Cerpen Padang Ekspres

Desember 3, 2006

Musim yang Memasung

Filed under: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:34 am
Tags:

Cerpen Farizal Sikumbang

“Kau lihat burung itu Juriah. Ia bisa terbang ke mana hendak ia suka. Tapi kau, apa yang bisa kau lakukan di sini. Di kampung ini. Kau seperti patung Juriah. Diam dan tak bisa ke mana-mana. Kau tak berguna.”
Juriah terhenyak. Kalimat itu kembali melintas di benaknya. Mengganggu pikirannya. Disandarkan tubuhnya pada dinding rumah kayu itu. Matanya lalu menerawang jauh, menembus pucuk-pucuk daun jambu yang tumbuh di depan rumahnya. Lalu begitu cepat ia menunduk. Menatapi lantai rumah gadang. Sekilas dua matanya menangkap jejak lumpur, bekas telapak kaki mamaknya yang siang tadi datang bertandang ke rumah panggung itu.
Mamak? Ah, secepat kilat pula Juriah kembali mengangkat wajah. Kata-kata mamaknya juga kembali tergiang di ingatannya.
Ia juga masih ingat bagaimana mamaknya siang tadi memaki dirinya dan mandenya sambil berdiri di pintu rumah gadang. Dan tentu dengan seperti biasa, mamaknya itu akan memilin-milin jenggotnya sambil berkata-kata dengan intonasi meninggi. Dan Juriah seperti mau menjerit mendengar ucapan-ucapan laki-laki itu. Tapi ia masih mencoba untuk bertahan. Meski hatinya perih.
“Kau perhatikan anak kau itu Sakdiah, sudah berapa umurnya. Sampai saat ini tak ada orang yang mau dengannya. Dan aden rasa, memang tak akan ada orang yang akan mau dengannya. Kau pikir sendiri mengapa orang tak akan mau denganya. Aku malu sebagai mamak Sakdiah.”
Hati Juriah bertambah menjerit mengingat kata-kata mamak-nya itu, walaupun kalimat itu ditujukan kepada mandenya, tapi ucapan mamaknya menikam ke hatinya.
Saat itu ia lihat mandenya hanya terdiam. Seperti dirinya, ia tahu tentu mandenya juga merasa terluka oleh ucapan mamaknya itu. Ia merasakan sebuah rasa menusuk hatinya dengan ngilu.
Juriah lalu menghela nafas. Ia beringsut mendekati pintu rumah gadang. Mencoba melihat tangga rumah itu. Ia hendak turun. Tapi tiba-tiba, ah, entah mengapa diurungkannya. Mungkin tangga itu akan kembali menguras tenaganya untuk sampai ke bawah. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah itu.
Mengingat tangga itu, Juriah kembali diserang rasa tak berarti. Ya, kakinya yang puntung sebelah membuatnya merasa tidak berguna. Dan perasaan malu pada dirinya sendiri kembali mengusiknya.
“Aku malu punya keponakan seperti dia Sakdiah. Malu benar.”
Itu ucapan mamaknya tiga hari yang lalu saat kembali bertandang ke rumah gadang.
“Uda, tak baik uda berkata begitu. Juriah juga keponakan uda.”
“Kau tak mengerti perasaanku Sakdiah. Aku dipergunjing orang. Lihat, kemenakan Datuk Nan Bujang, masih perawan di usia tiga puluh lima tahun. Kau tahu Sakdiah, laki-laki mana yang mau dengan si Juriah.
“Sudahlah Uda. Kasihan dia. Mengertilah Da.”
Kata-kata mande-nya dan sang mamak itu kembali mengganggu pikiran Juriah. Kali ini membuat kepalanya terasa berat. Setetes airmata jatuh dari bola matanya.
***
“Kalera! Dasar mamak kapunduang. Jika tak kupandang sebagai mamak di rumah ini, sudah kuayunkan parang ke perutnya.” Buyung Buluh marah bukan kepalang setelah tahu bahwa Datuk Nan Bujang kembali menghina Juriah. Dia tahu setelah diberi kabar oleh Kalidin, anak bungsunya yang baru berumur delepan tahun itu,
“Sabar sae-lah da.”
“Sabar kata kau!” kau boleh saja sabar terus-terusan, tapi aku bapaknya. Terhina aku. Dia anakku. Tak paham kau. Mamak kalera!” Mentang-mentang ambo urang sumando. Diremehkan. Tak bisa Sakdiah. Aku juga punya harga diri. Kau tahu itu!”
Mendengar kata-kata suaminya itu Sakdiah bertambah bingung. Dia tahu suaminya itu juga cepat naik darah. Perempuan itu tidak bisa membayangkan bagaimana kakak dan suaminya itu bertemu dalam keadaan seperti itu. Bisa-bisa terjadi perang. Parang beradu parang.
Tidak! Aku tidak ingin itu terjadi. Jerit batin perempuan itu lagi.
Dia tahu, memang sudah cukup lama suaminya itu menyimpan rasa berdiam diri karena Juriah selalu di hina oleh kakaknya itu. Dia juga tahu, bahwa Juriah bagi suaminya itu adalah buah hati yang harus tetap disayangi, meski anak itu memiliki fisik yang cacat. Mencaci Juriah bagi suaminya sama saja mencaci dirinya.
Buyung Buluh lalu terlihat menendang setumpuk piring. Treng!. Bunyinya nyaring. Ngilu menusuk ke hati. Ia masih marah. Wajahnya masih terlihat memerah. Istrinya makin bergetar menahan cemas. Di sudut ruangan Juriah menangis sesunggukan. Ia terharu sekaligus sedih melihat bapaknya mengamuk.
“Sudah bertahun-tahu aku bersabar diri Sakdiah!”
Kali ini laki-laki itu berdecak pinggang di depan istrinya. Istrinya itu terdiam. Menunduk. Kemudian menatap Juriah yang masih duduk di sudut ruangan dengan mata berlinang.
“Abak! Sudahlah abak,” ujar Juriah dengan suara bergetar. Nyaring dan berputar di dalam rumah panggung itu.
“Tidak! Kau diam Juriah. Ini urusan urang gadang.”
“Tapi ambo penyebabnya abak. Ambo yang menyebabkan abak marah-marah. Ambo juga yang menyebabkan mamak malu sekampung. Ambo yang menyebabkan masalah ini.”
“Juriah!Diam kau. Kau tak boleh berkata begitu!”
“Ambo tak bisa diam lagi abak!”
Kali ini suara Juriah tinggi melengking. Mengaung. Berputar-putar. Lalu melesat lewat jendela.
Mendengar itu Buyung Buluh terpana. Baru kali ini dia melihat anaknya itu bersuara tinggi. Dari kecil hingga sebesar sekarang ini ia tahu Juriah selalu diam. Penurut dan menerima apa saja. Tapi kali ini ia melihat ada sinar keberanian dari anaknya itu.
Buyung Buluh menghenyakkan tubuhnya di kursi. Laki-laki itu lalu menarik nafas. Ia merasakan tubuhnya terasa lelah dan letih. Seperti telah mengarungi perjalanan begitu jauh. Di atas kursi itu, kedua bola matanya menatap ke arah Juriah yang masih duduk dengan tangis terisak. Melihat itu, rasa berdosa dan bersalah menyembul dari hatinya.
“Kau tak mengerti perasaan abakmu Juriah,” kali ini Buyung Buluh bersuara pelan dan datar. Tapi menikam ke dalam hati, membuat ia sendiri terenyuh.”Meski kau tak sempurna Juriah, abak tetap menyayangimu. Abak harap kau mengerti itu Juriah. Tapi mamak kau itu, selalu membuat ulah. Terpanggang telingaku setiap kali mendengar kabar dari Kalidin kau menangis setelah mamak kau itu datang ke rumah ini.”
“Mungkin sudah nasib ambo abak.”
“Jangan kau bilang ini nasib Juriah.” Kali ini suara Buyung Buluh kembali meninggi. Membuat istrinya dan Juriah tersintak.
“Jika kau bilang ini nasib, sama saja kau menyalahkan kami berdua, orang tuamu. Apa pun adamu adalah sebuah karunia bagi kami.” Asal kau tahu Juriah, siapa dari keturunan pihak mandemu yang mempunyai anak perempuan? Tak ada kan? Hanya ambo yang mampu melakukannya. Jadi, jangan coba-coba mamak kau itu menginjak-injak harga diriku di rumah ini. Aku tak takut padanya. Kalian boleh saja diam seperti batu setiap diumpatnya. Tapi aku, tak akan bisa diperlakukan seperti itu. Kalian tahu itu!”
Istri Buyung Buluh terdiam seperti patung. Ia tahu, hanya dialah dari saudara perempuan dan laki-lakinya yang mempunyai anak perempuan. Selebihnya laki-laki.
“Kau adalah perempuan beruntung Juriah. Segala harta warisan kaum sesuku akan banyak jatuh ke tanganmu. Jadi, abak harap kau jangan terus bersedih karena kau cacat tubuh. Wajahmu cantik Juriah.”
“Tapi tak ada yang mau abak.” Kata Juriah pelan.
“Apa? Tak ada yang mau?”
“Jangan menipu abak Juriah. Mentang-mentang aku pulang ke rumah ini dua minggu sekali setelah berdagang dari Padang. Kalian bisa membohongiku. Abak tahu ada beberapa pemuda yang menyukaimu, Juriah. Tapi mamak-mu yang membuat mereka surut langkah. Iyakan?”
Juriah dan mande-nya saling bertatapan. Lalu ia memandang kembali ke arah abak-nya itu. Dan dari raut wajah abak-nya itu, Juriah tiba-tiba menemukan sekilas wajah Udin Alim. Laki-laki yang pernah menyatakan cintanya. Dan laki-laki yang juga dirindukanya itu. Juriah menunduk. Matanya basah.
“Meski aku jarang di rumah. Tapi aku tahu apa yang terjadi. Kalian harap tahu itu. Aku juga tahu bahwa Udin Alim menyukaimu Juriah. Iyakan?”
Mendengar itu Juriah kaget. Ia memandangi mata abak-nya itu. Lalu Buyung Buluh tersenyum membuat Juriah tersipu malu.
“Mamak kau itu boleh saja melarang Udin Alim mendekatimu, Juriah. Aku tahu mamak kau itu takut segala harta pusaka akan di garap Udin Alim. Tapi aku abak kau. Aku lah yang menetukan segalanya. Bukan lagi mamak kau itu. Akan kurubah tatanan adat ini.” Kata-kata Buyung Buluh kembali meninggi. Melengking. Lalu teredam oleh hembusan angin yang menerobos lewat jendela. Suasana dalam rumah gadang itu sejenak diam.
Sampai kemudian Buyung Buluh mendengar jerit langkah kaki tergesa-gesa dari tangga rumah gadang itu. Ia merasakan seperti ada seseorang yang datang. Laki-laki itu bangkit bersiap diri. Dia mengira yang datang itu adalah Datuk Nan Bujang. Maka diambilnya parang di belakang tempat duduknya. Melihat itu istri dan Juriah diserbu cemas..
Tidak lama kemudian sesosok tubuh telah mencul di hadapan mereka. Tapi tubuh yang muncul itu kecil. Juriah dan mande-nya merasa lega.
“Abak! Mamak beradu parang dengan Udin Alim di tengah ladang,” begitu teriak Kalidin, anak mereka yang paling kecil.
“Matilah kalera tu!” teriak laki-laki berusia lima puluh tahun itu mengaung ke ruang rumah gadang.
Setelah itu Buyung Buluh merasakan tubuhnya tiba-tiba saja terasa susah untuk digerakkan. Badanya terasa kaku. Istrinya yang mendekat mengguncang tubuhnya. Tapi ia tetap tak bergeming. Istrinya itu terus saja menyuruhnya supaya melerai mereka sebelum terjadi apa-apa, tapi tetap saja Buyung Buluh seperti patung. Tak henti-henti tubuh Buyung Buluh terus saja diguncang-gunjang oleh istrinya.
Sedangkan Juriah mulai beringsut mendekati pintu, dikejauhan, ia seperti mendengar jerit kesakitan yang melengking. Tapi entah jerit siapa.
Padang Mei 2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: