Cerpen Andika Destika Kaghen
Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit…..tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson berbunyi. Walau semua yang berada dalam kemacetan ini sadar tak mudah lepas dari derita ini.
Semua yang berada di sini berada dalam kegelisahan. Di depanku, seorang pria berbadan gemuk, sopir truk, tiap sebentar saja berujar, ”Maju..maju.” Walau ia sebenarnya tahu tak mudah menginjakkan pedal gas. Sopir berbadan gemuk itu turun dari mobilnya sebentar untuk membeli sepotong roti. Sudah kedelapan kalinya ia turun dari mobil dan tiap sebentar ia membeli penganan. Keringat sudah beberapa kali diseka dari kulitnya yang hitam.
Jalan protokol di kota ini sebenarnya verboden, tapi tetap saja mobil-mobil seperti punya sebuah hasrat yang tak bisa dikendalikan. Di rambu tertulis huruf S silang, mobil angkot warna merah seenaknya menaikkan penumpang. Ia menghalangi sebuah mobil Kijang yang berada di belakangnya. ”Hey..punya otak dong.” Namun, sopir angkot itu seperti tak mendengarkannya. Penumpang tetap saja naik dan kini mobil itu tak dapat lagi berangsut barang sedikit saja. (lagi…)