Cerpen Padang Ekspres

Juni 3, 2007

Juni Penghabisan

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:29 am
Tags:

Cerpen Elly Delfia

Juni, membiru. Fatiha terbata memahat mimpi.
“Aku ingin punya rumah yang kecil saja. Aku ingin halaman depannya ditanami aneka bunga, krisan, lili, melati, mawar, anyelir, kenanga dan bougenvill penuh warna. Kuharapkan mekarnya menambah keceriaan anak-anak kita nantinya. Aku akan menemani mereka bermain, di sana. Halaman belakang jadikan kolam ikan saja, bisa tempat memancing. Kiri dan kanan akan kutanami tumbuhan obat, kita tak perlu lagi ke apotek Ruang dalam akan kubagi dua. Satu untuk sholat satu lagi untuk perpustakaan.”
Mata Fatiha berbinar-binar. Mimpinya begitu panjang. Tak cukup dituangkan pada lembar-lembar kertas tapi pada lembar-lembar hari yang akan dilewatinya..
“Di perpustakaan kupajang dua rak. Sebelah kanan rak buku sastra dan agama, di sebelah kiri rak buku-buku sains. Aku ingin seimbangkan kedua pengetahuan itu untuk anak-anak kita.” Lanjut Fatiha.
“Mimpimu, indah. Selalu sangat indah”
“Kau setuju?”
“Ya, ya. Sangat setuju.”
“Terimakasih.”
“Kau bahagia?”
“Kenapa menanyakan kebahagiaan?”
Kau terdiam. Beku. Satu tetes bening meluncur di pipi lelakimu.
“Kau menangis? ”
“Ah, tidak. Hanya terharu ”
Lelaki. Ia selalu ingin terlihat sempurna di mata perempuan.
“Maaf, aku membuatmu sedih,” gumam Fatiha, lembut.
“Tidak apa, tapi bagaimana jika segalanya jadi berbeda?”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau semua impianmu tidak menjadi kenyataan?”
“Kenapa kau meragukannya?”
“Sudahlah. Aku hanya bercanda. ” Hiburnya dengan mata berkabut.
“Kenapa bicara seperti itu?”
“Ah, sudahlah. Aku tak mau kau sedih Aku suka mata indahmu. Aku tidak ingin melihatnya basah oleh airmata”.
“Memimpikan apa pun adalah pilihan. Aku selalu ingin membangun mimpi lebih tinggi. Dan aku hanya perlu percaya, aku akan memilikinya”
“Terserah kau. Lakukanlah apa pun yang membuatmu bahagia.”
Sungguh! Dalam hati Fatiha menjerit. Ia tidak ingin menghadirkan mendung di hati lelaki itu. Andai bisa, ia ingin mengabadikan senyum di wajah keras itu.
“Selamat tinggal. Mungkin, aku akan kembali pada Juni tahun depan. Jaga dirimu. Aku titip cinta.” Ujarnya mengecup kening Fatiha lembut.
“Jangan sampai lupa ulang tahunmu, juga ulang tahun pernikahan.” Mata Fatiha berkaca-kaca.
Itu Juni terakhir yang Fatiha ingat masih membiru.
“Aku tidak ingin menangis. Aku ingin berbangga. Aku ingin berbangga pada lelaki yang tidak menyukai rumah sepertimu. Rumah, tempat setiap orang pulang. Melepas penat. Tempat orang-orang menitipkan cinta dan mimpi, memeliharanya, merawatnya hingga subur berbunga, berbuah dan merimbun. Seperti cinta di hatiku” giris Fatiha.
***
Fatiha menunggu, meski jam waktu telah berdebu. Perempuan, di kota Fatiha terhormat. Perempuan mendapat tempat yang mulia. Perempuan memiliki kesetiaan. Dulu ketika, belum ada apa-apa di hati Fatiha. Fatiha sering berkata pada lelaki itu.
”Aku ingin hidup anjung itu. Tempat yang paling tinggi dalam istano1.“
“Kenapa?” tanya lelaki itu.
“Karena tempat itu menjaga perempuan. Di sana aku ingin hidup. Di sana aku akan melahirkan, menjaga dan mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi orang berbudi. ”
“Impianmu amat mulia. Mudah-mudahan kau mendapatkannya”
Itu sekian kenangan yang membiru di hati Fatiha.
Setelah itu, pertemuan-pertemuan menghadirkan sesuatu yang asing di antara mereka. Menyentuh. Menghanyutkan. Tepatnya, ketika daun-daun kering berguguran serupa nyanyian, lelaki itu menyempurnakannya sebagai perempuan. Istri.
Juni, membiru. Fatiha terus memahat mimpi.
Satu tahun sudah kepergian lelaki itu, ke tempat yang mengasingkannya dari kehidupan. Ia pergi menjalankan perusahaan sebagai pengawas pengeboran minyak lepas pantai, yang persediaannya makin menipis. Banyak orang tentumya akan menderita, jika persediaan minyak habis. Ia begitu berarti bagi banyak orang, meski tak semua orang mengenalnya. Lelaki itu amat mencintai pekerjaannya.
Fatiha ingin berbangga, meski ia juga ingin menangis mengingat lelaki yang tak kembali seperti janjinya.
Sepi. Daun-daun gugur.
Begitu banyak daun yang gugur di bulan Juni.
Meski Juni masih membiru.
“Apa kabarmu? Kenapa tak kembali? Sekarang sudah Juni,” gumam Fatiha pelan, sambil mencabut rumput-rumput liar yang menghalangi rumpun bunga-bunga kesayangannya untuk merintang-rintang hati.
Fatiha ingin bercerita tentang banyak hal. Ikan-ikan di kolamnya yang gemuk-gemuk dengan indah dan berkilat menyaingi mata Fatiha. Juga tentang koleksi tumbuhan obatnya yang merimbun di halaman rumah, kunyit, jahe, kencur dan kawan-kawannya. Dan tentang koleksi buku perpustakaannya yang kian hari kian bertambah. Angin menggoyangkan daun-daun kering hingga berguguran ke tanah. Pada Juni itu sang lelaki tidak kembali. Fatiha ingin bersabar.
***
Pada Juni yang kedua dari tahun kepergian sang lelaki.
“Ruang tidur dengan wangi melati membuat aku percaya, kau akan kembali.”
Begitulah lelaki bagi hati Fatiha. Melebihi aroma melati. Melebihi mekar bunga di pagi hari.
Juni kali ini tidak hanya membiru.
Tapi juga merah jambu.
Rahim Fatiha yang penuh kasih melahirkan cinta yang dititipkan sang lelaki. Pada saat itu, sungguh Fatiha sangat bahagia merasakan sakit melahirkan. Fatiha telah sempurna. Menjadi anak. Menjadi gadis belia seperti bunga. Menjadi istri yang bersetia. Kemudian menjadi ibu. Cinta, Fatiha merawatnya penuh kehati-hatian. Ia tumbuh dengan sangat lucu dan menggemaskan. Fatiha memberinya nama Elang Khatulistiwa.
“Aku ingin ia seperti elang yang mencengkeramkan kukunya di seantero negeri ini. Ia akan menjadi orang besar. Mimpiku selalu tinggi. Untuk mimpiku yang kali ini, tentunya kau juga setuju” Bisik Fatiha kembali tersenyum.
“Tidurlah, Nak. Tidurlah sayang. Sabarlah, Nak. Sabarlah sayang. Bersama kita menunggu. Ayahmu yang kembali di Juni panghabisan2. Kita akan berkumpul. Kau pasti senang bertemu ayahmu,” Fatiha menembangkan kebahagiaan bagi cintanya.
***
Pada Juni yang kesekian kalinya.
Dimana Fatiha masih menunggu dan menunggu.
Menunggu sang kekasih kembali.
Pengobat rindu yang kian menumpuk.
Angin bersinggah. Membawa kabar.
Angin kali ini sungguh tak bersahabat. Panas. Cemas. Gerah. Gamang. Menyatu di teluk jiwa.
“Aku percaya, kau pasti kembali. Aku hanya ingin meyakini hatiku.” Fatiha mengatas resah. Angin buruk melintas-lintas. Berkelebat.
Meski begitu, sesuatu yang amat menyakitkan tak mau menjauh. Gerimis turun di langit yang kelabu. Jantung Fatiha berdebar, tangannya gemetar. Fatiha menghidupkan televisi. Sesuatu memaksanya untuk terus menekan tombol-tombol remote. Tiba-tiba tangannya terhenti pada info terbaru seputar kecelakaan kapal selam! Kapal hancur, menabrak karang. Fatiha menekan off. Selebihnya sepi. Daun-daun kering berguguran. Angin berhenti. Langit bisu. Wangi melati meruak dimana-mana. Kamar tidur. Perpustakaan. Taman bunga. Kolam ikan. Halaman. Tumbuhan obat.
Fatiha ingat. Sesuatu. Ketakutannya.
“Aku. Aku tak ingin mendengar apa-apa!” teriak Fatiha.
Jeritan telepon berkali-kali, ia abaikan.
“Aku ingin percaya hatiku. Kau pasti kembali!” teriak Fatiha mengabadikan mimpi-mimpinya.
Fatiha. Perempuan. Anak. Istri. Ibu. Fatiha menunggu.
Angin. Berpetuah sembari menyinggahi daun-daun kering pada Juni panghabisan. Di juni itu tak ada yang kembali. Tak ada yang kembali.

Kuto Panjang, Juni 2006
“Kado ultah ke – 22 bagi Q.RUD ”

1. Istano : Istana Raja Pagaruyung
2. Panggabisan : terakhir

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: