Cerpen Padang Ekspres

April 1, 2007

Tujuh Rambut Ayah

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:27 am
Tags:

Cerpen Farizal Sikumbang

Hari ini hujan turun bergemuruh. Bercampur dengan suara kilat. Laki-laki duapuluhtahunan itu terlihat sedang berlari menembus hujan yang turun lebat untuk mencari sebuah tempat naungan. Tarikan tenggorokannya menandakan bahwa dia telah kelelahan. Dia butuh istirahat sebenarnya. Tapi sudah beberapa meter terlalui belum juga ditemukannya tempat pencarian itu. Tempat yang dilaluinya itu menurun dan menanjak. Membuat langkah kakinya penuh hati-hati. Apalagi hari sudah menjelang sore. Hujan yang turun seperti membawa kabut. Perlahan dia mulai berjalan. Nafasnya tersengal-sengal.
Beberapa ratus meter ke depan dia telah berada di bukit kecil dengan pohon-pohon tinggi yang menjulang. Dia merasa pohon-ohon itu seperti menjepit tubuhnya. Sedangkan hujan masih turun lebat. Sejenak dia berhenti. Menatap langit yang terhalang oleh pohon-pohon besar. Dia merasakan hujan seperti peluru yang berlari menerpa kulit. Meski tidak seperih peluru, tapi hujan lebih banyak membawakan gigil, batinnya.
Kembali dia menundukkan wajah. Menatap sekeliling. Mencari celah diantara batang-batang pohon yang tumbuh tinggi.. Dia merasakan semakin membutuhkan istirahat. Tentu hanya untuk beberapa saat. Sebab sampai esok subuh, sebelum matahari pagi ke luar dia harus meletakkan tujuh helai rambut ayahnya di atas batu besar di atas bukit sana. Bukit yang masih kabur karena ditutupi hujan lebat
Bukit yang di sana itu, dulu, beberapa hektar sering digarap kakeknya. Di tanami cabe, pala, durian dan cengkeh. Tapi sudah bertahun-tahun lamanya dibiarkan terbengkalai semenjak kakeknya telah tiada. Hingga tak terurus. Akhirnya semak-semak kembali tumbuh, membentuk rimba. Dan hari ini, dia harus ke sana. Mencari batu besar tempat kakeknya sering beristirahat dulu, lalu dia akan meletakkan tujuh helai rambut ayahnya di atas batu besar itu.
“Batu besar itu terletak di tengah-tengah ladang kakekmu. Ukurannya sebesar perahu. Warnanya hitam pekat. Ibu dulu sekali pernah melihatnya. Di atas batu besar itu kakekmu sering tidur, atau memantau ladangnya dari jarahan binatang. Batu itu memang selalu membawa keberuntungan bagi kakekmu seperti ceritannya dulu. Kakekmu bercerita dia pernah bertarung dengan seekor harimau di bawah batu besar itu. Kau tahu, harimau itu berhasil dibunuhnya. Batu besar itu menurut kakekmu telah memberinya keberanian dan kekuatan. Tidak satu ekor saja harimau yang telah dibunuhnya. Ibu harap kamu percaya. Ibu tak ingin seperti ayahmua. Tidak percaya pada kakekmu hingga dia kini kena kutuk.” begitu kata ibunya sebelum berangkat.
“Kau harus ke sana segera. Sebelum subuh tiba tugas ini harus selesai. Jika tidak ingin ayahmu terus menderita.”
Lalu dia memandang ayahnya yang terbaring di atas tikar pandan. Wajah ayahnya pucat. Kurus. Menampakkan tuang-tulang wajahnya. Dia bersedih melihat itu. Ingin dia segera berlari menuju ke bukit itu. Lalu meletakkan tujuh helai rambut ayahnya segera. Tapi,ah, dia merasa tak tega. Dia sangat takut kehilangan ayahnya.
Dia begitu sangat sayang pada ayahnya itu. Dia ingat ketika kanak-kanak ayahnya selalu membawanya pergi ke mana saja, ke pakan, mengelilingi kampung atau berburu ayam hutan. Terlebih ayah tak pernah memarahinya sampai dia dewasa.. Tapi sudah dua tahun ini dia tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Sebab ayahnya kini hanya terbaring lemah. Tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Berbicara pun sulit. Mereka tidak tahu mengapa ayahnya seperti itu.
Sudah berkali-kali dukun didatangkan. Mengusir barangkali makhluk halus menguasai ayahnya, sebab mungkin saja ayahnya tersapa sewaktu merambah semak-semak di belakang rumah, atau mana tahu ayah diguna-gunai orang. Tapi tak seoarng pun dukun kampung yang di datangkan itu mampu menyembuhkan ayahnya. Meski beberapa dukun memastikan bahwa ayahnya tersapa sewaktu merambah semak-semak di belakang rumah.
“Itulah, makanya jangan sembarang merambah semak. Semak-semak sering di huni makhluk halus. Ayahmu kena olehnya.” Begitu kata yang sama dilontarkan oleh beberapa dukun kampung.
Lalu dukun-dakun itu memberikan ramuan. Membasahi kening ayahnya dengan batang pisang muda, menggunakan bunga tujuh rupa di sertai mantra-mantra. Tapi begitulah, sampai kini ayahnya tak sembuh-sembuh juga. Dia mengutuk semua dukun-dukun itu.
Sampai kemudian ibunya bermimpi. Bermimpi di datangi oleh almarhum kakeknya. Dalam mimpi itu kakeknya menyuruh ibunya untuk meletakkan tujuh helai rambut ayahnya di atas batu besar di ladangnya itu. Kakeknya juga berujar bahwa penyakit yang di derita ayahnya itu buah dari durhakanya pada kakeknya. Mengenai durhaka ayahnya itu ibunya menjelaskan bahwa ayahnya memang selalu tak pernah menuruti kata kakeknya. Termasuk mau menggarap ladang di atas bukit itu. Kakeknya ingin ladang itu terus di garap oleh keturunannya.
“Itu artinya kau juga harus menggarapnya. Ibu harap kau mau menggarap ladang di atas bukit itu. Ibu tidak ingin terjadi apa-apa padamu,” begitu kata ibunya setelah sehari mimpi itu, sedangkan dia sendiri ragu tentang kebenaran mimpi ibunya. tapi dia sendiri tak kuasa untuk menolak anjuran ibunya agar segera meletakkan tujuh helai rambut ayahnya di atas batu besar di atas bukit itu. dengan perasaan ragu dia pergi.
Hujan mulai berhenti. Sedari tadi dia telah berteduh pada sebuah tebing di kaki bukit yang akan di tujunya itu. Hari telah memasuki senja. Dia sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanannya. Dia kembali diserang ragu akan kebenaran mimpi ibunya. Tapi setiap mengingat ayahnya itu, dia tak kuasa menolak anjuran ibunya Sesekali dia meremas-remas bajunya yang basah sambil menahan gigil..
Akhirnya dia melanjutkan perjalanannya. Meninggalkan tebing itu. Di tangannya sebuah suluh dari bambu menerangi jalannya. Beberapa kali dia terpaksa memutar-mutar arah jalanya mencari tempat yang mudah di laluinya. Dia agak sulit mencari bekas jalan yang dulu di lalui oleh kakeknya. Sebab itu sudah bertahun-tahun. Semak-semak kini telah meninggi. Bahkan jalan yang dulu dibuat kakeknya kini nyaris tak terlihat. Mengingat itu dia menyalahkan ayahnya. Malas meneruskan warisan kakeknya. Tapi, apa benar sakit ayah karena ayah durhaka? Dia membatin.
Dia mematung sejenak. Merasa ada yang ganjil dia mengangkat suluh bambu itu untuk melihat ke depan. Dia melihat dua bola mata yang bersinar. Melihat itu jantungnya berdetak kencang.
“Inyiak, beri ambo lewat. Ambo indak mengaduh inyiak,” katanya dengan nada datar.
Lalu terdengar suara mengaum. Perlahan-lahan bola mata yang bersinar itu pergi menjauh darinya. Dia merasa lega. Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia semakin hati-hati melangkahkan kakinya. Dia tidak ingin meras celaka.
“Ibu, ini perjalanan yang melelahkan, tapi demi ayah akan kulakukan apa saja,” suara itu diucapkannya sambil mencium kain putih yang tergulung di tangannya. Dia merasakan wangi kain putih itu karena di dalamnya terdapat tujuh helai rambut ayahnya. Dia juga tak mengerti mengapa harus tujuh helai rambut ayahnya, mengapa tidak delepan atau lima misalnya. Tapi dia tahu, ibunya pun tidak bisa menguraikan pertannyaan itu. Sekali lagi diciumnya kain putih yang tergulung kecil itu. Aroma wangi kembali menyerang hidungnya, juga mneyerang segala sendi tulang-tulangnya. Membuat semangat kembali tumbuh.
Tepat bulan di atas kepalanya dia telah sampai di atas bukit yang dia tuju. Nafasnya tersengal-sengal. Ladang itu kini telah ditumbuh semak-semak. Tadi dia terpaksa menebas semak-semak itu dengan parang yang di bawanya agar dia dapat berjalan leluasa. Tepat di depanya dia menemukan batu besar itu. Benar, batu besar itu tempat yang aman untuk menghindar dari binatang buas.
Dia mulai bergerak. Memanjat batu itu. Di atas batu besar itu dia dapat melihat bekas ladang kakeknya yang kini penuh semak yang sudah meninggi. Dia merasakan bulan semakin tepat di atas kepalanya.
“Ayah, akan kuletakkan tujuh helai rambutmu di atas batu besar ini agar kutuk kakek tak lagi mengikatmu,” katanya lantang. Memecah malam yang bisu.
Di keluarkannya kain putih itu dari saku celananya. Di letakkannya di atas batu besar itu. Dia merasa lega tusgasnya sudah selesai. Dia berharap ayahnya segera sembuh.Tapi, apakah bisa? Batinnya pula. Dia tidak peduli. Setelah membungkuk meletakkan kain putih itu, dia berdiri memandang langit, lalu memandang ke sekeliling pada ladang kakeknya yang kini terbengkalai.. Tapi kali ini dia sangat ragu untuk menggarap ladang itu.Tiba-tiba wajah ayahnya yang terbaring di tikar pandan menghantuinya. Dia gemetar, menggigil, tapi bukan karena dingin.
Padang 2007

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: