Cerpen Padang Ekspres

September 9, 2007

Tas Berlampu

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:09 am
Tags:

Cerpen Dewi Kumala Sutra

Pagi, setelah orang-orang balik dari surau. Amak melewati pematangan sawah. Penuh kehati-hatian Amak melangkah. Beban yang dibawa cukup berat. Satu karung bayam dijinjing di atas kepala. Kemaren Amak tersungkur. Kakinya terpuruk di tanah basah. Setelah berjalan sampai ke ujung, becak Pak Ci sudah menunggu di jalan. Amak menaruh beban di atas becak. Lalu Amak balik lagi melewati pematang, menjemput beberapa karung sayur yang masih tertinggal di pondoknya. Sedangkan Pak Ci tetap menunggu di jalan. Karung terakhir diangkat Amak. Kali ini ia tidak sendiri. Anak laki-lakinya berseragam merah putih mengiringi di belakang. Namanya Deri, karena susah menyebut huruf R waktu kecil, ia pun dipanggil Del.
Amak duduk dan Del berdiri sambil memegang pundak Amak di atas becak. Pak Ci mengayuh sepeda dengan santai. Burung-burung pagi berkicau. Berterbangan dimana-mana.
“Mak, burung-burung tuh kok cepat bangunnya Mak?” Tanya Del.
“Karena mereka juga sama seperti kita, Nak. Bangun pagi-pagi, mencari makan untuk hidup.”
“Untuk sekolah kau, Del!” Pak Ci menimpali.
Amak bersyukur, Del anak satu-satunya bisa diterima di SD negeri. Kalau sampai seperti Budi anak tetangganya yang PNS itu, lantaran tak diterima di SD negeri, ia pun disekolahkan di SD swasta. Tentulah biayanya mahal. Amak cukup tegar membesarkan Del. Susah ia mendapatkan anak. Akhirnya Tuhan mengkaruniakannya juga. Meski dua tahun setelah Del lahir, suaminya meninggal karena mengidap penyakit gula. (lagi…)

September 2, 2007

Ayah Pergi Mencari Uang

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — cerpenpadek @ 9:31 am
Tags:

Cerpen Andi Asrizal

Ibu bilang ayah sangat sayang padaku, bahkan lebih sayang dari yang aku bayangkan. Aku bingung, bagaimana bisa sayang ayah lebih besar dari yang aku bayangkan. Dari mana ayah tahu? Padahal sudah lama sekali kami tidak bertemu. Ibu juga bilang kalau orang dewasa memang begitu, selalu mengerti perasaan anak-anak apalagi anak kandungnya, ibu pun juga mengerti perasaanku.
“Menunjukkan rasa sayang itu tidak mesti dengan bertemu, tanpa bertemu pun orang bisa berkasih sayang. Sayang itu hanya dapat dirasakan dan hatilah yang merasakannya.”
“Kalau benar ayah sayang padaku, kenapa ia tak pulang-pulang Bu?”
Ibu terhenti dari kerjanya, mempersiapkan makanan di meja makan. Kemudian ia berjongkok mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Ia tersenyum. Saat seperti itu, aku dapat menatap lama wajah ibu dengan matanya yang bersinar. Seperti biasa aku memegang kedua pipinya. Ibuku memang sangat cantik, ia lebih cantik dari bidadari yang ada di televisi, sebagaimana yang dulu dikatakan ayah. Kedua tangan ibu menempel di dua pundakku, kalau sudah begitu aku tahu apa selanjutnya yang akan ia lakukan, menciumku, kemudian memelukku. Ternyata benar, meski saat itu sebenarnya aku tidak ingin dicium dan dipeluk.
“Sayang, itu karena ayah sayang sama kamu dan sama ibu.”
“Tapi apakah begitu orang dewasa menunjukkan rasa sayangnya?”
“Salah satunya begitu,” kata ibu singkat.
“Apakah nanti kalau aku besar, juga begitu?”
Ibu tersentak, ia mencuil pipiku,
“Kamu tidak boleh seperti ayah.”
“Lho, aku kan laki-laki sama seperti ayah?”
“Betul Sayang, tapi ibu tidak ingin kamu seperti ayah.” (lagi…)

Blog pada WordPress.com.