Cerpen Arulkhan
“Man, kamu kenapa?”
Parman diam.
“Emak lihat sejak kemarin kamu kerjanya diam saja. Tidak seperti biasa.”
Parman masih diam.
“Seharusnya kamu itu senang Endang pulang. Kalau Emak hitung-hitung sudah dua lebaran mantuku itu tidak pulang-pulang. Wah, seperti apa ya dia sekarang? Emak yakin karena sudah punya uang pasti Endang bisa merawat dirinya; pergi ke salon dan beli baju bagus.”
“Di sana bajunya memang bagus-bagus, Man. Emak masih menyimpan baju yang diberikannya dua tahun lalu. Masih bagus sampai sekarang. Emak memang sengaja tidak memakainya, yah paling untuk menghadiri undangan pernikahan saja. Itu pun seingat Emak hanya dua kali.”
Parman mendesah pelan.
Emak tidak peduli anak sulungnya itu mendengarkan atau tidak. “Mantuku itu memang baik sekali. Kalau tidak selama musim hujan kita tidak bisa tidur nyenyak karena banyak genteng kita bocor dan dinding rumah yang bolong. Emak tidak pernah membayangkan bisa punya rumah sebagus ini. Sejak kamu belum lahir, bahkan sebetulnya sejak Emak kecil dulu, keluarga kita memang keluarga susah. Bisa makan nasi sehari sekali saja syukurnya luar biasa.” (lagi…)