Cerpen Pinto Anugrah
Kabut putih. Dingin. Selimuti orang-orang. Gigil. Hening dan lamban. Hanya bunyi gemeretak rahang yang memacu. Serta tangan-tangan yang melipat di balik sarung, sembunyikan pucat. Pagi yang lamban di sebuah kampung lembah pegunungan, sebuah danau yang membatasi lembah, semua ikut beku oleh dingin.
Aku pun ikut beku. Berdiri kaku dan mematung di tepi danau. Memandang putih kabut yang berarak di permukaan danau. Tidak ada yang kelihatan—hanya dingin, beku, kabut, dan bayang-bayang—semuanya jadi satu dalam gigil. Namun, lambat-laun, mata ini mulai menangkap bayang-bayang di balik kabut, seperti siluet.
Ra kembali menemuiku. Ia berdiri di sampingku, memandang sejenak, kemudian mengalihkan matanya. Selalu seperti itu setiap kali menemuiku. Kepalanya yang selalu menekur seolah ingin menyembunyikan raut wajahnya. Aku seperti dipaksa menerka, mencari di kedalaman wajah yang ia surukkan.
“Kelam! Apa di sini tidak ada pijar.”
Suaranya memecah keheningan. Namun, kali ini, aku yang memilih hening. Ra kemudian menatapku. Mengerutkan keningnya yang cadas. Ia mencari kedalaman wajahku.
“Apa kau akan seperti ini terus. Berilah penjelasan. Aku hanya butuh kejelasan.”
Ia diam sejenak, kemudian beranjak, melangkah menuju pintu. Dan aku hanya bisa menatap punggungnya yang sedikit bungkuk, untuk terakhir kalinya. (lagi…)