Cerpen Padang Ekspres

Februari 10, 2008

Baralek Gadang

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:10 am
Tags:

Cerpen Indrian Koto

Sedari kemarin kesibukan meriap di rumah Uni Inun. Kegembiraan terpancar dari mereka yang terlihat sibuk bekerja, menyiapkan segala sesuatu. Dan sudah sejak pagi keramaian terasa benar di rumah ini. Ria yang dilamun resah bolak-balik dari kamarnya menuju dapur.
“Anak daro, tak elok duduk di pintu. Marilah ke kamar, berias dan memasang inai.” Hardik Mak Tando melihat Ria yang melamun di pintu dapur. Hardikan lembut yang membuyarkan kosentrasi. “Ndak usalah ditengok dapur. Bukan urusan pengantin saat ini.”
Ria tersenyum. Buru-buru meninggalkan dapur yang penuh asap tungku. Aroma santan dan kuah gulai menusuk-nusuk hidungnya. Di ruang belakang beberapa orang sedang bersitungkin mengaduk nasi lamak pulut hitam. Pangek pisang teronggok di atas dipan, di antara onggokan daun pisang dan gelas-piring. Di ruang tengah, bau puding menyelinap pelan di antara pekat bau anak-anak yang berlari riang di halaman.
“Kelambunya cocok benar dengan alas kasur. Sepadan pula sama anak daro dan marapulai.” Sembur Uni Eli begitu kepalanya muncul di pintu kamar.
Ria hanya tersenyum menimpali. Beberapa pasang mata gadis remaja dan kawan seusia berbinar menatapnya. Ria meladeni dengan senyum.
“Senang benar anak daro kita…” Ilen mencubit pinggang Ria diikuti tawa yang lain.
Ria duduk di pinggir ranjang, kelambu yang menjuntai dikuakkan dengan pelan. Aroma wangi memenuhi ruang kamarnya yang segala baru. Poster-poster artis India sudah hilang semua, dinding dicat warnah putih, kelambu, ranjang, kasur dan segala alat berias yang lengkap pula. Mulai besok, di kamar ini dia tidak lagi sendirian, berbagi tempat dengan seseorang yang malam ini akan melengkapkan penggalan hidupnya.
Di luar, Ujang Korea telah selesai memasang toa di atas pohon mangga di samping kanan rumah. Dengan sigap Iyen mendekatkan corong mikrofon ke mulut spiker yang dari tadi melolongkan lagu dangdut di halaman rumah. Sebentar saja, adukan gulai, denting gelas-piring, tiupan api tungku tenggelam dalam irama musik yang meriah. Di meja kecil depan rumah sudah terhidang kopi, nasi, gulai cubadak, nasi lamak lengkap dengan pangek dan gulai taoco. Beberapa anak-anak dan pemuda yang bergerombol di sana mulai mendekat.
“Masuk saja ke dalam. Makan dulu.” Teriak Uda Imun, tuan rumah dengan muka yang tak kalah cerianya.
Tanpa diperintah dua kali, semua sudah menyerbu masuk. Berkeliling di ruang tengah yang sudah dirias warna-warni. Sepasang kursi yang berjumbai-jumbai tempat anak daro dan marapulai nanti duduk dan di sini pula nantinya dua anak manusia itu akan dipertemukan. Ria dan Si Ap.
Di kamar terdengar cekikik para gadis mengetahui para bujang sudah berkumpul di ruang depan. Tentu pula mereka tak lupa ikut berias sebagaimana Ria, menginai kuku, memasang lipstik di bibir, memoleskan bedak dan minyak wangi di tubuh. Uni Eli, si perias pengantin itu tentu akan berela hati membantu dan membiarkan mereka.
Kesibukan bergumul dengan lagu dangdut yang menghentak. Sepasang drum di pasang di kiri kanan jalan, sekedar memberitahukan kalau di sini, saat ini, sedang ada keramaian, ada sepasang manusia yang sedang berbahagia, yang sebentar lagi akan menikah. Di pinggir jalan, para pemuda berjejer, berbagi rokok dan cerita. Anak-anak berlarian di halaman depan, di tangan mereka bertengger nasi lamak yang dibungkus daun pisang. Di samping rumah sampai ke belakang asap dan api tungku membumbung, ibu-ibu sibuk mengaduk gulai, memeras santan, menata piring, mencincang cubadak, mencabik daging, membuang sisik ikan, memasak nasi dan air. Kesibukan tidak akan berhenti sampai nanti malam. Juga keriuhan ini.
***
Malam ini perkampungan kecil yang bernama Lansano itu akan ramai oleh kesibukan-kesibukan kecil, mengingat kedua mempelai berasal dari desa yang sama. mereka berasal dari satu kampung kecil itu juga. Sehingga anak muda di kampung akan cukup sibuk siang dan malam. Siang mereka akan membantu pembikinan panggung dan perlengkapan-perlengkapan kecil di rumah kedua mempelai. Apalagi Ap, lelaki yang baru pulang dari Malaysia itu, akan mengundang orgen tunggal untuk meramaikan pernikahannya. Sedianya keluarga Ria juga ingin mengadakan pesta yang sama, tapi karena rumah mereka berdekatan, mereka mengalah. Ap anak sulung dan baru pertama ini keluarganya mengadakan acara nikahan, lagi pula ini semacam perayaan untuk si anak bujang yang baru pulang dari rantau. Ingin menunjukan pada orang-orang, merantau yang seperti Si Ap lah yang mesti dilakoni. Pulang-pulang bisa membeli motor, memperbaiki rumah keluarga dan bisa pula meminang Ria, si bunga desa.
Sementara untuk Uni Inun, pernikahan Ria bukanlah pernikahan yang pertama. Reni, kakak Ria satu setengah tahun lalu baru menikah, dan tentu tak lama lagi menyusul Meri, Engla dan Desi. Sedang Doni tentu akan disunat pula, akan ada perhelatan juga mestinya.
Semula Uni Inun tetap ingin mengundang tukang rebab sebagai pengisi waktu, menjelang marapulai datang. Tapi siapa pun makfum, orgen tunggal tentu akan mengalahkan tukang rebab. Orang-orang lebih tertarik melihat bokong dan goyangan ketimbang mendengar ratok si tukang dendang. Siapa yang pula yang masih tertarik mendengar raun sabalik dan dendang tukang kaba yang tua dan lelaki semua.
“Sudah terpasang panggung di sana?” Kata Unjang Korea melihat Mugil datang bersama Reza, Imin, Epen, Kudil, dan Atong dari arah baruah, rumah Ap.
“Alah…” Jawab Mugil pendek sambil ikut bergabung bersama kami yang bergerombol di pinggir jalan depan rumah Ria.
“Ap sudah menjalang kawan-kawan untuk mengantarkannya badampiang nanti malam?”
“Dia masih sibuk menjalang mamak. Belum sepertinya.” Kata Pirin menyahut.
“Oh, ya.” Mugil seperti mengingat sesuatu. “Ini tadi marapulai menitipkan rokok untuk kita. Kalau dia tidak sempat maucok kawan-kawan. Tapi sore dia pasti menemui kita.” Katanya sambil mengeluarkan beberapa bungkus rokok sebagai tanda undangan dari Ap untuk mengantarkan dia nanti malam menuju rumah mempelai perempuan.
Siang merayap di kampung itu. Aroma makanan dan berisik lagu dangdut memenuhi penjuru kampung. Kesibukan menjalar di mana-mana, di dapur, sumur, beranda, belakang dan samping rumah, di dalam rumah dan sudut kamar sekali pun. Semua orang mengingat ini sebagai hari baik bulan baik untuk dua anak muda yang akan segera melangsungkan pernikahannya.
Semua orang di kampung itu paham belaka apa yang dirasakan Ria saat ini yang masih saja terhenyak di ranjangnya. Pengantin akan selalu berdebar. Kalau pun mengingat masa muda tentu wajar belaka, karena sebentar lagi si gadis akan memasuki hidup yang lain pula.
Pun masalalu Ria, semua orang di kampung ini tahu belaka. Apa yang rahasia di kampung kecil ini? Barangkali saja, ada yang terlewatkan oleh mereka yang sedang sibuk dan bahagia ini.
***
Dulu, sebelum Ria dekat dengan Ap ia sudah menjalin hubungan dengan Kantan. Mereka tinggal berjarak beberapa rumah saja. Dari Ria masih kecil mereka sudah bersama-sama. Waktu itu Ria masih SMP dan Antan SMA pula. Orang-orang kampung mulai tahu paham hubungan mereka tak sekedar kawan atau kakak-adik. Dan mereka, semua yang mengetahui hubungan ini membiarkan kegembiraan masa muda ini berjalan semestinya.
Kantan sudah dua kali mencoba mendaftar jadi polisi, tapi belum diterima juga. Dan Ap masihlah seorang anak biduk belaka. Melaut saja kerjanya. Tiap hari terang ia dan kawan-kawan berkerumunan di rumah Ria yang punya lepau kecil yang selalu ramai di hari-hari terang, di mana anak-anak muda yang biasanya melaut akan beristirahat beberapa malam di rumah.
Tak berapa lama Ap berangkat ke Malaysia. Ketika itu musim badai dan kemarau, bagan tak bisa melaut, sawah mengering. Kata Ria, Ap pergi sebagai bentuk rasa kecewanya.
“Kenapa pula?”Tanya Kantan tak mengerti.
“Dia menyukai saya tetapi saya tidak. Dia kecewa dan sakit hati. Lalu pergi. Nanti, katanya, dia akan pulang dengan banyak uang dan aku akan menjadi miliknya. Kau percaya?” ceritanya Ria.
“Tentu saja tidak.”
Kantan pun diterima di kepolisian. Malam sebelum dia berangkat pendidikan kawan-kawannya mengadakan pesta ala anak muda. Mereka membeli minuman murahan lalu berkendara dalam keadaan mabuk. Dan tragis memang, sebuah Pick-up yang tidak mengetahui pesta itu menabrak Kantan begitu saja. Sebelah kakinya harus dipotong. Juga seluruh masa depannya.
Lama kemudian dia pergi dari rumah. Malu dan sakit hati. Sementara Ap berkali pulang memamerkan Motor barunya, berkali pula melamar ria. Berkali pula dia kecewa dan menghilang lagi ke Malaysia.
Beberapa bulan lalu dia kembali pulang. Ria sudah dua tahun lulus SMA dan Kantan selama itu pula tak pernah berkabar padanya. Kali ini Ria tak punya banyak pilihan. Bukan hanya motor baru, tanah dan rumah serta kapal sebuah yang kini sudah dimilikinya, tapi lantaran penantiannya yang rasanya sudah sia-sia. Kawan-kawan seusia satu-dua mulai menikah. Dan Uni Inun mulai berbincang serius mengenai masa depan putri keduanya. Menyuruh dia menikah dengan Ap disertai sedikit ancaman.
Diputuskanlah hari baik bulan baik itu untuk mengikat keduanya. Malam ini akan disahkan keduanya sebagai mempelai. Kepulangan Kantan tak akan merubah keputusan yang sudah disepakati kedua belah pihak. Terlambatlah dia kalau berkehendak meminang bunga dalam jambangan, aih, apalah daya seekor kumbang patah kaki?
Tapi siapa yang bisa menduga kalau pernikahan itu bisa saja batal?
***
Jika ada yang tak bahagia di tengah keramaian ini, barangkali hanyalah aku. Beberapa hari ini sebelum pernikahan ini berlangsung hatiku berderak tak menentu. Segala hal bermain di kepalaku.
Ilen dengan sabar mengabarkan segala perihal. Dia satu-satunya orang yang dekat dengan Ria dan selalu menemaninya beberapa waktu ini. semua rencana ada kami diketahui betul olehnya.
Aku tak sabar menunggu malam dan segala rencana-rencana nakal yang sudah di siapkan.
“Ntan, malam ini ikut mengantar Ap kan?” Suara Mugil mengagetkanku.
“Ya, tentu saja.” Aku berdiri. Reza mengulurkan tongkat kayu untuk membantuku berjalan.
Sesuai rencana. Sebelum marapulai datang semuanya sudah berjalan. Uni Eli yang bertugas menjaga anak daro diajak keluar oleh Ilen untuk menonton orgen tunggal di rumah Ap yang berada tidak terlalu jauh. Sementara Tek Nani dan beberapa orang lainnya sibuk menating piring dari dapur ke ruang depan. Sebagian yang lain mencoba beristirahat, sekedar lalok-lalok ayam menunggu malam datang di mana marapulai datang dengan rombongan yang bakalan ribut badampiang.
Kesempatan itu membuat Ria cepat mengambil tindakan.
Lalu dibonceng Reza, kami meluncur ke Batangkapas, menginap di rumah seorang kawan. Besok, begitu keadaan agak baik kami akan berangkat ke Sungai Penuh, melanjutkan pernikahan Ria yang tertunda.
Kami menduga-duga, di belakang sana, di perkampungan kecil kami orang-orang akan terkejut mengetahui jendela kamar terbuka dan pengantin perempuan sudah tak ada.
Yogyakarta, Juli 2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: