Cerpen Padang Ekspres

Februari 11, 2007

Ilalang Kering

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:59 am
Tags:

Cerpen Pinto Anugrah

Kabut putih. Dingin. Selimuti orang-orang. Gigil. Hening dan lamban. Hanya bunyi gemeretak rahang yang memacu. Serta tangan-tangan yang melipat di balik sarung, sembunyikan pucat. Pagi yang lamban di sebuah kampung lembah pegunungan, sebuah danau yang membatasi lembah, semua ikut beku oleh dingin.
Aku pun ikut beku. Berdiri kaku dan mematung di tepi danau. Memandang putih kabut yang berarak di permukaan danau. Tidak ada yang kelihatan—hanya dingin, beku, kabut, dan bayang-bayang—semuanya jadi satu dalam gigil. Namun, lambat-laun, mata ini mulai menangkap bayang-bayang di balik kabut, seperti siluet.
Ra kembali menemuiku. Ia berdiri di sampingku, memandang sejenak, kemudian mengalihkan matanya. Selalu seperti itu setiap kali menemuiku. Kepalanya yang selalu menekur seolah ingin menyembunyikan raut wajahnya. Aku seperti dipaksa menerka, mencari di kedalaman wajah yang ia surukkan.
“Kelam! Apa di sini tidak ada pijar.”
Suaranya memecah keheningan. Namun, kali ini, aku yang memilih hening. Ra kemudian menatapku. Mengerutkan keningnya yang cadas. Ia mencari kedalaman wajahku.
“Apa kau akan seperti ini terus. Berilah penjelasan. Aku hanya butuh kejelasan.”
Ia diam sejenak, kemudian beranjak, melangkah menuju pintu. Dan aku hanya bisa menatap punggungnya yang sedikit bungkuk, untuk terakhir kalinya.
Hari semakin naik. Biduk-biduk yang awalnya merapat di bibir danau mulai bergerak ke tengah. Lamban. Menyibak kabut yang berarak ditiup angin. Entah menuju ke mana biduk-biduk itu. Empunya seperti tidak pasti mengayunkan dayung itu. Mungkin saja mereka akan menangkap ikan di tengah danau atau mungkin mereka akan terus mendayung ke kampung seberang.
Kampung seberang danau, aku jadi ingat ceritanya. Diceritakan oleh seorang tua di kedai tuak tadi malam, di tengah gigilnya. Katanya, di kampung seberang danau ada sebuah padang ilalang, di sebuah bukit kecil di pinggir danau. Karena letaknya ketinggian sehingga dapat melihat keseluruhan dan sekitar danau. Sangat indah dan tempat yang tenang.
Ia bercerita sambil menerawang. Seolah ia sedang mengingat masa mudanya. Perlahan dan lamban ia terus bercerita, mengalir seperti membuka lembaran-lembaran kisahnya yang pernah ia lalui di padang ilalang itu.
Akan tetapi, aku tidak bisa begitu saja percaya dengan cerita orang tua itu. Ia bercerita dalam keadaan setengah mabuk. Nira hitam telah mengisi setiap persendian dan ruang kosong tubuhnya.
Tentu saja aku harus membuktikan kebenaran cerita itu. Aku belum pernah ke kampung seberang danau, sedangkan di kampung ini keberadaanku baru satu minggu. Waktu satu minggu tidaklah cukup untuk mengenal tiap lekuk dan sudut kampung ini.
Aku tidak menyesali kepergian Ra, begitu juga keberangkatanku ke kampung ini. Inilah ketidakberdayaanku sebagai seorang lelaki. Keputusannya untuk pergi harus kurelakan. Aku tidak dapat menahannya untuk tetap di sini, namun inilah yang dapat kuberikan—membiarkannya pergi demi kebahagiaannya.
Sejak itu, aku pun memilih pergi dari kota tempat segalanya tumbuh. Namun, kepergianku ini untuk memotong segala yang tumbuh itu. Menghapus Ra dalam diriku.
Aku memilih kampung ini, kampung asalku. Tempat almarhum Nenek. Aku mendiami rumah nenek yang telah kosong. Tapi baru kali inilah aku ke sini, mengurut jejak itu kembali. Sebelumnya memang orangtuaku sering bercerita tentang kampung ini. Menceritakan dinginnya, kabutnya, pegunungannya, dan danaunya. Namun, baru kali inilah aku benar-benar mengenal kampung ini.
Biduk itu merapat tepat di depanku. Siap untuk mengantarkanku ke kampung seberang danau. Aku berpegangan ke dua sisi biduk yang mulai perlahan ke tengah. Lamban, menyibak danau. Air danau yang semula tenang, memecah seolah memberi jalan.
Angin lembah mulai terasa. Aku tambah menggigil dan semakin merapatkan kedua tangan ke tubuh. Sedangkan nelayan empunya biduk itu seolah sudah terbiasa. Ia hanya memakai selapis baju yang dibalut sebuah sarung.
Kampung seberang danau semakin dekat. Bukit di mana padang ilalang itu berada sudah dapat terlihat dengan jelas. Entah mengapa, tiba-tiba keinginan untuk melihat padang ilalang itu begitu kuat. Padang ilalang itu memangil-manggil dan terus memanggil. Aku melihat Ra berdiri di tebing yang menghadap danau, melambaikan tangan kanannya ke arahku dan tangan kirinya menggenggam seikat ilalang yang melambai.
Bayangan itu kembali hadir. Bayangan Ra.
Hamparan padang ilalang. Ilalang-ilalang itu bergoyang ditiup angin. Menari bersama angin. Angin terus menyibak. Bunga-bunga ilalang ikut tersibak, terbawa angin. Berlari di udara ke sana-kemari. Capung-capung yang hinggap di ujung ilalang ikut terbawa angin, berusaha mengepakkan sayapnya yang tipis.
Aku duduk di ujung padang ilalang itu, di tebing yang menghadap ke danau. Betul, apa yang dikatakan orang tua setengah mabuk itu. Sungguh indah dan nyaman, yang dapat melupakan gigilku.
Ra, perempuan yang menemaniku selama tiga tahun. Kami hampir saja meresmikan hubungan ini dengan ikatan perkawinan. Namun, ternyata hubungan itu tidak dapat dipertahankan. Bukan karena Ra, tapi karena diriku sendiri. Aku tidak dapat mempertahankannya—untuk kebahagiaannya.
Lamunanku pecah, seiring pecahnya kabut dihempas angin. Tawa itu, gelak tawa yang kudengar, aku seperti mengenalnya.
Di belakangku, tanpa kusadari, beberapa orang perempuan berlari di antara ilalang-ilalang itu. Mereka berlari, bermain dengan riangnya. Mengikuti irama angin, mengikuti tarian ilalang itu. Riang.
Mereka terus berlari berkejar-kejaran, sambil memetik bunga-bunga ilalang—berebutan. Bunga-bunga ilalang yang mereka dapat itu kemudian diikat dan diletakkan di sebuah keranjang yang terikat di pinggang mereka.
Tiba-tiba seseorang dari mereka berlari ke arahku. “Belilah bunga ilalang kering ini, Uda.”
Ia menyodorkan seikat bunga ilalang kering ke depanku. Namun, suara itu, wajah itu, tubuh itu.
“Ra?”
“Hanya lima ribu seikat.”
“Ra!”
“Uda mengenalku?”
“Ra!”
“Namaku Uli!”
“Ra!”
***
Bayangan wajah perempuan itu terus hadir. Sejak di padang ilalang itu, bayangan itu terus mengusik. Bayangan itu silih berganti antara Ra dan perempuan itu. Entah kenapa, perempuan itu kembali mengingatkanku pada Ra. Padahal kalau diperhatikan benar, perempuan itu sama sekali tidak mirip dengan Ra.
Namun, saat aku melihatnya, aku seperti melihat Ra. Perempuan itu, ada Ra di baliknya, ada Ra dalam dirinya.
Sejak itu, aku sering pergi ke padang ilalang itu. Menunggu perempuan itu datang memetik bunga-bunga ilalang. Melihatnya berlari dengan riang, bermain dengan perempuan-perempuan pemetik bunga ilalang lainnya. Kemudian menjualnya kepada orang-orang yang datang ke tempat itu.
Aku baru tahu, ternyata tempat itu juga banyak dikunjungi oleh turis. Tidak hanya turis lokal, tetapi juga turis dari luar. Tempat itu sangat indah dan nyaman untuk memandangi alam lembah dan danau itu.
Aku hanya memandangi perempuan itu dari jauh. Memperhatikan tiap geraknya, tiap tawanya. Untuk mendekatinya, aku tidak mampu. Gigil itu tiba-tiba semakin menjadi tiap matanya bersitatap dengan mataku. Ia hanya tersenyum, kemudian kembali memetik bunga-bunga ilalang itu.
Setelah dapat memandangnya sejenak aku pun akan pergi. Mencoba meninggalkan semuanya di padang ilalang itu—meninggalkan gigil. Kembali berbiduk ke kampung di seberang danau.
* * *
Aku kembali menatapnya di padang ilalang itu. Namun, kali ini aku berusaha mendekatinya. Melihat perempuan itu memetik bunga-bunga ilalang dari dekat. Entah kenapa, tiba-tiba, aku begitu ingin mengenalnya, bicara dengannya.
Namun, gigil itu makin menjadi, apalagi saat ia mendekat membawa beberapa ikat bunga ilalangnya kepadaku.
“Bunga ilalang, Uda.”
“Untuk apa bunga ilalang ini?”
“Bunga ilalang ini adalah ciri khas tempat ini, Uda. Hanya di tempat ini bunga-bunga ilalang tumbuh. Banyak turis berkunjung ke sini membeli bunga ilalang ini sebagai pertanda bahwa ia pernah ke tempat ini. Selain itu bunga ini juga cocok dipajang di dinding rumah, Uda.”
“Tapi aku bukan turis. Aku penduduk kampung seberang danau.”
“Orang seberang danau? Rasanya aku tidak mengenal, Uda?”
“Ya, aku baru pindah ke sini.”
“Dari kota?”
“Ya.”
“Pantas, orang kota umumnya memang tidak mengenal bunga ilalang ini. Umumnya mereka menganggap bunga ilalang ini hanya seonggok tumbuhan liar yang tidak ada gunanya dan maknanya.”
“Siapa namamu?”
“Uli!”
“Ra?”
“Namaku Uli, Uda!”
“Maaf!”
“Tidak apa. Ini buat Uda, ilalang kering! Sebagai tanda perkenalan kita.”
“Ilalang kering?”
“Ya, ilalang kering. Orang-orang menamakannya begitu.”
Kemudian ia pamit, pergi, kembali bergabung dengan kawan-kawannya sesama pemetik bunga ilalang. Sejak itu, aku semakin mengenalnya. Aku selalu bertemu dengannya, tidak hanya di padang ilalang itu.
Sejak kedekatanku dengannya, entah kenapa, bayangan Ra seperti hilang dalam diriku. Aku pun tidak lagi melihat Ra ada dalam diri Uli. Walau gigil itu masih ada—gigil tentang Ra dan tentang semuanya.
***
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Kedai tuak yang biasa aku datangi malam-malam, juga tutup. Lalu kakiku, melangkah dengan sendirinya menuju ke arah danau. Biduk itu kudayung sendiri, menuju kampung sebelah, menuju padang ilalang.
Di tengah gigil malam. Malam yang berkabut. Padang ilalang yang berkabut. Ra kembali hadir dalam diriku, ia terus menari seperti ilalang yang menari ditingkahi angin.
“Aku tahu ini sulit, Ra! Tapi…”
“Tapi apa, dengan menyembunyikannya kepadaku?”
“Tidak, tidak! Aku hanya belum sanggup.”
“Belum sanggup kehilanganku? Kau tahu bagaimana rasanya dibohongi?”
“Aku bukan bohong, Ra! Namun aku belum bisa menerima kenyataan yang terjadi pada diriku. Aku tahu kau kecewa, aku tahu kau tidak bisa menerimanya, aku tahu, Ra! Sekarang jika kau ingin pergi, pergi dariku, pergilah, Ra! Aku rela. Aku bahagia. Dan aku tidak menyesalkannya. Aku dapat menerimanya.”
Angin malam semakin kencang. Bayangan Ra semakin menari di kepalaku. Namun, tiba-tiba, mataku langsung menuju ke tengah padang ilalang itu, di antara ilalang-ilalang itu. Suara itu, desahan itu, tawa itu, Ra. Ra. Tidak, tidak.
Ada orang di antara ilalang itu. Perempuan itu. Namun, sepertinya ia tidak sendiri. Perempuan itu bersama seseorang. Desahan itu. Aku mengendap di antara ilalang-ilalang. Benarkah, perempuan itu, bersama seorang lelaki. Mereka saling berpacu, mereka saling menindih.
Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Benar, perempuan itu. Namun, kenapa tiba-tiba Ra yang kulihat. Suara itu, desahan itu, mata itu, wajah itu, tubuh itu, itu Ra. Tidak, perempuan itu. Uli, itu Uli. Tidak, Ra. Dan lelaki itu, lelaki itu bukan aku. Ia lelaki lain, bukankah orang tua yang selalu mabuk di kedai tuak? Lelaki itu. Dan aku.
Ah, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya dapat melihatnya. Aku tidak dapat merasakannya. Ra. Uli. Aku hanya lelaki tanpa mempunyai kelelakianku. Aku lelaki yang bagian terpenting dalam kelelakianku hanya ilalang kering. Ya, ilalang kering.
Padang, 0606-09

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: