Cerpen Padang Ekspres

Maret 15, 2009

Keluarga Makmur

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:45 am
Tags:

Cerpen Nelson Alwi

KETIKA Insan dan Ibnu berlarian pulang ke rumah dan berkali-kali meneriakkan bahwa Si Makmur ditabrak sepeda motor, aku kaget bukan kepalang. Namun kekagetanku mendadak diluruhkan oleh kesadaran yang pelan-pelan melahirkan rasa sesal: tidak semua lawakan di rumah-tangga layak diketahui anak-anak.
“Memang susah sekarang,” ujar tetanggaku yang tertimpa musibah itu pada suatu kali, sewaktu bertandang ke rumahku. “Untung sejak tugas di bandara aku rajin menabung. Selain dapat mengambil rumah di sudut, aku sempat pula membeli sawah-ladang serta dua ekor kerbau di kampung. Seratus-lima-puluh emas. Bunga uang yang kudepositokan… itulah yang meringankan bebanku kini….” (lagi…)

Maret 8, 2009

Parang Yang Jatuh

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:08 am
Tags:

Cerpen Deddy Arsya

Seusai hujan semalam, jalan tanah setapak itu tentu akan menjadi licin. Beberapa genangan tentu juga akan terbentuk. Sementara rumput-rumput di sisi kiri dan kanan jalan akan kembali menegang dan segar setelah disangai panas cukup lama. Musim kemarau  mungkin telah berakhir oleh hujan itu.
Pagi itu seekor tupai, seperti tengah merayakan pergantian musim, terlihat melompat dari batang marapalam menuju pohon aur yang rimbun di bibir jalan. Titik-titik air bergeraian jatuh dari dahan-dahan aur yang bergoyang. Beberapa rantingnya yang telah mati ikut jatuh.
Di sisi kiri jalan setapak itu berbatas lembah yang agak curam, dibatasi semak dan belukar tipis. Sementara di sisi kanannya berbatas bukit-bukit berderet panjang. Di jalan setapak itu nanti, jalan setapak yang dari waktu ke waktu terasa semakin mengecil oleh semak belukar yang tumbuh di sisi-sisinya, beberapa saat lagi Sainal akan berjalan. Bocah itu kini pergi mengambil karung plastik ke kolong rumah disuruh ayahnya. Rumah anjung di kaki bukit itu, yang di sisi belakangnya seekor sapi tengah bergelung di dalam sebuah kandang. Rencananya bocah itu akan ke rimba pagi ini bersama ayahnya. Sudah lama mereka tak ke parak (kebun) nun yang berada jauh di puncak rimba sana. Mungkin pala dan kopi telah ada yang masak, pinang sudah bisa diambil,  maka karung plastik itu dipersiapkan sebagai tempatnya nanti. (lagi…)

Maret 1, 2009

Main Anak Kambing

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:44 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal

Bermula dari tatapan yang tak putus-putus, ia mengetahui sosok itu.  Mungkin persis tatapan kambing yang melayap di tengah rumput hijau. Seperti yang dulu pernah dikatakan ibunya saat ia kecil mengembala, “Jangan sekali-kali kau menatap seseorang seperti kambing yang dihadapkan oleh daun-daun hijau.”
Sekarang telah dewasa dan bekerja. Ia masih tak tahu jika yang tengah memperhatikannya itu adalah mata kambing. Punya tatapan seperti kambing. Ia tak peduli. Ia hanya bersibuk membuka lembar-lembar koran yang barusan dibelinya pada anak ingusan yang sepertinya tak tahu betul apa yang sedang dijualnya.
Anak itu bilang, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Sepanjang lorong dan dari gerbong ke gerbong suaranya tetap sama, “Bang, Mbak, berita hari ini bagus-bagus.” Mungkin itu sebab korannya lebih cepat habis dibanding koran anak-anak lainnya. Ia tersenyum membayangkan berita seperti apa yang menurut anak itu bagus. Pembunuhankah? Pemerkosaankah? Korupsikah? Atau teror bom? Ia tersenyum, “Seperti jualan keset kaki saja.”
Matanya meneliti tiap lembar kolom koran, tiap berita, dan ia belum menemukan yang menarik. Sampai di akhir halaman koran itu, ia menemukan sosok artis idolanya bersama beberapa ekor kambing. Artis itu diberitakan tengah memilih kambing-kambing untuk hari raya korban dan akan dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tampaknya ia tertarik.
Namun, belum lekat matanya pada barisan huruf–huruf kecil itu, sekelabat saja matanya temlaung, rupanya seseorang memberinya senyum. Ia membalas. (lagi…)

Blog pada WordPress.com.