Cerpen Delvi Yandra
Han Hyun Dong menarik napas panjang ketika melihat ke luar jendela dari tingkap apartemen di Youido. Persis di tengah-tengah kota Seoul yang kini sudah jadi kota “mati.” Gedung-gedung berdesakan seperti menunggu antrean panjang yang tak pernah berkesudahan. Matahari enggan disapa sebab perkantoran dan apartemen yang bertingkat-tingkat menghalangi cahayanya. Orang-orang pun seperti dikejar waktu dan jadilah mereka robot-robot bernyawa yang bergerak setiap hari secara statis. Ah, barangkali hanya sungai Han yang bisa jadi hiasan abadi di kota ini. Sungai itu mengalir melewati Seoul. Hyun tersentak dari lamunan ketika mendengar suara gumamanku yang setengah sadar.
“Kau sudah bangun?” sapa Hyun.
“Ah, aku belum ingin bangun. Sayang, bisakah kau tutup tirai itu?” pintaku. Hyun malah menghampiri jam weker yang terletak di atas meja dekat tempat tidur. Kemudian ia mengangkat jam weker itu lalu menunjukannya padaku.
“Kau tahu jam berapa sekarang?”
Aku kaget dan langsung melompat dari tempat tidur. “Ya ampun! Aku lupa menyetel alarmnya,” pikirku sembari bergegas ke kamar mandi tanpa melepas piyama.
Sarapan tersaji. Masakan Hyun menjadi sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu setiap pagi ketika aku akan berangkat kerja. Rupa-rupanya aku telah jatuh cinta tidak hanya pada Hyun tapi juga pada masakannya. Sungguh. Kimchi buatannya pagi ini pasti enak. Kadang-kadang bulgogi di akhir pekan yaitu potongan-potongan daging yang dipanggang di atas tungku setelah diasinkan dalam sebuah pencampur sambal, minyak wijen, bawang putih, biji wijen, bawang hijau dan bumbu makanan lainnya. Ia tahu kalau aku suka pedas dan panas jadi ia menyajikannya dengan “sedemikian rupa.” Makan dengan tenang. Selepas sarapan aku pamit lalu bergegas turun sedang Hyun membereskan kembali meja makan. Segera. Turun dengan lift. Tidak. Beberapa hari yang lalu lift di sini rusak akibat salah seorang penghuni apartemen salah menekan tombol dari dalam lift tersebut, jadi harus menggunakan satu-satunya alternatif lain yaitu dengan menuruni tangga. Butuh waktu cukup lama juga untuk turun dari lantai 26 ini. Ya. Apalagi untuk sampai ke tempat kerja, aku mengukur waktu supaya tidak terlambat. Sesampai di bawah aku cukup merasa kelelahan. Sedikit berkeringat. (lagi…)