Cerpen Padang Ekspres

Januari 11, 2009

Organ Tunggal

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 7:52 am

Mahen betul-betul meradang. Ia merasa sangat marah melihat pertunjukan organ tunggal yang berlangsung di halaman samping rumahnya itu. “Ini sudah keterlaluan, tidak ada toleransi untuk maksiat macam begini.”
Ia merasa tidak bisa terima pakaian penyanyi seminim itu. Tanpa risih sedikit pun ia melenggok di panggung dengan  rok yang jauh di atas lutut sehingga memperlihatkan celana dalam hitam ketatnya, baju tanpa lengan yang memperlihatkan pusar dan sebagian perutnya serta membiarkan punggung bagian atasnya terbuka.
“Memang begitu tradisinya, Bang.” Mugil, adiknya menanggapi. “Namanya juga menghibur.”
“Dia menghibur dengan nyanyian atau tubuhnya? Kau mengundang organ tunggal untuk mendengar musik bukan? Bukan untuk tubuh terbuka dan goyangan demikian.” Sungutnya.
“Ya bagaimana lagi!” Mugil menjawab setengah kesal setengah bercanda. “Sudah satu paket dari sananya.”
Mendengar itu Mahen kian marah dan berbalik meninggalkan adiknya yang hanya bias melongo.
Mugil menggaruk kepalanya. Ia heran dengan tingkah kakaknya. Bukankah organ tunggal memang identik dengan goyangan. Soal pakaian, itu kan hanya baju panggung. Mugil mengenal satu-dua orang penyanyi organ tunggal. Bahkan dia juga nyaris berpacaran dengan Lisya, salah satu artis organ tunggal yang agak populer dan masih sekolah. Jika itu terjadi yang menjadi pendampingnya sekarang bisa-bisa bukan Yeyen. Atau sama sekali belum menikah saat ini. Siapa tahu!
“Kalau tidak berani begitu, tak akan ada yang mau ngajak kita manggung, Bang.” Mugil ingat kata-kata Lisya dulu. “Mana ada orang mau mengundang kita yang menyanyi dengan pakaian rapi.”
Mugil paham akan hal itu. Ia biasa dengan hiburan organ tunggal dan hampir selalu mengikuti di setiap hajatan. Lisya benar, jika penyanyi tidak berpenampilan seksi mana ada yang mau menonton pertunjukan itu. Dan biasanya, sepanjang yang dibicarakan juga soal artisnya, cantik-tidak cantiknya, soal goyangnya, dan semacamnya. Tak ada pembahasan masuk ke soal suara dan teknik bernyanyi. Baginya, lagu apa pun yang dibawakan para penyanyi oke aja. Yang penting goyangnya, bung!
***
Ujang Korea yang menjadi MC sekaligus yang mendapat tanggung jawab kelompok organ tunggalnya, merasa kalang kabut setelah didamprat Mahen. Ia bingung sekaligus heran, biasanya tuan rumah yang meminta penyanyi organ yang cantik dan berpakaian yang lebih terbuka. Tetapi kali ini kok ada tuan rumah yang tersinggung karena pakaian artisnya?
“Pokoknya, kalau sampai artismu tidak berganti pakaian, acara ini akan dihentikan pada pukul dua belas pas.”
Ujang melongo. Jika berhenti jam 12 malam, teman-teman pemuda yang setengah teler itu bisa ngamuk. Padahal di jam-jam itulah para pemuda bertingkah agresif, meminta dinyanyikan lagu dengan irama triping dan para penyanyi organ harus bergoyang lebih hot. Inilah puncak acara bagi pemuda dan pertunjukan kebolehan bagi sang artis. Pemuda terhibur, tuan rumah senang, si artis bisa terkenal!
Ia lalu mengadu pada Mugil.
“Kami tidak ada masalah sebenarnya kalau acara ini diberhentikan jam 12 malam atau sekarang. Tapi kami ndak tanggung jawab kalau pemuda nanti pada ngamuk.” Cerocos Ujang Korea.
Mugil melamun sejanak. Wah, gawat juga! Pikirnya. Ia serba tidak enak. Kakaknya ini baru beberapa hari ini di rumah. Ia sengaja pulang ke rumah untuk merayakan lebaran sekaligus ingin melihat pernikahan adiknya. Ini kepulangan pertama sejak empat tahun belakangan. Semula bahkan Mugil berpikir kakaknya itu tak akan pulang menyaksikan pernikahannya ini. Di kampung ini, tidak etis seorang adik melangkahi kakaknya dengan menikah lebih dulu. Untuk membicarakan pernikahan melalui telepon pun Mugil merasa begitu sungkan dan hati-hati. Tetapi kakaknya yang kuliah di Yogyakarta itu terdengar sangat riang mendengar kabar tersebut dan berjanji akan segera pulang jika acara pernikahan itu bertepatan dengan waktu liburnya.
“Memang harus begitu,” ucap kakaknya dari seberang. “Jika merasa sudah mampu harus segera menikah. Agama menganjurkan berbuat demikian, agar tercipta keluarga yang mawaddah warahmah…”
Kakaknya tidak bertanya lebih jauh lagi soal siapa calon istrinya atau tempat tinggal dan semacamnya. Ia lebih banyak memberi nasehat dan dukungan. Mugil tentu sangat senang mendengar reaksi kakaknya itu.
Setelah melakukan rapat dengan keluarga besar, akhirnya pernikahan itu disepakati akan diadakan selepas lebaran, agar kuliah Mahen tidak terganggu lantaran kepulangannya tersebut. Dan kini, kakaknya ngamuk, itu membuat Mugil tak enak hati. Ia tak ingin kakaknya kecewa, tetapi ia juga tak ingin mengusik ketenangan orang-orang dan kawan-kawannya yang menonton.
Mugil tahu, kalau kakaknya tidak senang dengan sikap kawan-kawannya tersebut. Mereka meminta minuman dan rokok pada tuan rumah. Tetapi hal itu bukan pula rahasia. Siapa pun yang bikin hajat untuk acara apa pun, sudah menyiapkankan hal tersebut. Itu menjadi tradisi bagi anak muda dan pemilik hajatan. Mereka sudah menyiapkan berbotol-botol minuman, berslop-slop rokok untuk para pemuda setempat untuk keberlangsungan acara.
“Tidak ada uang untuk membeli minuman haram, tidak ada uang untuk rokok dan keamanan segala. Kalau mereka mabuk dan terus merokok, bukannya keamanan yang tercipta…” Kata Mahen menentang
Mugil mengiyakan keinginan kakaknya tersebut, tetapi diam-diam tetap memberi lembaran uang pada teman-temannya untuk membeli minuman dan rokok.
Mugil tak tak ingin bertengkar soal tradisi anak muda dengan kakaknya itu. Sudah pasti akan sangat bertentangan. Dulu, pernah terjadi pertengkaran hebat antara kakaknya dengan sahabat ayahnya gara-gara omong-omong soal partai. Teman sang ayah ngambeg. Mahen dibujuk-bujuk untuk meminta maaf. “Meminta maaf apa? Bukankah dalam sebuah debat ada ide yang paling unggul? Dia saja yang tidak bisa menalar logikaku.”
Pada akhirnya, sang bapaklah yang mengalah dan kembali berkunjung. Untunglah tak terjadi pertengkaran lagi. Selama kunjungan itu tak satu pun yang mengungkit sesuatu yang sifatnya ideologis.
“Bagaimana kalau kau turuti saja keinginan dia, Jang?” Ucap Mugil putus asa.
“Menuruti bagaimana?” Tanya Ujang Korea bingung.
“Ya, suruh semua artismu ganti baju. Yang lebih sopan saja…”
“Lho bukankah biasanya juga begitu? Yang diprotes cuma Sheila. Dian Arista dan Yayuk Pratiwi ndak masalah. Sheila Pustipa kan bintang organ kami. Kalau dia pakai baju tertutup wah bisa ngamuk Bos Tasman. Bakalan gak laku organ ini.”
Mugil mengangguk bingung.
“Kamu tahu kan, Sheila itu sedang naik daun? Tak gampang mengajak dia untuk main di acara kita. Ini karena aku yang ngajak. Dan aku mengajaknya juga karena kamu kawanku, lo..”
“Iya, aku paham. Tapi bagaimana usulku tadi?” Mugil kembali menawar.
“Bukan kami menolak. Mereka bawa kostum panggung kan cuma satu. Nyari di mana sekarang? Nah, kalau diberitahu sama Sheila, kemungkinan dia bisa tersinggung. Apa yang mereka pakai kan sudah standar pentas?”
***
“Ndak bisa lagi, Bang. Kalau dari awal dibilangin tentu akan lain masalahnya. Kita juga ndak bisa menghentikan acara ini begitu saja.” Kata Mugil pada kakaknya yang sedang marah itu.
“Ndak bisa bagaimana? Orang yang mengundang mereka itu kita. Mereka kan kita bayar untuk mengikuti permintaan kita. Kalau kita bilang berhenti sekarang mereka juga harus berhenti.”
“Bukan itu perkaranya. Anak-anak muda bisa ngamuk kalau sampai acara dihentikan.”
“Kalau begitu, mereka, para artis itu harus berganti pakaian yang sopan. Apa kau tak malu, melihat penyanyi setengah telanjang itu. Hei, keluarga besar kita sedang berkumpul lho. Kau tak malu pada Meksi adikmu. Apa kau senang melihat Nanda, dan ponakan-ponakanmu yang lain melihat goyangan porno tersebut?”
“I-iya..!! Tapi…”
***
Rapat keluarga  kemudian digelar. Mahen memaparkan lagi hal-hal yang dia tidak senangi dari pertunjukan itu.
“… Ini menunjukan kelemahan iman kita.” Kata Mahen setengah emosi mengakhiri kalimatnya. Mugil dan ibunya saling pandang. Bapaknya tampak bergetar menahan diri. Hampir dalam banyak hal Mahen selalu bertentangan dengan bapaknya. Laki-laki di atas limah puluhan itu biasa dipanggil Dukun oleh orang-orang. Mahen yang paling tak suka dengan panggilan itu.
“Sudahlah, kita ikuti saja kata kakakmu itu, Gil.” Ibunya kemudian bersuara.
Tapi bapaknya tidak setuju. “Kenapa harus meributkan soal iman. Inikan hanya hiburan. Biarkan sajalah…”
“Ini mengundang dosa ke rumah sendiri…” Mahen segera memotong.
“Kalau dia beriman tak akan dia terpengaruh melihat itu. Selama ini tak ada yang merasa kalau itu mengumbar birahi. Mereka tahu itu bagian dari pertunjukan dan bukan porno. Kamu tahu apa soal itu…”
“Bukan porno bagaimana. Orang jelas-jelas dia telanjang di depan umum.”
“Menurutmu, dia harus pakai jilbab? Kalau dia berceramah tempatnya kan di masjid.”
Mahen ingin bicara, tapi cepat-cepat dilerai ibunya. Perempuan itu kemudian menggiring suaminya menjauh. “Ndak elok bertengkar di hari baik ini.”
“Anakmu itu sudah disekolahkan jauh-jauh kok malah makin bodoh saja. Sudah besar di kota masih saja pikirannya seperti itu. Ini salah, itu salah, apa-apa salah.” Maki si Bapak.
Sementara, Mugil juga berusaha membujuk kakaknya yang tampak emosi itu.
Setengah berbisik, setengah memohon Mugil berkata, “Saya tahu pemikiran Abang akan bertentangan dengan keinginan Ayah dan yang lainnya. Tapi, ini kan hari istimewa saya. Abang tak ingin membahagiakan saya di hari istimewa ini?”
“Sekarang, terserah Abang saja bagaimana baiknya. Di sini yang paling tua kan Abang.” Mugil melanjutkan. “Kalau memang acaranya dihentikan sekarang, ya kita hentikan saja. Ndak apa-apa. …”
Mendadak ruangan itu menjadi lengang.  Di luar terdengar suara genit berteriak pada penonton, “Masih mau digoyang sayang? Tapi goyangnya bareng-bareng ya, biar enak..”

Yogyakarta, 2008

(kado pernikahan Mugil dan Yeyen 10 Oktober 2008 )

Januari 4, 2009

Malam Penentuan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:44 am
Tags:

Cerpen Mahwi Air Tawar

Rumah Markoya menghadap ke utara. Di ujung barat samping rumah terdapat bangunan langgar: terbuat dari anyaman bambu menghadap ke timur. Sudah tua benar usianya. Pada bagian-bagian tertentu tampak keropos.

Lurus dengan pintu kamar tidur, tak jauh dari beranda sebuah bingkai terbuat dari bilah bambu, terapit balok kayu. Di tengah-tengah bingkai itu ada rajutan benang berwarnai-warni. Nyaris kusam warnanya. Bingkai, rajutan benang itu: Barana, namanya.

Ya, barana. Barana itu tak hanya jadi penanda, pembatas antara teras dan halaman, namun barana juga menjadi penanda bagi seseorang, yang hendak berkunjung ke rumah kerabat atau pun tetangga. Ingatlah, bila suatu waktu, kalian hendak berkunjung ke rumah seseorang, namun sesampainya di halaman, kalian temui pakaian basah sedang dijemur di atas barana, kalian mesti mengurungkan niat berkunjung. Kalau tidak, nasibmu akan berujung malang. (lagi…)

Desember 28, 2008

Ia Telah Lupa

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 7:01 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal


I
“Kau tahu? Kalau ia telah lupa cara tersenyum dan tertawa.”
“Apa maksud Uni?”
“Kau cepat pulang, Saleh!”
“Tapi kenapa?”
“Kau cepat pulang!” dan telepon berakhir.

Sekiranya, itu kali terkahir Saleh berbicara dengan kakaknya sebelum ia tiba di kampung. Ada banyak duga yang meggelinjang di ruang rasanya tentang kabar sekaligus perintah itu. Apa sebenarnya yang terjadi? Ia tak akan berhenti menerka sampai decisan kekesalan memaksa bibirnya berkecipak.

Saleh biasanya menyukai kabar dan pesan dari kakaknya itu. Kabar dan pesan yang kadang agamais, inspiratif dan juga motivatif. Terlebih lagi dari Bundo, yang meski jarang sekali mau bicara dengannya lewat telepon. Bundo bukan tak mau, kekhawatiran akan keluarnya bulir-bulir bening dari sudut mata adalah penyebabnya. Pesan itu biasanya disampaikan pula oleh kakaknya. Namun Saleh tak menyukai kabar yang tak jelas, seperti halnya kabar terakhir yang barusan ia terima. (lagi…)

Desember 21, 2008

Laki-laki Yang Jadi Pegawai Negeri

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 3:51 pm
Tags:
Cerpen Nelson Alwi

Pertama bekerja kepala kantornya Zamzami. Begitu dipromosi menjadi Kormin di Kantor Wilayah, Zamzami merekomendasikan Kamaruddin, yang sebelumnya menjabat Kasi, sebagai penggantinya. Dan ketika Kamaruddin memasuki masa purna bakti, posisinya dialihtangankan kepada Ibu Widya —demikian perempuan 40-an tahun itu suka disapa— yang juga merupakan “orang dalam”.

Barusan, Ibu Widya yang menanyakan apakah dia bisa komputer. “Rugilah kamu,” kata Ibu Widya menimpali gelengan enteng kepalanya. “Tak bakal ikut diskusi komputerisasi di Carano Hotel.”

Dia tercenung. Dewasa ini komputer memang sudah sangat mewabah. Instansi-instansi pemerintah, termasuk kantor di mana dia bertugas, pun tak hendak ketinggalan. Sepuluh unit komputer di lingkungan 42 pegawai negeri, tampak sangat diminati. Koleganya ngiler, bak melihat asam, sekalipun sekadar untuk memainkan game-game di peralatan terbilang mahal itu.

Ya ya, pikirnya, siapa di antara koleganya yang layak dikirim ke forum diskusi di hotel bintang empat itu? Lalu rugikah dia apabila tak diikutsertakan? Rugikah dia lantaran selama ini enggan mengutak-atik atau mengoperasikan komputer kantornya?

“Kamu cobalah proaktif belajar komputer,” ujar Ibu Widya pula. “Ke depan dunia semakin maju. Kamu akan tertinggal jika tak bisa menyesuaikan diri dengan zaman.” (lagi…)

Desember 14, 2008

Plat Motor Pak Haji Guru

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 3:22 pm
Tags:

Cerpen Nilna R. Isna

Pak Haji Guru sungguh benci dengan guyonan lokal yang sedang ngetrend di kompleknya. Guyonan itu tak lain datang dari Udin yang baru pulang merantau dari kota. Udin menebarkan virus ‘kota’nya kepada pemuda-pemuda sebayanya. Tak ayal, hampir semua muda-mudi kampung mengikut gaya trendy Udin. Membuat Pak Haji Guru benci sejadi-jadinya.

Gaya trendy Udin itu tak lain tak bukan hanyalah tentang sebuah singkatan. Singkatan itu pun datangnya hanya dari dua buah huruf yang biasa ditulis di belakang nomor polisi atau plat sepeda motor. Kini, akibat virus dari Udin itu, orang-orang kampung jadi waspada terhadap nomor plat motor atau mobil mereka.

BA 1714 SR adalah nomor polisi sepeda motor skutermatik milik Herlina yang jadi bulan-bulanan pertama, korban Udin. Herlina yang bisa dibilang kecentilan senang berkeliling kampung menggunakan skutermatiknya. Kadang ia sendiri, kadang membonceng teman perempuan, dan sering sekali berboncengan bersama teman lelakinya. Jika sudah bersama teman lelakinya, maka Herlina yang dibonceng. Hampir tiap hari Herlina keliling kampung terutama bila senja-senja hari, baik dari arah rumahnya maupun menuju rumahnya. Jika hari Minggu, Herlina sudah standby di depan pagar dengan sepeda motornya menunggu seseorang, lelaki, mungkin kekasihnya, untuk kemudian dibonceng oleh kekasihnya itu. (lagi…)

Desember 7, 2008

Batas

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 3:32 pm
Tags:
Cerpen Andika Destika Kaghen

Telah lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.”

Pintu pagar sengaja tak dikunci dan diperbiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap.

Baiklah. Hasim telah datang. Sengaja aku tak menoleh kepadanya. Barangkali ia akan menyapa, “Aku memenuhi janjimu. Mari kita berdebat.” Tapi tidak, ia hanya duduk diam seperti batu. Barangkali ia tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang ini. Aku melihat gerak-geriknya seksama.

“Jadi apa yang kau inginkan Hasim?” Telah lama kutunggu ia bersuara, atau sekedar bertanya, “Apa kabar hari ini?”. Namun, tak juga kata itu keluar dari mulut Hasim. Ia hanya diam. Tak menoleh juga.

“Aku pikir, Anda yang lebih tahu.”

Ya…ya…benar. Aku yang lebih tahu. Untuk itu ia kuundang (disuruh tepatnya) datang ke rumahku ini. Biar ia mengaku, barangkali tak akan berdebat tentang batas.

Begini Hasim, kumulai saja. Dua puluh tahun aku merantau ke tanah seberang sampai beranak pinak. Bahkan tak ada seorang pun anakku terlahir di sini, di kampung ini. Selama itu pula, hektar per hektar tanah peninggalan kakek, diambil oleh saudara-saudaraku. Tak apa, toh aku tak pernah berharap dari kampung ini.

Rupanya anak-anakku jauh lebih sadar daripadaku. Mereka bertanya kepadaku, “Di mana kampung kita, Ayah? Di mana kampung kita?” Mereka tak pernah kuajak sekali pun ke kampung halaman ayahnya. Mereka merindukan kampungnya, Hasim. Aku terpaksa bercerita kepadamu, anakku kuajak ke kampung ini. Untuk pertama kalinya. (lagi…)

November 30, 2008

Menunggu Senja

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:11 pm
Tags:

Cerpen Maghriza Novita Syahti

Dari balik jendela aku termenung. Sesekali menyeka embun di kaca jendela itu, memperjelas pandangan. Kulihat dedaunan berayun ke sana kemari karena angin di luar sana. HIjaunya seakan memudar pula dibawa angin. Angin yang tak pernah tahu bahwa ia telah membawa aku menatap jauh pada seseorang.

Dari jauh kulihat seseorang itu berjalan pelan, perlahan-lahan melintasi jalanan sepi tak berorang itu. Helaian dedaunan sesekali menghampiri wajahnya, menutupi pandangannya. Entah ke mana tujuannya berjalan, tak pernah aku tahu. Mungkin mengejar senja. Hingga ia lenyap dari batas pandangku yang terbatas.

Dari balik jendela aku termenung. Menunggu senja yang sudah lama kunanti. Senja bagiku begitu membikin aku tersihir. Tersihir akan keremangannya, semburat cahaya kemerah-merahannya. Indah, sendu,dan mengingatkanku pada cinta. Apakah senja itu akan mampu menembus kaca jendela ini? Dan memandikan diriku dengan keemas-emasan cahayanya.

Menatap lama aku ke langit biru yang sudah berganti kuning kemerahan seperti kobaran api itu. Perlahan kusapu langit sejauh pandanganku. Lama aku menunggu, senja itu tak kunjung datang padaku, menembus kaca jendela ini. Huh, lagi-lagi penantianku sia-sia.

Ingin rasanya juga mengejar senja seperti seseorang yang tadi kulihat. Berlari-lari kecil ia, merekah bibirnya karena senyum. Seperti tak sabar mengharap sesuatu. Aku tak tahu apa yang diharapkannya dari senja, hanya sebuah senja. (lagi…)

November 23, 2008

Nenek Hidup Lagi

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:38 am
Tags:

Cerpen Benny Arnas

WALAUPUN baru 3 minggu menghuni kampung baru ini, tapi sudah cukup banyak kegiatan dan momen yang kami lewati bersama masyarakatnya. Kami begitu cepat diterima di sini, dan ayah adalah orang yang paling bahagia karenanya.
“Mereka tak mengenali buronan, Bu?” kata ayah.
“Bagaimana mereka mengenalimu, kalau televisi saja tak ada di sini, Yah,” sahut ibu.
Kami tertawa lepas.
* * *
KAMI pernah menghadiri acara pernikahan anak tunggal Haji Jakun, orang terkaya di kampung ini. Kami juga telah diundang untuk menggunakan hak pilih kami dalam pemilihan Kades satu minggu yang lalu. Sepuluh hari yang lalu, kami pun menjadi bagian dari barisan panjang di pinggir jalan besar kampung ini ketika Bupati diarak keliling kabupaten memamerkan Piala Adipura yang diraih untuk yang ke-empatkali-nya secara berturut-turut.
Dan baru dua minggu yang lalu, kami juga berbaur dengan mereka yang bersuka ria merayakan Idul Fitri. Tapi, sungguh, aku tak pernah melihat kampung dalam keadaan sesibuk ini. Riuh sana-sini, seakan semua terlibat –bahkan ada yang memaksakan diri untuk terlibat— dalam suatu siklus kehidupan manusia-manusia bumi: kematian! (lagi…)

November 9, 2008

Upik Suti dan Sebatang Rokok

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:02 am
Tags:
Cerpen Farizal Sikumbang

Hanya ada satu alasan yang sampai saat ini selalu bergayut di kepala Upik Suti perihal mengapa kaum laki-laki lebih cepat mati daripada kaum perempuan. Yakni, karena kaum laki-laki pecandu rokok. Alasan itu selalu dipertahankannya jika ada orang yang berdebat dengannya. Upik Suti sangat yakin sekali, karena suatu hari suaminya meninggal di pangkuannya dengan dada sesak. Dia tahu, itu akibat candu rokok. Suaminya adalah laki-laki perokok. Satu hari suaminya bisa menghabiskan dua sampai empat bungkus rokok. Dari rokok bermerek commodore, Kansas, Djarum, sampai rokok nipah pun di hisapnya dengan rakus.

Dulu, bukan Upik Suti tidak pernah melarang suaminya merokok. Bila dilarang, suaminya malah marah besar. Mengumpat di sana-sini. Mengeluarkan kata makian. Menceracau. Bahkan bila uang tak ada dan Upik Suti tidak mau memberi, tudung nasi akan dilemparkannya ke bawah dari atas rumah panggung. Jika tak puas, kuali sampai periuk nasi pun akan berdentang-dentang berbunyi nyaring di buangnya dari rumah gadang itu.

Maka untuk meredam suaminya supaya tidak marah, dia akan menyerah dengan cara memberi suaminya uang. Setelah dapat uang, suaminya akan bergegas ke lapau Haji Kanin untuk membeli rokok, sedangkan dia hanya termangu melihat tingkah suaminya. Demikianlah halnya Upik Suti mengalami hidup bersama almarhum suaminya yang seorang parewa pasar itu. (lagi…)

November 2, 2008

Di Balik Bukit

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:12 am
Tags:

Cerpen Dian Hartati

Awan-awan berarak. Langkah kaki begitu bergegas menuju kampung sebelah. Ini adalah hari di mana saya harus menyusuri jalanan lengang sendiri. Biasanya bapak menemani sebelum berangkat mengajar. Sekali waktu ibu pernah ikut, namun malam harinya, saya tidak tahan mendengar keluhan ibu yang kakinya pegal-pegal karena seharian berjalan menemani saya.

Mengikuti jalan berkelok seorang diri. Saya bertahan dari sepi, untungnya di sepanjang jalan kecil ini terdapat Kaliandra. Saya suka memandangnya berlama-lama. Kaliandra, si bunga merah yang indah apalagi jika tertiup angin. Mahkota bunganya membentuk untai benang-benang halus menyembunyikan serbuk sari. Saya bersyukur bunga-bunga ini masih berkembang dan menemani perjalanan saya.

Pagi-pagi setelah mengunci pintu, membenahi semua perkakas di gudang, saya menemani ibu sebentar di pembaringan. Demamnya sudah turun. Saya biarkan ibu memandangi sumur yang berada di samping rumah melalui jendela. Biasanya, jam-jam sekarang ini banyak tetangga yang sudah antri untuk mengambil air. Derit katrol sudah sejak lama tidak kami dengar. Suara tumpahan air yang menghangatkan suasana pagi menjadi sesuatu yang kami rindukan. (lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.