Cerpen Andi Asrizal
Bermula dari tatapan yang tak putus-putus, ia mengetahui sosok itu. Mungkin persis tatapan kambing yang melayap di tengah rumput hijau. Seperti yang dulu pernah dikatakan ibunya saat ia kecil mengembala, “Jangan sekali-kali kau menatap seseorang seperti kambing yang dihadapkan oleh daun-daun hijau.”
Sekarang telah dewasa dan bekerja. Ia masih tak tahu jika yang tengah memperhatikannya itu adalah mata kambing. Punya tatapan seperti kambing. Ia tak peduli. Ia hanya bersibuk membuka lembar-lembar koran yang barusan dibelinya pada anak ingusan yang sepertinya tak tahu betul apa yang sedang dijualnya.
Anak itu bilang, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Sepanjang lorong dan dari gerbong ke gerbong suaranya tetap sama, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Mungkin itu sebab korannya lebih cepat habis dibanding koran anak-anak lainnya. Ia tersenyum membayangkan berita seperti apa yang menurut anak itu bagus. Pembunuhankah? Pemerkosaankah? Korupsikah? Atau teror bom? Ia tersenyum, “Seperti jualan keset kaki saja.”
Matanya meneliti tiap lembar kolom koran, tiap berita, dan ia belum menemukan yang menarik. Sampai di akhir halaman koran itu, ia menemukan sosok artis idolanya bersama beberapa ekor kambing. Artis itu diberitakan tengah memilih kambing-kambing untuk hari raya korban dan akan dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tampaknya ia tertarik.
Namun, belum lekat matanya pada barisan huruf–huruf kecil itu, sekelabat saja matanya temlaung, rupanya seseorang memberinya senyum. Ia membalas. (lagi…)