Cerpen Padang Ekspres

Mei 11, 2008

Babad Mentala

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:05 am
Tags:

Cerpen Beni setia

SEKITAR 28 km dari S terletak kampung Mentala. Dulu, karena saat ini di timur S ada kampung Dadimukti, Citraresmi, Palenggahan, dan Suwung. Kampung-kampung dengan tatanan jalan dan peruntukan lahan yang serasi, dengan mayoritas penduduk pendatang yang hidup berdampingan dan bahkan bercampur darah secara kawin dan selingkuh dengan penduduk asli Mentala. Hal biasa yang sudah umum terjadi dalam rentang 400 tahun.
”Orang Mentala udah lama tak ada,” kata mereka, bila ditanya tentang apa mereka itu orang Mentala atau tahu siapa orang Mentala asli. Seperti 395 tahun lalu tak seorang pun yang mau mengaku dirinya orang Mentala, tak pernah mau dituding sebagai orang Mentala, karena itu mereka diam-diam mengembara, ke luar dari Mentala agar tak dihina sebagai seorang Mentala. Karena, pada dasarnya, tak seorangpun yang mau disebut sebagai orang yang dikutuk oleh Syeh Among Rasa dari pesantren Janggelan, 20 km di selatan S.
DALAM buku catatan Syeh Among Rasa di Pesantren Janggelan, kampung Mentala itu mulanya hanya wilayah pinggiran yang berupa tanah terlantar yang berkontur tegalan dan tanah rendah yang liar ditumbuhi semak. Tempat di mana jin dan genderuwo sesekali muncul dan menghilang sebagai ular atau kalajengking, tempat di mana para kecu biasanya menyelinap dan sembunyi kalau telah melakukan kejahatan di S. Daerah pinggiran yang kemudian dibabat dan digarap kraton jadi sawah, dengan tegalan yang ditanami pohon kelapa.
Sebuah lahan pertanian yang luas dengan beberapa rumah darurat yang didirikan asal-asalan dan berjauhan, tempat di mana para kecu yang telah diampuni tapi masih setengah dihukum itu tinggal. Dengan tugas menjaga S dari serbuan musuh dan sekaligus menggarap sawah dan kebun kelapa yang separuh hasilnya disetor ke kraton. Tugas yang sebetulnya tak ingin mereka lakukan, tapi tidak bisa tidak harus dilakukan, karena hampir setiap setengah hari masih selalu ada pasukan kraton yang mengontrol dan malalukan patroli rutin.
Mereka tak berdaya. Mereka ingin berontak tapi tak ada kesempatan untuk berontak, dan terutama tempat yang tersembunyi di balik gunung dan dalam hutan yang tidak terjangkau orang, di mana mereka bisa membangun wilayah baru. ”Tapi apa bedanya tempat yang entah di mana itu dengan kampung baru ini? Bukankah kita harus mulai dari nol juga?” kata Ki Tenggak Arak, sesepuh para kecu. Semua orang melirik. Dengan tenang Ki Tenggak Arak bilang, bahwa mereka tak perlu melakukan yang tak bisa dilakukan, tapi tak perlu sedih karena bisa cerdas melakukan yang bisa dilakukan. ”Apa?”
SEJAK saat itu kampung Mentala dikenal sebagai kampung untuk senang-senang. Minum arak sampai mabuk, berjudi sampai kain yang dipakai tergadai, dan terutama perselingkuhan dan perzinahan. Tapi, meski bagaimana panasnya pun persaingan antara mereka, tidak ada pernah perkelahian dan terlebih pembunuhan di kampung Mentala. Antara penduduk asli — yang entah dari mana, karena mereka para petualang setengah hukuman — terbentuk moral khas Mentala: boleh saling tipu, boleh terang-terangan meniduri anak dan istri yang lain, tapi tak boleh berkelahi dan saling bunuh.
”Ini inti ajaran menahan diri, karena kita kan sebetulnya hanya ingin ambil senang dan hidup sama-sama senang. Jadi buat apa berkelahi dan saling bunuh,” kata Ki Tenggak Arak, ”Tapi kalau sudah sampai pada masalah kelelakian paling hakiki, orang boleh berkelahi sampai mati, dan tiap kecu pantang mundur kalau diajak tarung. Hanya saja itu harus dilakukan di seberang Kali Waton, di luar wilayah.”
Itu ajaran inti kampung Mentala. Yang saat itu belum disebut Mentala, tapi Paluaran. Istilah yang dipakai para prajurit kraton yang harus 56 km berjalan bolak balik ke sana, setengah merasa dihukum. Yang tak pernah benar-benar melaporkan ada apa-apa sepulang dari sana, dan kenikmatan diserpis oleh hidangan khas Mentala — suap, arak dan perempuan. Dan ketika pihak kraton tahu yang terjadi, mereka mengadu ke Kiai Among Rasa, terutama karena para ibu beron-tak saat semakin sering melihat suami dan anak lelakinya, para pangeran itu, me-nyelinap dan menginap di sana.
Kiai Among Rasa mengutus anaknya, Ki Yusup Raksarasa, untuk mendirikan musala, semacam pesantren kecil, yang akan jadi basis pendidikan iman dan mo-ral pendudukan Paluaran. Ia dan seorang pangeran, Arya Japlang, memilih tempat dekat Kali Waton, di mana setapak merentang ke mana-mana, di antara pema-tang dan kebun kelapa yang sudah meninggi tapi belum berbuah. Tempat yang bisa didatangi siapa saja dan dari mana saja, dari rumah-rumah yang menyedia-kan kamar untuk berjinah atau judi kartu, dengan kebun belakang untuk sabung ayam dan menenggak arak — dibuat dari aren yang tumbuh liar di seberang Ka-li Waton, terjaga terpelihara karena milik Ki Tenggak Arak, dan sekaligus subur karena tempat mengubur orang yang mati dalam kelahi di sana. Senantiasa.
Penduduk Paluaran, terutama Ki Tenggak Arak tersenyum, menyambut kedatangan mereka dengan santun, dan serentak membantu membangun musala dan pondok. Mengirim orang-orang, sebagian dari orang-orang, untuk ikut pengajian dan menganjurkan yang lainnya agar tetap mengamalkan kebiasan ambil senang. Bahkan tak pernah ada orang yang dua kali berturut-turut ikut pengajian. Setiap pengajian selalu melibatkan orang baru, yang malah membuat Ki Jusup Raksa-rasa putus asa. Terlebih karena Arya Japlang mulai tergoda dan terlibat dalam kehidupan ambil senang Paluran.
Puncaknya adalah saat berulang kali Ki Jusup Raksarasa digoda para perempuan Paluran dengan ajakan zinah dan mencicipi arak Kali Waton yang kesohor — mereka terbagi pada dua kubu yang saling bertaruh, bahwa dalam 3 bulan Ki Jusup Raksarasa akan menjadi orang Paluaran. Darah Ki Jusup Raksarasa mendidih. Ia mengambil wudlu dan shalat Istiharah, minta petunjuk Yang Esa, dan gambaran yang muncul membuatnya murung. Lapor ke Syeh Among Rasa, yang terpaksa mengumpulkan semua orang dalam dakwah terakhir. Dakwah yang mengabarkan moral akan rusak saat orang terbiasa maksiat tanpa beban — malah dilakukan dengan riang senang hati.
”Semua sebenarnya bermula dari sini, dari kalian semua. Apa kalian mau melihat anak cucu yang benar atau senang melihat anak cucu yang tak karuan? Jangan mau senangnya tapi tega pada mereka, pada masa depan semua orang di masa depan. Jangan jadi raja tega, jangan jadi orang mentala!”
KAMPUNG itu kemudian disebut Mentala, dan beberapa orang yang merasa risi memilih ke luar dan pergi menjauh diam-diam, meski tetap saja menga-malkan sistim nilai Mentala. Mereka tetap mentala meski tak tinggal di Mentala — tetap pengamal hidup ambil senang. Bahkan semua tempat sebenarnya sudah dihuni orang Mentala sehingga pesantren itu kini hanya bercak-bercak yang se-saat lagi sepertinya akan musan ditelam oleh lumpur menghibur diri dari rawa-rawa Mentala. Tapi tidak ada yang peduli. Semuanya mabuk kenikmatan sesaat, semua tergerak untuk terus mencari nikmat sesaat yang diharapkan kekal.
Mungkin hanya Ki Ronggowarsito, murid terakhir Syeh Among Rasa, yang masih berani menyuarakan bahaya masa penuh kemaksiatan itu, dan ajakan agar tak terseret arus kemaksiatan duniawi. Tapi siapa yang mau mendengar imbatan moral seperti itu. Ajakan untuk eling dan mengajak bertobat? Memang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: