Cerpen Rio SY
Ia menengadah. Lagi. Ditatapnya lengkung bulan yang tampak seperti perahu putih yang tengah berlayar di langit. Telah berkali-kali bulan perahu terpajang di malamnya langit dan berkali-kali itu pula ia menatapnya. Bulan inilah yang dulu menyambut kedatangannya untuk pertama kali di Muarosakai ini. Dulu, seperti ini pula ia menengadah ketika baru saja menginjakkan kaki di sini. Dan bulan perahu ini juga yang sedang menyambutnya kembali.
Sepelemparan batu dari tempat ia berdiri ada sebuah pondok di tepi jalan, bentuknya panggung tanpa pintu dan jendela pada keempat sisinya. Pondok itu sebenarnya berada di antara pinggir sawah dan pinggir jalan. Ia mendekat ke sana. Sebentar ia tertegun, sebab di pondok itulah ia singgah waktu pertama kali datang dulu.
Dulu.
IA mengipas-ngipas mukanya yang kepanasan oleh terik siang dengan topi. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Sempat juga melirik pada sekerat kertas yang bertulis nama dan alamat yang hendak ditujunya. Ketika itu, dari arah pasar Pekan Ahad, seorang gadis melintas di depannya. Gadis itu menjunjung bakul berisi sisa-sisa kerupuk ubi di kepalanya yang tak habis dijual di pasar. Kipas yang tadi digerakkan kencang-kencang tiba-tiba menjadi pelan dan akhirnya berhenti. Lelaki itu tak mengerdip, ia tak sadar topi yang tadi di tangannya terlepas dan jatuh. Ryati melihat itu, menatap lelaki itu. (lagi…)