<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerpen Padang Ekspres</title>
	<atom:link href="http://cerpenpadek.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerpenpadek.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Apr 2009 08:25:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='cerpenpadek.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/24c46cb146599b6637f6aa4b26677a58?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerpen Padang Ekspres</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cerpenpadek.wordpress.com/osd.xml" title="Cerpen Padang Ekspres" />
		<item>
		<title>Sumarni dan Sepeda Mini</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/04/05/sumarni-dan-sepeda-mini/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/04/05/sumarni-dan-sepeda-mini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 08:25:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan Yauma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/04/05/sumarni-dan-sepeda-mini/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Ihsan Yauma

Tirai malam terkuak seiring kemunculan matahari. Seorang gadis kecil nan cantik melompat dari tempat tidurnya bergegas menuju gudang. Dulunya gudang itu dijadikan tempat penyimpanan beras. Namun kemudian dibiarkan kosong semenjak hari naas itu. Kini gudang itu menjadi rumah bagi sepeda mini milik Sumarni. Keranjang tak bertangkai yang terpasang di antara dua gagang sepeda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=143&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Ihsan Yauma<br />
</strong><br />
Tirai malam terkuak seiring kemunculan matahari. Seorang gadis kecil nan cantik melompat dari tempat tidurnya bergegas menuju gudang. Dulunya gudang itu dijadikan tempat penyimpanan beras. Namun kemudian dibiarkan kosong semenjak hari naas itu. Kini gudang itu menjadi rumah bagi sepeda mini milik Sumarni. Keranjang tak bertangkai yang terpasang di antara dua gagang sepeda itu pada malam hari dibiarkannya kosong. Pagi harinya selalu diisinya dengan beberapa helai pakaian. Begitu setiap hari.<br />
Dengan tergesa-gesa Sumarni melepaskan rantai yang melilit jari-jari sepedanya. Matanya tak pernah berhenti berputar mengawasi keadaan sekitar. Ia seakan dikejar-kejar sesuatu. Padahal tak ada apa pun di dalam gudang itu selain ia dan sepeda mininya. Hari masih pagi. Udara belum menyengat. Dahi Sumarni malah berkeringat.<br />
Sejurus kemudian rantai itu berhasil dilepasnya. Sumarni menggiring sepeda itu meninggalkan gudang. Sampai di luar Sumarni menghela napas panjang. Sangat panjang. Matanya terpejam. Hidungnya kembang-kempis. Keringat di dahinya semakin banyak hingga mengaliri batang hidungnya. Saat matanya terbuka, tanpa pikir panjang Sumarni menaiki sepeda mininya. Segenap tenaga dikerahkannya mengayuh sepeda itu sehingga lajunya sangat kencang. Rambut panjangnya yang tergerai berkibar mengikuti jalan angin. Dalam kecepatan penuh itu, sesekali Sumarni menoleh kebelakang. Sekedar memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.<br />
Penghuni jalan masih didominasi para pejalan kaki. Hanya beberapa kendaraan bermotor yang melintas. Milik orang yang lumayan berada. Sangat kampung sekali. Jalan pun belum diaspal dan mungkin tidak akan pernah. Di atas jalan yang masih berstruktur tanah itu lah sepeda mini Sumarni berlari kencang. Tak peduli ada atau tidak pejalan kaki di depannya. Perkara tabrakan bukan urusannya sekalipun kemungkinan terburuk tubuhnya terlempar hingga kepala terhempas ke sebuah batu, atau orang yang ditabraknya tewas seketika. Sumarni hanya ingin melaju. Jauh. Semakin jauh. Dan menghilang. <span id="more-143"></span><br />
Kadang kemungkinan terburuk itu nyaris terjadi. Pernah seorang anak hampir menemui nasib buruknya saat ia hendak mengambil uang seribu rupiah yang jatuh di tengah jalan. Syukurlah seoranng pria dengan sigap, bak adegan film, terbang melompat menyelamatkan anak tersebut. Tubuh mereka kemudian berguling hingga tepian jalan. Sumarni, si calon eksekutor, tak acuh sambil terus melesat. Pria itu marah dan melemparkan makian kotor. Orang-orang yang berada di sekitar kejadian justru mengirim pandangan sinis kepada pria itu. Seorang kakek mengambil inisiatif menemuinya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya dengan sebuah bahasa tubuh, pria yang tadinya naik darah itu akhirnya mengangguk takzim.<br />
***<br />
Sinar mentari masih hangat saat Sumarni dan sepeda mininya berhenti di sebuah sekolah dasar. Sumarni tak lantas memasuki sekolah itu. Ia tertahan cukup lama di depan pagar sekolah. Matanya meyaksikan para murid berkeliaran, berlarian, berteriak, dan tertawa saat jam istirahat. Kadang ia ikut tertawa dan melompat-lompat kegirangan. Pagar yang terbuat dari bambu dan telah berusia lanjut itu diajaknya berbahagia. Dua tangannya menggenggam dua buah bilah dan kemudian ia goncang. Alhasil sebuah bunyi “krak” menjawab nasib pagar tersebut.<br />
Baik guru ataupun murid tak begitu merespon kejadian itu. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Setelah itu keadaan kembali seperti sedia kala. Sumarni tak ambil pusing. Ia tetap bertahan dengan kegiatannya. Tak lama suasana hati Sumarni kembali hening ketika lonceng berbunyi. Murid-murid yang berkeliaran kembali ke kelas masing-masing. Sumarni diam. Ekspresi wajahnya dingin. Mulutnya sedikit menganga. Tangannya melepaskan genggaman.<br />
Sumarni menyeret langkahnya masuk ke halaman sekolah. Sepeda mini itu dibiarkannya tergeletak di depan pagar. Di tengah halaman itu Sumarni menghitung jumlah kelas yang ada dengan telunjuknya,<br />
“Satu, dua, tiga, empat, lima, e..” Sumarni tidak yakin. Lalu dihitungnya lagi,<br />
“Satu, dua, tiga, empat, lima, e..” Sumari tetap tidak yakin.<br />
“Satu, dua, tiga, empat, lima, e… Cukup! Cukup sampai di situ! Sudah putus! Tidak boleh ditambah lagi!” Nada suara Sumarni mengeras.<br />
Ada enam kelas yang berdiri sejajar. Tapi sejak hari naas itu, bagi Sumarni hanya ada lima. Tidak mungkin jadi enam.<br />
Sumarni telah berdiri di depan pintu yang di atas kusennya tertulis angka lima romawi. Tanpa permisi ia membuka pintu itu perlahan-lahan. Setelah dalam keadaan terbuka lebar, Sumarni melambaikan tangannya kepada penghuni kelas sembari tersenyum kaku. Sayang tidak ada tanggapan. Mereka yang ada di kelas hanya menatap lesu.<br />
“Sudahlah anak-anak. Mari kita lanjutkan pelajarannya,” kata Ibuk Dewi.<br />
Sumarni tidak beranjak dari posisinya. Matanya menerawang memandang langit-langit kelas. Lalu turun ke dinding dan akhirnya jatuh pada sebuah bunga di atas meja Ibuk Dewi. Bunga itu adalah pemberian Sumarni kepada Ibuk Dewi sebagai tanda terima kasih atas kenaikan kelasnya. Kini bunga itu ingin diambilnya kembali karena Ibuk Dewi telah menghianatinya. Sebelum hari naas itu Sumarni mengetahui kalau Ibuk Dewi ternyata orang yang menawarkan dirinya kepada Pak Fauzi. Namun niat itu urung ia laksanakan saat perhatiannya tertuju pada pertanyaan yang diajukan Ibuk Dewi kepada para murid.<br />
“Baiklah anak-anak. Sekarang jawab pertanyaan Ibuk. Mengapa kita wajib menolong orang yang sedang dalam kesulitan?”<br />
Belum sempat para siswa beraksi, Sumarni telah mengacungkan tangan lebih dulu.<br />
“Karena mereka jahat. Mereka jahat sama Marni. Mereka tidak sayang sama Marni,” jawab Sumarni sambil terisak-isak.<br />
Sumarni tak berlama-lama dengan tangisannya. Ditariknya lengan baju sebelah kanan lalu diusapkan ke matanya yang basah. Juga tak ketinggalan hidung yang mulai berlendir. Sumarni kemudian menarik pintu yang terbuka itu dan membantingnya sekuat tenaga. Selanjutnya ia berlari menuju sepeda mini yang baru saja ditelantarkannya itu dan kembali melesat.<br />
***<br />
Sengatan matahari mulai redam. Bersamaan dengan suara adzan ashar, Sumarni berhenti di depan kantor kepala desa. Di samping kantor itu terpampang gambar Pak Fauzi berukuran sangat besar. Memang tidak ditemukan nomor ataupun ajakan mencoblos dalam gambar itu. Tapi ada kalimat pendek bertuliskan PENYELAMAT DESA sebagai bentuk penghargaan kepada Pak Fauzi. Pria ini sangat berjasa karena hampir sembilan puluh persen kepala keluarga di desa itu dipekerjakannya. Mulai dari buruh tani, pekerja ternak, pekerja tambak, pengrajin keramik, sampai pengrajin perak. Upah yang diberikannya melebihi standar pendapatan masyarakat desa sebelum ia datang, sehingga tidak perlu lagi menggaruk kepala selepas tanggal lima belas hingga akhir bulan.<br />
Sumarni hanya bisa melihat gambar itu dari kejauhan. Beberapa orang pria telah bersiap menghadang apabila ia mencoba menerobos masuk. Bisa berbahaya, kata mereka. Sumarni memang berniat merusak gambar Pak Fauzi sejak hari naas itu. Hanya itu yang ingin dilakukannya saat menyadari bahwa ia tak punya daya menghancurkan hidup pria yang seumuran dengan ayahnya itu.<br />
Mata Sumarni mulai basah. Hatinya bergemuruh. Perih. Angannya tak sampai. Sumarni seakan mengutuk ketidak-berdayaannya. Di depan salah satu pria itu Sumarni bersujud, memohon.<br />
“Tolong Marni. Marni tidak bisa. Dia jahat sama Marni. Dia benci sama Marni”<br />
Berulang kali ia ucapkan kata-kata itu. Tapi sama sekali pria itu tidak peduli. Ia dan teman-temannya malah menghindar. Kasihan Sumarni.<br />
Dalam keadaan menangis, Sumarni melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan tempo lambat karena ia mulai kelelahan. Cairan yang masih keluar lewat matanya ikut terbang dibawa angin. Kenangan masa lalu berserakan di sepanjang jalan yang dilewati Sumarni. Sawah, tempatnya bercengkrama; mushalla, tempatnya mengenal agama; dan rumah Mak Minah, tempat mengadunya; semakin menambah kesedihan. Tak satu pun dari tempat itu yang berkenan menerimanya lagi semenjak hari naas itu. Ya, semenjak hari naas itu.</p>
<p>Kini tubuh Sumarni terbaring lemah. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Rambutnya berantakan. Wajahnya mulai kusam dan berminyak. Tenaganya habis karena seharian mengayuh sepeda mininya. Malam semakin malam. Di pinggir jalan, di perbatasan desa, tubuh yang lemah itu perlahan-lahan hanyut dalam lelap.<br />
***<br />
“Kopinya satu, Buk.”</p>
<p>“Manis apa pahit?”</p>
<p>“Yang sedang-sedang saja, Buk”</p>
<p>Tak lama berselang kopi pesanan pemuda itu pun datang.</p>
<p>“Orang baru ya, Dik?” Tanya seorang pria di warung kopi itu.</p>
<p>“Iya, Bang. Saya kuliah praktek ke desa ini. Kira-kira selama tiga bulan.”</p>
<p>“Wah bagus itu. Siapa tahu desa ini bisa tambah maju dengan kedatangan Adik.”</p>
<p>“Mudah-mudahan, Bang.. Oh ya, Bang, tadi malam saya melihat anak perempuan teriak-teriak di perbatasan desa. Sepertinya ia mengalami pemaksaan soalnya ada beberapa orang yang menarik kaki dan tangannya. Abang tahu kenapa?”<br />
“Namanya Marni. Belakangan ini otaknya sudah miring. Setiap malam pasti ada saja orang yang memaksanya pulang.”<br />
“Saya jadi bingung. Bisa Abang jelaskan lagi.”<br />
“Dia itu mau dinikahi sama Pak Fauzi. Itu, orang kaya yang fotonya dipasang di kantor kepala desa. Dua minggu yang lalu seharusnya mereka sudah nikah. Tapi Marni malah kabur dengan sepeda mininya itu. Kalau tidak salah kira-kira jam setengah enam pagi.<br />
Orang-orang di rumah jadi panik. Mereka kehilangan Sumarni. Tapi syukurlah ada yang melihat anak itu menuju perbatasan. Saya dan teman-teman yang diberi motor sama Pak Fauzi langsung mengejar Marni. Pas di perbatasan kami melihat Marni jatuh dari sepedanya. Kepalanya berdarah. Saya pikir dia hilang ingatan kaya’ di tipi. Ternyata lebih parah. Ia jadi snewen. Kata Dokter sih bukan karena kepalanya itu, melainkan tekanan mental.<br />
Besoknya sampai sekarang Marni selalu jalan-jalan dengan sepeda mininya itu. Ngebut. Malamnya dia selalu tidur di perbatasan. Pas dijemput, gilanya menjadi-jadi. Pusing saya. Kapan semua ini selesai. Makanya kemaren sore waktu dia nyembah kaki saya tidak saya acuhkan. Namanya juga orang gila.<br />
Dasar bodoh. Pakai alasan ingin sekolah segala. Dia pikir cari uang itu gampang. Kalau saja pernikahan itu jadi, gudang beras sama isinya sudah pasti jadi milik Marni. Tidak hanya itu, Pak Fauzi bakal ngasih rumah dan mobil buat orang tua Marni. Saya pun sudah dijanjikan Pak Fauzi dibelikan mobil sedan. Nasib,nasib.”<br />
“Dibelikan mobil sedan? Kalau boleh tahu Abang siapanya Marni?”<br />
“Dari dulu sampai sekarang saya yang selalu menolong Marni dan orang tuanya. Saya ini pamannya.”</p>
<p>Padang, Desember 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=143&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/04/05/sumarni-dan-sepeda-mini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga Makmur</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/15/keluarga-makmur/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/15/keluarga-makmur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 04:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Alwi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Nelson Alwi
KETIKA Insan dan Ibnu berlarian pulang ke rumah dan berkali-kali meneriakkan bahwa Si Makmur ditabrak sepeda motor, aku kaget bukan kepalang. Namun kekagetanku mendadak diluruhkan oleh kesadaran yang pelan-pelan melahirkan rasa sesal: tidak semua lawakan di rumah-tangga layak diketahui anak-anak.
“Memang susah sekarang,” ujar tetanggaku yang tertimpa musibah itu pada suatu kali, sewaktu bertandang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=125&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Nelson Alwi</strong></p>
<p>KETIKA Insan dan Ibnu berlarian pulang ke rumah dan berkali-kali meneriakkan bahwa Si Makmur ditabrak sepeda motor, aku kaget bukan kepalang. Namun kekagetanku mendadak diluruhkan oleh kesadaran yang pelan-pelan melahirkan rasa sesal: tidak semua lawakan di rumah-tangga layak diketahui anak-anak.<br />
“Memang susah sekarang,” ujar tetanggaku yang tertimpa musibah itu pada suatu kali, sewaktu bertandang ke rumahku. “Untung sejak tugas di bandara aku rajin menabung. Selain dapat mengambil rumah di sudut, aku sempat pula membeli sawah-ladang serta dua ekor kerbau di kampung. Seratus-lima-puluh emas. Bunga uang yang kudepositokan… itulah yang meringankan bebanku kini….”<span id="more-125"></span><br />
Sepeninggal sang tamu aku dan istriku tertawa-tawa mengulangi ceritanya. Dan sejak saat itu, entah dorongan setan mana, aku sering mengolok-olok tetanggaku itu —tentunya tanpa sepengetahuan dia— dengan panggilan Si Makmur.<br />
“Lekaslah Ayah ke tempat Pak Makmur,” kata Ibnu memenggal ketermanguanku.<br />
“Hus… jangan sebut-sebut Pak Makmur lagi. Pak Amran….”<br />
Insan dan Ibnu tercengang.<br />
“Kenapa Ayah jadi sewot?” protes Insan. “Pak erte sudah menunggu Ayah di sana,” lanjutnya. Bergegas aku pun berganti pakaian, kemudian pergi ke rumah di pojok Blok NN itu. Rumah dengan cat merah bata yang lumayan besar, jauh lebih sehat dibanding rumah warga sekelilingnya. Tentang ini Si Makmur pernah berkata: “Aku suka warna yang kebali-balian, begitu. Lagi pula di pojokan, kan, Pak Nel. Cerah. Tersendiri. Ada kelebihan tanah sekitar tiga puluh enam meter. Berapa aku bayar dulu, ya? Kalau aku tak salah ingat 200 ribu per meter….”<br />
***<br />
KUDAPATI Si Makmur sedang menjelepak tersandar di pilar beton teras rumahnya sambil meringis-ringis memegangi paha kaki sebelah kanan. Beberapa orang yang menggerombolinya, tidak diacuhkannya, termasuk aku yang selama ini paling diakrabi dan senantiasa setia mendengarkan segala omongannya.<br />
“Di Sub-Seksi Fiskal di bandara jelas enak, Pak Nel,” sesumbar Si Makmur mengomentari basa-basiku menyangkut keberhasilannya. “Berapalah gaji pegawai negeri golongan dua-de dengan masa kerja 15 tahun. Tidak cukup untuk seminggu. Insentif tunjangan habis untuk membayar cicilan hutang koperasi. Jadi mana mau aku dipindah-pindahkan lagi. Tapi kupikir takkan ada yang berani mengutak-atik apalagi menggeser posisiku. Mak Uniang, mantan sekretaris kabupaten yang kukenalkan tempo hari… ya, pamanku yang ketemu Pak Nel di rumah dulu, telah menduduki jabatan kepala biro kependudukan dan pemerintahan di kantor gubernur….”<br />
Perlahan kudekati Si Makmur. Dia melirik sejenak, lalu kembali meringis sambil memegangi paha kanannya.<br />
“Bagaimana?” tanyaku. “Apa mau diantar ke rumah sakit?”<br />
“Biar nanti saja,” jawab Si Makmur. “Aku tak kuat berjalan. Ini Si Pipo kok lama sekali pulangnya, ya,” gerutunya entah ditujukan kepada siapa.<br />
Ketua RT menyarankan agar Si Makmur segera dibawa masuk ke dalam rumah. Dua orang warga berusaha mengangkat serta memapah Si Makmur yang tetap meringis-ringis kendati sudah tidak hendak membantah lagi.<br />
Si Makmur tertabrak saat mematut-matut rumahnya yang baru selesai ditingkat-duakan. Pengendara sepeda motor yang kurang awas, sewaktu membelok, langsung menghantam tungkai tubuh Si Makmur yang kian tambun.<br />
Akhir-akhir ini, sore-sore, Si Makmur memang sering tampak berkacak pinggang di jalanan kompleks sembari memandangi rumahnya.<br />
“Sudahlah, Pak,” bercanda aku menyapa Si Makmur saat berpapasan di muka rumahnya, petang dua hari yang lalu. “Sudah mantap,” tukukku, senyum dan ikut memandangi rumahnya yang semakin rancak. Tapi senyum dan candaku tidak digubrisnya. Dengan mimik serius dia menepi, dan sambil bersandar di pagar besi pekarangan rumahnya dia bercerita panjang lebar tentang proses renovasi rumah itu. “Jadi istriku yang mendesak agar rumah ini segera ditingkat-duakan. Kalau aku sih ingin membeli tanah yang lebih luas saja, biar leluasa membangun di sana…,” katanya mengakhiri pembicaraan.<br />
Masih bersemangat rupanya Si Makmur, pikirku. Padahal, sepengetahuan orang-orang, warga kompleks perumahan di mana kami bermukim, sudah cukup lama dia memelihara kesenangan menutup diri, dan sangat jarang keluar rumah sepulang dari kantor. Bahkan, dengan berbagai alasan, kegiatan-kegiatan warga di RT kami selalu dia hindari.<br />
Semula, alasan-alasan Si Makmur tentu saja mengundang simpati dan keprihatinan, karena sebelumnya dia termasuk salah seorang pengurus RT yang aktif. Peranannya selaku Ketua Bidang Sosial membuat dia banyak berhubungan sekaligus sangat dihormati warga. Namun lama-kelamaan orang-orang mulai curiga, mengingat tingkah laku Si Makmur yang ada kalanya tidak masuk akal.<br />
“Sekujur badan terasa lemas tak bertenaga,” kata Si Makmur tatkala aku beserta sejumlah pengurus RT dan warga lainnya datang membesuk. “Seakan tiada bertulang….”<br />
“Makan bagaimana?” tanya Ramli.<br />
“Tak bernafsu saja rasanya….”<br />
“Tapi semakin gemuk kami lihat,” celetuk Azamril bernada menggoda. “Kayak bos….”<br />
“Ah, ini gemuk karena penyakit barangkali.”<br />
“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Pak Amran,” nasihat Ketua RT.<br />
“Nanti benar-benar serius sakitnya,” tukas Azamril. Sekilas, aku menangkap mimik keterkejutan pada air muka Si Makmur.<br />
“Seperti Bapak-bapak lihat, dalam sepuluh hari belakangan aku sudah tidak nyetir sendiri,” elak Si Makmur. “Syukur ada Si Pipo yang mengantarkan….”<br />
“Ha?! Hati-hati, Pak Amran, Si Pipo belum punya SIM, kan?” kata Azamril.<br />
“Itulah. Tapi dasar anak sekarang.” Si Makmur tampak bangga membela diri. “Meski baru kelas dua es-em-pe, Si Pipo telah mahir mengendarai mobil.”<br />
***<br />
DERU Toyota Avanza berhenti di garasi. Pipo maupun Bu Endang, istri Si Makmur, terheran-heran menyaksikan orang-orang yang seolah-olah tengah menantikan kehadiran mereka.<br />
“Ada apa?”<br />
“Pak Amran ditabrak sepeda motor.”<br />
“Ha?!” Bu Endang tergopoh-gopoh panik memasuki rumahnya, lantas menarik napas lega begitu menyadari suaminya cuma lecet-lecet sedikit saja.<br />
“Siapa yang nabrak Papa?” Pipo bertanya dengan wajah beringas.<br />
“Sudah. Sudah diselesaikan secara baik-baik,” Ketua RT berkata menenangkan.<br />
“Syukurlah,” ujar Bu Endang. “Sebab kami juga nyaris membunuh orang tadi….”<br />
“Ha?!” Si Makmur seperti terlambung dari sofa, namun kembali terhenyak dan meringis-ringis memegangi paha kanannya.<br />
“Tapi jelas bukan kami yang salah. Orang itu yang tiba-tiba menyelonong keluar dari jalan kecil di depan Apotek Madya. Untung Si Pipo cepat banting stir, kalau tidak mampus dia. Hanya saja…” Bu Endang jeda seketika. “Hanya saja….”<br />
“Hanya saja apa, ha?!” Si Makmur penasaran.<br />
“Lampu depan mobil yang sebelah kiri pecah menyenggol becak yang diparkir di trotoar….”<br />
“Ah, ada-ada saja kalian. Mana Si Pipo. Pipoooo…,” teriak Si Makmur. Si Pipo datang mendekat. Si Makmur mengomeli Pipo sambil meringis-ringis dan memegangi paha kanannya. Si Pipo menjawab merasa tidak bersalah. Bu Endang, istri Si Makmur, tidak tinggal diam membela Si Pipo. Heboh! Orang-orang yang semula ingin memperlihatkan hati yang suci dan muka yang jernih kepada keluarga yang naas itu, secara diam-diam, ngeloyor pergi satu demi satu.<br />
Aku sungguh jadi serba salah. Karena itu kuturuti saja langkah Ketua RT menuju gerbang pagar rumah Si Makmur. Beberapa warga yang bermaksud menengok keadaan Si Makmur tertegun dan berhenti di sana. Ketua RT cuma menggeleng-gelengkan kepala menanggapi pertanyaan maupun tatapan ingin tahu mereka. Dan, aku mungkin menyengir geli, terlebih mengenangkan cerita istriku tentang ciloteh Bu Endang.<br />
“Yang penting keberanian, Buk Har,” kata Bu Endang pada malam menjelang Si Makmur membeli mobil. “Sebetulnya Buk Har bisa pula memperoleh apa yang dimaui. Buk Har juga kerja, kan?! Jadi gampang. Gadaikan salah satu es-ka di bank….”<br />
Orang-orang yang masih berdiri di gerbang rumah Si Makmur dikagetkan oleh suara benda pecah-belah terbanting ke tembok. Bu Endang, istri Si Makmur, terdengar terpekik. Si Pipo berlari ke garasi dan menendang pintu mobil lalu ngacir ke warung di mana teman-temannya sesama begadang berkumpul.<br />
Aku bertukar pandang dengan Ketua RT, kemudian, seperti telah berunding, sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing, diikuti oleh beberapa warga yang belum lagi sempat menemui keluarga Si Makmur.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=125&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/15/keluarga-makmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Parang Yang Jatuh</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/08/parang-yang-jatuh/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/08/parang-yang-jatuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 05:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Deddy Arsya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Deddy Arsya

Seusai hujan semalam, jalan tanah setapak itu tentu akan menjadi licin. Beberapa genangan tentu juga akan terbentuk. Sementara rumput-rumput di sisi kiri dan kanan jalan akan kembali menegang dan segar setelah disangai panas cukup lama. Musim kemarau  mungkin telah berakhir oleh hujan itu.
Pagi itu seekor tupai, seperti tengah merayakan pergantian musim, terlihat melompat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=133&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Deddy Arsya<br />
</strong><br />
Seusai hujan semalam, jalan tanah setapak itu tentu akan menjadi licin. Beberapa genangan tentu juga akan terbentuk. Sementara rumput-rumput di sisi kiri dan kanan jalan akan kembali menegang dan segar setelah disangai panas cukup lama. Musim kemarau  mungkin telah berakhir oleh hujan itu.<br />
Pagi itu seekor tupai, seperti tengah merayakan pergantian musim, terlihat melompat dari batang marapalam menuju pohon aur yang rimbun di bibir jalan. Titik-titik air bergeraian jatuh dari dahan-dahan aur yang bergoyang. Beberapa rantingnya yang telah mati ikut jatuh.<br />
Di sisi kiri jalan setapak itu berbatas lembah yang agak curam, dibatasi semak dan belukar tipis. Sementara di sisi kanannya berbatas bukit-bukit berderet panjang. Di jalan setapak itu nanti, jalan setapak yang dari waktu ke waktu terasa semakin mengecil oleh semak belukar yang tumbuh di sisi-sisinya, beberapa saat lagi Sainal akan berjalan. Bocah itu kini pergi mengambil karung plastik ke kolong rumah disuruh ayahnya. Rumah anjung di kaki bukit itu, yang di sisi belakangnya seekor sapi tengah bergelung di dalam sebuah kandang. Rencananya bocah itu akan ke rimba pagi ini bersama ayahnya. Sudah lama mereka tak ke parak (kebun) nun yang berada jauh di puncak rimba sana. Mungkin pala dan kopi telah ada yang masak, pinang sudah bisa diambil,  maka karung plastik itu dipersiapkan sebagai tempatnya nanti.<span id="more-133"></span><br />
“Tukar bajumu dengan yang lebih buruk!” seru ayah bocah itu sebentar tadi.<br />
”Uni juga ikut?”<br />
”Tentu.”<br />
”Tapi Uni tak bisa memanjat.”<br />
”Tak apa, biarkan nanti ia mengumpulkan buahnya saja di bawah.”<br />
”Apa Ibu juga ikut?”<br />
”Ah, tidak usah. Biarlah Ibumu di rumah saja.”<br />
”Bagaimana kalau Ibu ikut?”<br />
”Tidak usah. Siapa yang akan memberi makan ayam nanti kalau Ibu ikut? Ibumu jalannya juga lambat. Baik kita saja yang pergi.”<br />
”Tapi Uni jalannya juga lambat….”<br />
&#8230;.<br />
”Minta pada Ibumu supaya dibungkuskan nasi untuk kita.”<br />
”Uni jadi ikut?” kata Sainal, nyinyir.<br />
”Panggillah ia segera!” perintah ayahnya.<br />
Nanti Sainal akan berjalan di depan sekali. Sesekali ia akan menoleh ke belakang. Ayahnya yang berada belakangnya menyandang ransum yang berisi air dan nasi. Sementara Delima berjalan lambat, tertinggal jauh dari Sainal yang telah lebih dulu melesat.<br />
”Sainal, jangan cepat-cepat!” seru Delima yang kepayahan.<br />
Sainal menoleh ke belakang. ”Uni, cepatlah!” katanya pula<br />
”Berhenti dulu! kata Delima membalas.”<br />
&#8230;.<br />
”Ayah, Sainal tak mau berhenti! Biarkanlah dia tersesat, perutnya di robek-robek beruang nanti. Biarlah harimau memakan kepalanya sampai tak tersisa. Dan babi hutan mengamuk-amuk di pahanya,” kata Delima lagi setengah berteriak.<br />
Sang ayah diam saja. Hanya tangannya yang memegang parang hitam itu terlihat cekatan menyibakkan semak sepanjang jalan.<br />
Tak lama, kini Sainal mau berhenti, mungkin sudah lelah sendiri. Sementara beberapa ekor murai terdengar berkicau-kicau rendah di dahan-dahan damar yang bergesekan. ”Masih jauh, Yah?” Delima membalas kicau murai. Ia memang baru sekali ini ikut ke parak mereka di puncak rimba itu. Ia duduk begitu saja melepas lelah di tanah yang berumput tebal dan masih basah. Menghadap ke lembah, dan matanya menatap jengah ke bawah. Pantatnya lembab oleh sisa hujan semalam. Ia mengipas-ngipaskan bajunya untuk mengundang angin. Tiba-tiba Sainal mendekat dan menyejutkannya. Delima terperanjat. Delima berang:<br />
”Ayah, Sainal tidak berotak!”<br />
Sainal tertawa. Dengan marah, Delima mencubit. Tepat di paha adiknya itu. Membiru. Mata Sainal berair hendak menangis. Delima mengangkat dan menggoyang-goyangkan kedua telunjuknya sambil tertawa ke arah adiknya yang menahan sakit.<br />
Delima sudah sekolah enam. Beberapa bulan lagi akan masuk tsanawiyah. ”Tapi Ema tak pandai mengaji”, katanya pada ibunya suatu kali. Nila (teman sebangkunya) akan masuk SMP, katanya pula.<br />
”Ema masuk SMP sajalah, Bu?”<br />
Tapi SMP jauh. Nun di kota kecamatan sana.<br />
Sedang Sainal sudah pula kelas dua kini, hanya belum pandai-pandai juga membaca. Mungkin tidak bisa naik ke kelas tiga, kata gurunya pada sang ayah ketika sekali bertemu di Pekan Raba’a. ”Tapi Sainal pandai menambah dan mengurang, Yah!” kata Sainal pula membela diri. ”Pak Guru yang tak pandai mengajar. Dia orangnya pemarah!”<br />
Ibu Sainal tergelak memperhatikan cara anaknya itu berbicara, seperti beruang mabuk, bibirnya memonyong.<br />
Keluarga itu tinggal jauh dari koto (perkampungan). Di koto mereka belum punya rumah sendiri. Dulunya sebelum berpondok di tepi bukit, keluarga itu tinggal di rumah gadang kaum ibu. Setelah Delima lahir, mereka memutuskan turun dari rumah gadang, dan berpondok di tepi bukit itu. Berladang kulit manis dan gardamunggu. Mereka juga memelihara lusinan ekor ayam, dan seekor sapi yang disabitkan rumputnya setiap hari oleh sang ayah. Sebab Sainal belum pandai menyabit rumput. Sebab Sainal seorang yang kidal. Sabit kidal belum lagi dipesan dari Pekan Raba’a.<br />
Tiga petak sawah kecil-kecil berjenjang yang sekarang ditanami padi adalah sawah pusaka milik kaum dari pihak ibu. Tak seorang pun dari saudara ibu yang mau mengerjakan sawah di lereng bukit yang jauh dari koto itu. Babi-babi yang merenggut-patahkan padi dan menggali habis ketela pohon, kera-kera yang menyerang buah kakao dan pisang tanpa ampun&#8230;. Sementara sawah-sawah yang dekat dengan koto adalah sawah tadah hujan pula, yang hanya bisa ditanami ketika musim hujan tiba. Saudara-saudara Ibu-Sainal yang semuanya laki-laki pergi merantau ke Pekanbaru dan Palembang. Mamak (paman) Sainal yang merantau ke Papua sudah sepuluh hari raya tak pulang-pulang. Hanya berkirim baju sesekali pada Sainal dan Delima menjelang hari raya. Begitu pula parak pala yang lebih jauh lagi, nun di puncak rimba. Ayah Sainal saja kini yang mengerjakannya.<br />
Sekali, terbersit pula oleh lelaki paruh baya itu keinginan untuk pergi ke Batam, atau mencari pekerjaan ke Malaysia seperti banyak orang di koto. Sepulang dari sana, bisa membangun rumah—di koto, di koto tentu! Sekali terbayang pula Delima kalau sudah besar nanti. Keluarga mana yang mau meminangnya kalau mereka tidak punya rumah di koto? Di mana helat akan dilangsungkan? Di mana kawin akan digelar? Mereka tak akan mungkin selamanya tinggal di sini, di bukit ini. Tetapi keinginan itu cepat-cepat lenyap oleh kesibukannya berladang dan beternak ayam dan sapi. Di mana tumbuh, di situ disiangi—begitu adatnya hidup, kata sang ayah sekali.<br />
Hari minggu, Sainal dan Delima tak bersekolah. Maka mereka dibawa pergi memungut pala ke rimba oleh sang ayah. Parak pala jauh di puncak. Sudah lama tak diterangi. Tentu telah bersemak tinggi. Beberapa hari sebelumnya, Delima minta dibelikan buku cetak Matematika. Kata gurunya, setiap orang harus punya buku cetak. Kalau tidak ada, tak boleh belajar. Sementara itu, buku gambar Sainal juga sudah habis pula. Pensilnya entah hilang ke mana. Sainal tak pandai menjaga barang miliknya sendiri. Kaos kaki tinggal sebelah. Sepatunya sudah jebol di tengah.<br />
Mata sang ayah berkaca-kaca. Panas matahari mulai tajam. Dua ekor siamang terlihat bergayut-gayut dan saling berkejaran dari satu cabang batang pulai ke cabang batang pulai lain. Seperti ingin kawin. Sesekali keduanya meraung lirih, mengisyaratkan musim hujan akan tiba.<br />
Setelah penat lepas, sang ayah berdiri lebih dahulu. Sekerat dahan lansano lapuk terbang melayang ke arah dua ekor siamang itu. Serasa melayanglah pula cemas itu semuanya. Tak kena. Dua ekor siamang itu tak bergeming sedikitpun. Sainal ikut berdiri selanjutnya. Ia hendak melempari siamang-siamang itu pula seperti apa yang dilakukan ayahnya. Tapi tak ada yang hendak dilemparkannya. Ia lalu hanya bersorak-sorak mengusir dua siamang itu. Kedua siamang tetap tak terganggu.<br />
Kali ini Delima berjalan paling depan. Jalannya lebih cepat. Dia masih marah pada adiknya, wajahnya cemberut. Sainal berada di belakangnya. Sesekali Sainal melesat maju ke depan untuk menghalangi jalan Delima. Mereka dahulu-mendahului. Sainal menyerempet. Jalan setapak itu licin. Tubuh mereka bertubrukan. Delima mulai tersenyum lagi. Sainal makin menjadi-jadi. Digodanya terus kakaknya itu. Sekarang perempuan seorang itu ”mengamuk”. Digelitiknya adiknya habis-habisan. Mereka ganti-berganti menggelitik. Delima tersandung pohon jirak mati. Sainal tertawa besar. Ayah mereka tertinggal di belakang, mencari-cari daun sirih yang tadi sebelum pergi sempat dipesan sang istri. Sang istri yang sudah ”berisi” pula. Ia sudah dua bulan lebih tak datang bulan.<br />
Delima meringis, seperti ingin menangis. Kuku jempol kakinya patah dan mengeluarkan darah. ”Uni sendiri yang salah,” kata Sainal membela diri dari tatapan mata kakak perempuannya yang berang dan mulai berair. Sainal mencoba hendak menolong. Tapi Delima mengabaikan tangannya. Ia tetap marah. Lukanya tidak terlalu parah.<br />
Mereka berjalan lagi. Sekarang Sainal yang berada paling depan. Diam. Sepanjang jalan. Uwi-uwi terdengar memecah sunyi sebentar dari balik semak. Lalu hilang lagi. Seragam sekolah Sainal sudah minta diganti. Pantat celananya sudah dua kali ditambal ulang sang ibu. Sepatunya yang sebelah lagi juga sudah jebol di tengah. Sainal, sepatu sekolah jangan dibawa bermain bola! kata sang ibu suatu kali. Sementara baju sekolah Delima juga sudah terlalu kecil. Jelas saja lekuk susunya yang mulai tumbuh. Rok merahnya juga sudah pendek. Resleting belakangnya sudah tidak berfungsi. Terpaksa pakai semat. Kalau nanti masuk tsanawiyah, tentu harus pula membeli seragam baru.<br />
Kening sang ayah berkeringat. Ransum yang disandangnya terasa makin berat saja. Matahari makin meninggi dan menyengat. Sunyi lama tak pecah. Hingga beberapa saat kemudian Sainal bersuara lagi: ”Yah, setelah menerima lapor, orang akan jalan-jalan ke Bukittinggi!”<br />
”Uni saja yang pergi, Yah. Sainal tidak akan pandai sendiri. Sainal suka mabuk kalau naik mobil,” kata Delima memotong cepat.<br />
”Uni kan dulu sudah pernah pergi?” bantah Sainal pula.<br />
Sang ayah diam saja. Di tangannya ada setumpuk daun sirih. Daun-daun sirih itu lalu diserahkannya ke Sainal. Sainal memasukkannya ke dalam saku celananya yang besar sambil bersungut-sungut tak terima kalimat kakak perempuannya.<br />
Sang ayah mulai berpikir untuk menjual sapi. Tapi induk sapi mereka sedang mengandung. Sebentar lagi sudah akan melahirkan. Kalau saja jalan-jalan akhir tahun ajaran itu bisa ditunda, tentu Sainal dan Delima bisa pergi berdua. Memang sudah lama sekali mereka tak pernah berjalan-jalan lagi, sejak kelas tiga dahulu pernah pergi ke Pagaruyuang melihat istana raja (kata orang di koto, istana itu kini sudah terbakar di sambar petir). Sainal bahkan tak pernah jalan-jalan ke mana pun juga. Tak tahu negeri di luar sana.<br />
”Kalau libur nanti, kita akan jalan-jalan ke Padang. Ibu juga ikut kita bawa. Di Padang ada laut. Di Bukittinggi sama saja dengan di tempat kita, dikelilingi bukit juga,” bujuk sang ayah.<br />
”Tapi Rosia katanya pergi, Yah. Nini bahkan sudah membayar. Tak ada teman-teman Delima yang tidak pergi,” bantah Delima pula.<br />
”Khaidir tidak ikut!” Sainal balik membantah.<br />
”Dari mana waang tahu?” Delima berang, hendak mencubit perut adiknya. Tak kena. Sainal mengelak. Mencibir. Merasa mengalahkan kakaknya.<br />
Terlihat dari kejauhan, beberapa batang pala sudah tampak dan berbuah. Hanya tak lebat sepertinya. Pinang pun sudah masak—tapi pinang terlalu murah kini. Memang sudah cukup lama mereka tak ke parak. Parak terlalu jauh. Tak terpikirkan kenapa ada terukaan yang sedemikian jauhnya dari koto. Kata orang, Niniak mereka terlambat datang ke daerah ini. Sehingga tanah yang jauh dari perkampungan saja yang masih tersisa. Sementara tanah yang lebih dekat dengan perkampungan telah lebih dulu diteruka orang.<br />
Matahari sudah tegak di atas kepala ketika mereka sampai. Sainal lalu berlari hendak memanjat segera seketika mereka sampai. Delima menanti saja di bawah, mengumpulkan setiap buah pala yang dijatuhkan adiknya. Sementara ayah mereka sibuk menebang batang kopi mati untuk dijadikan galah pengait buah pinang, membersihkan dan menerangi parak. Setelah menyerahkan galah pengait itu pada Sainal, sang ayah akan menebas semak-semak yang mulai tinggi dan telah melilit batang-batang pala, pinang, dan beberapa batang kopi.<br />
Perut Delima mulai terasa lapar. Ransum ayahnya yang tampak. Sebelah kaki Sainal menginjak dahan pala yang lapuk. Menggema bunyi ’gedebukkk’<br />
Parang hitam meluncur lepas ke semak dalam.</p>
<p>Padang-Pesisir, ‏2008-9</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=133&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/08/parang-yang-jatuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Main Anak Kambing</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/01/main-anak-kambing/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/01/main-anak-kambing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 05:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Asrizal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Andi Asrizal
Bermula dari tatapan yang tak putus-putus, ia mengetahui sosok itu.  Mungkin persis tatapan kambing yang melayap di tengah rumput hijau. Seperti yang dulu pernah dikatakan ibunya saat ia kecil mengembala, “Jangan sekali-kali kau menatap seseorang seperti kambing yang dihadapkan oleh daun-daun hijau.”
Sekarang telah dewasa dan bekerja. Ia masih tak tahu jika yang tengah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=141&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Andi Asrizal</strong></p>
<p>Bermula dari tatapan yang tak putus-putus, ia mengetahui sosok itu.  Mungkin persis tatapan kambing yang melayap di tengah rumput hijau. Seperti yang dulu pernah dikatakan ibunya saat ia kecil mengembala, “Jangan sekali-kali kau menatap seseorang seperti kambing yang dihadapkan oleh daun-daun hijau.”<br />
Sekarang telah dewasa dan bekerja. Ia masih tak tahu jika yang tengah memperhatikannya itu adalah mata kambing. Punya tatapan seperti kambing. Ia tak peduli. Ia hanya bersibuk membuka lembar-lembar koran yang barusan dibelinya pada anak ingusan yang sepertinya tak tahu betul apa yang sedang dijualnya.<br />
Anak itu bilang, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Sepanjang lorong dan dari gerbong ke gerbong suaranya tetap sama, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Mungkin itu sebab korannya lebih cepat habis dibanding koran anak-anak lainnya. Ia tersenyum membayangkan berita seperti apa yang menurut anak itu bagus. Pembunuhankah? Pemerkosaankah? Korupsikah? Atau teror bom? Ia tersenyum, “Seperti jualan keset kaki saja.”<br />
Matanya meneliti tiap lembar kolom koran, tiap berita, dan ia belum menemukan yang menarik. Sampai di akhir halaman koran itu, ia menemukan sosok artis idolanya bersama beberapa ekor kambing. Artis itu diberitakan tengah memilih kambing-kambing untuk hari raya korban dan akan dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tampaknya ia tertarik.<br />
Namun, belum lekat matanya pada barisan huruf–huruf kecil itu, sekelabat saja matanya temlaung, rupanya seseorang memberinya senyum. Ia membalas. <span id="more-141"></span><br />
***<br />
Entah kapan persisnya, ia merasa senyum itu kembali tertuju padanya dan lama mengintainya. Senyum laki-laki berkumis tipis. Kacamata bingkai putih yang styles. Rambut dengan poni tepi menyentuh alis. Kemeja pas badan garis-garis. Kepala ikan pinggang bertulis Paris. Celana jeans junkies. Sepatu kulit yang ujungnya melancip sadis.<br />
Meski ia tak begitu peduli. Setidaknya ia ingat, di sana orang-orang berdesakan mencari kursi untuk sebuah pemandangan. Ibu-ibu memangku anaknya yang tampak keletihan. Anak-anak berseragam sekolah yang wajahnya acak-acakan karena telah disuap banyak pelajaran. Beberapa laki-laki tua sedang ngorok menyandarkan kepalanya di dinding kereta dengan antukan. Dan ia ingat, di sana lamat-lamat suara anak menjual koran. Suara gesekan rel kereta berkarat menyeruakkan kesibukan. Di gerbong keretan itu. Ya, di sana, beberapa minggu lalu ia membalas seyum itu.<br />
Bahunya ditepuk, ia tidak kaget. Di antara keberpuraan-sibuknya. Ia memang telah memperhatikan sosok itu mendekat, mungkin saja mencari bangku kosong dekat atau sekitarnya. Barusan, kereta api telah mempertukarkan penumpang di stasiun.<br />
“Boleh saya duduk di sini?”<br />
“Ngng&#8230; silakan!”<br />
“Aku Bram,” tangan laki-laki itu menggantung.<br />
“Haris,” ia pun menjabat.<br />
“Turun di mana?”<br />
“Balai Aru.”<br />
“Rupanya kita turun di stasiun yang sama.”<br />
“Oh ya?”<br />
Dan ia menyadari bahwa sesungguhnya ia tak sedikit pun tertarik dengan pertanyaan laki-laki yang mengaku bernama Bram itu. Meski bosan, ia tetap menjawabnya. Ia ingat apa yang dikatakan ibunya sewaktu mengembala dulu, “Pengembala kambing tidak hanya baik sama kambing, tapi juga sama manusia. Kambing mengembek saja kita dengar, apalagi kalau orang yang berbicara.” Melayani orang dengan baik, itu kesimpulannya.<br />
Ia menjawab dengan malas-malasan, saat ditanya tinggal di mana? Sudah berkeluarga apa belum? Kerja di mana? Sebagai apa? Apa hobi membaca? Lulusan Universitas mana? Sering naik kereta api? Gerbong ke berapa? Merokok apa tidak? Bahkan saat ditanya punya pacar? Kapan menikah? Ia tetap menampilkan wajah baik.<br />
Ia agak tertarik meladeni, saat laki-laki itu menyatakan bahwa setiap hari selalu melihat dirinya. Ia tercenung, bukankah baru dua kali mereka bertemu. Tapi kenapa pemuda itu bilang selalu melihat dirinya?<br />
Bram mengaku, kantornya berseberangan dengan kantor Haris. Dari ruang kerjanya di lantai tiga, Bram sering memperhatikan Haris. Setidaknya dua atau tiga kali sehari. Pagi saat Haris tiba di kantor, saat keluar makan siang, dan menjelang sore saat pulang.<br />
Ia terkaget-kaget, “Kau bekerja di kantor notaris itu?”<br />
“Dan kau bekerja di kantor distribusi rangka ringan baja itu kan?”<br />
Yang lebih mengagetkan Haris adalah ternyata ia dan Bram berasal dari daerah yang sama, kampung yang sama, kelurahan yang sama, bahkan RT yang sama.<br />
“Apa? Kau anak Pak Karmin?”<br />
“Ya!” Jawab Bram singkat<br />
“Pak Karmin yang ternak kambing?”<br />
“Betul.”<br />
“Kau anak bungsunya yang kuliah di kota dan tak mau pulang itukan?”<br />
“Hehehehe, itu dulu, sekarang aku sudah mau pulang ke kampung.”<br />
“Apa Pak Karmin masih beternak kambing.”<br />
“Tidak.”<br />
“Kenapa?”<br />
“Entahlah.”<br />
“Loh?”<br />
***<br />
Berhari-hari ia dan Bram pulang bersama. Pembicaraan di kereta api lalu telah mengawali kedekatannya. Rupanya, Bram itu enak diajak ngobrol, humoris, perhatian dan pandai membuat kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan. Bram juga sangat apik, disiplin, penampilannya selalu rapi dan tak mau mengabaikan kesehatan tubuhnya.<br />
Mereka telah banyak bertukar cerita. Tentang permasalahan di kantor, tentang kehidupan di kampung, tentang keluarga, tentang impian-impiannya. Bahkan tentang rahasia-rahasia. Seperti malam itu Bram bercerita tentang ayahnya.<br />
“Haris, Ayahku adalah penyebab sehingga aku tak mau pulang, dan memang aku juga tak mau berhadapan dengan kambing-kambing itu. Aku memang tak suka mengembala.”<br />
“Eh, Kau ini. Mengembala adalah hal yang menyenangkan. Dulu anak-anak di kampung yang tak punya kambing malah mengikuti temannya mengembala. Anak-anak gembala selalu dibekali serantang nasi dan sebotol air minum. Mereka juga membawa buku-buku PR saat mengembala. Dan dulu aku selalu membawa buku gambar dan pensil warna.” Jelasnya.<br />
“Bukan itu maksudku?”<br />
“Lalu?”<br />
“Ayahku suka main anak kambing.”<br />
Tiba-tiba saja ia serasa dibalikkan pada zaman ketika ia usia SMP. Ibunya sering bilang, “Kau jangan dekat-dekat sama Pak Karmin. Dia itu mata kambing.” Beberapa saat setelahnya ia baru tahu kenapa dirinya dan teman-temannya selalu dinasihati utuk tidak boleh dekat-dekat dengan Pak Karmin.<br />
Waktu itu ia dan teman-temannya mengembala. Pak Karmin menuruti mereka. Rupanya Pak Karmin membawa banyak makanan. Mereka lantas menikmatinya di bawah kerindangan pohon. Pak Karmin adalah sosok yang menyenangkan. Ia bercerita banyak sehingga mereka terbahak-bahak. Namun, saat kenyang memadati perut. Saat kambing-kambing asik dengan rumput. Saat mereka asik melayan kantuk. Saat itu pula mata Pak Karmin berubah seperti mata kambing yang hendak meyeruduk. Ia lantas menggerayangi mereka dengan lembut. Seseorang bahkan ada yang diam dipeluk. Untung Tuhan mengutuk. Kambing-kambing berlarian ke arah pohon itu hendak menyumput. Hujan deras jatuh tak tersangkut. Mereka pun tersadar dari semaput.<br />
“Hey, Kau dengar aku?”<br />
“Oh maaf.”<br />
“Kau heran ayahku suka main anak kambing? Aku kira semua orang kampung sudah tahu hal itu, bukan?”<br />
“Hmm aku tak tahu.”<br />
“Kau cuma tak ingin aku tersinggung kan?”<br />
“Benar, aku tidak tahu.”<br />
Bram diam, segurat wajah sedih ia tampilkan seolah dunia tak mempedulikannya. Persis bagai malam itu yang tak peduli siang. Ia seolah mendapati titik di mana Bram tak ingin diusik. Ia coba meyakinkan Bram.<br />
“Apa kau membenci ayahmu?”<br />
“Aku benci kelakuannya!”<br />
Namun, ia sulit menemukan hal yang dapat mengurangi kekisruhan hati Bram. Bukankah ia di sana untuk liburan, melepas penat setelah satu minggu bekerja, bercerita banyak hal tentang impian dan kenangan.<br />
Ia di sana bukan untuk merentang kesusahan, bersedih-sedihan atau menumbuhkembangkan kekecawaan.<br />
“Haris, aku takut kau kecewa dan menyesal.”<br />
“Dengan apa dan sama siapa? Tak ada yang patut dikecewakan dan disesalkan. Kau sudah dewasa Bram. Tak sebaiknya urusan ayahmu menjadi kekecewaan dan penyesalan yang berlarut-larut. Kita hidup dititipi kadar masalah yang sesuai dengan muatannya!” rupanya ia sedang merasa menjadi privat motivator bagi Bram, sebagaimana orang tuanya dulu membimbingnya untuk kuliah, jangan selalu menjadi penggembala. Tinggalkan kambing-kambing itu! Kau masih muda!<br />
Bram tidak mengerti. Ada hal yang tak dapat Haris pahami dan tak selayaknya lagi ia jabarkan. Cukup baginya memahami semua. Harus baginya untuk memikirkan apa yang barusan dikatakan Haris. Meski bukan itu yang sebenarnya ia maksudkan.<br />
Permasalahan main anak kambing ayah Bram itu tidaklah menurunkan kadar kedekatan mereka.<br />
***<br />
Ia tersentak, sebelah tangan mendekap lembut sebelah bahunya. Bram menyadarkannya. Dingin dan wangi. Bram tampak segar, ia baru selesai mandi, masih berhanduk. Haris tersadar, mendapati dirinya masih acak-acakan. Dirinya tahu bahwa ia sendiri tak berpakaian sejak menyadari juntai-juntai cahaya telah masuk dari ventilasi kamar Bram. Dirinya sadar bahwa ia juga tak berpakain sejak malam, sejak mata Bram memandangnya persis tatapan kambing melayap di tengah rumput hijau. Dirinya pun sadar saat Bram mendekap tubuhnya bersama malam. Dirinya bahkan sadar mereka tak main-main menghabiskan malam.<br />
“Haris, apa yang kau lamunkan?” tanya Bram lembut sekali, “Ini sudah jam berapa? Apa kau tak kerja?”<br />
Ia jatuhkan tangan yang menggantung di bahunya. Kasar sekali. Langkahnya tegas menuju kamar mandi. Bram tersenyum.<br />
Telah banyak air yang mengguyurnya. Telah banyak busa yang menyabuni badannya. Telah banyak garis-garis menit dilewatinya. Namun, ia belum pula bersih. Di kaca itu tatapannya tak putus-putus memandang dirinya sendiri. Benar, tak bisa bersih.</p>
<p>Padang, 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=141&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/03/01/main-anak-kambing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Dari Kampung Kami</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/22/cerita-dari-kampung-kami/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/22/cerita-dari-kampung-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 05:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Farizal Sikumbang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Farizal Sikumbang
Dulu, ketika aku masih kanak-kanak, malam seperti hantu di kampung kami. Kala itu listrik belum ada. Sebagai penerang hanyalah lampu petromak yang tergantung di tengah rumah. Rumah-rumah pun masih berjarak, yang dibatasi oleh rimbun semak dan batang-batang pohon besar. Pergi dari satu rumah ke rumah lain seperti melintasi rimba. Kami pun selalu pergi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=129&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Farizal Sikumbang</strong></p>
<p>Dulu, ketika aku masih kanak-kanak, malam seperti hantu di kampung kami. Kala itu listrik belum ada. Sebagai penerang hanyalah lampu petromak yang tergantung di tengah rumah. Rumah-rumah pun masih berjarak, yang dibatasi oleh rimbun semak dan batang-batang pohon besar. Pergi dari satu rumah ke rumah lain seperti melintasi rimba. Kami pun selalu pergi bersama. Tak ada yang pergi sendiri-sendiri. Maklum binatang buas masih banyak berkeliaran. Kalau tak ada harimau, babi, atau ular.<br />
Waktu itu adalah tahun-tahun yang sulit untuk transportasi. Jika ke kota kami biasanya menumpang pedati yang membawa sayur-sayuran. Tapi biasanya lebih banyak orang-orang yang berjalan kaki. Berjalan kaki membutuhkan waktu seperempat hari. Di masa  itu angkutan kota memang sangatlah langka. Kalaupun ada itu hanya satu sampai dua. Aku ingat itu sekitar tahun tujuh puluh lima.<br />
Akhirnya, suatu hari, petaka di kampung kami tiba, ini dikarenakan  tidak lagi hanya malam di kampung kami seperti hantu, tapi juga siang hari. Kekacauan Ini disebabkan oleh sebuah kabar. Kabar yang menakutkan. Lebih menakutkan bertemu macan atau hantu sekalian. Demikian takutnya, hingga siang hari tidak ada lagi kerja para orangtua selain mengurung anaknya di dalam rumah. Jika dilukiskan, suasana ketika itu begitu mencekam. <span id="more-129"></span><br />
“Hati-hati  terhadap anak kau,” begitu kata mamak pada mande suatu hari. “Orang rantai itu suka kepala anak-anak. Jadi jangan kau biarkan anakmu bermain sendirian”.<br />
“Kepala anak yang telah dipenggal itu, kau tahu, akan disembunyikan dicelah jembatan yang akan dibangun. Konon, katanya, kepala itu sebagai tumbal supaya jembatan kuat dan tahan dari beban. Kau bayangkan, hi hi, betapa kejamnya orang rantai itu,” begitu cerita mamak selanjutnya.<br />
“Lalu, kenapa namanya orang rantai?” Tanyaku pula.<br />
Mamak tidak menjawab langsung. Sejenak matanya memandangi ruang rumah panggung kami.<br />
“Konon, dari kabar yang kudengar, dia membawa  sebuah rantai untuk mengikat seluruh tubuh korbannya. Rantai itu mungkin panjangnya lebih lima depa. Jadi, jika ada orang kedapatan olehmu membawa rantai, kau larilah,” kali ini mata mamak mengarah padaku.<br />
“Nah, setelah kulihat, di seberang kampung, tempat menghubungkan kampung kita dengan kampung seberang, memang sedang dibangun sebuah jempatan besi. Kuharap kau hati-hati menjaga anakmu itu. Aku tak ingin orang rantai itu memenggal kepalanya.”<br />
“Ya, aku akan menjaganya,” sahut mande.<br />
“Ya, kau harus menjaganya. Karena suamimu tak bisa diharapkan. Suami macam apa dia itu, pulang ke rumah tidak menentu. Atau, apa dia punya istri lagi,” kata mamak seperti mengumpat abak.<br />
“Entahlah.”<br />
“Kau harus tanyai dia.”<br />
Mande tidak menjawab, sedangkan mamak lalu melepaskan pandang ke luar lewat jendela.<br />
“Nampaknya hari memang sudah hampir petang. Aku harus pergi dulu. Aku tidak ingin kemalaman sampai di rumah. Kau harus hati-hati menjaganya.”<br />
“Ya.”<br />
Lalu kami mengantar kepergian mamak di atas tangga. Selepas dari anak tangga, setelah memperhatikan ke sekeliling rumah, mamak lalu berjalan tergesa-gesa. Kami memandangi kepergian mamak. Selepas ditikungan tubuhnya hilang di balik rimpun semak besar.<br />
Kala itu memang hari sudah memasuki petang. Dikejahuan sesekali terdengar jerit beruk atau siamang. Juga beberapa kicauan burung murai kampung. Kami harap mamak sampai di rumah istrinya tidak kemalaman. Sedangkan abak, ah, sudah hari sepetang ini juga belum pulang.<br />
***<br />
Malamnya, mande tidak biasanya mempasak pintu dengan sebuah kayu melintang. Begitu juga jendela. Mande seperti tidak ingin memberi celah buat siapa saja yang ingin masuk ke dalam rumah. Nampaknya mande mendengar betul nasehat mamak. Sedangkan abak, sudah malam begini juga tidak pulang. Jika malam ini abak masih tidak datang, berarti sudah tiga malam beliau tidak pulang. Sampai saat umurku sudah sembilan tahun, aku belum juga paham tentang abak.<br />
“Abak kau seorang parewa pasar. Kerjanya mabuk dan berjudi. Kudengar dia suka main perempuan,” begitu ocehan yang kudengar dari Amak Upik ketika dia marah saat mengetahui aku mencuri buah rambutannya.<br />
“Perangainya betul-betul jatuh pada wa-ang. Anak kalera!” tambahnya lagi.<br />
Mendengar cacian Amak Upik itu, tiba-tiba wajahku muram. Betulkah abak seperti itu? Akhirnya aku pulang dengan gontai.<br />
“Mande tak tahu itu Buyung. Boleh saja itu bohong, lantaran Amak Upik sakit hati padamu karena buah rambutannya  sering kau curi. Kau jangan lagi mencuri buah rambutannya ya. Berdosa. Kau tahu ?”<br />
“Kau melamun Buyung,” sapa mande yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku lalu memperbaiki posisi duduk.<br />
“Kau tak usah takut lagi. Semua pintu sudah mande pasak. Orang rantai itu tak akan bisa masuk.”<br />
Di tengah rasa takut, aku masih bertanya tentang orang rantai itu.<br />
“Mande, apakah orang rantai itu benar ada?”<br />
Sejenak mande menatap bola mataku.<br />
“Cerita tentang orang rantai ini sudah ada semenjak mande masih kecil, Buyung. Tapi yang pasti, dulu memang ada beberapa anak yang hilang. Hilangnya anak-anak itu lalu dikaitkan dengan orang rantai. Kini, di kampung seberang, yang lokasinya masih berupa rimba, sedang dibangun sebuah jembatan. Pembangunan jembatan itu membutuhkan sebuah kepala anak-anak. Itu kepercayaan orang kampung kita sedari dulu. Orang yang membangun jembatan itu akan mencari seseorang yang mau mengambil seorang anak menjadi tumbal pembangunan jembatan.”<br />
“Mengapa orang kampung tidak mau melarang orang membangun jembatan ?”<br />
“Mana bisa. Pembangunan jembatan itu perintah dari pemerintah. Kita tidak bisa melarang. Yang penting kau harus waspada. Kau jangan pergi sendirian. Kau paham?”<br />
Aku mengangguk.<br />
***<br />
Minggu-minggu berlalu, orang-orang di kampung kami terus digerus rasa cemas. Sesekali, jika aku dan mande pergi ke tepi hutan mencari kayu bakar, maka terdengar oleh kami suara besi yang dipukul berkali-kali. Kata mande itu suara besi pembangunan jembatan. Mendengar itu bulu romaku berdiri. Semakin lama, entah mengapa, suara dengkingan besi itu semakin terdengar aneh. Aku sungguh dikepung rasa takut. Berminggu-minggu, bukan, berbulan-bulan.</p>
<p>***<br />
Suatu malam, ada sebuah peristiwa yang juga tak bisa aku lupakan, malam itu, sehabis mande melakukan salat isa, terdengar pintu rumah diketuk. Ketukan pintu itu begitu pelan diiring oleh sebuah erangan. Juga seperti rintihan yang tertahan. Akhirnya, di tengah rasa penasaran, mande mengintip lewat celah papan dengan penerangan.<br />
“Itu abak wa-ang,” kata mande kemudian.<br />
Dengan bergegas mande membuka pasak pintu. Lalu membukanya. Dan ketika pintu dibuka, kami terpana. Kami membelalakkan  mata. Itu abak. Abak seperti luka parah. Mukanya berdarah. Sebagian ada yang membiru. Seperti akibat  pukulan. Ini kepulangan abak yang ke empat kali sejak kabar adanya orang rantai itu.<br />
“Kenapa?” tanya mande.<br />
“Aku, dipukul orang.”<br />
“Makanya, jangan jadi parewa pasar.”<br />
Dengan perlahan mande memopong tubuh abak dipembaringan.<br />
“Ini tidak ada hubungan dengan orang pasar.”<br />
“Lalu?”<br />
“Di kampung seberang, entah mengapa, ketika aku lewat, mereka mengejarku. Mereka, menuduhku, orang rantai.”<br />
“Ha, orang rantai?” kata mande tertahan. Lalu kulihat ada sedikit senyum di muka mande.<br />
“Ya, aku dituduh orang rantai. Sungguh aku tak mengerti. Padahal sudah kujelaskan. Aku orang kampung sini. Kalau aku tidak sempat melarikan diri. Mungkin aku sudah mati dipukul mereka. Ini karena rantai anjing sial itu.”<br />
“Apa?”<br />
“Ya, karena aku membawa rantai. Aku membeli rantai itu untuk  anjing kita yang selalu pergi jauh itu. Rantai itu pembawa sial,” umpat abak kesal.<br />
Malam itu, mande terlihat sibuk merawat luka abak. Sepanjang malam, abak merintih menahan sakit ditubuhnya. Mande begitu kasihan pada abak. Padahal abak seperti tidak peduli pada mande.<br />
***<br />
Kini, jembatan yang dulu dibangun itu masih ada. Bahkan masih kokoh menahan beban kendaraan. Setiap aku melewatinya pergi bekerja ke kota, pandanganku selalu mengarah ke bawah jembatan. Mana tahu ketemukan kepala anak sebagai tumbal itu. Tapi, sampai sekarang tak pernah kutemukan.<br />
Lalu tentang abak, ah,  dia sudah tua, mungkin umurnya sudah tujuh lima. Kini dia tinggal di rumah istri keempatnya. Setelah dewasa, aku baru benar-benar paham tentang abak. Ternyata beliau  penggila wanita. Pemabuk. Maling. Penjudi *</p>
<p>Padang 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=129&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/22/cerita-dari-kampung-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Ibu yang Kembali</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/15/anak-ibu-yang-kembali/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/15/anak-ibu-yang-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 04:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Benny Arnas
DI antara pendar-pendar cahaya jingga lampu teplok di atas lemari kayunya, seorang ibu tua menatap foto hitam-putih yang memburam di dinding geribik kamarnya. Di foto itu, di antara putri-putri mereka yang masih kecil-kecil, seorang lelaki paruh baya duduk di sampingnya. Suami. Begitulah dulu, laki-laki itu menyandang status terhadapnya. Laki-laki yang—ah, banyak menyisakan kepedihan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=123&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Benny Arnas</strong></p>
<p>DI antara pendar-pendar cahaya jingga lampu teplok di atas lemari kayunya, seorang ibu tua menatap foto hitam-putih yang memburam di dinding geribik kamarnya. Di foto itu, di antara putri-putri mereka yang masih kecil-kecil, seorang lelaki paruh baya duduk di sampingnya. Suami. Begitulah dulu, laki-laki itu menyandang status terhadapnya. Laki-laki yang—ah, banyak menyisakan kepedihan sekaligus kerinduan di dadanya. Bersamanya, si Ibu tua beranak lima. Perempuan semua. Dan, itulah perkara yang selalu membuat suaminya terserla dalam setiap ingatannya. Suaminya sangat menginginkan keturunan laki-laki.<br />
Ah, itu tak disebabkan karena suaminya tidak menginginkan keturunan perempuan. Walaupun dipikirkannya jua bahwa mungkin saja, suaminya tidak seanti itu pada ketentuan yang berlaku terhadap kelamin anak-anaknya, bila ada satu saja dari mereka yang dapat disebut pejantan.<span id="more-123"></span><br />
Oh, perkaranya lebih dalam dari itu. Keinginan suaminya itu seakan-akan kutukan bagi nasib Ibu tua yang dahulu tak terlalu mendengarkan petuah lelaki itu. Ibu tua itu kadung mencintai putri-putrinya&#8230;.<br />
“Beruntung sekali, kau dapat anak perempuan. Kau tak perlu capai-capai mencuci baju, piring, atau menyiram bunga raya kesukaanmu di pekarangan dan tanaman obat di kebun belakang. Tapi&#8230; berusahalah berketurunan laki-laki. Satu pun jadi. Yah, semacam memasak sayur lah. Anggap saja, tak ada bujang, tak bergaram. Hambar. Dan, dibuanglah masakan itu&#8230;”<br />
Ibu tua ingat sekali, kata-kata dari seorang ibu-ibu—yang ia lupa namanya—yang sengaja ditujukan padanya. Saat itu, mereka masih berputri tiga. Ketika ia mengadukan perihal itu pada suaminya. Seperti sudah diduga, pendapat suaminya seakan-akan membenarkan ucapan ibu-ibu itu. Yah, seperti biasalah. Seperti sungai yang menganak saja suaminya berceloteh. Mengalir tak berhulu: berulangkali menceritakan ketiada-elokan budi saudara-saudaranya.<br />
“Saudara-saudaraku itu tak tahu bagaimana berterimakasih pada Mak. Mak sakit keras, sampai mati pun tak ada mereka datang menjenguk dan melayat. Mereka sibuk dengan ipar-iparku. Ugh, ipar. Puihh!”<br />
Setengah mengerutu-setengah menyesal Ibu tua mengenang bahwa ia pernah menganggap angin lalu saja curahan hati suaminya itu. Ia tahu, suaminya adalah anak bujang satu-satunya. Semua saudaranya perempuan. Tetapi janganlah kiranya terlalu berlebihan menyamaratakan perkara, batinnya kala itu.<br />
“Kakak bertenggang jualah padaku yang sangat senang pada anak-anak gadis kita itu. Janganlah selalu menjaga jarak dengan mereka, Kak. Seperti  juragan dan pekerja saja kulihat hubungan kalian.”<br />
Suaminya diam saja.<br />
“Lagipula, Kakak tahu kan, bagaimana aku di tengah keluarga. Berkebalikan dengan Kakak. Aku satu-satunya perempuan. Bungsu pula. Sering diperlakukan tak selayaknya sebagai manusia, sebagai adik-adik mereka. Layak pembantu aku, Kak. Ah, Kakak sudah tahu itu, kan?” Air mata Ibu tua itu mengucur waktu itu.  “Mmm&#8230;” lanjutnya, “Kakak sendiri pernah ngomong, kan, kalau rasa iba pada keadaanku juga menjadi alasan mengapa kau menikahiku. Tentu saja, selain karena Kakak memang mencintaiku. Lagi pula, bukan maksud hatiku tak melahirkan anak perempuan, Kak. Tetapi&#8230;  tak dititipkannya saja kita, Kak.”<br />
Saat itu, suaminya menatapnya dalam; membelai rambutnya yang disanggul sekenanya, sebelum berbisik lirih, “Semoga keturunan kita selanjutnya laki-laki ya, Dik.”<br />
Ba’da itu, di usianya yang hampir berkepala empat kala itu, sadarlah ia bahwa urusan  berketurunan belum usai. Hanya satu do’anya. Semoga ia masih diberi kesuburan. Paling tidak, sampai anak perempuan itu mengoek dari selangkangannya.<br />
Ternyata Tuhan sangat baik pada Ibu tua itu. Tapi tak sepenuhnya, kurang lebih itulah suara batin terdalamnya waktu itu. Ya, ia memang masih subur, hingga dua anak lagi dilahirkannya. Tapi, semua seakan-akan tak berbias gembira sebagaimana layaknya pasangan menyambut bayi mereka. Ya, dua anak terakhir melengkapkan kenyataan bahwa mereka berputri lima orang. Dan, tak ada rencana menambah keturunan lagi. Bukan, bukan karena ia sudah capai bertaruh nyawa di hadapan dukun beranak; bukan pula karena suaminya menyerah pada keinginannya, tetapi karena menopause tak sabar lagi bertandang padanya.<br />
“Ahh,” Ibu tua mendesah. Seakan tersadar dari pengembaraan masa lalunya. “Apakah dengan mendengarkan dan mengiyakan pendapat dan keinginanmu bahwa anak laki-laki itu lebih baik, maka Tuhan akan menurunkan takdir yang berbeda pada kelamin yang anak-anak kita usung saat itu, Kak? Tidak kan, Kak?” Ibu tua menatap suaminya di foto itu lekat-lekat. Seolah-olah lelaki itu mendengarkan tuturan dan pembelaannya.<br />
Sambil perlahan mendekat ke foto itu, Ibu tua terus berbicara pada ’suaminya’: menyemburkan kemarahan yang tak sebenar marah, sesekali mengutarakan pembelaan, atau berujar dengan nada kesal-kesal manja. Tak sadar, jari-jemarinya pun mengelus-elus permukaan wajah suaminya. Ah, khusyuk sekali Ibu tua melakukannya. Seakan-akan pipi suaminya benar-benar berlekuk, hidungnya benar-benar bangir, atau rambutnya benar-benar klimis oleh minyak kelapa.<br />
Jemari Ibu tua beralih ke sisi lain foto.<br />
Ibu tua tersentak. Ia buru-buru kembali ke dipan reotnya. Sigap menarik kain lasem. Menyelimuti tubuh dan wajahnya. Sesekali ia mengintip dari balik kain. Ketika pandangannya bersirobok dengan wajah suaminya, tersenyumlah ia. Namun, ketika secara tak terencana, mata lamurnya bertabrakan dengan salah satu wajah putrinya, maka&#8230; sesegeralah ia menutupi wajahnya. Pedih! Itulah rasanya bila kasih sayang yang bernama rindu tak bercampur dengan rindu orang-orang yang dirindu&#8230;.<br />
Begitulah pemandangan malam itu—seperti malam-malam sebelumnya. Ketika Ibu tua menatap suaminya di sana, potongan-potongan kebahagiaan masa lampau berseliweran di memori tuanya, maka&#8230; saat itu, ia pun tersenyum. Namun, itu hanya sesekali. Wajahnya acapkali tiba-tiba pasi, muram, dan layu dengan mata kaca, ketika sadar bahwa kesemuanya kini hanya bernama nostalgia: kenangan yang sudah dibunuh waktu. Tak ada lagi gemerincah tawa putri-putrinya atau teriakan setengah marah dari suaminya bila ia telat menyiapkan kopi setelah makan siang.<br />
“Aku tidak akan nyuruh anak-anakmu itu, Dik. Untuk apa? Bersenang-senang dengan mereka sekarang, sedangkan  besok&#8230;.”<br />
Suaminya memang tak melanjutkan ucapannya waktu itu. Mungkin sadar bahwa tak adil memanggil darah dagingnya seakan-akan ia tak berandil dalam mengonggokkan mereka di rahim isterinya. Atau ada alibi lain, entahlah. Waktu itu, Ibu tua itu tak terlalu ambil pusing. Ia bahkan sempat berpikir, alangkah tak dewasanya pemikiran suaminya kala itu. Ya, seperti diceritakan tadi, layak sungai menganak saja, ia mengait-ngaitkan perangai putri-putri umaknya dulu dengan putri-putri mereka saat itu.<br />
Namun, barulah kini ia mengerti kemana aliran sungai itu berhulu: sebuah kenyataan bahwa putri-putrinya kini telah meninggalkannya. Dijemput—ah baik sekali kata itu, lebih tepatnya diculik oleh kekasih-kekasih mereka, bandit-bandit yang minta dipanggil sebagai menantu olehnya. Ah, bencinya Ibu tua pada suami anak-anaknya.<br />
“Betul, Kak. Mereka meninggalkanku. Seperti engkau yang juga tega-teganya meninggalkan aku sendiri. Kau juga tak berbeda dengan mereka, Kak.” Air mata Ibu tua tumpah. Kain yang meyelimuti wajahnya basah.<br />
* * *<br />
MASA bergasing. Bulan tak berbilang kali memurnamakan diri. Air laut tetap setia pada ciri-ciri keberadaan gelombang tubir pantainya: pasang-surut. Bebintang pun tetap enggan bertebaran di malam-malam yang rinai. Dan, pelangi masih belum buram, tetap sumringah raya, dengan warna-warni dan lengkungan khasnya: menyuluh angin untuk berkabar bahwa ada putri-putri langit yang tengah mandi—entah di mana itu.<br />
Senja itu, Misya masih bersikeras untuk menikah dengan Bram. Sudah berbusa-busa Brio dan Mer memberi nasehat. Bukan apa-apa, mereka begitu khawatir bila putri semata wayangnya itu akan diboyong pujuaan hatinya ke negara asalnya, Belanda.<br />
“Nadia kemarin menikah di Sidney, Mi.”<br />
Mer dan Brio diam, seakan memersilahkan Misya melepaskan semua unek-uneknya.<br />
“Mila juga sedang pacaran dengan orang Kanada. Bahkan Mark berencana akan memboyongnya ke Otawa.”<br />
“Tapi&#8230;”<br />
“Lena juga, Pap!” tukas Misya, memotong ucapan Brio. “Ia akan menikah dengan suaminya yang keturunan Papua itu.”<br />
“Mereka&#8230;”<br />
“Ya!” Kali ini kalimat Mer yang diselanya. “Mereka adalah putri-putri tunggalnya saudara-saudara Mami, kan? Termasuk Alia, yang kemarin baru diterima bekerja di salah satu perusahaan kimia di Dubai. Mungkin juga dia menikah&#8230;”<br />
PAAAK!<br />
Misya Tercekat. Bibirnya gemetar. Meringis dengan kedua tangan memegang sebelah pipinya yang memerah.<br />
Keesokan harinya. Jendela kamar Misya menganga saja. Misya pergi. Ke Belanda. Mungkin. Dan&#8230; tak pernah kembali.<br />
* * *<br />
TEPATNYA setelah mereka memutuskan berkeluarga: setelah lebih seperempat abad hanya saling berkabar, inilah untuk pertama kalinya perempuan-perempuan itu bertemu, berkumpul kembali. Entah, bagaimana sosialite-sosialite itu memiliki waktu dan kesempatan yang sama untuk melangkahkan kaki di tempat terpencil ini, sebuah desa yang berjarak ratusan mil dari istana mereka.<br />
“Aku benar-benar tak tahu,” si sulung Rina membuka pembicaraan, “kalau 30 tahun yang lalu Ibu meninggal&#8230;”<br />
“Kau kira zaman Nabi Nuh. Usia Ibu bisa 1000 tahun!” ujar Ning ketus.<br />
“Salah kau juga. Salah kalian semua yang tak berkabar padaku. Tak beradab kalian pada orang yang lebih tua, kalian pikir, kalian saja anak-anaknya!” balas Rina sengit.<br />
“Sudahlah!” Desi melerai pembicaraan. “Tak ada yang perlu diributkan. Kita ini sudah tua semua. Sudah beruban. Tak malu pada usia, hah?” katanya sengit.<br />
“Aku yakin,” ujar Mer sembari menyingkirkan daun beringin kering yang jatuh di atas selendang yang menutupi kepalanya. “Tak satu pun dari kita  yang melayat Ibu&#8230;”<br />
Empat saudaranya yang lain bersitatap. Menyumbulkan pertanyaan terhadap kemustahilan yang maha: bagaimana mungkin anak-anak tak mengingat sang ibu, bahkan untuk mengantarnya ke liang lahat sekalipun?<br />
“Heh,” Linda tersenyum miring, “bagaimana tetangga-tetangga Ibu akan memberi tahu kita kalau kita sendiri tak pernah berkabar padanya. Antara kita saja, kalau berkabar, hanya membicarakan kesenangan tinggal di istana masing-masing, kan? Atau berpamer-pameran bahwa masing-masing kita tengah berlibur di Bahama, Hawaii, atau&#8230;” Linda menggantung kalimatnya. Matanya berkaca-kaca.<br />
“Hei bungsu,” Desi melempar ranting kecil ke arah Linda, “masih cengeng kau, ya?” bibirnya menyeringai. “Sudahlah. Aku yakin sekali, kalau kita adalah orang-orang yang bernasib sama!”<br />
“Maksudmu?” tanya Mer sigap.<br />
“Aku yang bertanya, apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Pura-pura tak tahu, Kau?” Desi balik bertanya. Kesal.<br />
“Jadi&#8230;,” kata Mer menggantungkan intonasinya, “Kabar anak gadismu yang diboyong suaminya ke Kanada itu benar, Des?”<br />
“Putrimu juga kawin lari di Eropa, kan?” Desi balik bertanya. Skeptis.<br />
“Lena diboyong ke Papua,” lapor Ning.<br />
“Nadia menikah di Australi,” sambung Rina.<br />
“Alia di Arab. Tak ada kabar,” timpal Linda.<br />
Tak ada lagi yang bersuara. Hanya ranting-ranting dari pohon tua yang berserisik karena digoda angin yang berdesau. Mereka khusyuk menekuni makam yang tanpa sadar telah mereka kelilingi sedari tadi. Mencabut rumput-rumput liar, membuang daun-daun kering yang menyerak di sekitarnya, sebelum menaburkan ratusan kelopak mawar dari keranjang-keranjang rotan mereka.<br />
“Mmm&#8230; tidakkah kita ke makam ayah juga?” entah siapa yang bertanya.<br />
“Untuk apa?”<br />
“Ia tak pernah bangga pada kita-kita, bukan?”<br />
“Serasa tak ber-ayah kita waktu masih jadi anak gadis yang masih numpang berteduh di  rumahnya.”<br />
“Tapi&#8230;”<br />
“Kalau kau ingin nyekar ke sana. Pergi sendiri saja. Aku tidak.”<br />
“Aku juga&#8230;”<br />
Dan&#8230; senja pun datang. Mereka pulang. Ke lima penjuru yang berbeda. Sungguh, sejatinya mereka memendam galau yang dalam, resah-gelisah, dan penyesalan yang berlumut. Yah, mereka benar-benar bernasib sama. Tak hanya sama-sama ditinggalkan putri semata wayang mereka. Tetapi juga sama-sama ditinggalkan lelaki yang dulu merebut mereka dari pangkuan wanita yang melahirkan dan membesarkan mereka.<br />
Apa yang menyebabkan semua bermula? Ah, terlalu bodoh kelima perempuan itu bila harus mempertanyakannya. Jadi, ke manakah langkah mereka menyusur bumi?<br />
Entahlah. Mungkin saja, akhirnya mereka akan kembali ke petak tanah yang menghitam-arang. Saksi bisu sebuah peristiwa kelu puluhan tahun silam: sebatang badan yang terlelap di suatu malam, tak sadar bahwa lampu teploknya terjatuh, melahap lemari, gorden, sebuah foto tua, dipan, dan dirinya sendiri. Oooh, tak tahu putri-putri beruban itu tentang hikayat ibu mereka yang dimamah bara, berwarna arang, berbaju abu dan tertusuk sejuta rindu yang tak berujung. * * *<br />
/<em>17:11, Lubuklinggau, 16 Januari 2009<br />
</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=123&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/15/anak-ibu-yang-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Menggambar</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/08/pelajaran-menggambar/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/08/pelajaran-menggambar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 07:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Romi Zamran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Romi Zamran
Setiap ia selesai memeriksa buku-buku gambar itu lalu mengembalikannya ke tumpukan semula, setiap itu pula ia akan menghela nafas. Panjang. Perlahan ia hembuskan, lalu ia akan heran. Ia heran kenapa mereka selalu menggambar tentang hal yang sama. Ia heran kenapa gambar mereka selalu mirip antara yang satu dengan yang lainnya. Kadang ia sengaja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=120&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Romi Zamran</strong></p>
<p>Setiap ia selesai memeriksa buku-buku gambar itu lalu mengembalikannya ke tumpukan semula, setiap itu pula ia akan menghela nafas. Panjang. Perlahan ia hembuskan, lalu ia akan heran. Ia heran kenapa mereka selalu menggambar tentang hal yang sama. Ia heran kenapa gambar mereka selalu mirip antara yang satu dengan yang lainnya. Kadang ia sengaja membanding-bandingkannya. Tak ada beda. Dua gunung tegak menjulang. Di tengah-tengahnya ada gambar matahari. Dan di kiri-kanan jalan menuju gunung, petak-petak sawah membentang.<br />
Kadang ia ingat-ingat apakah ia pernah menyuruh mereka untuk menggambar tentang hal yang sama. Kadang ia ingat-ingat apakah ada yang salah dalam setiap pelajaran yang diberikannya. Tapi setiap ia mengingat-ngingat tentang semuanya, setiap itu pula ia merasa tak ada yang salah. Malahan di depan kelas ia sering berkata, “Gambarlah tentang apa saja. Terserah!”<br />
Dan mereka, dengan serta-merta akan mengeluarkan buku gambar, pensil, penghapus, penggaris&#8230;<span id="more-120"></span></p>
<p>***</p>
<p>Lalu mereka mulai menggambar. Mulanya hanya dua gunung. Tegak menjulang seperti hendak menyundul langit. Di tengahnya ada matahari. Terang seperti hendak menyinari. Petak-petak sawah. Jalan menuju gunung. Lalu ia akan bingung. Mulanya ia menduga bahwa hal itu hanya digambar oleh satu atau dua orang saja. Mulanya pula ia menduga bahwa gambar itu hanya berasal dari kawan yang disebelahnya, lalu ditiru oleh yang lain. Tapi ketika ia lihat gambar mereka dari satu meja ke lain meja, saat itulah ia mulai melihat bahwa gambar mereka sangat mirip antara yang satu dengan yang lainnya.<br />
Dan sejak saat itu, ia mulai memisahkan tempat duduk mereka. Kadang yang duduk di depan akan dipindahkannya ke belakang. Kadang yang biasa duduk semeja akan dipisahkannya dengan cara menukar kawan yang di sebelahnya. Kadang juga ia akan berkata, “Gambarlah tentang apa saja, yang penting jangan sama!”<br />
Dan ia, akan kembali ke posisi semula. Mengawasi anak-anaknya dari sebuah bangku. Kadang bila ia sudah merasa capek maka ia akan berdiri. Kadang bila ia capek berdiri maka ia akan berjalan mengamati. Dan bila sudah begitu, bila ia sudah sampai di sebuah bangku, saat itulah salah seorang anak akan menyodorkan buku gambar seraya berkata, “Lihat, Bu Guru. Lihat!”<br />
Dan ia, seraya menyembunyikan rasa heran yang terpancar dari raut wajahnya, akan berpura-pura berkata, “Ya, ya, bagus.”<br />
Lalu si anak akan bersorak, “Horeee! Gambarnya bagus&#8230;”</p>
<p>***</p>
<p>Mereka akan ribut. Mulanya memang seorang. Tapi ketika yang lain sudah saling melempar pandang lalu saling membalas ucapan, saat itulah ruang kelas itu akan menjadi gaduh. Masing-masing mereka seperti tak mau kalah, lalu akan terdengar suara:<br />
“Wee, jelek!”<br />
“Gambarnya jelek!”<br />
“Jelek.”<br />
“Bukan. Punyamu yang jelek.”<br />
“Weee!”<br />
“Jelek. Jeleeek!”<br />
Mereka mulai ribut. Mulanya hanya melempar pensil, lalu penghapus, penggaris, dan bahkan ketika mereka sudah saling melempar buku gambar, lalu dengan kesalnya buku gambar itu dicoret-coret oleh salah seorang dari mereka, maka saat itulah mereka akan kian saling bertengkar. Dan si Ibu guru, seperti biasa-biasanya, akan menenangkan mereka semua.<br />
Dan sering juga, bagai tak peduli dengan kegaduhan kawan-kawannya, akan ada saja yang menyodorkan buku gambar lalu berkata, “Bu Guru, Bu Guru, lihat! Gambarnya bagus kan?”<br />
Dan si Ibu Guru, seraya kembali menyembunyikan rasa heran yang terpancar dari raut wajahnya, akan cepat-cepat berkata, “Ya, ya, bagus. Teruskan!”<br />
Dan dengan serta-merta, si anak akan bersorak dengan girang.<br />
Lalu ia akan heran. Ia tak ingin anak-anaknya jadi kecewa. Ia tak ingin anak-anaknya putus asa. Ia biarkan saja keheranan itu mengendap di pikirannya. Dan setelah anak-anaknya kembali tenang seperti sedia kala, maka ia akan mengajarkan semuanya. Kadang ia ajarkan anak-anaknya tentang bagaimana menggambar sebuah bunga. Kadang ia ajarkan anak-anaknya tentang bagaimana menggambar sebuah rumah. Kadang juga ia akan berkata, “Sudah, sudah. Jangan lagi ribut!”<br />
Dan mereka, akan kembali ke kebiasaan. Biasanya mereka akan menuruti kehendak si Ibu Guru. Biasanya pula mereka akan kembali terpaku ke buku gambar itu. Dan ia akan kembali mengawasi anak-anaknya. Ia tak ingin ruang kelas itu jadi gaduh. Ia tak ingin anak-anaknya kembali jadi ribut. Ia awasi mereka semua.<br />
Dan bila mereka sudah selesai menggambar lalu masing-masingnya mengumpulkan ke depan kelas, saat itulah ia lihat murid-muridnya akan berlari riang seiring berbunyinya lonceng pertanda pulang. Lalu akan ia lihat tumpukan buku-buku gambar. Ia akan kembali heran, kenapa mereka selalu menggambar tentang hal yang sama? Dan bila masih ada satu atau dua orang muridnya yang belum sempat keluar dari ruang kelasnya, maka saat itulah ia akan berpura-pura berkata, “Menggambar apa?”<br />
Dan dengan serta-merta, si anak akan cepat-cepat menjawab, “Kampung.”</p>
<p>***</p>
<p>Kampung? Ia akan heran. Tak ada gambar kampung, tapi mengapa ada yang mengatakannya demikian. Dan seperti hendak menyakinkan, ia periksa lagi buku-buku gambar itu. Dua gunung. Matahari. Petak-petak sawah di kiri-kanan jalan. Ia heran. Semuanya tak menggambarkan.<br />
Akan tetapi, saat ia mengembalikan buku-buku gambar itu ke tumpukan semula, saat itulah ia ingat akan sesuatu. Mungkin anak-anaknya ingin menggambar tentang sebuah kampung di kaki gunung. Mungkin anak-anaknya ingin memulainya dengan cara menggambar dua gunung, lalu padi, sawah, matahari, dan &#8230; oh, tiba-tiba ia ingat. Mungkin yang dimaksud mereka adalah sebuah kampung di suatu pagi. Indah diterpa cahaya matahari. Sejenak ia nikmati &#8230; akan tetapi, mengapakah mereka ingin menggambar sebuah kampung? Adakah mereka lupa dengan pelajaran yang sudah diberikannya?<br />
Dan pertanyaan tentang mengapa itu telah begitu saja menggiring ia ke pertanyaan berikutnya. Bukankah ia hanya mengajarkan bagaimana menggambar bunga, bintang, rumah, dan &#8230; bukankah pula ia tak pernah mengajarkan tentang bagaimana menggambar sebuah kampung, lalu dari manakah keinginan mereka itu berasal?<br />
Ia kian heran.<br />
Mulanya ia menduga pastilah mereka mendapatkannya dari televisi. Mulanya pula ia menduga bahwa dari televisilah mereka mendapatkan inspirasi. Tapi ketika ia ingat bahwa mereka hanya berasal dari keluarga petani dan tak mungkin memiliki televisi, saat itulah ia menyadari bahwa mereka hanya tinggal di sebuah kampung. Dan kampung itu &#8230; ia layangkan pandang keluar jendela. Ia ingat semua.<br />
Kampung ini memang terletak di dekat gunung. Dan lebih tepatnya lagi, kampung ini diapit oleh dua gunung. Lihatlah keluar sana! Dua gunung tegak menjulang. Dan dari balik jendela kaca, dua gunung itu nampak membentang. Matahari terang menyinari. Dan di kiri-kanan jalan, walau tak tampak dari jendela, petak-petak sawah itu bisa ia bayangkan. Dan selebihnya, ia bayangkan semua.<br />
Ia hembuskan nafas. Perlahan ia merasa lega. Pantaslah gambar mereka semuanya sama. Ternyata mereka menggambar tentang kampung mereka sendiri. Dan di hari pelajaran berikutnya, entah merasa senang karena sudah menemukan jawaban atau entah karena ingin memastikan, saat itulah ia akan berpura-pura bertanya, “Menggambar apa?”<br />
“Kampung.”<br />
“Kampung?” Ia akan berpura-pura heran.<br />
Lalu anaknya akan cepat-cepat menjelaskan, “Eh, gunung, Bu Guru.”<br />
“Gunung apa?”<br />
“Singgalang.”<br />
“Dan di sebelahnya?”<br />
“Marapi.”<br />
“Marapi?”<br />
Si Ibu Guru akan kembali berpura-pura heran. Dan dengan serta-merta, si anak akan buru-buru berkata, “Ya, Marapi. Tempat turunnya nenek moyang kami&#8230;.”</p>
<p><em>Padang, 24 Desember 2008</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=120&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/08/pelajaran-menggambar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kampung Dalam Diri*</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/01/kampung-dalam-diri/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/01/kampung-dalam-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 07:03:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Delvi Yandra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Delvi Yandra
Marzuki terus menatap sebuah miniatur rumah gadang yang terpajang di dalam etalase sebuah toko yang menjual barang-barang mewah. Beberapa barang mewah yang terbuat dari Kristal dan metalik tertata dengan apik. Namun, kedua bola mata Marzuki enggan berpaling dari miniatur rumah gadang yang berdiri kokoh itu.
Sesaat kemudian, ia membayangkan Mande yang sedang duduk menampi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=118&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Cerpen Delvi Yandra</strong><br />
Marzuki terus menatap sebuah miniatur rumah gadang yang terpajang di dalam etalase sebuah toko yang menjual barang-barang mewah. Beberapa barang mewah yang terbuat dari Kristal dan metalik tertata dengan apik. Namun, kedua bola mata Marzuki enggan berpaling dari miniatur rumah gadang yang berdiri kokoh itu.<br />
Sesaat kemudian, ia membayangkan Mande yang sedang duduk menampi beras di jenjang rumah gadang tersebut. Marzuki menampik, mengusir dan menghilangkan segala kenangan buruk tentang rumah gadang dan kampung halamannya. Bahkan, kini ia cukup menyesal dengan pilihannya untuk merantau ke Ibukota. Padahal sudah sering Marzuki mendengar cerita-cerita, baik di lepau atau di Balai, kalau hidup di Ibukota itu bisa lebih makmur dan cepat kaya raya. Tapi kenyataannya lain. Tak sesuai dengan perkiraan Marzuki.<br />
Kini, tak guna menyesal. Semua telah ia jalani. Ibukota dan segala hiruk pikuk keramaiannya tampak di hadapan Marzuki. Mau tidak mau ia harus menerima dan berlapang dada.<br />
Tentu saja, ia masih teringat ngiang nasehat Mande. Kata-kata itu tak pernah putus, seperti benang sulaman dari Pandai Sikek. Benang sulaman milik perempuan-perempuan berbaju kurung yang  menyulam di anjung rumah gadang.<br />
***<br />
“Nak, usah engkau risaukan Mande. Kalau memang ini sudah menjadi pilihan, merantaulah. Abak pun tak akan bersusah hati. Lagipula tak baik engkau berlama-lama tinggal di rumah gadang ini. Apa kata orang nanti. Ada-ada saja gunjingan yang tak sedap akan merambat ke telinga orang-orang di kampung kita. Biar Mande yang akan mengurus semuanya. Segala keperluanmu sudah dipersiapkan Si Sap. Kalau sudah sampai di Ibukota jangan lupa kasih kabar. Berkirim surat pun tak apa.”<br />
Selepas mencium tangan Mande, ia pun berangkat. Sebuah ciuman yang membikinnya terus bersemangat. Begitulah, Mande melepas kepergian anak satu-satunya itu dengan penuh keikhlasan.<span id="more-118"></span><br />
***<br />
“Heh, kalau tak beli jangan berdiri di situ. Sana pergi!”<br />
Seorang penjaga toko segera menghardiknya. Membuyarkan lamunannya. Marzuki pun beranjak dan segera melanjutkan pekerjaan memasang batu-batu di sepanjang trotoar. Sore ini, pekerjaannya itu harus selesai. Tinggal beberapa meter lagi. Kalau tidak bersungguh-sungguh, jangan harap ia akan mendapat upah sesuai dengan yang diharapkan. Dan, pekerjaan tersebut terpaksa ia lakukan.<br />
Betapa tidak, semua pekerjaan telah ia coba, menjadi kurir, calo, supir angkot sampai kuli jalan yang ia tekuni saat ini. Tapi tak satu pekerjaan pun dapat mengubah hidupnya jadi lebih baik. Apalagi di Ibukota sekarang sedang tidak aman, dimana-mana ada tawuran, dimana-mana terjadi kerusuhan. Orang-orang sibuk antre membeli minyak. Pegawai kantoran sibuk memikirkan tunjangan yang tertunda.<br />
Pernah suatu ketika Marzuki dicemooh oleh majikannya tanpa sebab yang jelas.<br />
“Eh, Kacung! Kerja begitu saja tidak becus. Dasar lamban! Orang perantauan seperti engkau tak pantas kerja beginian. Lebih baik engkau pulang kampung saja. Di sana engkau bisa berdagang atau mengurus sawah.”<br />
Barangkali majikannya itu sudah tak tahan lagi melihat Marzuki melakukan pekerjaan itu. Sehingga tak ada angin tak ada badai, majikannya mengeluarkan kata-kata makian itu. Tentu saja, mendengar umpatan itu serta merta Marzuki naik pitam dan menghantam majikannya dengan sebongkah batu besar sampai pingsan. Tak sadarkan diri. Entah bagaimana peristiwa itu terjadi begitu cepat. Sementara, para pekerja yang menyaksikan peristiwa itu bersorak dan bertepuk tangan. Untung saja majikannya masih bernapas. Ia pun segera dibopong ke rumah sakit.<br />
Kalau saja Marzuki mengamini kata-kata Abak untuk mengurus tiga piring sawah dan segera menikahi gadis gunting cina anak pak Jorong pasti nasibnya tak serupa ini. Kali ini Marzuki benar-benar tidak berdaya. Orang-orang proyek memperlakukannya seperti seorang kacung kelas rendahan.<br />
***<br />
“Setelah kejadian itu aku dipecat dan harus membayar biaya rumah sakit. Aku pun tak mampu berkuli seperti ini. Hasilnya juga tak seberapa. Akhirnya aku tak tahu harus menemui siapa lagi selain Uda. Hanya Uda yang dapat menolong aku.”<br />
Marzuki mengadu pada Rusli, dunsanaknya, seorang penjual ayam potong di pasar.<br />
Setelah bercakap-cakap cukup lama. Rusli menyarankan agar Marzuki pulang kampung saja mengikuti saran Abak untuk kemudian mengurus sawah dan menikahi gadis gunting cina serta hidup bahagia di kampung. Tapi Marzuki menolak, ia telah terlanjur malu mengatakan pada Abak dan orang-orang di kampung bahwa ia lebih memilih mengadu nasib di perantauan ketimbang mengurus tiga piring sawah dan menikahi gadis gunting cina yang bukan menjadi pujaan hatinya. Ia yakin betul kalau pilihannya ini benar-benar merupakan tujuan yang tepat.<br />
Dan, apa pula nanti kata orang kalau ia pulang tak membawa hasil apa-apa. Sudah tentu ia tak akan dianggap dan dituduh telah mencoreng wajah Abak di hadapan orang-orang sekampung.<br />
“Oh, tidak. Aku tidak akan pulang. Sudah jauh-jauh kubuang perasaan ingin pulang itu, Uda. Aku tidak ingin mengecewakan Mande. Sekarang cuma Uda-lah satu-satunya dunsanak yang mengerti dengan keadaanku. Kepada siapa lagi aku akan mengadukan nasib selain pada Uda.”<br />
Tapi, Rusli tetap bersikeras untuk meminta Marzuki pulang dan menetap di kampung sampai ia merasa siap untuk kembali ke Ibukota. Rusli juga bermurah hati akan membayar semua biaya berobat majikannya.<br />
“Marzuki, kau tak lihat bagaimana keadaan Uda-mu sekarang? Uda cuma beruntung dapat pekerjaan menjadi penjual ayam potong karena modal bermain koa dan berkenalan dengan orang-orang di pasar ini. Semua orang di sini sudah tahu siapa Rusli. Hm&#8230; Marzuki, kau tak usah pikirkan apa pendapat orang-orang kampung tentang dirimu. Nanti Uda akan berkirim surat pada Mande-mu. Uda akan urus semua biaya perjalananmu.”<br />
Tak kuasa. Marzuki pun sedikit merasa lega. Tak kurang sedikit pun bantuan Rusli yang begitu tulus ia terima. Tak ingat lagi ia akan kembali ke Ibukota yang penuh sesak dan tak menjanjikan apa-apa. Marzuki pun berangkat.<br />
***<br />
Kini, ia teringat kampung. Terkenang nikmatnya gulai asam padeh buatan Mande dan cerita orang-orang di lepau tentang politik, tentang presiden pada waktu itu, atau tentang apa saja sambil menyeruput kopi jalang. Juga lenguh kerbau dan bunyi bansi yang menyentuh sampai ke dalam hati sanubari Marzuki.<br />
Sewaktu kecil, Marzuki senang berlari-larian di tepi sawah. Mengejar capung dan belalang yang terbang, sering kali mereka mendarat di pucuk-pucuk padi milik Abak yang mulai menguning. Marzuki marah. Mengejar binatang-binatang itu sampai penat. Ah, betapa ia tak dapat menolak hasrat ingin pulang.<br />
Selepas mendarat di Lampung, Marzuki melanjutkan perjalanan dengan bus umum. Orang-orang berdesakan ingin naik. Pengap. Udara panas. Pedagang asongan hilir mudik naik turun menjajakan minuman segar dan gorengan. Seorang ibu tua terlihat panik ketika kernet bus memintanya memperlihatkan karcis. Marzuki tak kuasa menahan sesak. Beberapa menit setelah bus meninggalkan pelabuhan, ingatan tentang kampong semakin pekat. Aih, semakin pilu hati Marzuki.<br />
Di sepanjang jalan, sawah-sawah hijau terbentang luas. Sesekali, lekuk tebing curam dan bebatuan membentuk dinding yang kokoh di sisi kiri dan kanan jalan. Liuk elang di udara. Rumah-rumah. Sungai dan danau. Ibu-ibu tua berkodek sambil membawa bakul berjalan dengan penuh semangat. Awan tipis turun menutupi puncak gunung. Persis seperti yang tergambar dalam ingatan Marzuki. Serupa kampung yang terlukis dalam dirinya. Terngiang pula bunyi bansi ke telinganya. Ah, Mande!<br />
Mande pernah bilang kalau di rantau jangan tinggalkan sembahyang, jangan lupa mengaji dan juga ingat untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja.<br />
Begitulah, tak henti-henti segala peristiwa berkecamuk dalam diri Marzuki.Bus terus melaju di tikungan. Jalan semakin curam. Menanjak. Menurun. Semakin dekat menuju rumah, semakin gelisah hati dan pikiran Marzuki. Ia pun paham bahwa apa yang ia saksikan kini tidak banyak yang berubah.<br />
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, sampailah Marzuki di terminal Dobok, Batusangkar. Kemudian, ia memilih naik ojek menuju rumah. Sedikit sekali perbedaan yang ia temukan dibandingkan ketika ia meninggalkan kampung ini. Hanya beberapa petak sawah yang berubah menjadi bangunan ruko dan mini market. Gambar-gambar caleg di tiang listrik, di persimpangan. Dan, bendera-bendera partai bergambar binatang di sepanjang jalan.<br />
Ojek pun berhenti di halaman rumah gadang. Rumah dengan rangkiang yang beberapa bagian dindingnya sudah keropos. Marzuki terkejut ketika ia melihat orang-orang tengah berkerumun di jenjang depan rumahnya. Sebuah keranda dan karangan bunga di halaman.<br />
Firasat buruk. Marzuki bergegas mendekat dan melihat dengan lebih jelas apa yang sedang terjadi.<br />
Ah, Marzuki semakin terkejut ketika berada di ambang pintu. Dan, walaupun bertahun-tahun ia di rantau, ia tak lupa dengan wajah orang-orang yang selalu ia rindukan. Ya. Ia melihat Mande  yang terbujur kaku dibalut kain kafan dikerumunan orang. Wajahnya pucat pasi.<br />
Sementara Abak tersedu-sedu di sudut ruangan. Marzuki tak dapat menahan diri. Kemudian ia menerobos masuk dan berteriak keras.<br />
“Oh, Mandeeee!”</p>
<p><em>Rumah Teduh, akhir November 2008</em></p>
<p>*judul cerpen tersebut dikutip dari judul puisi Esha Tegar Putra yang termaktub dalam antologi puisi bersama penyair lima kota “Kampung Dalam Diri”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=118&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/02/01/kampung-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Bujang</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/25/dua-bujang/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/25/dua-bujang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 05:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/25/dua-bujang/</guid>
		<description><![CDATA[Di kampung kami, banyak sekali laki-laki yang bernama Bujang. Maka, jika kau mempunyai seorang kenalan yang mengaku bernama Bujang, kami yakin dia pasti berasal dari kampung kami. Dan, jika suatu waktu kau memutuskan untuk mencarinya dengan berkunjung ke kampung kami dan menanyakan tentang Bujang yang kaukenal itu, maka kau tentu akan kebingungan karena ornga-orang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=115&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>Di kampung kami, banyak sekali laki-laki yang bernama Bujang. Maka, jika kau mempunyai seorang kenalan yang mengaku bernama Bujang, kami yakin dia pasti berasal dari kampung kami. Dan, jika suatu waktu kau memutuskan untuk mencarinya dengan berkunjung ke kampung kami dan menanyakan tentang Bujang yang kaukenal itu, maka kau tentu akan kebingungan karena ornga-orang akan balik bertanya padamu: ”Bujang yang mana?” – bukan karena mereka tak kenal, melainkan karena mereka hanya ingin memberikan informasi yang tepat tentang keberadaan Si Bujang yang kau maksud.</div>
<p align="justify">Sebenarnya, Bujang hanyalah nama panggilan. Laki-laki yang panggil Bujang juga memiliki nama seperti nama-nama di kampung kalian. Tapi, kebanyakan nama panggilan mereka justru lebih populer ketimbang nama mereka yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang kampung mungkin tak tahu siapa sebenarnya nama Si Bujang yang mereka kenal.<span id="more-115"></span></p>
<p align="justify">Mengingat begitu banyak laki-laki yang bernama Bujang, maka orang-orang kampung pun mempunyai trik tersendiri untuk membedakan Bujang yang satu dengan Bujang yang lain. Di samping nama Bujang, dilekatkan nama tambahan, yang biasanya, mewakili karakteristik atau ciri khas sang Bujang. Misalnya, ada Bujang Karak, karena yang bersangkutan di waktu kecil suka makan kerak nasi. Ada juga Bujang Lisuik, karena bertubuh lisut – kurus. Atau Bujang Kuniang, dikarenakan dia berkulit kuning langsart. Dan, masih banyak Bujang-bujang yang lain.</p>
<p align="justify">Biasanya, di waktu berkenalan dengan orang luar, Bujang-bujang ini hanya mengatakan bahwa nama mereka Bujang – tanpa menyebutkan pula ujung namanya. Itulah sebabnya kenapa kau tak akan bisa menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan Bujang yang manakah yang kaucari. Jika kau hanya menjawab: “Ya, Bujang. Itu saja. Namanya Bujang!”, maka orang kampunglah yang kemudian jadi bingung dan kewalahan menyebutkan satu persatu Bujang yang ada berikut ciri-cirinya. Karena, memang ada berpuluh-puluh Bujang di kampung kami.</p>
<p align="justify">Namun, di antara puluhan Bujang tersebut, ada dua Bujang yang paling tersohor; yakni Bujang Antau dan Bujang Macang. Tak ada penduduk kampung yang tak kenal dengan dua orang Bujang ini. Dua nama itu seolah sudah melekat kuat di ingatan semua orang. Alasannya hanya satu. Bujang Antau dan Bujang Macang merupakan sahabat karib sejak kecil. Dan patut diingat bahwa di kampung kami jarang ada dua orang yang bernama Bujang yang ‘berani’ untuk berteman dekat. Karena, ya, seperti yang mungkin pernah kaudengar, penduduk kampung kami sangat suka mencemooh.</p>
<p align="justify">Jika kebetulan ada yang melihat dua orang Bujang berjalan berdekatan, maka akan ada saja penduduk kampung yang iseng dengan hanya bertanya: “Bujang, hendak ke mana kau?” Tentu saja seruan tersebut membuatkedua Bujang menoleh dan serempak memberikan jawaban. Saat itulah, sang penanya dan orang-orang yang ada di sana akan tertawa kegirangan – senang bukan main karena olok-oloknya berhasil. Dan dua orang Bujang itu pun akan saling menatap tajam, seolah saling menyalahkan, “Kenapa pula kau diberi nama Bujang?” ujar mereka dalam hati masing-masing. Hari berikutnya, mereka tak akan bertegur sapa.</p>
<p align="justify">Namun, tidak demikian halnya dengan dua Bujang tokoh kita. Keduanya tak pernah hirau dengan olok-olok penduduk kampung. Cemoohan yang ditujukan pada mereka hanya akan dibalas dengan senyum sumringah dan gelak tawa yang pecah berderai dari keduanya. Mereka bahkan mempunyai jawaban khas sebagai ‘serangan balik’ kalau-kalau ada yang iseng memanggil nama Bujang saja tanpa embel-embel ‘Antau’ antau ‘Macang’. Mereka akan menjawab bergantian; kata per kata. Bujang Antau akan menjawab “Kami mau…”, lalu dilanjutkan oleh Bujang Macang dengan “…ke Balai Kamis”. Meski ujung-ujungnya orang-orang tetap tertawa, namun mereka tak pernah merasa dicemooh.</p>
<p align="justify">Karenanya, orang-orang pun kapok mengolok-olok dua Bujang kita.</p>
<p align="justify">Oh ya, dua Bujang ini juga mempunyai nama ‘orisinil’. Bujang Antau nama aslinya adalah Ahmad Ridha Awal. Ia anak pertama, dan merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Dari mulai sekolah dasar, Ahmad Ridha selalu mendapat peringkat pertama. Panggilan Bujang Antau didapatnya karena sewaktu kecil ia sering berpindah-pindah tempat tinggal, dibawa orang tuanya. Maklum, Ayah Bujang Antau saat itu adalah seorang penyuluh pertanian yang baru dilantik, dan kerenanya sering dimutasi. Jadilah, Ahmad Ridha dipanggil Bujang Antau – anak laki-laki yang sering dibawa merantau.</p>
<p align="justify">Sementara, Bujang Macang sewaktu kecil populer dengan nama aslinya: Luthfi Irsyad Ibrahim. Kata ‘Ibrahim’ di belakang namanya yang sering dibangga-banggakannya itu disandangnya karena memang ia masih merupakan keturunan langsung Syekh Ibrahim – pembawa syiar Islam pertama ke negeri kami. Tak heran, dari dulu, keluarga Luthfi banyak yang menjadi ahli agama.</p>
<p align="justify">Luthfi adalah anak terakhir dalam keluarganya. Ia dua tahun lebih tua dari Bujang Antau. Gelar Bujang Macang didapatnya ketika ia masih duduk di bangku SD kelas empat. Waktu itu ia baru saja dikhitan. Tapi, dasar Luthfi bandel. Baru tiga hari disunat, ia sudah berani berjalan-jalan jauh dari rumah dan bahkan ikut teman-temannya mencari ambacang – buah sejenis mangga.</p>
<p align="justify">Kala itu memang sedang musim ambacang. Dan, semua orang tentu tahu kalau Luthfi begitu doyan makan buah tersebut. Hingga, ia pun tak ‘segan-segan’berebut buah ambacang yang jatuh dengan teman-temannya. Padahal, luka bekas jahitan khitannya belum kering benar. Akibatnya, jahitan di ‘burung’nya pun lepas dan ia harus rela disunat dua kali. Sejak itulah ia tak lagi dipanggil Luthfi, melainkan Bujang Macang.</p>
<p align="justify">Awal pertemanan Bujang Antau dan Bujang Macang terjadi ketika Ayah Bujang Antau mendapatkan SK PNS-nya dan dipindahtugaskan ke kampung halamannya – kampung kami. Rumah mereka berajauhan, tapi Bujang Macang sering bertandang mencari ambacang ke rumah Bujang Antau.</p>
<p align="justify">Pada suatu ketika, keduanya terlibat cek-cok dan berkelahi. Entah bagaimana persis kejadiannya, yang jelas sejak saat itu – setelah mereka berdamai tentunya – kedua Bujang kita mulai akrab. Ke mana-mana selalu bersama. Jika ada yang mengganggu salah satu dari mereka, maka yang lain akan siap membantu.</p>
<p align="justify">Pertemanan mereka kian akrab karena ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama. Bujang Antau dan Bujang Macang sama-sama gemar main layang-layang dan meriam bambu. Jika musim layang-layang datang, menolehlah ke langit. Jika kau melihat ada dua buah layang-layang yang sama persis bentuk dan warnanya, maka itu pastilah punya dua Bujang kita.</p>
<p align="justify">Begitu juga ketika bulan puasa tiba. Jika bukan di rumah Bujang Antau, mereka pasti sedang asyik bermain meriam bambu di halaman depan rumah Bujang Macang. Meriam bambunya sengaja diikat, dibikin seperti kembardan diletuskan secara serempak. Maka, aduhai, bunyi letusannya sungguh menggelegarke seantero kampung.</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Bujang Antau bercita-cita menjadi insinyur pertanian, sementara Bujang Macang ingin menjadi guru agama. Selepas SD keduanya sekolah di tempat yang berbeda. Bujang Antau melanjutkan ke SMP, sedangkan Bujang Macang memilih masuk Madrasah Tsanawiyah. Meski demikian, hubungan mereka tetap sekarib biasanya. Malah bertambah erat. Terlebih, begitu menamatkan sekolah lanjutan pertama, mereka bersekolah di SMA yang sama di kampung kami – karena memang itulah satu-satunya SMA yang ada waktu itu.</p>
<p align="justify">Lulus SMA, persahabatan kedua Bujang memang masih tetap terjalin. Namun, tak seakrab dulu lagi. Maklum, jarak jua yang memisahkan mereka. Bujang Antau kuliah di Padang, mengambil jurusan pertanian di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedangkan Bujang Macang mengambil jurusan ilmu agama di Batusangkar. Sekali waktu, ketika kebetulan keduanya sempat pulang bersama, Bujang Antau dan Bujang Macang masih terlihat begitu mesra.</p>
<p align="justify">Seiring waktu yang terus bergulir, persahabatan mereka kian renggang. Hingga akhirnya seakan terputus begitu saja. Bahkan, ketika Bujang Macang diwisuda, Bujang Antau tak hadir. Katanya,”Aku sibuk, Jang. Skripsiku…” Meski Bujang Macang memohon-mohon agar sahabatnya itu mau meluangkan waktu sehari saja untuk menghadiri acara kelulusannya, namun toh Bujang Antau tetap tak datang. Bujang Macang hanya bisa menelan kekecewaan.</p>
<p align="justify">Rasa kecewa itu semakin bertambah ketika pada hari Bujang Antau diwisuda, ia tak pernah memberi kabar pada Bujang Macang. Bujang Macang mengetahui kalau sahabat karibnya itu telah diwisuda setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut.</p>
<p align="justify">Dengan ijazah Diploma 3-nya, Bujang Macang melamar menjadi guru Fiqih di Tsanawiyah tempat ia dulu bersekolah. Selain itu, ia juga mengajar anak-anak mengaji di surau. Begitu SK mengajarnya keluar, Bujang Macang menikah. Memiliki dua orang anak. Satu perempuan, dua laki-laki.</p>
<p align="justify">Sementara itu, Bujang Antau semakin jarang terdengar kabarnya. Setelah mendapat gelar Sarjana Pertanian, ia langsung ke Jakarta, ikut temannya.  Tak ada yang tahu di mana ia bekerja. Kedua orangtuanya pun seolah tutup mulut atas keberadaan Bujang Antau. Entah kenapa.</p>
<p align="justify">Dua Bujang yang dulu pernah tersohor dan menjadi buah cakap di kampung, hilang dari topik pembicaraan selama bertahun-tahun. Hingga hari itu tiba…</p>
<p align="justify">Ya, pada suatu hari – belasan tahun setelah ia pergi tak tahu kabar – Bujang Antau pulang dengan kisah sukses yang ia raih. Rupanya, garis tangan Bujang Antau bukan di bidang pertanian seperti yang ia cita-citakan dulu. Bujang Antau pulang sebagai seorang pengusaha besar dari Jakarta. Tak tanggung-tanggung, ia pulang bersama anak istrinya dengan mobil sedan mengkilap. Orang-orang kampung berdecak kagum, mengelu-elukan Bujang Antau yang telah menjadi orang sukses.</p>
<p align="justify">Dan, cerita tentang dua Bujang pun kembali dibuka.</p>
<p align="justify">Kabar itu akhirnya sampai juga di telinga Bujang Macang. Tak bisa dilukiskan betapa gembiranya Bujang Macang begitu mengetahui sahabatnya pulang. Maka, ia pun dengan rindu dendam yang telah lama ditahan, segera menghambur ke rumah Bujang Antau.</p>
<p align="justify">Namun, apa yang kemudian didapatnya? Bujang Antau sama sekali tak lagi mengenalnya. “Apa aku sudah terlalu tua?” tanya Bujang Macang berseloroh. Tapi, meski akhirnya dengan cerita panjang lebar, Bujang Macang berhasil membangkitkan ingatan tentang masa lalu mereka, Bujang Antau hanya menanggapinya dengan dingin. Cerita panjang Bujang Macang hanya dibalas dengan ‘Oooo…’ panjang, sementara Bujang Antau sibuk memencet-mencet HP-nya.</p>
<p align="justify">“Maaf ya, saya tinggal sebentar. Ada panggilan dari Jakarta,” katanya santai untuk kemudian meninggalkan Bujang Macang sendirian.<br />
Meski katanya cuma sebentar, namun hingga berjam-jam kemudian , Bujang Antau tak jua kembali menemui Bujang Macang.</p>
<p align="justify">Bujang Macang pun memutuskan untuk pergi saja dari sana.<br />
“Sepertinya kau sibuk, Jang. Besok atau kapan-kapan aku ke sini lagi. Insya Allah,”ujar Bujang Macang berpamitan.<br />
“Oh ya.. Ya..” balas Bujang Antau sambil terus saja menelpon.<br />
Bujang Macang hanya bisa menelan airmata yang dirasanya mulai menetes.</p>
<p align="justify">***</p>
<p align="justify">Kau tentu bertanya-tanya, bagaimana saya bisa tahu dengan persis peristiwa yang terjadi di malam itu antara dua Bujang tokoh kita.<br />
Oh ya, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Luthfi Irsyad Ibrahim. Tapi, orang-orang kampung lebih suka memanggil saya Bujang Macang.<br />
<em><br />
Sumpur Kudus, 06 September 2008 </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=115&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/25/dua-bujang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Julo-julo Incim</title>
		<link>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/18/julo-julo-incim/</link>
		<comments>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/18/julo-julo-incim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 04:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cerpenpadek</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham Yusardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerpenpadek.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Ilham Yusardi

(I)
Upik Uban tegak mematung di depan daun pintu rumah Incim. Tak yakin, tapi dikeraskan juga hatinya mengetuk pintu.
“Assalamualaikum&#8230;, Incim!” Suara Parau keringnya bergelegar.
“Ya&#8230;, tunggu. Siapa?” Sipongang suara teredam ruangan rumah. Tak lama, ringkik daun pintu terkuak, seiring muncul perempuan paruh baya, dengan pakaian rumah seadanya.
“Eee, Upik Uban kiranya. Kabar apa, Pik? Lama tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=113&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><strong>Cerpen Ilham Yusardi</strong></div>
<div></div>
<div>(I)<br />
Upik Uban tegak mematung di depan daun pintu rumah Incim. Tak yakin, tapi dikeraskan juga hatinya mengetuk pintu.<br />
“Assalamualaikum&#8230;, Incim!” Suara Parau keringnya bergelegar.<br />
“Ya&#8230;, tunggu. Siapa?” Sipongang suara teredam ruangan rumah. Tak lama, ringkik daun pintu terkuak, seiring muncul perempuan paruh baya, dengan pakaian rumah seadanya.</div>
<p align="justify">“Eee, Upik Uban kiranya. Kabar apa, Pik? Lama tak hinggap kau ke sini. Ayo masuk” Incim menyila Upik Uban untuk duduk. Upik Uban melangkah masuk. Beberapa langkah, dengan sedikit sungkan, Upik Uban melorotkan badannya di sofa yang masih berbungkus plastik.<br />
“Baru sofa, Ncim?” Celetuk Upik Uban, membuka obrolan.</p>
<p align="justify">“Seminggu. Tukar tambah” Jawab Incim sekenanya. Bergegas Incim ke belakang. Upik Uban terkesan dengan ruang itu. Tiga meter dari tempat ia duduk, tivi layar datar tipis seakan lekat ke dinding. Kiri-kananya berdiri speker berhias bunga anggrek plastik. Di sudut antara sofa berdiri guci keramik setinggi orang, bertuliskan kaligrafi.</p>
<p align="justify">Dinding kiri tertempel pigura cantik, foto Incim dan suami tersenyum seukuran tivi.  Pohon anggur plastik, menjalar, berjuntai-juntai di pembatas ruang yang terbuat dari rotan. Kaki Upik Uban pun tak bisa membutakan permadani Turki yang tebal dan empuk. Kulit Upik Uban termanjakan oleh udara sejuk yang disebar pendingin ruangan. Upik Uban menelan ludah pekatnya.  <span id="more-113"></span></p>
<p align="justify">Incim keluar dengan napan stainnless steel mengkilap. Di atasnya toples dan sebuah gelas kristal bertangkai tinggi, berisi air berwaran kuning pekat (mungkin sirup mahal pikir Upik Uban).</p>
<p align="justify">“Senang kau kini, Ncim” Tukas Upik Uban, matanya memperhatikan gerik Incim yang ringan.<br />
Incim tersenyum lepas, bersambung tawa kecil. “Alah, kau bisa saja. Ada  paha ada kaki, ada usaha ada rejeki. Iya, kan. hehehe?” Incim membuka tutup toples kristal. Tampak kue kering berwarna cokelat bertabur kacang mete dan kismis.<br />
“Silahkan dimakan kuenya, Pik!”</p>
<p align="justify">Upik Uban merogoh sekeping kue dari botol. Incim sibuk pula memencet remot tivi. Seketika tivi menyala. Cahaya berlepasan meneranggi ruangan. Gambarnya sangat jernih. Suaranya bombastis menggeletarkan jantung Upik Uban. Di tivi tampak gambar seorang ustad kondang berceramah penuh semangat. Kemudian tertera judul tayangan ‘Kala Mayit Tak diterima Tanah’. Incim mencet remot lagi. Merendahkan volume suara tivi.<br />
“Apa kabar, Pik” Sahut Incim ringan saja. Upik Uban terdiam, tersadar dari tatapan ke tivi.</p>
<p align="justify">“Anu, Ncim. Kalau boleh, awak mau ikut julo-julo tembak lagi dengan Incim. Lagi butuh uang. Terdesak, Ncim. Keadaan, Ncim. Kredit motor Uda jatuh tempo. Sebulan menunggak. Kemarin sudah ke rumah orang dealer, Ncim. Tadi pagi juga. Katanya kalau besok tidak juga dibayar, motor akan ditarik. Kalau motor ditarik, Ncim, uda awak tidak bisa narik ojek lagi. Kalau uda tidak ngojek lagi, Ncim, dengan apa belanja harian awak, susu anak awak. Itulah yang membuat awak kalampasiangan, Ncim.” Panjang lebar bercerita, tersendat-sendat antara sebak dada, dijelaskan jua niatnya pada Incim. Incim dengan mudah mengerti situasi.</p>
<p align="justify">“Saya paham, Pik. Bagi saya tidak masalah. Tapi saya tidak ingin lagi Upik seperti yang sudah sudah. Kalau bisa bayar harian julo-julonya rutin. Biar tidak tambah susah kau. Biar cepat tamatnya”<br />
“Iya, Ncim. Jadi”</p>
<p align="justify">“Julo-julo berapa yang mau kau ikut.” Lanjut Incim seraya menggaruk daki di lehernya. Upik Uban melihat kalung Incim begerincingan begitu tangan incim menyentuh leher. Mainannya batu permata sebesar kepala sendok berkilau, meyilau mata Upik Uban begitu terkena pantuan cahaya tivi.<br />
“Yang hariannya sepuluh ribu saja, Ncim”<br />
“Jadi, kau mau ambil julo-julo tembak sejuta”<br />
“Iya, Ncim” Angguk Upik Uban tegas.<br />
“Baiklah. Kau kutembakkan kenomor satu. Kau bisa dapat uang sekarang. O, ya, kau sudah tahu kan aturan julo-julo harian ini?</p>
<p align="justify">“Sudah, Ncim” Angguk Upik Uban cepat. Incim pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Terurai jugalah awan mendung yang galaukan hati upik Uban dua hari ini.<br />
Upik uban tentu sudah tahu betul aturan main julo-julo harian itu. Ia ambil julo-julo tembak satu juta rupiah. Nantinya akan dibayar rutin perharinya sepuluh ribu rupiah selama seratus sepuluh hari. Sepuluh hari terakhir orang kampungnya menyebut hari pencabik kartu. Entah siapa yang menetapkan undang-undang itu, sudah ada begitu saja turun temurun. Sepuluh hari itulah upah balas jasa orang menjalankan (kepala) julo-julo yang dijemput dari kerumah setiap harinya.</p>
<p align="justify">Incim keluar dengan beberapa uang bergambar Pak Sukarno dan Pak Hatta. “Tu, wa, ga, pat, ma, nam, juh, pan, lan&#8230;, ini Pik. Sembilan ratus ribu rupiah. Seratus ribu dipotong untuk mengisi sepuluh hari pertama” Uang diulurkan ke arah Upik diletakkan di sudut meja, di hadapan lutut Upik. Lalu, Incim sibuk pula membubuhi tanda paraf sepuluh baris di kolom pertama kartu julo-julo baru. Tiap-tiap paraf itu kemudian dicap pula dengan stempel sebesar ujung telunjuk. Kartu diserahkan ke Upik.<br />
“Terima kasih sekali. Awak Pulang dulu, Ncim”<br />
Upik Uban bisa lagi tersenyum.<br />
Incim Pun tersenyum.</p>
<p>(II)<br />
Sore, langit tersapu jingga dari semburat matahari siang menjelang sore. Sepeda motor bebek Ujang Balam—pembawa motor pribadi Incim dalam menjemput julo-julo dari pintu ke pintu—berhenti di halaman sebuah rumah kayu lama. Suara knalpot modifikasi sepeda motor Ujang Balam yang keras dan khas, sudah hafal oleh telinga perseta julo-julo. Incim turun, melangkah menghampiri pintu. Sebelum sampai di pintu, dua orang bocah melongokkan mukanya yang berkabut risau.</p>
<p align="justify">“Ibu di Rumah Sakit, Etek” Ujar bocah menyela suara kelotak sepatu Incim.<br />
“Rumah Sakit? Siapa yang sakit” Kalimat tanya itu habis di pintu. Incim menguakkan pintu lebar-lebar, melongok ke dalam rumah. Sepi.<br />
“Ayah, Etek. Tadi pagi sepulang dari sawah, tangan kanan, kaki kanan ayah tidak bisa lagi digerakkan. Uda Pudin melarikannya ke Rumah sakit”<br />
“Stroke?!” Incim tersentak, seakan tidak Percaya.</p>
<p align="justify">“Entahlah. Ani ndak tahu, Tek” Ucapan Ani yang terakhir itu bersibuah dengan sebak. Ani berusaha menyeka cairan hangat yang terbit di sudut matanya.<br />
Incim mundur. Mengusap kedua kepala anak itu. Ia menarik nafas, kemudian melangkah ke arah motor Ujang Balam.</p>
<p align="justify">Imar, Ibu kedua bocah itu ikut julo-julo incim rutin, putus sambung. Dua puluh ribu sehari. Menerima dua juta. Uang cabutan sudah diambil untuk mengganti atap rumah yang semula rumbia dengan seng. Sekarang tinggal melunasi sepuluh hari Pencabik kartu saja lagi.</p>
<p align="justify">(III)<br />
“Naik haji?”<br />
“Iya”<br />
“Kata Siapa?”<br />
“Incim sendiri yang bilang begitu pada saya.” Buk Siar, penuh semangat meyakinkan Buk Yet akan informasinya.</p>
<p align="justify">Tangan mereka terus juga memilih terung yang teronggok di meja lapau Buk Mur. Sedari tadi pilih-memilih terung itu tak kunjung selesai. Obrolan lebih semangat. Awalnya cuma perkara garin mesjid yang baru suaranya merdu mengumandangkan azan. Beralih ke Artis Marcella Zalianty masuk penjara. Lalu pindah pula soal Syekh Puji nikahi perempuan bawah umur. Bergeser lagi tentang derita Upik Uban yang suaminya ditangkap polisi karena menjual kupon putih. Entah siapa yang mulai, tersedak saja  obrolan itu pada Incim yang konon akan pergi haji tahun ini.</p>
<p align="justify">“Eh, Buk” lanjut Buk Siar mencolek bahu Buk Yet, kemudian merapatkan muncung ke telinga Buk Yet, “Kalau Incim naik haji, sah nggak sih?”<br />
“Kenapa?”  Tanya itu berbalik ke Buk Siar.<br />
“Julo-julo itu, eng, anu. Riba kan?” Mereka kemudian terdiam. Saling pandang.<br />
“Yang mana terungnya Buk?” Sahut Buk Mur, pemilik lapau. Menyentak kesadaran meraka.</p>
<p>(IV)<br />
Incim setengah hati turun dari motor. Cerah langit sore hari itu ak senada dengan kesumat galau yang membalut hati Incim. Sudah sepuluh lebih rumah yang ia singgahi. Belum ada hasil sama sekali. Parahnya, orang-orang yang tak bisa ditagih itu justru peserta dengan jumlah yang besar. Mak Lena, juragan beras, yang ikut putaran lima puluh ribu perhari, tidak di rumah. Kata tetangganya, Mak Lena pergi ke Muaro Kalaban, ke rumah anaknya, meyelenggarakan aqiqah cucunya. Upik Sela, yang ikut dua puluh ribuan perhari, tidak bisa bayar hari ini. Janji bayar besok dobel. Mintuo Taci, yang tak lain adalah istri mamaknya, juga minta ditunggak tiga hari kedapan.</p>
<p align="justify">Jelang Tanggal satu. Incim maklum, Uwan, mamaknya itu PNS di Dinas Kebersihan Pasar. Upik Uban kembali berulah dengan gaya lamanya. Alasannya kini: udanya masih di kantor polisi. Belum ada kepastian kapan akan keluar.</p>
<p align="justify">Incim berjalan menghampiri pintu rumah Ita Kamek. Ita Kamek sudah berdiri dengan mengibarkan tiga lembar uang ribuan dan kartu julo-julo yang sudah lecek. Ita Kamek seangkatan dengan Incim. Lawan barek Konco Arek, kata orang. Sedari kecil mereka sudah bermain, bergaul bersama. Sama mengaji, sama sekolah TK, SD, SMP, sampai SMEA mereka tetap sama.</p>
<p align="justify">“Jadi Kau naik haji, Ncim” Selorohan setengah kelakar itu keluar lebih dulu daripada uang julo-julo beralih ke tangan Incim. Incim mengambil uang itu tanpa peduli dengan pertanyaan Ita Kamek. Dicabiknya kasar kartu julo-julo. Memang julo-julo Ita Kamek tamat dengan uang tiga ribu itu.</p>
<p align="justify">“Jadi, Ncim?” Ita Kamek meninggikan nada suaranya. Bertanya serius. Ia tak melihat gelagat gusar dan kerut di kening Incim.<br />
“Eee, Nyinyir! Ndak usah banyak sigi kau lah. Ikut tiga ribu, cuma.” Akhirnya tertumpah jua kegusaran Incim.</p>
<p align="justify">Suasana antara keduanya jadi tegang. Dihamburkan sobekan kartu ke arah Ita Kamek. Lalu secepatnya balik kanan, melangkah ke arah jalan.<br />
“Eh, Ncim. Tiga ribu kali sejuta berapa, ha? Tiga-ribu-juta! Tiga milyar! Cukup untuk kau naik haji tujuh kali berturut!” Ita Kamek tak terima pula ia disengat mulut Incim.<br />
“Awas Kau, ya!” Dihentikan langkah. Ditunjuk kidalnya Ita kamek dengan geram.</p>
<p>(V)<br />
Cahaya yang disemburkan layar televisi berkilasan, kerjap-kerjapan menerpa ruangan itu. Sebentar-terkilas jam dinding besar, menujukkan angka enam lewat pada jarum pendeknya. Sebentar-terkilas cahaya televisi menyapu foto sepasang suami istri yang besar, menyeka guci keramik besar yang berdiri di kiri kanan. Berkilasan menjelaskan kembang anggur plastik yang terjuntai di pembatas ruangan. Pada saat tertentu cahaya yang bersemburat dari televisi menerangi tubuh yang tergolek di sofa yang masih berplastik itu.</p>
<p align="justify">Suara dari speker tivi yang berdiri di kiri kanan hanya sekedarnya saja. Tidak menggangu telinga perempuan yang tergolek di sofa panjang. Suara tivi tak ubahnya rintih pedih dari sebuah dunia lain. Terlihat gambar pejabat menteri ekonomi dikerubuti wartawan dalam persoalan krisis keuangan global. Kemudian beralih pada gambar gedung-gedung Bank yang terancam bangkrut. Gambar bursa efek Jakarta yang terpaksa ditutup. Sungguh perempuan paruh  baya itu tiada pula mengerti dan tak bersangkut-soal dengan tayangan itu. Kemudian tayangan itu berhenti pada tulisan huruf kapital di layar telveisi: Menantikan azan Magrib.</p>
<p align="justify">Azan Magrib berkumandang lamat-lamat lirih dari kedua speker. Tivi menampakkan gambar orang-orang berangkat menuju masjid. Ada tulisan arab dan latin lafalan azan di layar seiring kumandang azan.</p>
<p align="justify">Langit makin kelam. Matahari mulai berpejam. Lampu ruangan belum juga dinyalakan. Sesekali percikan cahaya yang bersemburat dari tivi jatuh di tubuh  perempuan itu. Ia tidur dengan pergelangan menyilang di atas kening. Kiri dan kanan kening perempuan itu masing-masing ditempeli koyo cabe.</p>
<p>“Hayyalal fallah&#8230;.” Suara dari tivi itu terlalu lamat, terlalu pelan, mungkin tak sampai menyentuh gendang telinga perempuan yang rebah kuda di sofa itu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cerpenpadek.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cerpenpadek.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cerpenpadek.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cerpenpadek.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cerpenpadek.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cerpenpadek.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cerpenpadek.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cerpenpadek.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cerpenpadek.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cerpenpadek.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cerpenpadek.wordpress.com&blog=4514631&post=113&subd=cerpenpadek&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerpenpadek.wordpress.com/2009/01/18/julo-julo-incim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d8b14b6256df233f9f75ccec1444ba21?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cerpenpadek</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>