Cerpen Padang Ekspres

Juli 27, 2008

Lebih Baik Aku Menjadi Anjing Saja

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:37 am
Tags:

Cerpen Zul Afrita
“CAK, Minggu besok dimana lokasi buru?” tanya Badin pada ayah. Aku menguping percakapan mereka berdua sambil menenteng benih yang sudah diikat amak untuk disebarkan ke tumpak sawah. Ayah hobi berburu kandiak (babi). Katanya semenjak ia masih kecil. Kalau ayah mau berburu aku sering menurut dengannya, walau dia terkadang tak mau mengajakku. Nanti kau diserang kandiak luka, kata ayah. Tapi kalau lagi baik, ayah mau mengajakku. Aku duduk di bangku belakang Honda, memeluk si Hitam (nama anjing ayah).
Kata ayah sudah lebih dari tiga ekor babi ia matikan. Anjing ini sudah ditawar oleh kawannya -yang juga gila berburu- dua juta. Tapi ayah tak mau menjualnya, ia sayang sekali, seakan tak mau berpisah, setiap hari yang dikuatirkan itu anjingnya, sudah makan, minumnya, mandinya ditambah karena uang penjualan anjing itu haram. Sering aku makan hati dengan si hitam. Binatang haram itu telah mencuri kasih sayang ayah untukku dann amak.
Karena sakit hati melihat perlakuan dan kasih sayang ayah yang lebih terhadap si hitam suatu kali aku berdusta pada ayah, tak aku beri dia makan seharian. Waktu itu ayah pergi ke luar kota mencari peralatan buat berburu di pasar. Menampak kepulangan ayah dari pasar, si Hitam mengadu dan menggonggong menghiba. Ayah menghampiri dan menekan perutnya. Aku ketahuan tak memberi makan si Hitam. Ayah membentakku, sampai aku dikurung di gudang dan tak dikasih belanja selama seminggu. Wah, ayah memang sadis dan tak seperti ayah teman-temanku yang tak mau memelihara anjing kerena takut akan dijilatnya. (lagi…)

Juli 20, 2008

Lukah Pulan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:43 am
Tags:

Cerpen Esha Tegar Putra

Tepian batang air kini lengang. Sudah jarang orang-orang menahan lukah, menebarkan jala. Jarang pula terlihat sekarang perempuan-perempuan tua dan muda mencuci kain. Atau anak-anak kecil yang menyusun batu-batu untuk membuat sumur-sumuran. Dulu, seketika tepian batang air di muara bawah masih belum turun tanahnya karena luapan air dari hulu bukit, kegiatan-kegiatan itu masih ramai setiap harinya.
***
Pulan terlihat sedang membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di lubang lukahnya. Ia duduk bersila di rerumput tepian batang air. Pikirannya entah ke mana tertuju. Matanya kosong memandang sampah-sampah yang mengantung di sela-sela lidi rajutan lukah. Ia jatuhkan sampah ke batang air yang agak kering airnya—ikannya pun sekarang tidak banyak terlihat. Sudah beberapa bulan ini lukahnya sering tidak berisi.
Tiga tahun yang lalu, seketika abaknya masih hidup dan seketika itu di sealiran batang air kampung masih ramai orang menahan lukah. Sebab Pulan masih bisa mendapatkan sepuluh liter sampai lima belas liter ikan setiap pagi dari dua lukah yang ditahan Pulan dan ayahnya setiap malam. Lukah diambilnya setiap pagi sebelum Pulan pergi sekolah. Ketika itu Pulan masih kelas satu es-em-pe. Hasil-hasil tangkapan lukah itu bisa untuk biaya hidup Pulan sekeluarga. (lagi…)

Juli 13, 2008

Rahim

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:46 am
Tags:

Cerpen Rohyati Sofyan

“AKU tidak menyesal terlahir sebagai perempuan, Ibrahim, sebab aku berharap dari rahimku kelak, aku akan melahirkan generasi yang lebih baik daripada yang dilahirkan ibuku berupa diriku.” Ibrahim tertegun, jadi inilah Run yang sebenarnya, perempuan yang pernah tergila-gila padanya, namun cuma dalam batas kekaguman berupa cinta yang bersifat platonik.
Ya, perempuan itu mencintainya, diam-diam, meski tidak cukup yakin dan dalam. Ibrahim tidak keberatan, toh Run tak bermaksud mengganggunya. Namun kini, cinta Run begitu menggelisahkannya. Padahal ia begitu jauh dan Run tak mendekatinya. Lalu mengapa Ibrahim bisa gelisah; sebab Run pun gelisah dalam cintanya. Dia mencintai Ibrahim, namun dia menyadari tak mendapat tempat dalam tatanan hidup Ibrahim yang ternyata tak lengkap. Dan menyadari itu, Run merasa dunia cinta yang Tuhan berikan padanya mengoyaknya meski bukan hal yang salah alamat.
Mencintai pria seperti Ibrahim, orang lain pasti akan mengecamnya tidak tahu diri. Namun Run tak merasa demikian, dia percaya pada takdir yang menggerakkannya untuk itu. Dia harus menunggu selama tiga tahun. Tiap pria cuma lewat di depan matanya tanpa kesan apa-apa; namun pada Ibrahim, Run menemukan ironisme tak terduga. Dia ingin tertawa. Betapa Tuhan penuh selera humor. Betapa cinta Tuhan yang besar dan tak bisa dia imbangi malah membuatnya bertemu dengan makhluk yang kelak akan mengajarinya bagaimana fragmen cinta itu. (lagi…)

Blog pada WordPress.com.