Cerpen Padang Ekspres

Januari 7, 2007

Gulai Paku Mak Nun

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:13 am
Tags:

Cerpen Afri Meldam

Menjelang sore, hujan tak juga reda. Mak Nun yang memang sedari pagi menunggu titik-titik air itu berhenti, tampak sedikit sendu. Namun, toh ia kemudian nekat juga: berjalan dalam hujan dengan hanya bermodalkan sebuah tuduang mbio, menyusuri bantaran sungai Batang Tato, untuk memetik paku gajah yang tumbuh subur di sana.
Ya, besok Hari Raya Haji. Sudah beberapa tahun belakangan ini Mak Nun hanya merayakan Hari Raya Qurban itu sendirian. Dan, malam tadi ia bermimpi bahwa Hari Raya Haji tahun ini Mahmud – anak satu-satunya yang ia miliki– pulang dengan anak dan istrinya, dan mereka sholat Ied bersama-sama di Surau Melayu. Mak Nun begitu yakin bahwa mimpi itu bukanlah sembarang mimpi. Ini firasat, ujarnya bahagia begitu ia terbangun di pagi itu.
Mimpi itu pulalah yang membuatnya nekat memetik paku hujan-hujan begini. Mahmud, anaknya itu, memang sangat menyukai gulai paku, apalagi gulai paku bikinan Mak Nun, yang memang lezat. Mak Nun yakin, setelah lama di rantau orang, Mahmud tentu sudah sangat taragak ingin mencicipi gulai paku kesukaannya itu. Dalam pikiran tuanya, di kota tentu sulit mendapatkan paku seperti di kampung, apalagi paku gajah. Kalaupun ada, pasti tak seenak paku gajah yang tumbuh di bantaran sungai Batang Tato ini.
Mak Nun terkenang masa ketika Makmud kecil dulu. Anaknya itu sungguh membuatnya bangga. Tak seperti anak kebanyakan, dalam soal makanan, Mahmud tak pernah memilih-milih. Apa saja samba yang dibuat Mak Nun, bocah itu pasti menyukainya, dan ia akan makan dengan lahap. Apalagi ketika Mak Nun membuat gulai paku gajah. Wah, sudah bisa dipastikan decapnya akan berserakan saking menikmati gulai itu.
Menjelang bedug Maghrib berbunyi, Mak Nun sudah tiba kembali di pondoknya. Tiga ikat besar paku gajah muda yang berhasil ia kumpulkan tadi, ia rendam dalam baskom agar tetap segar sebelum ia menggulainya nanti malam. Mak Nun pun telah membeli beberapa ekor lawuak mosiak Lisun yang akan dicampurnya dengan sambalado durian, sebagai teman makan gulai paku nantinya. Dua-duanya adalah menu favorit Mahmud.
“Ah, Mahmud pasti tak kan tahan melihat cawan berisi gulai paku dan sambalado durian itu terhidang di depannya. Ia akan menitikkan liur begitu membaui aroma gulai paku itu. Dan sudah dapat kubayangkan betapa lahapnya ia makan nanti, pasti berdecap-decap seperti bapaknya. Akan kubuat gulai paku itu lomak-lomak. Dua butir kelapa dan dua sendok asam durian akan membuat gulai paku itu tambah enak!”
Mak Nun bergumam, sebelum ia berjalan ke ujuang, menutupi semua pintu. Hari telah gelap. Adzan Maghrib berkumandang. Mungkin Mahmud tiba nanti malam atau esok subuh, bathin Mak Nun.
***
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemaren Mak Nun terisak haru, memegang kepala Mahmud ketika anak laki-lakinya itu tak kuasa lagi ia tahan untuk tidak pergi merantau.
“Mak jangan menangis. Aku akan baik-baik saja. Mak tak usah cemas. Aku akan selalu berkirim kabar untuk Mak…,” ujar Mahmud sambil mencium tangan tua Mak Nun.
Mak Nun hanya diam. Matanya berkaca-kaca. Kentara sekali bahwa ia tak sanggup melepas kepergian anaknya itu.
“Apa salahnya kalau kau tetap di kampung bersama Mak? Kita punya ladang dan sawah yang bisa kau garap. Mak sudah tua, Nak. Mungkin besok atau lusa malaikat maut datang menjemput Mak…”
Dan tangisnya pun pecah di subuh itu.
“Mak…Mak jangan bicara seperti itu. Aku pergi bukan untuk selama-lamanya. Aku akan kembali… Sebagai laki-laki, aku ingin membahagiakan Mak, membelikan baju baru untuk Mak, memberangkatkan Mak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, membuatkan rumah yang lebih layak, dan…”
“Bukan itu yang kuharapkan! Bukan! Apalah artinya seorang Ibu kalau anaknya tak ada di sampingnya, menemaninya. Setelah bapakmu meninggal, hanya kaulah satu-satunya yang masih aku miliki, Mud. Hanya kau…” rintih Mak Nun dalam isak yang kian menderas.
“Tapi Mak…Tekadku sudah bulat untuk pergi merantau…Aku ingin mencoba mengadu nasib di rantau orang. Siapa tahu nasibku mujur. Tentu aku akan bisa mengubah nasib keluarga kita ini, Mak…Izinkanlah aku pergi”
Mak Nun tak bisa menjawab. Bus yang akan membawa Mahmud ke kota, tiba. Mak Nun mengusap airmatanya, mencoba tabah. Walau erat, ia akhirnya melepas kepergian anak semata wayangnya itu untuk merantau.
Mak Nun sadar, sebagai seorang laki-laki Mahmud tentu tak kan betah terus tinggal di kampung, sementara teman-teman sebayanya semuanya sudah pergi merantau. Dengan kepergian Mahmud, setidaknya Mak Nun sudah belajar untuk ditinggalkan, jika kelak Mahmud beristri. Ya, adat telah membuat laki-laki menjadi milik orang lain. Laki-laki bukan lagi milik keluarganya ketika ia menjadi sumando di rumah orang. Ya, aku harus belajar, pikir Mak Nun mencoba menenangkan hatinya.
Malam itulah terakhir kalinya Mak Nun makan gulai paku bersama-sama dengan Mahmud.
***
Mahmud memang tak meninggalkannya sendirian. Sebelum pergi, anaknya itu telah meminta Hindun, anak Ngah Mincin, yang masih bertalian darah dengan mereka, untuk tinggal bersama Mak Nun selama ia pergi. Namun, Mak Nun tetap merasa bahwa ia selalu sendiri. Apalagi ketika beberapa bulan setelah kepergian Mahmud, Hindun dipinang oleh seorang pemuda pekerja proyek dari Medan, yang kemudian membawa Hindun pergi serta bersamanya ke kampung halamannya.
Selain itu, Mahmud pun semakin jarang mengirim surat padanya. Di tahun-tahun pertama kepergiannya, memang hampir setiap bulan ia mendapat surat dari anaknya itu. Selain kabar tentang dirinya, biasanya Mahmud tak lupa menyelipkan beberapa lembar puluhan ribuan di dalam lipatan kertas suratmya.
Bagi Mak Nun, senbenarnya kabar tentang anaknya yang ‘sehat-sehat saja’ sudah lebih dari cukup. Uang bisa ia cari sendiri. Bahkan, hasil kebunnya saja sudah berlebih baginya.
Namun, begitulah. Semakin lama ia merantau, Mahmud semakin jarang mengirim surat padanya. Bahkan boleh dibilang beberapa bulan belakangan ini sudah tak ada lagi surat dari anaknya itu. Mak Nun sering bertanya-tanya dalam hati apakah gerangan yang terjadi dengan anaknya itu. Apakah ia sakit lantas tak bisa lagi bekerja, dan hidup terlunta-lunta di rantau orang? Atau apakah ia telah beristri dan lupa pada Maknya ini? Lupa pada orang yang telah membesarkannya? Pada orang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan lebih dalam letih yang sangat?
Ah, jangan sampai semua itu terjadi, pinta Mak Nun selalu ketika pertanyaan-pertanyaan itu melintas dalam benaknya.
Setiap kali ada orang yang pulang merantau, Mak Nun pasti menyempatkan diri datang, dan bertanya tentang kabar anaknya. Tapi entah kenapa, kabar tentang Mahmud semakin kabur saja dari hari ke hari. Ada yang mengatakan ia telah pindah kerja ke Malaysia. Ada yang mengatakan ia dibawa bosnya ke Singapura. Ada yang berkabar bahwa Mahmud telah menikah dengan anak seorang saudagar China keturunan, dan kabar-kabar lain yang tak jelas titik terangnya. Dan itu sudah terjadi hampir lima kali Hari Raya Haji, sehingga harapan Mak Nun untuk dapat pergi sholat Ied bersama-sama ke Surau Melayu seperti yang selalu ia harapkan, tak pernah terwujud. Mahmud tak jua pulang.
“Kau tak boleh lupa anakku… kau tak boleh lupa pada Makmu sendiri…”
***
Usai menunaikan sholat Isya, Mak Nun merasakan kepalanya pusing. Nyut-nyutan. Mungkin karena tadi siang ia berhujan-hujan memetik paku, pikirnya.
Mak Nun sebenarnya ingin langsung tidur saja ketika ia rasakan sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Namun, ia teringat paku gajah yang tadi sore ia petik. Wajah Mahmud berkelabat di depan matanya.
Dengan tanpa menghirakan kepalanya yang serasa ditusuk ribuan jarum-jarum kecil itu, Mak Nun berjalan ke dapur, sedikit tertatih. Dan ia pun mulai bekerja.
Di kelurkannya paku-paku gajah itu dari dalam baskom, lalu dipotongnya kecil-kecil. Setelah itu, ia meracik bumbu-bumbu yang telah ia sediakan untuk membuat gulai paku itu. Sambil menunggu santan mendidih, ia menggiling segengggam lado jintan dan ikan kering yang rencananya besok pagi, sebelum berangkat ke Surau Melayu untuk Sholat Ied, akan ia campur dengan asam durian itu. Begitu santan mulai menggelembung-gelembung, Mak Nun memasukkan cabe giling dan sepanci paku gajah ke dalamnya.
Di luar, hujan telah reda. Malam kian kelam. Angin menyusup di celah-celah dinding palupuah pondok, memain-mainkan api di tungku Mak Nun. Sebentar api di tungku itu seperti menari lembut, dan sebentar kemudian seperti melonjak kegirangan, menjilati bibir kuali Mak Nun.
Ketika aroma gulai paku itu mulai tercium, dalam peningnya, Mak Nun mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Jantungnya berdebar. Mahmud, kaukah itu, Nak? Girangnya sambil mencoba untuk berdiri. Walau susah, dengan sedikit terseok, ia tiba juga di depan, dan membuka pintu. Angin malam berhembus masuk. Tak ada siapa-siapa di luar sana. Hanya kelam.
Akh, mungkin hanya halusinasiku saja, bathin Mak Nun untuk kemudian berbalik dan berniat kembali ke dapur. Namun, sebelum ia sampai di sana, pandangannya mengabur. Jarum-jarum kecil kian tajam nenusuk-nusuk kepalanya.
Ia lunglai, dan terjatuh. Sekawanan kunang-kunang menyerbu matanya. Segalanya kelam. Menghitam seperti malam. Mak Nun terpejam.
Sementara itu, angin semakin liar mempermainkan api di tungku. Terdengar gemertak. Dan api pun mulai menjilati kayu-kayu di salayan, di atas kuali berisi gulai paku yang tadi dijerang oleh Mak Nun.n

Padang, 18:48, 23112006

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: