Cerpen Padang Ekspres

Februari 4, 2007

Revolver

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:18 am
Tags:

Cerpen M.Daniel Ilyas

Letnan Gendut dan anak buahnya walaupun telah lama menjadi tentara, tetap saja memiliki perasaan takut tertangkap dan tertembak pasukan APRI. Dalam situasi tertekan dan diburu-buru, mereka mulai meragukan laporan para intel mereka dan memilih mempercayai ramalan ayahku.
Kabut pagi masih menyelimuti desa saat desingan peluru mortir pertama melintas diikuti gelegar ledakan. Kicau burung dan kokok ayam yang semula riuh, membungkam sepi. Tembakan pertama disusul tembakan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya sampai aku keliru menghitungnya. Penduduk yang telah berangkat kesawah dan keladang, anak-anak yang telah sampai disekolah berlarian mencari tempat perlindungan atau pulang kerumah masing-masing.
Aku bersama teman-temanku dan beberapa laki-laki lain bersembunyi di tepian danau yang tertutup deretan pohon kelapa dan bambu Aur. Dari tempat itu kami dapat melihat air danau menyembur ke atas dihunjam peluru mortir. Sebahagian besar peluru-peluru mortir itu jatuh di tengah sawah dan guguk yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan. Di antara kami tidak seorang pun yang berbicara. Kalaupun ada, mereka melakukannya dengan bisik-bisik. Tidak ada yang berani merokok.
Menjelang tengah hari tembakan mortir berhenti sama-sekali, berganti dengan suara gemuruh iring-iringan konvoi yang sedang bergerak perlahan keutara melintasi jalan raya yang membentang ditengah sawah. Kami dapat melihat tentara yang sedang bersiaga melayani senapan mesin di atas panser, serta anggota pasukan berdiri berjejer di atas truk terbuka memegang senjata siap tembak.
Kami kini tahu bahwa desa kami telah diduduki APRI. Semula penduduk percaya, APRI tidak akan menduduki desa kami kerena letaknya yang tidak menguntungkan dari strategi militer. Desa kami dan sembilan desa tetangga terletak di tepian danau, diapit oleh bukit yang curam. Kalau terjadi penyerangan terhadap pasukan yang menduduki desa kami, mereka akan sulit bertahan. Untuk mendatangkan bala-bantuan dari kota jaraknya, terlalu jauh. Selama terjadi pemberontakan telah dua kali APRI melancarkan operasi ke desa kami, namun mereka tidak menetap. Hari itu juga mereka kembali ke kota.
Sejak enam bulan yang lalu, sudah muncul desas-desus bahwa APRI akan segera mengusir pemberontak dari desa kami. Berita itu semakin santer setelah pasukan pemberontak yang berpos di desa kami pergi entah kemana. Hanya pada malam hari mereka mengadakan patroli dalam jumlah kecil, tidak lebih dari satu regu. Pada siang hari memang ada dua sampai tiga orang tentara pemberontak berpakaian preman yang melintas. Kadang-kadang mereka singgah makan di lepau nasi.
Dari arah kampung terdengar suara seseorang berteriak-teriak memberitahukan bahwa situasi sudah aman. Semua penduduk laki-laki dan perempuan dewasa diperintahkan berkumpul di balai desa. Rombongan kami pun segera berangkat menuju balai desa disertai perasaan was-was dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi Jalan raya yang melewati kampung dipenuhi deretan panser dan truk yang sedang diparkir. Anggota pasukan APRI berpakaian loreng-loreng duduk santai di rerumputan dan pagar tembok sambil mendengarkan lagu-lagu yang disiarkan melalui radio transistor..
Penduduk desa berjubel memenuhi halaman balai desa. Di tengah kerumunan itu, kulihat Kamarulzaman, bekas teman sekolahku di SMP sedang berpidato di depan pintu masuk balai desa. Kamarulzaman mengenakan seragam tentara lengkap dengan topi baja dan sepatu lars. Di pinggangnya terselip sepucuk pistol. Popor pistol itu dari logam hitam kebiruan berkilau kena sinar. Semua yang hadir tidak ada yang bersuara sehingga pidato Kamarulzaman dapat terdengar jelas walaupun tidak dibantu dengan mikrpfon.
“Bapak-bapak, ninik-mamak dan alim-ulama, cerdik-pandai, serta para pemudanya. Pada hari ini APRI telah membebaskan desa kita dari cengkeraman pemberontak. Untuk kelancaran pemerintahan, pemerintah pusat telah menunjuk Camat, Kapolsek, Komandan Buterpra1) dan kepala Nagari yang baru. Saya, sebagai Kepala Nagari yang baru mengajak kita semua bersama-sama menjaga keamanan, kerena hanya dalam suasana aman kita bisa membangun desa yang kita cintai ini. Pada kesempatan ini saya menghimbau, bapak-bapak, ibu-ibu supaya mencegah anak-anak dan kemenakannya yang masih berada dihutan melakukan pemyerangan kedesa kita, kerena akibatnya rakyat kita juga yang sengsara. Kepada adik-adik kami yang masih ikut memberontak supaya sadar dan kembali kepangkuan RI. Apabila adik-adik bersedia menyerah dengan baik-baik APRI akan menjamin keselamatan kalian. Sebaliknya, terhadap pemberontak yang masih membangkang, APRI tidak segan-segan bertindak keras. Sekarang, bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian saya persilahkan pulang ke rumah masing-masing dengan tenang menunggu instruksi selanjutnya. Sekian dan terima kasih.” Selesai berpidato Kamarulzaman buru-buru masuk ke kamar kerjanya diikuti beberapa orang pemuka desa. Sebelum penduduk bubaran, juru-tulis Kepala Nagari membacakan pemberitahuan dari Buterpra bahwa, mulai nanti malam diberlakukan jam malam dari pukul sembilan sampai lima pagi. Dari bisik-bisik yang dapat kutangkap, seorang jaksa dan tentara pemberontak berpangkat sersan mayor yang tertangkap pasukan APRI lansung dieksekusi.
***
Sampai di rumah kudapati ayah duduk kebingungan di ruang tengah. Belum pernah aku melihat ayah semurung itu. Selama ini ayah dikenal sebagai seorang yang suka bercanda dan selalu gembira. Di atas meja di depan ayah tergeletak sepucuk revolver tanpa sarung dan enam pelurunya dalam kotak rokok. Ibu memeluk kedua adikku yang masih duduk dibangku Sekolah Rakyat. Jelas sekali ibu baru saja menangis.
Sebelum aku bertanya, ayah lebih dulu memberikan pejelasan, “Ayah tidak tahu apa yang akan ayah perbuat dengan revolver ini. Kalau ayah serahkan, ayah pasti ditangkap. Tetapi, kalau ayah sembunyikan pasti ada orang yang melaporkan kepada APRI. Itu lebih berbahaya, ayah tidak hanya ditangkap tetapi bisa juga ditembak” Dalam usia ayah yang telah lima puluh sembilan tahun, ayah saat itu tampak lebih tua dari umurnya.
Waktu aku pertama kali tahu ayah diberi sebuah revolver oleh Letnan Gendut, seorang tentara pemberontak, aku telah meminta ayah mengembalikan senjata itu, kerena ayah bukan seorang tentara atau intel. Pada waktu perang kemerdekaan ayah tidak pernah memiliki senjata api, paling-paling bambu runcing yang dipergunakan ayah sebagai senjata pada waktu giliran ronda malam. Kujelaskan kepada ayah, dalam suasana perang seperti sekarang ini, pihak-pihak yang berperang sah-sah saja menembak orang bersenjata yang dianggap sebagai lawan. Tetapi, ayah tidak memperdulikan permintaanku. Bahkan dengan bangga ayah memamerkan revolver itu kepada setiap orang dengan menyelipkannya di pinggang. Dengan sengaja ayah membiarkan kancing jasnya terbuka, sehingga popor revolver itu bisa terlihat jelas. Kini, melapetaka itu telah berada di depan mata. Bagi APRI ayah adalah orang yang berbahaya kerena memiliki senjata api. Aku berani bertaruh bahwa ayah tidak tahu cara menggunakan revolver itu apalagi menembak tepat sasaran. Aku juga meragukan, apakah revolver itu masih bisa bekerja dengan baik atau mungkin saja sudah rusak dan afkir sama sekali. Kami sekeluarga hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan terjadi.
Pada malam hari suasana desa terasa mencekam dan sunyi. Tidak ada teriakan anak muda yang lalu lalang. Sesekali terdengar rentetan tembakan di kejauhan. Di tengah keheningan itu kami mendengar suara sepatu menginjak kerikil halaman disusul ketukan pintu. Peristiwa yang kami takutkan itu telah menjadi kenyataan. Dengan tangan gemetar ayah membukakan pintu. Tiga orang tentara berpakaian hijau-hijau bersenjata sten dan pistol berdiri di halaman. Mereka diantar dua orang petugas ronda. Setelah memberi salam, salah seorang di antara mereka masuk ke rumah. Ayah mempersilahkannya duduk.
“Kami mendapat laporan bahwa bapak memiliki sepucuk revolver?” Tentara itu membuka pembicaraan.
“Betul Pak,” sahut ayah dengan nada pasrah. Ayah langsung mengambil revolver dan pelurunya dari dalam lemari dan menyerahkannya kepada tentara itu. Setelah menerima senjata itu, ayah diperintahkan ikut bersama mereka. Keinginanku untuk menyertai ayah ditolak mereka dengan bentakan. Kami hanya bisa memandang dari depan pintu, ayah berjalan di depan rumah kami dikawal tiga orang tentara. Ibu dan kedua adikku tidak berhasil kubujuk supaya berhenti menangis. Mungkin kerena kelelahan, kedua adikku akhirnya tertidur. Kepada ibu kukatakan, “Ayah pasti dibebaskan kerena ayah tidak bersalah. Ayah orang baik, tidak pernah bermasalah dengan siapa pun. Mereka hanya memerlukan keterangan dari ayah tentang asal-usul pistol itu. Tidak mungkin ayah dipenjara, apalagi ditembak.” Aku berusaha menghibur ibu. Aku sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang kukatakan. Hanya saja aku berusaha untuk menyembunyikan kecemasanku. Menjelang tengah malam baru ibu dan aku tertidur
.* * *
Pagi-pagi sekali aku dan ibu telah tiba di balai desa untuk menghadap Kepala Nagari. Kami harus menunggu berjam-jam, kerena pagi itu Kepala Nagari telah berangkat kekecamatan untuk menghadiri rapat dengan Camat, Kapolsek, dan Komandan Buterpra.. Orang lain pun banyak yang menunggu. Aku tidak tahu apa keperluan mereka. Setelah Zuhur barulah kami dapat bertemu langsung dengan kepala Nagari. Kamarulzaman tersenyum ketika kami salami. Aku merasa lega. Secercah harapan berkelabat, Kamarulzaman akan membantu kami membebaskan ayah.
“Sudah lama juga kita tidak berjumpa. Saya kira sudah hampir lima tahun.” Kamarulzaman memulai pembicaraan. ”Waktu APRI mendarat di Padang saya berhasil masuk kota. Sejak itu saya dipersiapkan menjadi Kepala Nagari.”
“Betul sejak kita berpisah setelah tamat SMP.” Aku menimpali. Kamarulzaman mengangguk-angguk mengingat-iangat masa lalu itu. Waktu hendak mengikuti ujian akhir SMP, malam hari kami belajar bersama di rumahku. Sementara aku sibuk menghapal pelajaran, Kamarulzaman asyik membaca buku tentang Sosialisme Indonesia.. Mengetahui aku senang membaca buku sastra, Kamarulzaman meminjami aku buku Ibunda karangan Maxim Gorky.
“Saya dengar begitu tamat SMP kamu lansung bekerja di RRI Bukittinggi?”
“Betul, Pak Kamar. Setelah pemancar RRI Bukittingggi dan Padang dibom pesawat AURI, pemancar dan peralatan teknik diungsikan keluar kota. Pegawai bagian administrasi termasuk saya dinon-aktifkan dan diizinkan pulang kekampung halaman masing-masing sambil menunggu perkembangan selanjutnya.
“Sebaiknya sudara cepat-cepat melapor ke kantor Camat untuk bisa bekerja kembali” Usul Kamarulzaman.
“Saya akan mengurus secepatnya.” Sahutku. Ibu kelihatan gelisah menunggu pembicaraan kami sampai pada pokok masalah. Untunglah Kamarulzaman lansung bertanya, “Saudara tentu ada keperluan bertemu dengan saya. Apa yang bisa saya bantu?”
“Ayah saya ditahan di Buterpra.”
“Sejak kapan?”
“Tadi malam, tiga orang tentara menjemput ayah saya ke rumah dan mrmbawanya ke Markas Buterpra.”
“Mengapa mamak sampai ditahan? Setahuku mamak bukan tentara.”
“Ayah saya memiliki sepucuk revolver pemberian Letnan Gendut.” Kamarulzaman terkejut mendengar penjelasanku.
“Tolong saudara jelaskan untuk apa Letnan Gendut memberi ayah saudara
revolver.”
Lalu kuceritakan bahwa ayahku memiliki keterampilan meramal peristiwa yang akan terjadi. Caranya simpel sekali.. Ayah mengolesi siku bagian dalam pergelangan tangan kirinya dengan sadah2) Kemudian ayah membaca mantra dan meniup olesan sadah sebanyak tiga kali. Setelah itu ayah menjengkali olesan sadah itu dengan jari tangan kanan ayah. Bila jengkalan ayah selalu jatuh pada olesan sadah berarti jawabannya “ya” Tetapi apabila ujung telunjuk ayah melewati ujung jari tengah tangan kiri berarti jawabannya “tidak”.Dengan cara seperti itu ayah memberi jawaban kepada setiap pertanyaan Letnan Gendut, apakah APRI besok pagi masuk atau tidak. Setahuku hampir semua ramalan ayah meleset. Kalaupun ada yang benar hanyalah kebetulan. Akupun tidak tahu, apakah ayah sendiri percaya dengan ramalan itu. Pernah aku wanti-wanti supaya ayah tidak lagi meramalkan apakah APRI akan masuk ke desa kami atau tidak. Hal itu membahayakan keselamatan ayah sendiri. Seandainya ayah meramalkan APRI besok tidak masuk, ternyata APRI masuk, ayah bisa dituduh menjebak tentara pemberontak. Namun ayah masih tetap saja melayani permintaan Pak Gendut dan anak-buahnya yang datang malam-malam ke rumah kami. Kata ayah, Pak Gendut memaksanya di samping memberikan sedikit uang sebagai tanda terima kasih kepada ayah.
Selesai mendengar ceritaku, Kamarulzaman berujar; “Jadi Letnan Gendut memberi ayah saudara revolver, kerena ayah saudara bisa meramal. Tapi, untuk apa senjata itu?” Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Kamarulzaman melanjutkan, “Baiklah, saya akan menulis surat kepada Komandan Buterpra supaya mamak dibebaskan.” Kamarulzaman mengambil secarik kertas, menulis surat, kemudian memasukkan surat itu ke dalam amplop dan mengelemnya. Sementara aku dan ibu menunggu dengan penuh harapan surat itu benar-benar sakti. Kamarulzaman lansung menyerahkan surat itu kepadaku. Sambil mengantarkan kami ke pintu keluar, Kamarulzaman berkata pada ibuku, “Etek tidak usah cemas. Mamak pasti dibebaskan. Saya tahu mamak orang baik-baik.” Ibu hanya bisa mengucapkan terima kasih.
Kami buru-buru berangkat naik bendi ke Markas Buterpra di ibu Kecamtan. Sampai di sana surat Kamarulzaman kuserahkan kepada petugas piket. Setelah agak lama menunggu aku disuruh masuk. Aku merasa bahagia sekali melihat muka ayah kembali ceria setelah dibebaskan, walaupun setiap hari Selasa harus lapor ke Markas Buterpra. Paling melegakan aku, ayah berjanji akan bertaubat tidak lagi membuka praktek ramal-meramal.. Ayah sadar pekerjaan itu termasuk syirik, kekal dalam neraka.
Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah membebaskan ayahku dari tahanan dan menganugrahi aku seorang sahabat disaat menghadapi kekalutan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: