Cerpen Padang Ekspres

September 2, 2007

Ayah Pergi Mencari Uang

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:31 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal

Ibu bilang ayah sangat sayang padaku, bahkan lebih sayang dari yang aku bayangkan. Aku bingung, bagaimana bisa sayang ayah lebih besar dari yang aku bayangkan. Dari mana ayah tahu? Padahal sudah lama sekali kami tidak bertemu. Ibu juga bilang kalau orang dewasa memang begitu, selalu mengerti perasaan anak-anak apalagi anak kandungnya, ibu pun juga mengerti perasaanku.
“Menunjukkan rasa sayang itu tidak mesti dengan bertemu, tanpa bertemu pun orang bisa berkasih sayang. Sayang itu hanya dapat dirasakan dan hatilah yang merasakannya.”
“Kalau benar ayah sayang padaku, kenapa ia tak pulang-pulang Bu?”
Ibu terhenti dari kerjanya, mempersiapkan makanan di meja makan. Kemudian ia berjongkok mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Ia tersenyum. Saat seperti itu, aku dapat menatap lama wajah ibu dengan matanya yang bersinar. Seperti biasa aku memegang kedua pipinya. Ibuku memang sangat cantik, ia lebih cantik dari bidadari yang ada di televisi, sebagaimana yang dulu dikatakan ayah. Kedua tangan ibu menempel di dua pundakku, kalau sudah begitu aku tahu apa selanjutnya yang akan ia lakukan, menciumku, kemudian memelukku. Ternyata benar, meski saat itu sebenarnya aku tidak ingin dicium dan dipeluk.
“Sayang, itu karena ayah sayang sama kamu dan sama ibu.”
“Tapi apakah begitu orang dewasa menunjukkan rasa sayangnya?”
“Salah satunya begitu,” kata ibu singkat.
“Apakah nanti kalau aku besar, juga begitu?”
Ibu tersentak, ia mencuil pipiku,
“Kamu tidak boleh seperti ayah.”
“Lho, aku kan laki-laki sama seperti ayah?”
“Betul Sayang, tapi ibu tidak ingin kamu seperti ayah.”
Kemudian ibu mengangkatkanku ke atas kursi yang ada di sisi meja. Di sana makanan sudah terhidang. Kemudian ia memanggil Nenek dan Om Farel untuk makan. Dan mereka termasuk juga aku telah melingkar di meja, menyantap masakan ibu. Masakan ibuku sangat enak.
***
Sejak ayah pergi, aku dan ibu tinggal bersama nenek juga Om Farel, adik ibuku. Sebelumnya, nenek dan Om Farel tidak ada. Kami hanya tinggal bertiga. Ayah, ibu, dan aku. Aku tidak tahu nama tempatnya. Aku juga lupa siapa saja teman-teman ayah dan ibu yang begitu banyak, tidak seperti aku. Temanku cuma ada dua, ayah dan ibu. Tapi aku tak akan lupa bahwa disanalah ayah pergi, meninggalkanku juga ibu.
Di tempat itu juga aku sering mendengar ayah dan ibu berkelahi. Menurutku mereka sering musuhan karena orang musuhan itu pakai ribut-ribut dan marah-marah. Aku ketakutan melihatnya, apalagi melihat ayah. Namun saat mereka melihatku, mereka berdamai. Mereka berdua bergantian mencium dan memelukku, padahal aku tidak ingin dicium dan dipeluk saat itu.
Kadang-kadang ibu menangis waktu dimusuhi ayah, aku pun menangis jika melihat ibu menangis. Saat itu aku menangis mendekati mereka. Kemudian cepat-cepat ayah menggendong dan menciumku. Kemudian mengelap air mataku. Disusul ibu. Mereka berkawan lagi.
Hingga suatu malam mereka tidak lagi bermusuhan. Ayah pergi membawa tas besar, ia menciumku lama sekali, sebenarya aku tidak suka jika ayah menciumku karena ia punya kumis, tidak seperti ibu. Apalagai saat itu kumisnya lama meneyentuh pipiku. Rasanya kasar dan geli. Kemudian ayah juga mencium dan memeluk ibu. Ibu bukannya senang malah menangis. Tapi aku heran, kenapa ayah pergi.
Setelah itu, aku tanyai ibu, kemana ayah pergi? Ibu tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menyembunyikan matanya dan mengatakan bahwa ayah pergi mencari uang.
“Mengapa harus mencari uang Bu? Bukankah ayah banyak uangnya?”
“Benar sayang, ayah memang banyak uang. Tapi belum cukup untuk kebutuhan kita.”
“Memangnya kebutuhan kita banyak?” Ibu tersenyum dan memelukku, kemudian membawaku ke tempat tidur.
***
Sejak ayah pergi, ibu juga semakin sering mencium dan memelukku, bahkan aku sering dibawa jalan-jalan dan kata ibu lagi, aku akan dibawa menyeberangi laut yang sangat luas bersama kuda-kudaanku, lemari pakaian, tempat tidur, semua kursi tamu dan banyak lagi.
Aku heran, karena tak lama kemudian beberapa orang laki-laki dewasa mengangkat barang-barang kami menuju mobil besar. Kata orang mobil itu namanya truk. Kenapa semuanya dibawa Bu? Ibu bilang kita akan pindah ke tempat nenek. Kenapa pindah? Karena hidup di kota susah. Jika di tempat Nenek, enak. Banyak buah, banyak sayur, banyak air dan nantinya kamu pasti mendapatkan banyak teman. Aku senang mendengarnya.
Dulu di tempat nenek, ayah memanjat pohon yang tinggi sekali. Kata ayah namanya pohon kelapa. Ayah begitu berani. Aku bangga pada ayah yang pandai memanjat. Kemudian ia turun membawa tiga buah kelapa, membelahnya untuk aku, ibu dan untuk ayah sendiri. Aku menyukai isinya yang berwarna putih dan kenyal, yang kata ibu kemudian kelapa muda. Aku malu karena tak mengetahui bahwa yang sedang kami makan adalah kelapa muda, tapi ayah dan ibu tidak pernah menertawaiku.
Pernah pula ayah mengajakku menangkap ikan dengan bambu kecil dan tali senar. Banyak sekali ikan yang ia dapatkan. Aku bertambah bangga pada ayah, karena ia pandai juga menangkap ikan. Dan tentu aku senang mendengar ibu pindah ke tempat nenek. Karena di sana ibu dan ayah tidak pernah bermusuhan.
“Tapi kalau nanti kalau ayah pulang bagaimana? Apa ayah tahu kita pindah ke tempat nenek.”
“Ibu belum memberi tahu, tapi ayah akan tahu sendiri dimana pun kita berada,” Aku lebih senang lagi mendengarnya.
“Ayah memang pintar ya Bu, tanpa diberi tahu, ia tahu kita ada dimana. Aku ingin cepat besar, dan seperti ayah Bu,” kataku lagi.
Ibu diam, kemudian memelukku dan matanya berair.
“Abib, ibu tak ingin kamu seperti ayah.”
***
Nenek dan Om Farel sangat sayang padaku, meski kadang-kadang aku heran saat teman-temannya dan teman ibu bertamu, dan menanyakan ayahku? jawaban mereka tidak seperti yang dikatakan ibu padaku dulu, ayah pergi mencari uang. Aku heran, apakah ibu tidak menceritakan pada Nenek dan Om Farel bahwa ayah pergi mencari uang. Kadang-kadang aku menjawabnya sendiri. Mereka justru diam kemudian mengusap-usap kepalaku dan memelukku.
Jika ibu pergi, dan Om Farel kerja, aku selalu ditemani nenek. Nenek sering bercerita tentang banyak hal. Tentang kancil dan serigala, tentang semut dan merpati, tentang tikus dan kucing.
Siang itu, sambil duduk di kursi goyang, nenek bercerita lagi untukku, tentang induk seekor burung yang berterbangan meninggalkan anak-anaknya di sangkar karena mencari makanan. Aku tidak tahu apa itu induk, nenek bilang induk sama seperti ibu.
Lalu kemana ayah burung-burung itu Nek? Kata nenek, ayahnya juga pergi, pergi kemana saja. Apakah mereka tidak rindu dengan anaknya? tentu saja ia rindu. Setiap ayah itu pasti rindu dengan anaknya. Nanti jika rindu itu sudah tak terbendung ayah burung itu akan pulang menemui induk burung dan anak-anaknya.
Apakah ayahku juga seperti itu Nek? Nenek diam, ayahmu kan pergi mencari uang. Kali ini mengatakannya dengan benar. Aku senang, mungkin saja ibu sudah mengatakannya pada nenek.
“Apakah ayahku juga seperti ayah burung-burung itu, yang akan pulang jika rindunya sudah tidak terbendung?” Nenek diam dan matanya berair. Kemudian mencium dan memelukku, padahal saat itu aku tak ingin dipeluk.
Om Farel yang ketika kutanya ayah, ia juga menjawab dengan benar bahwa ayah pergi mencari uang dan jika uang ayah banyak, pasti aku dibelikan pakaian, mainan, makanan dan nanti akan disekolahkan oleh ayah. Wah rasanya aku ingin sekali cepat-cepat besar dan bersekolah. Karena kata Om Farel, jika sekolah aku akan menjadi anak yang pintar, seperti ayah juga ibu dan jika sudah besar aku pasti pandai memanjat dan menangkap ikan, berani pula bepergian jauh mencari uang.
“Aku ingin seperti ayah Om,” kataku padanya. “Jika nanti uangku banyak, aku akan bagikan pada Om.” Om Farel tertawa, tapi kemudian suaranya meninggi.
“Tapi Om tidak suka kalau kamu seperti Ayah.”
“Loh aku kan laki-laki Om sama seperti ayah?”
“Iya, Om lebih suka kalau kamu seperti Om. Kan enak seperti Om, kerja, punya banyak teman, Om juga bisa memanjat dan menangkap ikan, apalagi jalan kemana-kemana pakai sepeda motor Om.”
“Tapi ayahku perginya mencari uang Om, bukan jalan-jalan.”
Om Farel diam. Ia mengacak-acak poniku, menciumku dan memelukku.
***
Rasanya sudah begitu lama, ayah pergi mencari uang. Mungkin memang sulit mencari uang, hingga ayah belum juga pulang. Jika sudah besar atau seperti Om Farel, aku akan bantu ayah mencari uang. Sehingga uang itu cepat didapat dan kami akan pulang bersamaan dan menyerahkannya pada ibu untuk dibelikan makanan, pakaian, mainan dan tentu saja untuk sekolahku.
Memang sejak ayah pergi aku selalu mengingatnya. Malam itu, dalam pangkuan ibu aku masih menanyainya, “Bu kapan ayah akan pulang?” Jika aku menanyakan Ayah, Wajah ibu berubah muram. Ia tak langsung menjawab. Setelah agak lama baru terdengar suaranya, “Nanti kalau ayah sudah dapat uang yang banyak.”
“Ayah kan sudah lama pergi mencari uang, masa uangnya belum banyak-banyak Bu?”
“Mencari uang itu, juga pakai uang Sayang.”
“Aku tak mengerti Bu?”
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu tidur ya, sudah malam.”
“Apakah ayah lebih sayang sama uang dibanding sama ibu dan aku?” tanyaku lagi. Suara ibu terputus, ia memangkuku erat. Tak lama kemudian aku mendengar suara ibu bergetar. Bagai orang menangis. Ternyata benar ibu menangis. Air matanya membasahi kepalaku.
“Ibu kenapa menangis?”
Aku mengelap muka ibu yang basah. Ibu tak menjawabnya pertanyaanku. Aku mendesaknya.
“Sudahlah sayang, kamu tidur gih hari sudah malam.” Kemudian ia membelai rambutku dan menciumku berulang kali. Saat seperti itu sebenarnya aku tak ingin dicium tapi aku menurut. Dalam pelukan itu, aku masih mendengar ibu menangis.
Hingga suatu malam aku terjaga, aku tak mendapati ibu di sebelahku. Biasanya aku akan menyusul ke kamar nenek atau Om Farel dan akan tidur di sana. Namun malam itu tidak, karena aku mendengar suara ibu dan nenek di luar kamar. Suara itu mengurangi rasa takutku.
Tapi sepertinya aku mendengar suara orang menangis.
“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya Bu? Apa yang harus kukatakan jika ia bertanya lagi. Mungkin dia sudah bosan mendengar jawabanku bahwa ayahnya pergi mencari uang dan kepergian itu adalah bukti bahwa ayahnya sayang sama aku juga dia. Tapi sampai kapan hal itu akan kulakukan Bu?”
Rupanya ibu yang menangis.
“Sudahlah Ratih, yang jelas keputusanmu bercerai dengan Lukman adalah jalan yang baik. Siapa yang tahan dengan laki-laki seperti dia. Kasar dan lebih memikirkan orang lain dibanding istrinya sendiri. Ingat Ratih, Kau sering disakitinya? Apa Kau tahan hidup bersama dia, yang tidak mempunyai pekerjaan?”
Aku mendengar nama ayahku disebut nenek. Lukman.
“Sudahlah Bu, jangan diteruskan, aku bukan ingin kembali atau membahas laki-laki itu,” kata ibu lagi.
“Maksud ibu, ibu tak mau kalau kau terjerumus atau mengingat dia. Lupakan masa lalu bersama laki-laki itu. Kau sudah nyaman di sini. Mengenai Abib, jangan terlalu dipikirkan, namanya juga anak-anak, dengan sendirinya ia pun akan lupa.”
“Tapi Bu….”
“Sudahlah Ratih, kau hanya sedikit stress, pergilah tidur sudah malam, nanti Abib terbangun, tidak baik kalau dia melihat kmenangis.”
Ibu sudah berada di sampingku, ia memperbaiki selimutku, membelai dan mendekapku. Tangisan ibu semakin menjadi, tapi pelan sekali, Aku dapat merasakannya, ia menciumku, linangan air matanya membasahi wajahku. Kemudian cepat-cepat ibu mengelapnya. Aku memaksakan tidur dan berharap suatu saat ayah dan ibu tidak lagi bermusuhan.n

Yasmin Akbar, Juli 2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: