Cerpen Padang Ekspres

Juni 10, 2007

Yang Pulang

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:03 am
Tags:

Cerpen Arulkhan

“Man, kamu kenapa?”
Parman diam.
“Emak lihat sejak kemarin kamu kerjanya diam saja. Tidak seperti biasa.”
Parman masih diam.
“Seharusnya kamu itu senang Endang pulang. Kalau Emak hitung-hitung sudah dua lebaran mantuku itu tidak pulang-pulang. Wah, seperti apa ya dia sekarang? Emak yakin karena sudah punya uang pasti Endang bisa merawat dirinya; pergi ke salon dan beli baju bagus.”
“Di sana bajunya memang bagus-bagus, Man. Emak masih menyimpan baju yang diberikannya dua tahun lalu. Masih bagus sampai sekarang. Emak memang sengaja tidak memakainya, yah paling untuk menghadiri undangan pernikahan saja. Itu pun seingat Emak hanya dua kali.”
Parman mendesah pelan.
Emak tidak peduli anak sulungnya itu mendengarkan atau tidak. “Mantuku itu memang baik sekali. Kalau tidak selama musim hujan kita tidak bisa tidur nyenyak karena banyak genteng kita bocor dan dinding rumah yang bolong. Emak tidak pernah membayangkan bisa punya rumah sebagus ini. Sejak kamu belum lahir, bahkan sebetulnya sejak Emak kecil dulu, keluarga kita memang keluarga susah. Bisa makan nasi sehari sekali saja syukurnya luar biasa.”
“Sewaktu Emak menikah dengan bapakmu, kehidupan kita sebenarnya cukup lumayan. Upah bapakmu bekerja di pabrik tembakau cukup lumayan. Buktinya kamu bisa sekolah, meski cuma lulusan SD saja. Tidak seperti emak dan bapakmu yang hanya cukup baca tulis saja.”
“Sebenarnya dulu kami berencana jika lulus SMP nanti kami akan mengirimmu ke kota kecamatan. Tinggal dengan Abah Jumhana. Dia baik mau memberimu kerja menjaga toko matrialnya sekaligus menyekolahkamu ke SMA. Emak juga sudah menabung buat sekolahmu itu. Tapi, Gusti Allah punya rencana lain kepada kita. Pabrik tembakau tempat bapakmu bekerja gulung tikar; jangankan memberi pesangon, membayar gaji sebulan saja susahnya minta ampun. Huh, kalau nggak punya duit kok bikin pabrik? Kalau mau untung saja kerjanya disuruh gila-gilaan, giliran rugi eh bikin susah orang saja.”
“Tapi, bapakmu itu lelaki terhebat menurut Emak, Man. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah, dan tidak pernah merusak seperti karyawan-karyawan lainnya. Bapakmu itu malah berpikir untuk bikin usaha. Dia bilang ‘duit simpanan untuk sekolah Parman kita pakai dulu, nanti kalau berhasil duitnya diganti’. Emak kira setelah kamu lulus SD harus menunggu dulu tahun depan untuk melanjutkan sekolah, tetapi rupanya bapak punya pikiran lain.”
“Sayang …Gusti Allah lagi-lagi punya rencana untuk kita ….”
Ada keheningan yang cukup lama di ruangan itu. Meski tidak memerhatikan dengan jelas, tapi Parman tahu bahwa ada genangan air di sudut mata Emak.
Walau sudah lebih 20 tahun, tapi Parman masih ingat tragedi yang merenggut nyawa bapak. Waktu itu hari Jumat, pagi-pagi sekali bapak berencana pergi mengunjungi Abah Jumhana di kota kecamatan. Entah untuk keperluan apa, sampai sekarang Parman sendiri tidak pernah tahu, tapi menurut dugaannya hal ini berkaitan dengan masalah bapak yang sudah tidak bekerja lagi dan mungkin ada berkaitan dengan soal melanjutkan sekolahnya. Parman ingat dia juga diajak dan duduk di boncengan sepeda jengki bapak.
Tapi sebelum sampai ke kota kecamatan, sebuah truk dari melaju kencang ke arah mereka. Parman tidak ingat lagi detail peristiwa itu, yang jelas tiba-tiba saja dia sudah bangun di rumah sakit dengan kaki yang patah beberapa bagian. Parman juga samar-samar sempat mendengar ucapan dokter yang bilang soal operasi, soal uang yang jumlahnya jutaan, soal … ah, tidak jelas lagi sekarang apa yang sempat di dengarnya.
Lalu, bagaimana dengan bapak? Parman baru tahu setelah bapak sudah dimakamkan. Kecelakaan itu membuatnya tak sadarkan diri selama empat hari. Emak hanya bisa menangis dan memeluknya saat itu, hanya bisa berkata “Bapakmu, Nak. Bapakmu” tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Tapi, bagi Parman sudah cukup jelas menceritakan apa yang terjadi.
Sejak tragedi itu, segalanya berubah. Satu-satunya yang bisa diandalkan di dalam keluarga ini hanyalah Emak. Bekerja serabutan dan apa saja. Sementara Parman hanya bisa membantu ala kadarnya. Ah, bagaimana bisa bekerja di kota jika untuk berjalan pun dia harus menyeret kakinya.
“Emak sering berpikir, Gusti Allah memang punya rencana yang hebat terhadap kita, Man. Siapa sangka dia mengirimkan Endang yang bisa merubah nasib kita. Dan yang lebih penting lagi, kamu sudah jadi lelaki sejati yang memiliki istri.” Kali ini Emak menahan senyumnya.
Ya, Endang. Teman SD dan tetangganya yang tinggal di ujung jalan kampung. Sejak bapak meninggal, Emak pernah bekerja di kebun teh. Nah, setiap pergi kerja Emak selalu berangkat dengan Endang yang ikut menumpang sepeda jengki warisan bapak. Dan entah siapa yang memulai, akhirnya mereka menikah.
“Kamu harus bersyukur Man, Endang itu selain parasnya cantik juga istri yang baik. Bagaimana tidak baik, dia mau menerimamu dan menerima Emak dengan segala kekurangan kita. Dia juga giat kerja, Man, bekerja untuk keluarganya.”
Ya, seharusnya yang giat bekerja itu adalah laki-laki, bukan? Parman seringkali mau protes demikian. Tetapi, hatinya sudah terlalu biasa mendengarkan perkataan itu, walau pada awal-awalnya sempat membuatnya putus asa.
“Sampai si Endang itu menginginkan kerja ke Malaysia. Dia bilang perlu modal sepuluh juta, tapi dia juga tahu uang sebanyak itu kita nggak punya. Tapi, dasar Endang yang kemauannya kuat, ada saja usahanya mendapatkan uang sepuluh juta itu. Eh, baru sepuluh bulan di Malaysia dia sudah bisa ngirim uang yang banyak. Utangnya sudah lunas, bisa betulin rumah, bisa beli kambing, dan Emak jadi punya warung makan walau itu cuma kecil-kecilan.”
“Sebentar lagi Endang pulang. Duh, Emak kangen juga sama istrimu itu, Man. Kalau dia pulang Emak akan buatkan dia semur telur seperti yang selalu dia masak dulu. Mudah-mudahan saja dia masih suka dengan semur telur. Eh, Man, apa di Malaysia itu ada masakan semur telur nggak ya?”
Parman menghela napas. Dia menaikkan pundaknya sekali.
“Kita harus bersyukur, Man dengan kebaikan yang diberikan Endang. Apalagi kamu sebagai suaminya. Harus perbanyak ibadah kepada Gusti Allah dan sering berdoa untuk keselamatan istrimu, untuk perlindungan istrimu selama bekerja, dan untuk rezekimu diberikan istri sebaik Endang.”
Parman merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Dadanya bergemuruh.
“Kalau boleh Emak bilang, Endang itu malaikat, Man. Di kampung ini tidak pernah Emak melihat orang yang lebih baik daripada istrimu itu. Dia juga ….”
Tiba-tiba Parman bangkit. Dengan menyeret kakinya, Parman meninggalkan Wasih sendirian. Meninggalkan tanda tanya besar di benak wanita tua itu.
Wasih sungguh tidak mengerti mengapa Parman begitu tidak bahagianya menyambut kedatang sang istri. Sejak menerima surat, wanita tua itu melihat Parman lebih banyak diam dan tidak seperti orang yang sedang menyiapkan diri menyambut kedatangan orang tercinta yang sudah dua tahun pergi.
Sebenarnya tidak hanya dia saja yang melihat keanehan Parman. Beberapa tetangganya juga menyampaikan hal yang serupa. Bahkan, Wasih malah melihat begitu ributnya para tetangga mengetahui Endang akan pulang. Tidak seperti Parman yang diam seribu basa.
Wasih mengangkat pakaian yang tadi dilipatnnya. Dia berjalan pelan masuk ke dalam kamar Parman dan menuju lemari pakaian anak satu-satunya itu.
Setelah menaruh pakaian, Wasih beralih ke tempat tidur. Merapikan sprei dan selimut yang berantakan. Membetulkan letak bantal dan guling pada tempatnya. Saat mengangkat bantal itulah dia melihat sebuah amplop.
Mulanya Wasih merasa ragu dan enggan, namun rasa penasaran yang besar ditambah dengan surat itu diyakininya berasal dari Endang, Wasih pun mengambilnya.
Ada tiga lembar kertas dari dalam amplop. Cukup panjang untuk sebuah surat.
Wasih membacanya dengan teliti dan perlahan. Maklumlah, matanya sudah kurang awas untuk membaca. Malah beberapa kali Wasih harus mengangkat kertas itu agar bisa diterangi oleh sinar matahari dari sela-sela jendela.
Isi surat itu biasa.
Bertanya tentang kabar, tentang rencana keinginan pulang ke kampung, rencana untuk berusaha di kampung saja dengan modal hasil jerih payahnya bekerja dua tahun di Malaysia, tentang bayi yang baru berusia satu bulan, tentang … Hah, bayi?
Wasih menatap lekat-lekat lagi kertas di depannya itu. Berharap bila dia hanya salah membacanya. Namun, di kertas itu jelas-jelas tertulis tentang bayi yang baru berusia satu bulan.
Wanita itu langsung terduduk lemah di pinggir tempat tidur. Bibirnya bergetar. Dadanya seperti terasa nyeri.
Pikirannya langsung tertuju kepada Parman. Ah!
Ciputat, 2005-2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: