Cerpen Padang Ekspres

November 30, 2008

Menunggu Senja

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 4:11 pm
Tags:

Cerpen Maghriza Novita Syahti

Dari balik jendela aku termenung. Sesekali menyeka embun di kaca jendela itu, memperjelas pandangan. Kulihat dedaunan berayun ke sana kemari karena angin di luar sana. HIjaunya seakan memudar pula dibawa angin. Angin yang tak pernah tahu bahwa ia telah membawa aku menatap jauh pada seseorang.

Dari jauh kulihat seseorang itu berjalan pelan, perlahan-lahan melintasi jalanan sepi tak berorang itu. Helaian dedaunan sesekali menghampiri wajahnya, menutupi pandangannya. Entah ke mana tujuannya berjalan, tak pernah aku tahu. Mungkin mengejar senja. Hingga ia lenyap dari batas pandangku yang terbatas.

Dari balik jendela aku termenung. Menunggu senja yang sudah lama kunanti. Senja bagiku begitu membikin aku tersihir. Tersihir akan keremangannya, semburat cahaya kemerah-merahannya. Indah, sendu,dan mengingatkanku pada cinta. Apakah senja itu akan mampu menembus kaca jendela ini? Dan memandikan diriku dengan keemas-emasan cahayanya.

Menatap lama aku ke langit biru yang sudah berganti kuning kemerahan seperti kobaran api itu. Perlahan kusapu langit sejauh pandanganku. Lama aku menunggu, senja itu tak kunjung datang padaku, menembus kaca jendela ini. Huh, lagi-lagi penantianku sia-sia.

Ingin rasanya juga mengejar senja seperti seseorang yang tadi kulihat. Berlari-lari kecil ia, merekah bibirnya karena senyum. Seperti tak sabar mengharap sesuatu. Aku tak tahu apa yang diharapkannya dari senja, hanya sebuah senja. (lagi…)

November 23, 2008

Nenek Hidup Lagi

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 5:38 am
Tags:

Cerpen Benny Arnas

WALAUPUN baru 3 minggu menghuni kampung baru ini, tapi sudah cukup banyak kegiatan dan momen yang kami lewati bersama masyarakatnya. Kami begitu cepat diterima di sini, dan ayah adalah orang yang paling bahagia karenanya.
“Mereka tak mengenali buronan, Bu?” kata ayah.
“Bagaimana mereka mengenalimu, kalau televisi saja tak ada di sini, Yah,” sahut ibu.
Kami tertawa lepas.
* * *
KAMI pernah menghadiri acara pernikahan anak tunggal Haji Jakun, orang terkaya di kampung ini. Kami juga telah diundang untuk menggunakan hak pilih kami dalam pemilihan Kades satu minggu yang lalu. Sepuluh hari yang lalu, kami pun menjadi bagian dari barisan panjang di pinggir jalan besar kampung ini ketika Bupati diarak keliling kabupaten memamerkan Piala Adipura yang diraih untuk yang ke-empatkali-nya secara berturut-turut.
Dan baru dua minggu yang lalu, kami juga berbaur dengan mereka yang bersuka ria merayakan Idul Fitri. Tapi, sungguh, aku tak pernah melihat kampung dalam keadaan sesibuk ini. Riuh sana-sini, seakan semua terlibat –bahkan ada yang memaksakan diri untuk terlibat— dalam suatu siklus kehidupan manusia-manusia bumi: kematian! (lagi…)

November 9, 2008

Upik Suti dan Sebatang Rokok

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:02 am
Tags:
Cerpen Farizal Sikumbang

Hanya ada satu alasan yang sampai saat ini selalu bergayut di kepala Upik Suti perihal mengapa kaum laki-laki lebih cepat mati daripada kaum perempuan. Yakni, karena kaum laki-laki pecandu rokok. Alasan itu selalu dipertahankannya jika ada orang yang berdebat dengannya. Upik Suti sangat yakin sekali, karena suatu hari suaminya meninggal di pangkuannya dengan dada sesak. Dia tahu, itu akibat candu rokok. Suaminya adalah laki-laki perokok. Satu hari suaminya bisa menghabiskan dua sampai empat bungkus rokok. Dari rokok bermerek commodore, Kansas, Djarum, sampai rokok nipah pun di hisapnya dengan rakus.

Dulu, bukan Upik Suti tidak pernah melarang suaminya merokok. Bila dilarang, suaminya malah marah besar. Mengumpat di sana-sini. Mengeluarkan kata makian. Menceracau. Bahkan bila uang tak ada dan Upik Suti tidak mau memberi, tudung nasi akan dilemparkannya ke bawah dari atas rumah panggung. Jika tak puas, kuali sampai periuk nasi pun akan berdentang-dentang berbunyi nyaring di buangnya dari rumah gadang itu.

Maka untuk meredam suaminya supaya tidak marah, dia akan menyerah dengan cara memberi suaminya uang. Setelah dapat uang, suaminya akan bergegas ke lapau Haji Kanin untuk membeli rokok, sedangkan dia hanya termangu melihat tingkah suaminya. Demikianlah halnya Upik Suti mengalami hidup bersama almarhum suaminya yang seorang parewa pasar itu. (lagi…)

November 2, 2008

Di Balik Bukit

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:12 am
Tags:

Cerpen Dian Hartati

Awan-awan berarak. Langkah kaki begitu bergegas menuju kampung sebelah. Ini adalah hari di mana saya harus menyusuri jalanan lengang sendiri. Biasanya bapak menemani sebelum berangkat mengajar. Sekali waktu ibu pernah ikut, namun malam harinya, saya tidak tahan mendengar keluhan ibu yang kakinya pegal-pegal karena seharian berjalan menemani saya.

Mengikuti jalan berkelok seorang diri. Saya bertahan dari sepi, untungnya di sepanjang jalan kecil ini terdapat Kaliandra. Saya suka memandangnya berlama-lama. Kaliandra, si bunga merah yang indah apalagi jika tertiup angin. Mahkota bunganya membentuk untai benang-benang halus menyembunyikan serbuk sari. Saya bersyukur bunga-bunga ini masih berkembang dan menemani perjalanan saya.

Pagi-pagi setelah mengunci pintu, membenahi semua perkakas di gudang, saya menemani ibu sebentar di pembaringan. Demamnya sudah turun. Saya biarkan ibu memandangi sumur yang berada di samping rumah melalui jendela. Biasanya, jam-jam sekarang ini banyak tetangga yang sudah antri untuk mengambil air. Derit katrol sudah sejak lama tidak kami dengar. Suara tumpahan air yang menghangatkan suasana pagi menjadi sesuatu yang kami rindukan. (lagi…)

Blog pada WordPress.com.