mendengarnya. Tetapi mulut-mulut itu, lidah-lidah itu terlanjur bergetar, melafazkan kesumat yang entah karena apa tertuju pada Odang Niro.
“Benar juga petuah nenek moyang kita: sekali-kali jangan terniat menaruh yang tidak baik dalam diri. Mudaratnya tersasa bila kita sampai tua. Bila tidak orang lain, alam akan menghukum kita,”
“Hei, jadi, Odang Niro menaruh yang tidak baik?’
“Alah, sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu kalau Odang Niro itu induak tubo di kampung ini. Coba perhatikan, semua ciri-ciri induak tubo ada padanya. Dengar, biar saya jelaskan. Semua anak Odang Niro laki-laki, bukan? Nah, secara perlahan keturunan Odang Niro akan punah, suami sudah mati pula. Tinggallah dia kini seorang diri. Anak-anak gila merantau. Badan sudah iduik sogan mati ndak omuah. Lalu, setiap usahanya menanam padi selalu diberantas hama. Ada-ada saja hama yang menghancurkan padinya!”
“Kenapa dikatakan punah? Bukankah nanti dari anak laki-lakinya akan lahir cucu-cucu yang masih keturunan odang Niro?”
“Itu dia tempat lain. Di tempat kita berbeda. Kita memandang keturunan itu dari pihak ibu. Laki-laki cuma tampang dan padusi seperti kebun tempat tampang itu tumbuh. Makanya tetua kita menghormati tempat tumbuh ini. Coba kalau kita hitung-hitung, yang paling banyak berkorban dan lebih banyak menanggung sakit dari sejak mengandung, melahirkan, hingga mengasuh anak adalah ibu!”
“O, jadi karena itu Odang Niro dikatakan akan punah?”
“Iya! Kasihan sekali pada induak tubo itu…”
Kalimat-kalimat yang deras, pedas dan panas seperti api memamah kayu kering. Tapi siapa yang mau tahu kalau setiap kali sendiri Odang Niro mengemas dan merahasiakan tangisnya. Semua ia lakukan secara diam-diam.
Seperti pagi menjelang siang itu, dalam kerelaannya menerima nasib, Odang Niro menyiang padinya. Padi muda yang bergelimpangan di permukaan lumpur karena dimamah tikus terus dipilihnya dengan ragam perasaan. Ada sakit, ada iba, dan ngilu.
Batang-batang padi yang mulai hamil ia gumpal bersama semak lalu diinjaknya ke dalam lumpur.
“Semua harus berakhir di perut bumi,” batinnya.
“Kalau di permukaan bumi hidup hanya bergelimang lara, lebih baik membenam ke dalam tanah!”
Tepat ketika gumpalan padi terakhir yang dipilihnya ia benamkan ke dalam lumpur, kakinya mendadak terasa dingin. Ia coba rasakan, ada kekuatan yang menghisapnya. Ternyata, saking larut dalam ragam perasaan Odang Niro lupa kalau ia sudah sampai di tengah-tengah sawah yang berawang.
Kakinya semakin dingin. Separuh tubuh bungkuknya pun sudah tertelan lumpur. Ia dihisap rawang. Odang Niro bukannya cemas. Ia malah tersenyum.
“Ternyata ada yang merindukanku,” lirihnya. Namun ketika dingin lumpur samapi di lehernya, Odang Niro tersentak. Wajah anak-anaknya yang berada entah di rantau mana seketika membayang. Mereka melambai sembari mengucapkan selamat jalan. Odang Niro tercekik. Lumpur hidup masuk ke tenggorokanya. Bayangan wajah anak-anakya terus berslingan. Tetapi segalanya mendadak gelap
Tinggallah kini tingkuluak usangnya, terdampar di permukaan Lumpur menggantikan batang-batang padi, semak, juga dirinya: ibu tua yang pergi menuntaskan kesepain ke dalam rawang.
“Bukan. Dia bukan ibu yang kesepian, tetapi, induak tubo,” bantah seorang perempuan anggota ganti-ganti borisuak.
***
Kalau kau bertemu Uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim, sampaikan pesanku bahwa sejak lima bulan lalu aku membawa anak-istriku pulang kampung. Kami jadi petani saja. Kalau hanya untuk terhindar dari kelaparan dan tanggungjawab menyekolahkan tiga orang anak, rasanya kami sanggup menjalaninya di kampung. Sawah dan ladang milik ibu kita masih ada dan tak tergarap sejak kami merantau enam tahun silam disusul pula dua tahun berikutnya kau kuliah ke kota. Rumah kita terlalu luas untuk tubuh bungkuk ibu.
Sekalipun sesungguhnya kami amat sadar, kalau corak hidup di zaman gebalau ini tidak berpihak pada petani. Dan lagi, membawa istri ke rumah ibu dalam adat kita memang dipandang ganjil dan sebaiknya jangan dilakukan. Tapi, pikirkanlah, pewaris pusaka ibu cuma kita, laki-laki semua. Kalau bukan kita yang mengurus sawah dan ladang milik ibu, siapa lagi? Mencari orang yang mau menggarap tanah sekarang sukar, Lin. Bukan hanya tanah kita, tanah-tanah lain begitu banyak yang ditinggal pemiliknya.
Malin, Kamu satu-satunya adik jantanku. Kamulah yang kuharapkan untuk mengerti. Berharap pada uda Pian, Da Lawi, dan Da Karim tidak akan berpengaruh apa-apa. Kau kan tahu sendiri, rantau telah menelan mereka. Pulang sekali setahun saja sudah sangat berat bagi mereka.
Sedangkan ibu, dari hari ke hari selalu muram. Selalu ia risau, tak ingin dianggap induak tubo yang ditelan lumpur hidup-hidup. Ibu tidak ingin mengakhiri hayat seperti itu.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: