Cerpen Padang Ekspres

Juni 15, 2008

Jl. Mangga, Gang Cemburu No.5

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:55 am
Tags:

Cerpen Afri Meldam

Developer yang menangani proyek perumahan tempat kami tinggal ini, sebetulnya telah memberikan nama untuk semua jalan dan gang yang ada – kami menyebut jalan-jalan kecil penghubung jalan utama dengan ‘gang’. Karena terasa monoton dan ruwet (bayangkan, semua jalan di sini dikasih nama Jl. Asri Indah, bedanya cuma pada nomor yang dibubuhi di belakang nama jalan tadi, misalnya Jl. Asri Indah 1, Jl. Asri Indah 2, 3, 4 dst. “Kayak anak TK diajar menghitung aja”, komentar beberapa warga. Dan yang tidak kreatif lagi, gang-gang pun hanya ditandai dengan alfabet A, B, C, D, E, dst.
Maka, jika rumah Anda terletak di gang B No 3 Jl. Asri Indah 4, maka alamatnya akan jadi seperti ini: Jl Asri Indah 4, gang B No 3- “Alamat yang begitu ‘kaku’”kata Bu Marya menanggapi), maka, atas inisiatif ibu-ibu PKK, nama jalan dan gang di kompleks perumahan ini pun kemudian ditukar. Semua jalan memakai nama-nama buah, dan gang memakai nama-nama bunga. Maka, ada Jl. Salak, Jl. Manggis, Jl. Apel, Jl. Mangga, Gang Nephentes, Gang Sedap Malam, Gang Kenanga, Gang Cempaka, dll.
Uniknya, pemberian nama-nama gang ini pun kemudian ‘ditindaklanjuti’ dengan menanam bunga-bunga tersebut di depan gang yang memakai namanya. Misalnya, di depan gang Kenanga, ditanam serumpun besar bunga kenanga. Jadi terasa lebih klop dan kompleks pun kelihatan lebih indah. Namun, nampaknya ada satu gang yang harus segera dirubah namanya, yaitu Gang Cempaka yang ada di Jl. Mangga. Kenapa? Begini ceritanya: (lagi…)

Juni 12, 2008

Induak Tubo

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:50 am
Tags:

Cerpen Zelfeni Wimra

“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”.
“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita.
Boleh kalian bayangkan, bagaimana tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang tengah malam buta, sedangkan kita tidak punya teman untuk melepas kepergian kita. Huh, ini yang tidak disadari anak-anaknya. Kita lihat saja nanti, mereka pasti pulang membawa penyesalan. Induk membangkai di rumah, ee, kita terkurung di rantau orang. Saya kira, anak-anak seperti ini yang layak dikutuk!” sambut seorang yang paling tua di antara kelompok perempuan petani yang sedang bekerja itu. (lagi…)

Juni 8, 2008

Bunga dan Ombak

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:42 am

Cerpen Delvi Yandra

Lisa, perempuan penjual bunga itu, masih berdiri di ambang pintu. Pot-pot bunga miliknya berjejer di halaman. Sementara senja, terus condong menuju kepulangannya. Lisa terus memaku diri dan menciptakan lamunan yang abadi. Ia membayangkan bunga-bunga masih akan terus tumbuh di sekitar Parque Salazar kecuali jika tangan-tangan usil yang singgah di taman itu tidak memetik tangkainya atau menginjak hamparan bunga yang tumbuh di Milaflores.
Hal itulah yang membuatnya terus bersemangat untuk hidup, bertahan dari penyakit yang telah dideritanya selama dua tahun. Tidak itu saja, setiap malam ia menghabiskan waktu duduk di tangga batu dekat tepi pantai. Katanya, ia menantikan sebuah kapal yang akan membawa ayahnya pulang dari melaut. Bahkan, ia selalu berharap agar Tuhan mengembalikan ayahnya yang telah berlayar hampir empat tahun. Sementara ibunya, Lisa jadi teringat dengan kalimat yang dengan jelas ia dengar dua setengah tahun lalu; kau jangan kemana-mana, anak haram! Diam di rumah dan tunggu sampai ibu pulang.
Kalimat itu ia dengar ketika ibu sedang merias wajahnya di depan cermin. Kemudian, sejak malam itu, ibunya tak pernah kembali lagi.
Di dalam rumah, Lisa hanya sendirian. (lagi…)

Juni 1, 2008

Uang Jemputan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 8:51 am

Hari menjelang petang. Gema takbir sudah berkumandang. Besok lebaran haji. Hujan belum juga reda. Sejak selepas Zuhur Abdie tak bisa apa-apa. Hanya berganti koran dan majalah saja di tangannya. Abdie tampak gelisah. Tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya, meski sebenarnya banyak rencana yang sudah disusunnya. Panjar orgen belum dibayar, begitupun dengan panjar kursi, tenda, pelaminan dan katering. Jika tak dibayar sesore ini, alamat pesanan itu akan dibatalkan sepihak pemiliki kursi, tenda, pelaminan dan katering.
Undangan sudah disebar. Tak mungkin diundur. Kalaupun bisa, tentu orang akan tertawa. Pernikahan Abdie diundur gara-gara tak dapat kursi, tenda, pelaminan dan katering. Kalau ini terjadi, maka akan tertawalah dunia. Kemanalah muka akan disurukkan, padahal ini tak seberapa jika dibandingkan pergolakan batin dan materil yang sudah dilaluinya. Perjuangan terberat itu, sebenarnya sudah dilalui. Kalau hanya gara-gara ini, tak tahulah! Pergolakan terberat yang sudah dilalui Abdie justru meyakinkan orangtua dan mamaknya. Keluarganya masih memegang teguh adat istiadat yang sudah terun temurun dari nenek moyangnya. Tak akan tergoyahkan oleh badai sekalipun. Ketika manapiak bandua1, orangtua dan mamak meminta agar anak kemenakannya dijapuik2 senilai 150 ameh3. Adat disauak, limbago dituang4. Selaku orang Padang yang terikat dengan adat, keluarga perempuanlah yang meminang laki-laki. Pinangan keluarga perempuan baru bisa diterima kalau sudah mengabulkan permintaan panjapuik.
Panjapuiknyo beragam. Ada yang meminta uang senilai benda tertentu, atau ada yang langsung meminta benda tersebut. Nilainya tidak tetap. Umumnya, besar kecilnya nilai panjapuik tergantung pekerjaan lelaki yang dipinang. Makin jelas dan pasti pekerjaannya, makin tinggi nilai jemputannya. Dari banyak profesi yang ada, nilai jemputan untuk perwira militer paling tinggi, diikuti dokter. Untuk jemputan dokter seperti Abdie, uang jemputan senilai 150 ameh tidaklah terlalu tinggi. Pernah sopir oyak5 saja dijemput keluarga perempuan senilai 10 ameh. Hanya saja, bagi keluarga Diah, yang juga orang Padang, nilainya terasa tinggi. Keduanya hanya guru yang hidup pas-pasan dari bulan ke bulan menghidupi Diah dan dua adiknya. “Bukan materinya, tetapi ini bagian dari harga diri kita di kampung dimuka adat. Makin tinggi nilai panjapuiknya, makin tinggi nilai kita dipandang orang kampung,” terang Rukiyah, mande6 Abdie. “Kalau waang tak mau, silakan protes ke mamak waang. Jangan pada saya,” jawab ibunya berang, ketika Abdie protes mengenai uang panjapuik itu. (lagi…)

Blog pada WordPress.com.